
Ada yang berbeda pagi ini di rumah keluarga Apsara. Ada tangis bayi yang menggema mengisi salah satu sudut rumah.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, Noah dan Bryan sudah siap dengan seragam sekolah mereka duduk secara berdampingan di sebelah Jelita. Sementara Bara duduk seorang diri tanpa adanya Yonna yang biasanya melayani.
Imanuel menatap putranya sejenak sebelum membuka suara. Ia sudah mendengar semua yang tengah terjadi di rumah itu saat ia sedang pergi bermain golf dengan teman sebayanya.
"Bryan, Noah ... apa kalian sudah selesai dengan sarapan kalian?"
"Sudah Grandpa," jawab Noah yang di iringi anggukan kepala Bryan. Kedua bocah itu pun mulai beranjak dari duduknya, menghampiri ketiga orang dewasa itu secara bergantian untuk berpamitan.
Kedua bocah itu mulai terbiasa dan mandiri berangkat sekolah diantar oleh supir pribadi keluarga tersebut.
"Papa sudah dengar dari Mamamu. Jadi apa keputusan kalian berdua? Kalau Papa pribadi, setuju dengan apa yang dikatakan Mamamu. Kalian boleh bertanggung jawab atas anak itu, tetapi tidak dengan merawatnya dan membawa anak itu ke rumah ini," ucap Imanuel.
Bara meletakkan sendoknya di atas piring, makanan yang ada di mulutnya telah habis tertelan ke tenggorokan yang terasa seret. Bara meraih gelas bening di hadapannya, meminumnya sedikit sebelum akhirnya menjawab ucapan lelaki yang ada di sudut sampingnya.
"Aku sudah mengatakan hal itu pada Alice, tetapi tampaknya ia sudah mulai menyayangi bayi itu."
"Kamu suaminya, seharusnya kamu bisa lebih tegas pada istrimu itu. Lihat saja sekarang, ia justru sibuk mengurus anak orang lain daripada melayani suami dan juga anak kandungnya sendiri!" timpal Jelita kesal. Selalu ada celah untuk menyudutkan jika sudah tak suka.
"Ada beberapa hal yang tak bisa diselesaikan dengan cara gegabah, Ma. Aku bukannya tak tegas, tetapi aku juga tak mungkin langsung merebut anak itu dari pelukan Alice dan membawanya pergi jauh yang akhirnya akan menimbulkan keributan di antara kami.
Immanuel mengangguk pelan. Dalam hati ia mengakui apa yang putranya itu katakan. Setiap masalah tak harus diselesaikan dengan perdebatan. Apalagi permasalah yang mereka hadapi saat ini masih bisa untuk di selesai dengan kepala dingin.
"Mungkin saja saat ini Alice menginginkan seorang anak hadir di antara kami. Apalagi kami tidak punya anak perempuan, bisa jadi itu alasan kuat kenapa Alice tak ingin melepaskan bayi itu untuk dirawat oleh orang lain."
"Ia dan kamu tidak mandul, kalian bisa memiliki anak sendiri! Atau kalau tidak kalian adopsi aja anak lain. Jangan anak dari wanita ja-lang itu! Mama tidak ridho!" sentak Jelita dengan suaranya yang lantang.
__ADS_1
Jelita mendorong kursinya dengan kasar. Lalu pergi begitu saja dengan wajah yang tak sedap di pandang.
Yonna menyaksikan perdebatan itu dari lantai atas. Ia bersandar pada railing tangga sembari menatap sedih bayi mungil di dalam gendongannya.
"Malang sekali nasibmu, Nak. Lahir ke dunia tanpa Ayah dan Ibu. Sekarang pun kehadiranmu masih diperdebatkan, seperti barang yang tak berharga yang ingin di buang," batin Yonna menatap bayi yang kini mulai menutup mata karena ngantuk.
~ ~ ~
Yonna menatap wajah kecil dengan bulu mata yang begitu panjang itu. Pipi yang berbintik merah dengaan hidung yang cukup mancung membuat bayi dalam gendongannya itu tampak begitu cantik.
Bibir kecil berwarna pink itu menghisap karet dot dengan begitu kuat. Mata yang tadi begitu bulat kini mulai meredup sayu hingga tertutup.
"Kamu sudah kenyang, ya? Kamu lucu sekali Nak. Bagaimana mungkin aku tega memberikanmu pada orang lain yang nggak jelas siapa. Mulai sekarang kamu jadi anakku, gadis cantikku," gumam Yonna sembari tersenyum manis.
Tangannya menyibak rambut hitam lebat itu, hingga di balik telinga sebelah kiri, Yonna tertegun sejenak. Matanya memicing melihat sesuatu yang baru ia ketahui.
"Sini anak ini!" Jelita langsung menyambar bayi yang ada di dalam gendongan Yonna.
Sontak Yonna berdiri menatap mertuanya heran. Ia sedang memberikan susu formula pada bayi itu di kamarnya.
"Mama mau apa dengan Arabella?" ucap Yonna menyebut nama yang ia sematkan pada bayi tersebut.
"Kalau kamu nggak bisa mengambil keputusan. Biar Mama yang bawa bayi ini pergi!"
Jelita sudah hendak pergi membawa bayi itu, namun tangan Yonna dengan cepat mencekal lengan mertuanya dengan erat. Kedua mata mereka saling bertatapan tajam. Untuk pertama kalinya Yonna menentang mertuanya itu.
"Tidak. Jangan lakukan itu, Ma! Jangan bawa Arabella pergi!" pinta Yonna penuh harap. Yonna langsung merebut bayi itu kembali dari gendongan Jelita dengan paksa. Ia memeluk bayi itu kuat seakan takut kehilangan.
__ADS_1
"Bayi itu bukan anakmu! Ia juga bukan darah daging keluarga Apsara. Jadi ia tidak pantas untuk tinggal di rumah ini!"
"Ma, aku mohon. Biarkan bayi ini tinggal bersama kami, aku janji bayi ini tidak akan menyusahkan keluarga ini. Aku tak tega membuatnya hidup di luaran sana. Aku mohon!"
"Aku bilang tidak, tetap tidak! Aku tidak sudi anak ini tinggal di rumah ini!" tolak Jelita tegas. Matanya menatap Yonna nyalang, untuk pertama kalinya mereka berdua saling bersitegang urat.
"Baik, kalau Mama tidak memperbolehkan aku merawat bayi ini di rumah ini. Aku dan Mas Bara akan membawa anak-anak pindah ke rumah lama kami," balas Yonna menantang.
"Kamu berani mengancam Mama Alice? Kamu mau durhaka sama mertuamu sendiri hanya demi anak yang tak jelas siapa bapaknya itu, hah!"
Amarah Jelita sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Tak ada yang mau mengalah akan hal tersebut, napas Jelita yang kian menderu membuat Yonna cukup sadar diri. Ia teringat akan nasehat suaminya pada malam itu.
"Aku minta maaf, Ma. Aku tidak bermaksud untuk menentang Mama. Tapi bukankah Mama yang selama ini selalu mendesak aku dan Mas Bara untuk memiliki anak lagi, perempuan. Dan aku belum mampu untuk memberikannya. Makanya aku pikir mungkin anak ini adalah jawaban dari keinginnan kita. Aku yakin kok, anak ini pasti berbeda dari orang tuanya asal kita merawatnya dengan baik. Aku mohon, Ma. Please!" Yonna menyatukan kedua telapak tangannya di bagian dada sembari mengepit bayi dalam pelukannya
"Kamu memang benar-benar keras kepala! Sekarang terserah kamu saja, tapi ingat ... jika terjadi sesuatu, semuanya menjadi tanggung jawabmu!" tekan Jelita dengan penuh ancaman. Wajahnya yang memerah semakin tak sedap dipandang.
"Ma ... tapi—" Yonna belum selesai mengeluarkan perkataannya, namun Jelita sudah pergi begitu saja dari kamar itu tanpa bersuara lagi bahkan tanpa menoleh.
Yonna menghela napas panjang dengan pandangan jatuh pada wajah kecil yang masih ada dalam gendongannya.
"Kenapa jadi seperti ini? Apa keputusanku ini salah? Aku bingung harus melakukan apa padamu? Kamu amanah yang dititipkan padaku, secara hukum agama aku memiliki kewajiban untuk melaksanakan. Tetapi apa aku harus menentang keluargaku sendiri? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan padamu?" ujar Yonna lirih. Ia berbicara seakan bayi yang ada di tangannya itu mengerti apa yang ia ucapkan.
"Atau apa aku ikuti kemauan Mama dan Mas Bara saja, memberikanmu pada orang lain atau meletakkanmu ke panti asuhan? Apa Tuhan akan memaafkanku karena ingkar janji atas amanah yang diberikan ibumu. Bayi kecil, kamu pasti tidak akan marah padaku kan, jika aku ingkar janji pada amanat itu?" gumam Yonna seakan bertanya pada bayi yang kini tiba-tiba bangun lalu menangis.
Yonna panik, suara tangis bayi itu begitu kencang memekakkan telinga.
"Aduh! Jangan nangis dong. Nanti wanita tua itu kembali dan melemparmu keluar dari rumah ini. Kamu nggak mau kan? Jadi jangan menangis lagi ya! Aku minta maaf atas ucapan bodohku itu. Ok! Cup ... cup!"
__ADS_1
Yonna menggoyangkan badannya sembari membujuk. Ia mulai gelisah dan panik, semuanya menjadi rumit dan membingungkan.