Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 75. Ular di samping badan.


__ADS_3

Gavin masuk ke dalam ruang kerjanya dengan amarah yang masih mengumpul di dada. Kedua orang tuanya seakan memojokkannya dan membela saudaranya itu.


Baru saja Gavin menjatuhkan tubuhnya dengan kasar pada kursi kebesarannya, pintu kantornya terketuk secara perlahan sebanyak dua kali.


"Masuk!" ujarnya singkat. Amarah yang tertahan masih sangat kentara dari intonasi suaranya.


Seorang lelaki berkemeja biru gelap masuk dengan senyum tipis di bibirnya. Ia melangkah dengan tegap sambil membawa sebuah map yang ada di tangannya.


"Ada apa Rendy? Aku sedang tak ingin di ganggu saat ini!" ucap Gavin enggan. Ia malas melihat lelaki itu dengan setumpuk kertas yang ada di tangannya.


"Ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani, Pak."


"Tinggalkan saja di sini, nanti aku tanda tangani setelah membacanya!"


Rendy terdiam, ia menatap mimik wajah Gavin yang begitu kusut.


"Tidak bisa Pak, ini harus anda tanda tangani sekarang. Dan kebetulan saya juga mau memberitahukan pada anda kalau proposal yang kita ajukan ke perusaan asing itu untuk investasi dana itu di tolak," ujar Rendy.


Mata Gavin melebar sempurna, ia seperti mendapat kabar duka kematian dirinya sendiri. Bagaimana tidak, bekerja sama dengan perusaan asing itu adalah satu-satunya kesempatan ia untuk mendapatkan investasi untuk perusahaannya yang sedang diambang krisis keuangan.


"Bagaimana bisa? Bukannya kamu bilang saat itu mereka menyetujui. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba mereka menolak?"


"Ada yang membocorkan data perusahaan kita pada mereka, Pak. Dan setelah saya menyelidiki, masalah keuangan serta gagalnya pembangunan perbelanjaan yang runtuh sebelum diresmikan itu akibat ulah seseorang yang memanipulasi dana hingga perusahaan kita mengalami kerugian yang sangat besar."

__ADS_1


"Maksudmu, ada yang bermain-main dengan dana perusahaan? Bagaimana bisa ini terjadi, apa kamu tidak menyelidikinya!" marah Gavin dengan mata yang memerah.


Ia tak habis pikir bagaimana masalah sebesar itu ia bisa kecolongan, bertahun-tahun mengembangkan perusahaan, baru kali ini ia begitu bodoh hingga mengancam kemajuan perusahaannya sendiri.


"Saya sudah menyelidikinya, meraka melakukan semua dan tidak melaporkannya karena mereka mendapatkan surat perintah yang berisi tanda tangan anda. Serta pencairan dana yang jumlahnya cukup fantastik," jelas Rendy. Dahi Gavin berkerut, bagaimana mungkin ia menandatangi surat yang bakal merugikan dirinya sendiri. Tentu saja itu tak mungkin.


"Siapa pelakunya?"


"Dion, asisten yang anda percayakan untuk mengemban tugas pembangunan itu. Dan Dion juga yang membocorkan kondisi keuangan kita pada perusaan asing itu hingga mereka memutuskan membatalkan Investasi tersebut, Pak," jelas Rendy.


Gavin mengeram kesal, kedua tangannya terkepal di atas meja.


"Brengsek! Sialan!" umpat Gavin. Selain umpatan yang keluar, Gavin juga mendorong semua yang ada di atas meja hingga jatuh berantakan di lantai.


"Sialan! Bagaimana mungkin aku bisa tak sadar membiarkan ular besar tinggal di sisiku hingga membelitku seperti ini!" Tangannya pajangan bola newton yang tersisa di atas meja dan melemparnya secara asal ke dinding.


Rendy tersentak kaget, ia sebenarnya tak heran lagi melihat sikap impulsif bosnya ketika sedang marah. Tetapi tetap saja jantungnya tak kuat menerima kejutan-kejutan yang mengagetkan di depan matanya.


"Suruh orang menyelidiki semuanya hingga sedetail mungkin. Siapa saja yang berkomplot dengannya, aku yakin ia tak akan seberani itu jika bukan karena ada yang mendorongnya. Kejar ia sampai dapat dan jangan lepaskan!" titah Gavin penuh kemurkaan.


"Baik, Pak. Permisi," pamit Rendy mengundurkan diri. Sebelum menjalankan perintah bosnya, ia akan memanggil OB untuk membereskan ruang kerja Gavin yang berantakan lebih dulu.


"Berani sekali anjing yang aku beri tumpangan hidup kini mulai menggigitku. Aku tak akan melepaskanmu, kau harus membayar pengkhianatanmu ini dengan nyawamu!"

__ADS_1


Dion adalah asisten kepercayaan Gavin selain Rendy. Ia ikut bersamanya sudah terbilang cukup lama, bahkan lebih lama daripada ia kenal Gisella. Selama itu Dion tak pernah menunjukkan gelagat mencutigakan apalagi niat untuk mengkhianatinya hingga membuat Gavin begitu percaya padanya.


Ditambah lagi kemampuan Dion yang tak perlu diragukan lagi dalam bisnis membuat Gavin semakin percaya menyerahkan beberapa proyek penting untuk lelaki itu tangani saat ia tak ada di tempat. Lebih tepatnya untuk meringankan tugasnya hingga ia memiliki waktu untuk bersenang-senang. Sementara Rendy menghandle pekerjaan kantor.


Selama beberapa tahun hidupnya terasa begitu mudah dengan dua orang yabg dapat ia andalkan. Tetapi kini, sebuah pengkhianatan menghancurkan semuanya. Perusahaan serta karirnya di ambang jurang kehancuran.


Jika Gavin dengan segala amarah berkecamuk di dada. Berbeda dengan lelaki yang membuat masalah tercipta di hidup Gavin. Dion sedang berbaring menikmati pelepasan yang baru saja ia dapatkan. Senyum puas terukir di wajahnya.


"Kamu hebat, Dion. Aku tidak menyangka kamu mampu melakukan semua itu secepat ini. Dengan apa yang kamu ambil dari Gavin, kita bisa hidup bahagia di luar negeri," ujar Gisella. Ia berbaring di samping Dion sembari memegang selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Pertarungan beberapa ronde yang mereka lewati cukup melelahkan untuknya. Wanita itu masih ingin bersantai tanpa melakukan apa pun.


Dion meraih rubuh ramping Gisella untuk semakin mendekat dalam pelukannya. Wajah mereka kini saling berhadapan, bahkan hembusan napas masing-masing mereka saling menerpa dengan kulit yang menempel memberikan kehangatan.


"Tentu saja semua itu sudah aku rencanakan dengan matang, Honey. Dan semua itu hanya untukmu. Aku mau kita hidup bahagia berdua serta calon anak kita, jangan sekali-kali kamu mengkhianati." Pandangan mata Dion yang tadi teduh kini berganti dengan begitu tajam.


Salah satu tangan Dion menekan rahang Gisella kuat hingga wanita itu sedikit meringis.


"Aku sudah sekali memaafkanmu atas pengkhianatanmu dengan lelaki itu hingga menghadirkan anaks sialan itu. Tetapi jika kali ini kamu pergi lagi dariku setelah apa yang aku berikan padamu. Maka jangan salahkan aku jika nantinya tubuhmu justru terkubur dingin di lantai rumah ini," ancam Dion.


Gisella menelan ludah yang susah payah lolos dalam tenggorokannya yang terasa begitu kering. Jika Dion sedang seperti ini, Gisella seakan takut dengan lelaki itu.


"Ka-kamu berka-ta apa, Sayang. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu." Gisella menggenggam lengan Dion agar melepas rahangnya yang sakit, hingga meninggalkan cap jari yang kemerahan di wajahnya.

__ADS_1


"Aku cukup menyesal telah meninggalkanmu demi lelaki tak setia itu. Sekarang aku sadar dan juga terima kasih karena kamu mau menerimaku kembali. Itu saja sudah buat aku bersyukur."


"Bagus jika kamu sadar, karena demi kamu, aku sanggup melakukan apa pun. Jika kau mengkhianati sekali lagi, maka lebih baik kamu mati di tanganku!" tekan Dion. Seringai tajam dan menakutkan terbit di bibirnya. Gisella terdiam dengan tubuh yang mematung.


__ADS_2