Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 81. Musibah atau karma?


__ADS_3

“Lepaskan benda itu sekarang juga atau kau akan menyesal dengan apa yang kamu lakukan!” ujar Gavin penuh penekanan. Ia mengintimidasi Gisella dengan tatapan matanya yang tajam dan juga langkah kaki yang semakin mendekat.


“Tidak akan! Aku tak akan memberikan benda ini padamu yang pada akhirnya akan kau todongkan padaku!” balas Gisella menantang, langkah kaki yang terus mundur itu terhenti. Ia tak memiliki space lagi untuk melarikan diri.


Hidupnya semakin terancam kini, tak ada jaminan ia bisa bernapas dengan tenang esok hari. Firasatnya yang buruk mengatakan pria itu pasti akan membunuhnya saat itu juga.


“Pengkhianat sepertimu memang pantas mati!”


Gisella terkekeh mendengar ucapan lelaki yang masih sah menjadi suaminya.


“Pantas kamu bilang! Lalu bagaimana denganmu Tuan Gavin yang terhormat? Apa kamu tak sadar dengan apa yang kamu lakukan padaku dan pada mantan istrimu dulu. Apa kamu pernah memperlakukan istrimu dengan baik. Bagimu istri tak lebih dari boneka pajangan yang bisa memuaskan mata, perut dan nafsumu saja!” cibir Gisella dengan wajahnya yang sinis.


"Tutup mulutmu wanita ja-lang! Kamu tak memiliki hak untuk mengoreksiku!"


Gavin yang marah langsung merampas pistol revolver kaliber 44 yang dicengkeram erat oleh Gisella. Gavin merampasnya dengan kuat dan sekuat tenaga juga wanita itu menahan agar benda itu tak lepas dari tangannya.


Terjadi aksi tarik menarik yang cukup menegangkan di antara mereka. ujung pistol itu berada di depan muka Gavin dan Gisella secara bergantian. Tak ada yang mau mengalah.


Dor!


Platuk terlepas. Gisella terpaku dengan mata yang melebar sempurna seakan ingin melompat dari tempatnya. Dalam hitungan detik, tubuh yang tertembak itu langsung tergeletak di lantai.


Dua orang yang ada di lantai bawah tersentak kaget, mereka saling berpandangan sejenak. Kemudian berlarian menuju asal suara.


Pintu terbuka setengah, betapa paniknya Mark dan James melihat Gavin tergeletak di lantai bersimbah darah dengan timah putih yang bersarang di dadanya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Mark pada James. Mark mengernyitkan dahi melihat Mata Gavin melotot ke atas dengan napas yang terengah-engah.

__ADS_1


"Aku tak tahu, cepat panggil ambulans. Aku akan berupaya menghentikan pendarahannya," balas James.


Dua orang itu mencoba bersikap tenang, lelaki berambut pirang meraih ponsel di saku celananya untuk menelpon pusat kesehatan sementara james membuka jaket Gavin dan memberikan pertolongan pertama padanya agar lelaki itu tidak kehabisan darah sebelum dokter sempat menanganinya.


Setelah menembak Gavin hingga tergeletak di lantai. Gisella yang panik langsung berlari keluar kamar masih dengan pistol di tangannya. Keringat dan air mata bercucuran. Ia berjalan setengah berlari ke arah samping yang membawa ia pada tangga yang tembus ke arah dapur.


Gisella yakin Gavin tak akan mungkin datang sendiri. Jika ia kabur lewat pintu depan maka ia akan dengan mudah di tangkap.


"Aku harus segera kabur dari sini, aku tak mau di tangkap dan di penjara. Tidak! Aku tidak mau!" gumamnya dengan napas yang tersengal-sengal.


Gisella bukan wanita bodoh, tentu saja sebelum lari ia mengambil tas miliknya yang berisi uang dan juga perhiasan yang memang sudah di simpan di dalam tas tersebut. Semua itu untuk modal hidupnya selanjutnya.


Dengan mengendari mobil sedan yang ada di garasi, wanita itu membawa mobil tersebut pergi membelah jalanan di antara pohon cemara yang tinggi subur.


Rumah yang mereka tempati tersembunyi di tengah hutan cemara yang tak jauh dari pemukiman penduduk, tampak begitu tenang dan asri. Namun berubah mencekam hanya dalam satu malam.


"Sepertinya tak ada yang mengejarku. Sekarang aku harus ke mana?" ujarnya bingung. Ia bisa bernapas lega karena tak ada siapa pun yang mengikutinya. Tetapi itu hanya sesaat karena di detik kemudian ia menjadi orang linglung yang tak tahu arah tujuan.


" Aku ... aku akan meminta bantuan Gabby. Ya ... aku akan ke sana meminta bantuannya. Aku yakin ia pasti mau menolongku," ucapnya lagi pada diri sendiri.


Saat terdesak seperti keadaannya saat ini, entah kenapa hanya ada satu nama yang terlintas di benaknya. Nama seorang sahabat yang ia miliki dulu saat ia belum menjadi istri Gavin. Sahabat yang sudah lama ia lupakan keberadaannya.


~ ~ ~


Yonna mengerjabkan matanya, bunyi dering ponsel mengusik tidurnya yang baru saja terlelap satu jam yang lalu.


Putranya Noah sedang demam dan rewel hingga semalaman ia harus rela bergadang mengusap pelipis bocah itu agar bisa tertidur lelap. Sekitar jam 3 pagi ia baru bisa beranjak dari kamar Noah untuk ikut bergabung bersama suaminya untuk tidur di ranjang mereka.

__ADS_1


Dering ponsel itu terus berbunyi tiada henti, menusuk telinga. Tak hanya dirinya yang terusik. Bara yang tertidur di sampingnya pun juga ikut terbangun.


"Mas, angkat ponselmu itu! Bunyinya berisik sekali, sepertinya penting," ujar Yonna. Ia meletakkan jempol dan telunjuknya di atas dahi untuk memijit sembari melihat atap langit kamar dengan spot lampu yang tamaram.


"Hmm," gumam Bara lirih. Lelaki yang tidur tanpa baju itu pun meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas tepat di sebelahnya.


Matanya masih terasa lengket bagai lampu yang tersisa hanya 5 watt saja. Ia mengangkat telpon tersebut tanpa melihat nama ataupun nomor yang tertera di layar.


"Apa?" suara serak Bara terdengar meninggi. Matanya yang lengket seketika terbuka lebar sempurna dengan raut panik yang tercetak jelas. Yonna bangkit dari tidurnya, menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa? Kenapa kamu seperti panik begitu?" tanya Yonna setelah sambungan telpon tersebut tertutup.


Bara mengusap wajah dan rambutnya kasar. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sulit Yonna jabarkan.


"Tadi Papa telpon, Gavin masuk rumah sakit karena luka tembak di dadanya."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," lirih wanita berambut panjang itu sembari menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kok bisa sampai kena tembak? Rumah sakit mana? Aku ikut?"


"Tidak usah, kamu di rumah saja temani Noah. Ia masih sakit, lagi pula kamu juga baru istirahat, kan. Biar aku saja yang pergi," balas Bara cepat. Lelaki itu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan berganti pakaian dengan cepat.


Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk ia cemburu pada adik dan istrinya hanya saja, kondisi istrinya yang tampak lemas akhir-akhir ini cukup membuatnya khawatir. Itu sebabnya ia melarang istrinya untuk ikut.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" bisik Yonna dengan pandangan mata tak lepas dari punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.


Masalah silih berganti menghampiri seperti badai di musim kemarau yang tak pernah usai.

__ADS_1


__ADS_2