Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 93. Permasalahan baru.


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, bulan madu yang indah pun sudah berakhir. Bara dan Yonna memutuskan untuk pulang ke rumah.


Selama perjalanan pulang, Yonna tak henti-hentinya tersenyum. Tangan suaminya juga tak lepas menggenggam jemarinya dengan lembut sambil fokus pada kemudi mobil yang ia kendalikan.


Langit biru dengan awan putih yang beiringan menjadi teman perjalanan yang setia saat ini.


"Sayang sekali kita harus pulang, Mas masih ingin di sana satu minggu lagi," ujar Bara mengawali perbuncangan ini.


Yonna tersenyum, selama di villa itu suaminya menjadi pria yang paling manis. Penurut dan manja, sangat jauh dari kesan seorang Bara yang tegas dengan rahang ketatnya itu.


"Setiap liburan kita bisa merencanakan untuk kembali lagi ke sini. Lagi pula jarak tempat ini dari rumah juga tidak jauh. Hanya 6 jam saja, kan."


"Ya, kamu benar Sayang. Kita harus sering-sering membuat rencana liburan seperti ini."


"Tetapi kedepannya aku ingin ngajak anak-anak."


Bara mengerutkan dahinya. Ia menoleh pada istrinya sekilas.


"Kok ngajak anak-anak?"


"Mas, kita ini sudah tua. Liburan kita tak lagi hanya sebatas kamu dan aku. Anak-anak juga harus ikut dong, biar tambah seru dan kekeluargaan kira kompak. Lagi pula villa itu sangat cocok jika dijadikan tempat liburan keluarga," jelas Yonna.


"Yah ... kamu benar Sayang. Saat anak-anak mulai dewasa nanti, mungkin kita akan merindukan kebersamaan itu. Saat mereka sudah mulai hidup dengan kesibukannya masing-masing. Mumpung mereka masih kecil, ayo kita liburan setiap akhir pekan," balas Bara antusias.


Terkadang manusia lupa ada dua hal yang tak akan pernah bisa di kendalikan, waktu dan usia. Waktu yang terus berlalu tak akan pernah bisa diputar, sementara usia tak dapat di kompromi jika sudah berada pada ujung nasib. Tanpa terasa 6 jam perjalanan pun telah terlalui. Mereka berdua tak lupa mampir di toko oleh-oleh yang kini telah tersusun rapi di bagasi.


"Mommy i miss you!" seru Noah saat Yonna dan Bara baru saja turun dari mobil. Bocah lelaki itu berlari menghambur ke dalam pelukan ibunya. Bara tersenyum ia mendekati istrinya dan mengusap kepala anaknya dengan sayang.


Tangan kekarnya mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Senyum bahagia terukir indah di wajah ketiganya. Baru satu pekan tak bertemu, namun rindu itu sudah meluap seperti air danau yang banjir.

__ADS_1


Seorang bocah lelaki terpaku dari lantai atas. Ada rasa iri yang tumbuh sama besarnya dengan rasa sakit. Akan tetapi pandangan matanya yang datar, tak mampu mengekspresikan rasa yang ada di dalam hatinya.


"Kenapa cepat sekali kalian pulangnya? Satu minggu lagi Mama rasa tak masalah," celetuk Jelita yang sedari tadi berdiri di teras bersama Noah tadi.


Yonna berjalan mendekati mertuanya dan memberi salam. Begitupun dengan suaminya.


"Terlalu lama di sana juga terasa bosan, Ma. Aku juga kepikiran dan juga kangen dengan anak-anak," balas Yonna. Jelita mencebikkan bibir mendengar jawaban menantunya itu.


"Kamu pikir Mama tak akan becus mengurus mereka selama kalian liburan," omel Jelita. Ia mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah kemudian duduk santai di ruang tamu.


"Yonna tak bermaksud bicara seperti itu sama Mama. Mama jangan salah paham dulu, namanya juga orang tua. Pasti kangen dengan anak-anaknya," ucap Bara membela istrinya. Jelita sedikit lebih sensitif akhir-akhir ini. Ia bisa kesal dan marah hanya dengan satu kalimat yang ia salah artikan.


"Ya ... ya! Kamu bela saja istrimu itu. Nggak usah Mama." tandas wanita paruh baya itu lagi.


"Kalian berdua pasti lapar, kan? Kebetulan Mama dan bibi masak untuk kalian berdua. Jadi makanlah, kemudian istirahatlah!" tandas Jelita. Ia beranjak ke arah dapur, memaksa kedua anak menantunya untuk makan di waktu yang tak lagi bisa di katakan siang.


Makan malam kini semua berkumpul di meja. Menikmati aneka menu masakan yang beraneka ragam.


Koper-koper yang berisi oleh-oleh sudah Yonna bagi-bagikan pada seluruh anggota keluaga. Semuanya menerima dengan antusias dan Noah adalah anak yang paling bersemangat dengan semua hadiah itu dibandingkan Bryan.


"Bryan apa kabar, Nak. Bagaimana sekolahmu?" tanya Yonna menyapa bocah lelaki yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah kata pun selain kata terima kasih. Ia pun tampak menikmati makannya dengan diam, tak ada kalimat protes seperti yang sering ia layangkan dulu.


"Baik," jawabnya singkat.


Yonna bertukar pandang dengan suaminya. Ia sedikit terkejut dengan 180° perubahan bocah itu, dari Bryan yang selama ini dikenal. Bocah yang dulu sangat hiperaktif itu kini tampak begitu tenang. Jauh lebih dewasa dari umurnya.


"Apa kamu suka hadiah yang Mommy berikan padamu, Sayang?" tanya Yonna lagi. Ia mulai membiasakan Bryan untuk memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan yang disematkan Noah padanya.


Setidaknya dengan begitu bocah itu bisa merasakan ada pengganti orang tuanya di rumah itu.

__ADS_1


"Suka, bagus. Terima kasih." Lagi-lagi Bryan menjawab dengan singkat.


Yonna melirik pada Jelita, Ibu mertuanya yang paham arti dari tatapan matanya itu hanya sedikit mengangkat kedua bahunya bingung. Entah sejak kapan bocah itu berubah dan karena apa? Dari luar bocah itu terlihat baik-baik saja.


Tumbuh dengan baik dan terlihat lebih tenang hingga di anggap pandai mengelola emosi. Kenyataanya, Bryan mulai membentengi dirinya dengan sikap dingin yang perlahan-lahan mulai terbentuk.


Tidak berpendapat bukan berarti ia tak tahu masalah yang tengah dihadapi oleh keluarganya. Memilih menjadi pendiam adalah jalan yang ia ambil untuk tidak merumitkan masalah keluarga.


Noah menarik lengan baju Yonna, meminta atensi wanita itu beralih padanya.


"Ada apa, Nak?"


Noah memberi kode dengan tangannya untuk Yonna sedikit menundukkan kepalanya. Yonna pun melakukan apa yang dipinta bocah itu.


Noah mulai membisikkan sesuatu di telinga, sebuah kenyataan yang membuat Yonna terkejut.


"Apa benar yang di katakan Noah, Bryan? Kenapa kamu tidak mengatakan pada Mommy hal itu?" tanya Yonna. Walau ia pun cukup bingung kenapa Noah bisa mengetahui hal tersebut.


"Mengatakan hal apa? Memang ada apa dengan Bryan?" tanya Bara ingin tahu.


"Iya, memangnya ada apa? Apa yang Noah bisikkan padamu?" cecar Jelita penasaran.


Cucunya tak mengatakan apa-apa, tentu saja ia penasaran dengan apa yang Noah dan Bryan sembunyikan darinya.


"Noah bilang, dua hari ini Bryan nangis di kamar karena ia di bully teman kelasnya di sekolah. Mereka mengatakan Bryan anak dari seorang Ibu yang membunuh suaminya sendiri hanya untuk mengejar selingkuhannya," jelas Yonna.


Semua tersentak kaget, sementara Bryan menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Apa yang terjadi di kehidupan pasangan berumah tangga, anak-anaklah korban sesungguhnya.


Entah dari mana anak-anak kecil itu tahu permasalahan ini, hingga mereka bisa menjadikan Bryan bahan bullyan yang mungkin saja akan merusak mentalnya.

__ADS_1


__ADS_2