Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 48. Pertengakaran suami-istri


__ADS_3

Gavin pulang ke rumah tepat jam di mana Cinderella kehilangan sepatu kacanya, wajahnya tampak begitu kusut dengan pakaian bagian atas yang sedikit berantakan.


Langkah kakinya terasa berat memasuki kamarnya yang terletak di lantai atas sebelah utara. Kamar yang berjauhan dari kamar Bara.


Lelaki itu membuka pintu kamarnya dengan kasar, menekan tombol lampu dan menutup pintu itu kembali dengan kuat, membangunkan Gisella yang sedang menikmati merajut mimpi indahnya.


Gisella terganggu dengan bunyi pintu yang sedikit berdentum itu pun membuka matanya. Menarik punggungnya untuk bangkit sambil mengucek matanya yang terasa masih lengket. Membuka mata perlahan untuk menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam retina.


“Kamu sudah pulang, Mas? Kenapa sekarang kamu pulang larut malam terus, Mas?” Suara serak Gisella menyapa. Gaun tidur berwarna merah dengan tali spageti melekat pas di tubuhnya. Tampak seksi, tetapi tak membuat Gavin tergoda untuk mengalihkan pandangan menatap istrinya sejenak.


Lelaki itu melepas kancing bajunya dengan kasar, mengabaikan pertanyaan yang di tujukan padanya. Hatinya saat ini sedang dongkol, karena seseorang yang sangat sulit ia hubungi beberapa hari belakangan ini. Gavin tahu jika wanita itu sudah pulang dari dinas luar kotanya, namun kenapa tak juga kunjung membalas pesannya.


Beberapa kali panggilan telponnya pun ditolak begitu saja. Menghadirkan banyak pertanyaan yang bergelut di dalam otaknya yang membawa kegelisahan di hati.


Ia sudah mencoba untuk mencari alamat wanita itu, namun seperti sengaja di sembunyikan darinya. Hatinya tak nyaman menahan kerinduan akan suara lembut yang membelai telinganya.


Gavin masuk ke dalam kamar mandi setelah melempar pakaiannya dengan asal pada keranjang pakaian kotor yang ada di depan pintu kamar mandi.


Gisella menghela napas berat. “Selalu.seperti itu. Dulu katanya cinta padaku, namun kini jangankan mengatakan cinta, menjawab pertanyaanku saja enggan. Apa karena sekarang aku sudah tak cantik lagi?” gumam Gisella menunduk sedih.


Kamar beruangan besar dengan dinding putih yang memberikan kesan hangat, terdapat pintu kaca besar yang menghadap balkon yang dapat menyalurkan sirkulasi udara dan memberikan pemandangan kolam renang yang dilindungi oleh pepohonan.


Kamar itu terlihat minimalis dengan furniture ramping dan warna netral hingga terkesan manis dengan hiasan dinding ala kekinian. Seharusnya menjadi tempat peraduan ternyaman untuk mereka melepas lelah dari penatnya dunia. Namun nyatanya, kamar itu justru terasa hampa dan dingin.

__ADS_1


Gisella tak mengerti kenapa sifat Gavin semakin hari semakin menghindar darinya. Tak ada yang berubah darinya, ia masih seperti dirinya yang dulu walau ia sudah memiliki anak. Karena wanita itu begitu menjaga tubuhnya agar tetap langsing dan menawan. Tetapi apa gunanya semua usahanya untuk merawat diri, jika pada akhirnya suaminya tetap mengabaikannya.


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Gavin yang keluar dengan tubuh yang segar. Handuk melingkar di pinggangnya, dengan santai lelaki itu menuju lemari mengambil piyama dan memakainya di tempat tanpa rasa canggung.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Mas? Oh ya, apa kamu tahu, ada kabar mengejutkan hari ini,” ucap Gisella.


Ia kini sudah duduk di pinggir ranjang menghadap suaminya. Tangannya memegang pinggir ranjang yang ditutupi badcover berwarna abu-abu.


“Kabar apa?” tanya Gavin santai. Ia tak terlalu memperdulikan apa yang istrinya katakan.


Tangannya bergerak mengancingkan kancing kemeja piyama yang ia kenakan. Handuk putih yang tadi ia kenakan sudah terlempar asal ke arah pintu kamar mandi. Lemparan yang meleset membuat kain lembab itu teronggok begitu saja di lantai.


“Kakakmu itu pulang membawa istri yang baru di nikahinya kemarin dengan seorang anak lelaki yang seumuran dengan Bryan,” kata Gisella bersemangat memberikan informasi pada suaminya itu. Ia yakin Gavin pasti belum mendengar kabar tersebut.


Gavin tidak menyukai saudara lelakinya itu, ia juga tidak peduli akan apa yang dilakukan saudara lelakinya itu, tetapi Gavin akan senang jika dirinya lebih unggul dari saudaranya dalam berbagai hal.


“Anak itu anaknya, tanpa tes DNA sekalipun juga sudah tampak jika bocah itu putranya. Wajah mereka seperti pinang dibelah dua.”


Gavin memicingkan mata menatap istrinya yang duduk dengan santai. “Anaknya? Jadi ia memiliki anak di luar nikah?”


“Hmm …,” jawab Gisella santai menanggapi raut keterkejutan suaminya. Siapa yang mengira lelaki yang tampaknya tak tertarik dengan wanita itu justru melakukan hal yang mengejutkan.


“Menarik, ternyata ia tidak seperti yang aku bayangkan.” Gavin terkekeh. Ia berjalan menuju ranjang, naik ke atas peraduan dan langsung mengambil posisi berbaring untuk tidur.

__ADS_1


“Apa kamu tidak takut, Mas. Tampaknya Mama dan Papa sangat menyayangi anak mereka. Bagaimana kalau Mama dan Papa mengabaikan Bryan. Kasihan putra kita.” Gisella menaikkan kaki dan memutar tubuhnya hingga duduk di atas ranjang menghadap Gavin, ia mengutarakan kekhawatirannya dengan apa yang ia rasakan hari ini.


Saat makan malam, Jelita dan Immanuel tampak terang-terangan mengistimewakan Noah dengan menyuapinya. Hal yang dulu jelita lakukan pada putranya saat masih kecil. Namun sekarang tidak lagi, apalagi semenjak Bryan mulai besar, mereka justru mengabaikan putranya itu.


“Masalah sepele begini kamu masih mau menyusahkanku? Dasar istri tidak berguna!” ketus Gavin.


Gisella mendengkus tak suka. “Sepele katamu, Mas? Kamu tidak mengerti posisiku di rumah ini, Mas. Kamu kan tahu Mama tak menyukaiku dari dulu, seharusnya kamu sebagai suami itu menenangkan istri bukannya membentak dan menyalahkanku seperti ini!” sungut Gisella. Menyampaikan uneg-uneg yang ada di hati atas pengabaian sang suami. Namun tanpa Ia sadari, justru memantik api pertengkaran dan membuat hubungannya semakin renggang.


Gavin bangkit menegakkan punggungnya, pandangan matanya pada Gisella menusuk tajam. Ia tak suka saat istrinya menaikkan nada suara di hadapannya.


“Ya, seharusnya kamu gunakan otakmu itu untuk berpikir, bukan cuma tahunya dandan dan menghambur-hamburkan duitku saja!” balas Gavin tak suka. Suaranya pun tak kalah meninggi.


“Kamu sekarang berubah, Mas. Tidak seperti dulu, apa yang kurang dariku? Aku masih cantik seperti dulu. Apa kamu sudah jatuh cinta sama wanita lain?”


“Kamu sedang bicara apa? Aku tak mengerti, aku mau tidur dan jangan menggangguku!” Gavin yang jengah beranjak dari ranjang dan berjalaan menuju pintu untuk keluar dari kamarnya.


Gisella yang melihat suaminya hendak pergi langsung ikut beranjak dan segera menahan lengan suaminya agar tidak berhenti.


“Mas, kamu mau kemana? Jangan menghindar dariku, aku belum selesai bicara!”


“Itu bukan urusanmu. Aku muak mendengar keluhanmu yang tak berguna itu. Aku pikir dengan menikahimu hidupku akan jauh lebih bahagia. Ternyata kamu jauh lebih buruk dari wanita gendut itu.”


“Kamu bandingkan aku dengan mantan istrimu itu, Mas! Dari segi mana aku kalah darinya, Aku jauh lebih cantik darinya!” sentak Gisella tak terima. Ia menaikkan dagunya dengan pongah.

__ADS_1


“Setidaknya ada ia aku tak perlu pusing dengan persoalan rumah. Ia juga melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik. Sedangkan kamu? Bahkan secangkir kopi pun tak pernah kamu siapkan untukku selama kita menikah!” Gavin menghentak tangan Gisella kasar, tersenyum sinis menjatuhkan. Lalu langsung berbalik meninggalkan wanita yang telah memberikannya satu putra itu.


Mata Gisella nanar dan berkaca-kaca. Kedua tangannya terkepal erat dan bergetar, rasanya begitu perih. Hal yang paling menyakitkan bagi seorang istri saat suaminya mulai mengabaikannya.


__ADS_2