Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 89. Program tambah momongan.


__ADS_3

Pernah dengar kalimat "Tuhan tidak akan mengambil sesuatu darimu jika tidak menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik" dan itu related.


Semakin memaafkan maka hati semakin tenang walau tak terkira seberapa besar rasa sakit itu. Memang tidak mudah tetapi tak salahnya belajar menerima. Bukan untuk orang lain tetapi setidaknya untuk ketenangan hati sendiri.


Hukum tebar tuai itu ada. Hanya masalah waktu. Terkadang saat orang yang berbuat jahat itu terlihat baik-baik saja sesungguhnya mereka hanya sedang berusaha terlihat baik-baik saja agar tidak tampak begitu menyedihkan.


Jika di sana Gisella sedang menghadapi ketakutan atas segala tindakan bodoh yang ia lakukan. Hidup dalam pelarian selama berbulan-bulan. Maka di tempat yang berbeda, sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh takdir sedang menikmati kehangatan setelah memadu kasih di bawah selimut beberapa menit yang lalu.


Bara mencium kening istrinya lembut. "Ada apa? Cepat pakai pakaianmu Sayang! Nanti masuk angin. Apa yang menarik berdiri di depan kaca itu sedari tadi?"


Bara menatap heran pada istrinya yang hampir 5 menit tak kunjung beranjak dari lemari kaca dengan handuk yang membalut tubuhnya hingga setengah paha.


"Aku sedang melihat tubuhku yang semakin gendut semenjak kamu melarang mengkonsumsi pil diet itu lagi. Aku nimbang tadi sampai naik 6 kg, Mas," gerutu Yonna sedih melihat bentuk tubuhnya sendiri.


Ia sudah rajin olah raga, ia juga sudah mengatur pola makannya. Tetapi entah kenapa apa pun yang ia makan menjadi daging untuknya.


Bara menghela napas. "Memangnya kenapa kalau gemuk. Selagi kamu sehat dan nyaman, ya nggak masalah untukku. Lagian gemuk jug masih cantik kok," goda Bara sembari menjepit pipi istrinya yang mulai bulat berisi.


Bara beralih duduk di pinggir ranjang. Ia sudah berganti pakaian lebih dulu. Sebuah handuk kecil di tangan kini ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Cepat ganti bajumu, setelah itu kita turun. Sebentar lagi anak-anak pasti datang memanggil kita untuk makan malam."


Yonna membuka lemari, tangannya meraih pakaian yang ada di dalamnya. Sebuah dres selutut yang menjadi pilihannya.


"Aku nggak ikut makan malam, ya, Mas. Nanti tambah gemuk kalau aku makan malam," tolaknya.


"Jangan begitu, nanti kamu sakit. Setidaknya isi lambungmu dengan makanan yang tak terlalu berat. Jangan dibiarkan kosong seperti itu. Aku tak suka."


"Tapi Mas—"

__ADS_1


"Tak ada tapi-tapian Sayang. Gemuk atau tidak, aku kan nggak pernah protes selagi kamu senang dan nyaman. Aku malah nggak suka lihat kamu ketergantungan obat diet seperti itu. Sudahlah, lagi pula wajar jika gemuk. Itu artinya aku sebagai suami berhasil membahagiakan istri," ujar Bara seraya terkekeh.


Lelaki itu beranjak keluar kamar lebih dulu, meninggalkan istrinya yang mencebikkan bibirnya.


"Sepertinya aku harus ikut pilates biar tubuhku yang seksi bisa kembali seperti semula. Aku saja risih melihat tubuhku ini yang lurus saja seperti pohon pisang tanpa lekukan. Ckkk," decak Yonna. Ia masih pusing dengan tubuhnya sendiri.


Semua sudah berkumpul di meja makan. Noah dan Bryan makan dengan tenang. Semenjak dalam asuhan Yonna, Bryan lebih teratur dan penurut. Bocah itu tak lagi seperti anak yang haus akan perhatian dan petakilan.


Ia bahkan lebih dekat dengan Yonna ketimbang dengan Ibu kandungnya snediri yang kini entah berada di mana.


"Kamu kenapa? Mama lihat makanmu sedikit sekali?" tanya Jelita melihat isi dari piring menantunya yang hanya sedikit dan itu pun juga berkurang sedikit.


"Nggak apa-apa, Ma. Aku hanya merasa kenyang saja," balas Yonna seraya tersenyum canggung. Ia tak mungkin mengatakan pada mertuanya itu jika dirinya saat ini sedang berupaya untuk memangkas asupan makanannya.


"Sayang, ayam bakar Mama ini enak banget. Ini kesukaan kamu kan. Ini habiskan!"


Bara meletakkan sepotong dada ayam di atas piring istrinya. Yonna melirik suaminya yang hanya di balas dengan senyuman.


"Mas. Nanti yang lainnya dengar. Kamu ini, dasar!" ucap Yonna tak kalah berbisik.


Wajah Yonna seketika memerah karena malu. Ditambah lirikan jelita yang di sertai senyuman menggoda membuat Yonna semakin malu saja. Bara memang sedang gencar membuat Yonna hamil kembali.


Noah yang sudah bertambah besar membuat mereka ingin menambah momongan kembali. Satu atau dua lagi bayi kecil yang lucu agar suasana rumah itu terlihat ramai dan berwarna.


Manusia hanya bisa berencana namun Tuhan jualah yang menjadi penentu segalanya. Hingga detik ini Yonna belum juga ada tanda-tanda kehamilan.


Padahal dulu hanya semalam saja ia sudah bisa memiliki Noah di dalam rahimnya. Tetapi kini, mereka sudah rutin melakukan hubungan suami-istri dan juga konsultasi pada dokter kandungan. Tetapi belum juga mendapatkan hasil.


"Bagaimana hasil pemeriksaan kemarin? Apa yang dikatakan dokter Indri?"

__ADS_1


"Tak ada masalah, Ma. Kondisiku dan Mas Bara bagus," jawab Yonna. Hatinya ketar-ketir dengan jawaban mertuanya yang mungkin saja menyalahkan dirinya yang tak kunjung kembali memberikannya seorang cucu.


"Lalu kenapa belum hamil juga? Kamu tidak menggunakan kontrasepsi untuk menundanya lagi kan?"


"Tidak Ma. Aku tidak memakainya sejak kami menikah," jawab Yonna jujur. Ia tak mengerti kenapa kali ini ia sulit hamil, justru tubuhnya saja yang semakin berisi bagai bola kasti.


Jelita begitu menginginkan seorang cucu perempuan di antara dua cucu lelakinya. Itu sebabnya ia juga yang mendorong Yonna dan Bara memeriksakan kesuburan mereka ke dokter Indry. Dokter kepercayaan keluarga mereka.


"Ma, mungkin belum rezeki kami. Sabar saja, kalau sudah waktunya juga dapat," timpal Bara melindungi istrinya. Walau sebenarnya ia pun juga sudah tak sabar lagi memiliki anak kembali.


Kehadiran Noah yang tidak ia ketahui membawa rasa bersalah pada dirinya hingga saat ini. Ia selalu sedih jika mengingat bagaimana istrinya melalui hari-hari di masa kehamilannya tanpa kehadirannya sebagai seorang suami di sisinya. Dan Bara ingin menebus masa-masa itu saat kehadiran anak kedua mereka nantinya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian berdua pergi berlibur. Kalian dulu tidak pernah honeymoon kan. Hitung-hitung itu honeymoon kalian yang tertunda," Immanuel membuka suaranya memberikan saran.


"Iya, Mama setuju. Masalah anak-anak jangan khawatir, ada Mama yang menjaga mereka di sini. Kalian pergi saja," sambut Jelita begitu antusias.


Noah dan Bryan hanya saling melirik tak paham apa yang sedang dibicarakan para orang dewasa di antara mereka.


Noah yang sudah selesai dengan makannya mengajak Bryan untuk pergi ke ruang keluarga.


"Kami sudah selesai," pamit Noah yang di jawab dengan anggukan dari semuanya.


"Tapi Ma—" Belum sempat Yonna menyelesaikan ucapannya, Bara sudah lebih dulu memotong.


"Aku setuju. Jika kamu tidak mau pergi yang jauh seperti keluar negeri, kita bisa honeymoon di daerah yang dekat-dekat saja. Bali atau pelabuhan bajo, misalnya."


"Tapi Mas."


"Sayang, ayolah!" Bara menatap Yonna dengan pandangan matanya yang teduh membuat Yonna luluh.

__ADS_1


"Baiklah."


Tak ada salahnya menyenangkan hati suami dan sepertinya ia juga butuh hiburan untuk menenangkan pikirannya yang penat.


__ADS_2