Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 53. Selimut cinta


__ADS_3

Bara terbangun dari tidur lelapnya setelah pertempuran yang begitu lama. Entah sudah berapa kali pelepasan hebat yang ia rasakan. Dahaga yang selama ini ia tahan akhirnya terpuaskan, seperti tanaman kering yang langsung segar diterpa hujan dingin yang baru saja melanda.


Bara bukanlah tipe pria yang mencari kenikmatan di luar hanya untuk menyalurkan hasratnya yang membuncah tinggi. Ia masih berpegang teguh dengan norma dan ia juga tak mau melakukan hal itu pada wanita yang tidak ia cintai. Mungkin bagi sebagian orang akan terdengar seperti omong kosong.


Lelaki dengan kehidupan mapan dan fisik yang sempurna, banyak wanita yang bisa ia dapatkan untuk menghangatkan ranjangnya yang terasa dingin selama 6 tahun itu. Tetapi hanya ada satu wanita yang ia inginkan, wanita yang pernah kabur dan membawa benihnya hingga lahirlah seorang putra yang tampan.


Matahari masih terang dari balik jendela. Bara menggeser tubuhnya sedikit, menegakkan punggung dan bertopang dengan sebelah tangan menahan kepalanya. Posisinya miring menghadap istrinya yang masih tertidur lelap yang ditutupi selimut hingga dada.


Bercak-bercak merah keunguan memenuhi bagian dada Yonna. Menghadirkan kepuasan di hati lelaki itu. Seakan terpaku dan enggan untuk beranjak, Bara justru menatap wajah cantik yang terlelap tersebut. Menyusuri setiap lekuk wajah yang selalu membuatnya rindu.


Yonna tampak begitu nyaman dengan tidurnya hingga bergulung di dalam selimut, mengubah posisinya yang terlentang menjadi miring menghadap Bara yang tak lepas memandangnya.


Tangan Bara terulur membenarkan rambut panjang Yonna yang menutupi sebagian muka putihnya agar wanita itu semakin nyaman. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Itu artinya mereka melewati makan siang.


Bara menarik punggungnya untuk duduk tegak, mengambil ponselnya dan memberikan perintah pada seseorang di seberang sana untuk membawakan apa yang ia butuhkan saat ini.


Tentunya makanan untuk mereka berdua serta pakaian untuk wanitanya, ia tak ingin istrinya kelaparan hingga malam menjelang. Setelah selesai Bara kembali pada posisi semula, berbaring di samping Yonna dengan posisi miring dengan kepala bertumpu ada tangan, ia mengecup kening Yonna lembut penuh sayang.


Matanya seakan tak merasa bosan memandang mata dengan bulu lentik itu. Senyum terukir di wajah tegasnya, ia sedang membayangkan jika nanti Yonna kembali mengandung anaknya. Benih cintanya. Bara tak ingin melewatkan tumbuh kembang anaknya di dalam perut Yonna seperti dulu.


Tangan itu mulai nakal mencolek hidung istrinya. Mengecup bibir merah jambu itu berulang kali hingga Yonna terusik. Sejak dulu Bara menyukai apa yang ada dalam diri wanita yang ada di hadapannya ini.


Terlepas dari tubuhnya yang gendut, Bara justru menyukai kepribadian yang Yonna miliki. Hingga takdir tuhan membuat mereka menghabiskan malam yang hangat waktu itu.

__ADS_1


Haruskan Bara berterima kasih pada adiknya yang tak menyentuh Yonna sedikit pun, hingga ia menjadi lelaki pertama untuk wanita itu. Hingga kini, wanita itu bisa menjadi istrinya yang sah, Ibu dari anaknya.


Sepertinya Bara harus berterima kasih pada Tuhan karena mengirim Yonna sebagai pasangannya. Bagi Bara keluarga kecilnya saat ini adalah sebuah bentuk berkat yang diberikan Tuhan untuknya.


“Jam berapa?” suara serak itu terdengar memecah kesunyian di dalam ruangan luas itu.


Yonna mengucek matanya sembari menyeret punggungnya untuk bersandar pada sandaran ranjang. Sebelah tangannya menahan selimut tebal agar tetap menutupi tubuh polosnya. Tubuhnya terasa remuk redam dengan rasa tak nyaman di antara kedua pahanya.


Sementara Bara juga melakukan hal yang sama. Menarik tubuhnya hingga posisi mereka sama-sama bersandar di sandaran ranjang.


“Jam empat sore, Sayang,” jawab Bara. Mata Yonna yang tadi masih lima watt langsung terbuka lebar. Ia mencari benda bulat di dinding, tak ada. Lalu beralih pada benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya. Mata itu pun semakin mendelik.


“Ada apa? Kenapa kamu panik?”


“Kamu masih bertanya? Aku melewatkan banyak waktu hari ini, bahkan aku tak masuk kerja lagi hari ini.”


Bara terkekeh kecil, ia pikir ada hal gawat apa yang membuat istrinya harus panik seperti itu. Ternyata hanya permasalahan yang menurutnya sepele.


“Ckkk … jangan menertawakanku, semua ini karenamu! Kamu memper-kosaku,” decak Yonna kesal. Di matanya Bara adalah tuan pemaksa, dan bodohnya ia selalu saja kalah darinya. Itu membuat Yonna kesal.


Tawa Bara semakin lepas mendengar ucapan kesal sang istri, wajah marah Yonna justru terlihat imut baginya.


“Aku memperkosa dan kamu menikmatinya, bahkan jauh lebih agresif dari sebelumnya. Suara de-sahanmu juga terdengar begitu merdu di telingaku, Sayang!” ujar Bara dengan mata yang berkedip menggoda.

__ADS_1


Wajah Yonna seketika memerah karena malu, wanita itu mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah. Ia tampak gugup dan semakin mengeratkan selimut di dadanya. Ucapan Bara tadi membangkitkan kembali memori beberapa jam sebelumnya di dalam pikirannya.


Bagaimana dirinya yang begitu liar mengikuti permainan sang suami. Hati dan tubuhnya seakan tak bisa satu irama. Hati menolak namun tubuh mengkhianatinya, tubuhnya seakan menikmati setiap belaian yang lelaki itu berikan.


Hingga rintihan dan de-sahan menggema di kamar itu. Puncak dari semuanya adalah jeritan kecil dan geraman berat dari mulut Bara bersamaan rasa hangat yang menyembur di rahim Yonna.


Bara kembali tersenyum, tangannya meraih pinggang polos Yonna hingga wanita itu kembali berada dalam dekapan hangatnya. Kulit mereka yang kini menempel memantik apa yang telah padam menjadi membara kembali.


“Jangan menggodaku dengan wajahmu yang bersemu merah, membuatmu begitu cantik, Sayang!” ujar Bara dengan suaranya yang kembali berat.


Bara kembali mengecup leher Yonna, tubuh istrinya bagai candu yang membuatnya ingin lagi dan lagi.


“Mas, apa yang mau kamu lakukan lagi? Lepaskan aku!” Yonna menggeser dada bidang suaminya agar segera menyingkir.


“Satu ronde lagi, Sayang. Please!” Bara kembali mencum-bunya dengan lembut, Yonna mengeram pelan. Bara begitu hafal bagian-bagian sensitif di tubuh istrinya.


Yonna luluh, penolakan yang ia berikan tak berarti apa pun karena pada akhirnya ia kembali kalah. Ia yang lemah? Atau memang suaminya yang begitu lihai.


Yonna mengalungkan kedua tangannya ke balik leher Bara. Bibir mereka kembali bertaut mesra. Selimut yang tadi menggulung tubuhnya perlahan-lahan turun hingga terkumpul di pinggang.


Di balik ciu-man itu, Bara tersenyum. Tubuh Yonna begitu ekspresif dengan sentuhannya. Bara sangat senang mendengar erangan yang keluar dari bibir istrinya, seolah memanggil dan menggodanya untuk melakukan lebih lagi.


Suhu tubuh mereka berdua meningkat, debar jantung pun semakin kuat berpacu. Yonna tersentak kaget saat Bara mengangkat pinggulnya hingga wanita itu duduk di atas pangkuannya dengan posisi berhadapan. Kedua kaki Yonna berada di setiap sisi pinggang Bara.

__ADS_1


Tangannya kini mencengkram kedua punggung Bara kuat. Dalam posisi seperti ini, suaminya dengan mudah memasuki dirinya. Yonna menggigit bibir bawahnya serta, rasa penuh memadati bagian bawahnya membuat ia gila.


Bara kembali menghujam setiap inci tubuh itu dengan ciu-man . Ekspresi wajah istrinya yabg seperti ini membuatnya semakin tak dapat menahan diri, semakin membuatnya bernaf-su. Apalagi setiap suara yang keluar dari bibir ranumnya membuat Bara semakin melayang.


__ADS_2