
Yonna menyiapkan pakaian kerja untuk Bara, menyusun stelan kemeja itu ke atas ranjang dengan rapi. Hari ini suaminya ada sidang penting di pengadilan.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Bara keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Butiran air jatuh dari rambutnya yang basah. Yonna menoleh, tampak dada bidang suaminya seperti batu yang bersusun rapi. Pipi Yonna memanas, walau itu bukan pertama kalinya ia melihat Bara dalam keadaan seperti itu. Tetap saja wanita itu merasa malu.
Yonna beranjak untuk pergi meninggalkan suaminya, ia sedang dalam mode diam tak ingin mengajak bicara suaminya. Pertengkaran kemarin sore masih menyisakan rasa jengkel di hatinya.
Bara menahan lengan sang istri, menariknya hingga Yonna berbalik dan menumbur dada bidangnya yang setengah basah.
“Lepaskan! Nanti bajuku berantakan!” ketus Yonna memperingati. Kemeja serta rok span menjadi stelan favoritnya, selain nyaman wanita itu juga bisa menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah dan Bara tak suka itu.
Bara tidak melepaskan, ia memutar tubuh Yonna menghadap ke arah depan. Tangan kekar itu melingkar di pingging, lalu menyandarkan dagunya ke atas bahu Yonna.
Aroma wangi yang begitu segar menguar dari tubuh Yonna. Aroma buah-buahan dari sabun mandi yang ia kenakan.
“Kamu masih marah padaku?” bisik Bara sembari mendekatkan hidungnya pada ceruk leher Yonna. Wanita itu menghindar karena geli.
“Masih pagi jika ingin memulai pertengkaran lagi hari ini. Cepat bersiap-siap, kamu ada siadang kan pagi ini!”
Yonna semakin kesal, ia berusaha melepas rangkulan tangan lelaki itu. Semakin ia mendorong, justru tangan Bara semakin kuat mendekap. Kini lelaki itu mengecup pipi istrinya dengan mesra. Yonna tersenyum tipis, suaminya selalu bisa meredakan amarahnya dengan sentuhan kecil yang membuat hatinya berbunga.
Pada dasarnya seorang wanita sangat suka di sayang dan dimanja. Sikap Bara saat memperkakukan Yonna membuat wanita itu bisa merasakan dirinya begitu di pedulikan. Perasaan yang dulu tak pernah bisa ia rasakan saat bersama mantan suaminya.
“Kamu kenapa selalu terlihat cantik dan menggoda Sayang? Apalagi bajumu ini, terlihat terlalu kecil untukmu.” Tangan Bara mulai menyusup di balik kemeja, mengusap perut rata istrinya dengan lembut. Menghadirkan rasa yang begitu familiar, tubuh Yonna seakan tersengat aliran listrik.
“Tangan itu di sekolahin nggak! Jangan nakal, ini masih pagi!” omelan Yonna mulai terdengar. Bara tersenyum simpul, kedua tangannya memegang kedua ujung kemeja Yonna dan di detik berikutnya terdengar suara robekan panjang yang membuat kancing-kancing itu terlepas. Yonna tersentak kaget.
“Mas, a-apa yang kamu lakukan? Kamu merusak bajuku, lihat kancingnya pada berhamburan!”
“Gampang, sekarang kamu tinggal ganti baju yang lain saja sayang,” jawab Bara dengan santainya.
__ADS_1
Yonna pikir tangan itu akan diam, namun ternyata wanita itu salah, tangan bara kini mulai meremas sepasang gunung kembarnya yang tak terbungkus sempurna itu.
Terasa besar dan kenyal. Bara merasakan milik istrinya yang semakin besar hingga seakan ingin tumpah dari tempatnya yang sempit. Mata Yonna mendelik tajam saat tangan itu memainkan bola kecil seperti cimol di sana.
“Mas!”
“Aduh, sakit Sayang. Ini KDRT,” ucap Bara spontan saat lengannya dicubit kuat oleh Yonna. Dalam keadaan seperti itu Yonna melepas rengkulan Bara dari tubuhnya, mendorong tubuh Bara menjauh.
“Kamu merusak pakaianku! Dan melecehkanku!”
Bara tertawa mendengar penuturan istrinya yang terdengar konyol.
“Ya sudah, kita lanjutkan dulu sampai tuntas. Baru setelah itu kamu buat laporan tuntutannya,” ujar Bara sembari mengerlingkan matanya nakal.
“Ckkk,” Yonna berdecak geram. Melihat baju keaayangannya yang sedikit rusak, walau sebenarnya masih bisa diperbaiki dengan memasang kancing-kancingnya kembali.
“Jangan coba-coba memperbaiki baju itu kembali dan memakainya! Mulai hari ini aku tidak suka kamu memakai pakaian yang memamerkan lekuk tubuhmu seperti itu. Aku tidak suka apa yang menjadi milikku di pertontonkan pada orang banyak!” ujar Bara tegas seakan mengerti apa yang di pikirkan dalam otak istrinya.
Bara pun melakukan hal yang sama, mengenakan pakaian kerjanya. Pria itu mulai gila terbakar api cemburu setiap ia memergoki mata para lelaki menatap istrinya dengan pandangan lapar. Rasanya Bara ingin mengurung istrinya di kamar saja.
Bara keluar kamar lebih dulu sementara Yonna harus memilah dan memilih pakaian apa yang ia kenakan agar sedikit tertutup. Hampir semua stelan kerjanya berupa kemeja dan rok span.
Setelah berkutat hampir setengah jam di depan lemari, akhirnya Yonna memutuskan memakai blose lengan panjang berwarna maroon dengan full kancing dan aksen pita di bagian leher dan celana panjang berwaran hitam.
Simple dan membuat Yonna semakin anggun dengan kakinya yang tampak jauh lebih jenjang.
Pintu kamar terbuka, menampilkan Gisella yang berdiri di depan pintu dengan wajahnya yang tak sedap di pandang.
“Pagi-pagi sudah membawa aura buruk. Bikin nggak mood saja ni orang!” gerutu Yonna di dalam hati. Wanita itu membalas tatapan Gisella dengan tatapan santai.
“Ada apa? Tumben pagi-pagi jadi penjaga pintu kamarku.”
__ADS_1
“Aku mau kita bicara sebentar, ada yang ingin aku bahas di antara kita! Café four stars sesudah jam makan siang,” jelas Gisella. Mata Yonna memicing menatap Gisella heran.
“Aku harap kamu datang!” tandas wanita yang kini sedang mengenakan rok selutut dengan kemeja biru itu.
Yonna mengetuk-ngetuk telunjuknya di bibir. Ia cukup merasa aneh dengan penampilan wanita itu pagi ini. Stelan yang ia kenakan seperti stelan untuk ke kantor, bukankah wanita itu tidak bekerja. Lalu untuk apa ia berdandan seperti itu?
~ ~ ~
Café four Stars lantai dua, sebuah ruangan plong yang tersusun beberapa kursi dengan konsep rooftop. Rumput sintetis yang terhampar serta atap kanopi yang membuat tempat itu menjadi teduh.
Lantai atas kafe ini tak seramai lantai bawah di saat-saat jam makan siang seperti ini. Itu sebabnya Gisella memilih tempat itu untuk bertemu dan membahas sesuatu yang ia bicarakan kemarin.
Yonna kini duduk berhadapan dengan wanita yang memakai gaun vintage berwarna merah yang cukup mencolok di matanya. Norak.
Pelayan menghampiri dan mencatat pesanan yang mereka pesan, hanya minuman dan sepiring cemilan untuk teman ngobrol yang mungkin akan menegangkan.
“Sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan? Aku nggak punya waktu banyak, kerena aku harus segera kembali ke kantor,” ucap Yonna langsung setelah ia duduk.
“Wow, seorang wanita independen yang super sibuk,” cibir Gisella memulai perperangan kecil.
Yonna tersenyum tipis. “Mau gimana lagi, hidupku terlalu sempurna jika aku habiskan dengan menjadi wanita rumahan. Menunggu suami pulang, entah pulang kerja atau mungkin bersenang-senang dengan wanita lain di luaran sana!” tembak Yonna dengan kalimat pedasnya. Seperti membunuh burung dengan batu, toh ia sangat yakin ajakan Gisella bertemu di tempat itu bukan untuk berbasa-basi mengutarakan kata manis untuk menjalin hubungan yang disebut pertemanan.
“Alice Dionne Kiyonna.” Gisella memajukan punggungnya sedikit agar jarak di antara mereka tidak terlalu jauh. Yonna tersentak kaget, namun dengan cepat ia mengatur ekspresi terkejutnya.
“Itu kan identitas aslimu, kamu pikir dengan make up bisa mengecohku. Aku tak menyangka. Babi putih gemuk yang dulu menjijikkan kini berubah menjadi anak angsa,” imbuh Gisella memindai penampilan Yonna dengan tatapan merendahkan.
“Angsa putih yang indah,” ralat Yonna. Ia menegakkan kepalanya dengan gaya yang begitu anggun dan angkuh. Itu membuat Gisella muak. Ia merasa tersaingi dengan kecantikan yang Yonna pancarkan.
Gisella berdecak geram. “Kau sengaja masuk ke dalam keluarga ini untuk menghancurkan rumah tanggaku kan? Jangan harap itu akan terjadi.”
“Tepat sekali. Aku juga senang jika kamu melawan, jadi permainan akan lebih menyenangkan!” Yonna terkekeh menghadapi Gisella dengan begitu santainya. Berbeda dengan wajah Gisella yang mulai menegang.
__ADS_1
Api permusuhan sudah terpancar di kedua bola matanya. Merah dan menyala.