
"Kenapa belum tidur?" Bara menutup pintu. Ia baru saja dari ruang kerjanya, mempelajari beberapa berkas yang akan ia pelajari untuk persidangan seminggu lagi.
"Belum ngantuk, Mas. Sudah selesai pekerjaanmu?" Yonna balik bertanya. Ia tak sedikit pun menoleh, tubuhnya pun enggan beranjak dari sofa singgel yang tersusun di dekat pintu kaca sliding yang terbuka dan menghadap balkon. Angin malam berhembus masuk ke dalam kamar membawa hawa dingin.
"Ayo kita tidur, kini sudah hampir jam dua Sayang. Bergadang tidak baik untuk kesehatan," tegur Bara. Ia menutup pintu kaca itu rapat, kemudian menyibakkan hordeng agar terbentang panjang.
Langkah akkinya pun kini berhenti teapt di samping sang istri. Bara menguslurkan tangannya untuk menarik lengan istrinya lembut.
"Aku tidur!" ulang Bara kembali. Yonna menghela napas panjang, beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah kaki suaminya menuju ranjang.
Ranjang empuk dan nyaman tak mampu membuatnya terlelap. Pikirannya masih berkecamuk hebat.
"Apa yang mengganggu pikiranmu? Apa masalah Bryan?" tebak Bara. Ia memandang istrinya dengan isntes di balik remang-remang cahaya lampu kamar yang telah di matikan dan hanya menyisakan spot yang tamaram.
"Apa sebaiknya ia kita pindahkan ke sekolah yang lain saja, Mas? Tapi kalau kita pindahkan ke sekolah lain, bagaimana dengan Noah? Ia pasti akan sendirian. Jika di pindahkan juga, apa bocah itu mau pindah-pindah sekolah berulang kali?" ujar Yonna dilema.
Banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan. Belum lagi jarak dan waktu yang harus ia habiskan setiap hari untuk mengantar anak-anak itu di tempat yang berbeda.
"Tak semua masalah dapat diselesaikan dengan kabur, Alice. Jika kita memindahkan Bryan saat ini, sangat tanggung. Tahun ini mereka akan kelulusan kan? Itu artinya mereka juga akan pindah sekolah dari TK ke sekolah dasar."
"Terus kita harus bagaimana? Tidak mungkin kita membiarkan masalah ini begitu saja. Itu akan merusak mentalnya!" jawab Yonna.
Anak dan orang tua memiliki ikatan yang istimewa yang sulit dipisahkan. Sepanjang hidupnya, anak menjalin relasi yang kuat dengan kedua orangtuanya.
Eratnya hubungan orangtua dan anak ini terkadang membuat sebagian orang berpikir bahwa mereka memiliki kemiripan dengan satu sama lain, mulai dari wajah hingga perilakunya. Seperti kata pepatah "buah jatuh tak jauh dari pohonnya" menjadi kalimat beracun untuk anak di dalam kehidupan bermasyarakat.
Orangtua yang berperilaku baik menghasilkan anak yang juga memiliki perilaku baik, begitu pula dengan orangtua dengan perilaku buruk menjadikan anaknya ikut berkelakuan buruk.
__ADS_1
Lalu bagaimana jika orangtua sudah berperilaku baik tetapi tidak dengan anaknya? Begitupun sebaliknya, seorang anak sebenarnya mempunyai perilaku yang baik, tapi kedua orangtuanya sering berperilaku buruk?
Hingga menyebabkan sang anak dicemooh dan hukum atas tindakan yang tidak pernah mereka lakukan hanya karena mereka memiliki ikatan darah. Menghancurkan kepercayaan diri hingga mentalnya habis-habisan.
"Kamu tenang saja. Besok biar aku yang menyelesaikan masalah ini. Sudah jangan terlalu di pikirkan! Nanti kamu sakit," ujar Bara seraya mengusap rambut Yonna pelan. Hati wanita itu menghangat.
Yonna membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. "Terima kasih, Mas. Kamu selalu bisa aku andalkan. Menjadi orang yang kamu cintai adalah anugerah yang tak pernah aku sangka. Kalau tahu seperti ini seharusnya aku menikah denganmu saja sejak awal, bukan dengan adikmu itu."
"Itulah jodoh, Sayang. Menjadi misteri yang tak pernah ada yang tahu. Terkadang kita harus berputar-putar dulu padahal ada di depan mata." Bara tersenyum, kemudian menghadiahkan kecupan lembut di kening Yonna begitu dalam.
"Sekarang tidur! Kita sambung lagi besok, tak akan cukup malam ini jika di habiskan bercerita berdua."
Yonna mengangguk, ia merapatkan tubuhnya agar masuk ke dalam pelukan suaminya. Rasa syukur terus ia kumandangkan di dalam hati untuk keluarga kecil bahagia yang ia miliki saat ini.
Waktu berputar begitu cepat, beberapa bulan terasa beberapa hari. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan jika manusia itu bergerak mencari solusinya. Karena pada hakekatnya tak ada gembok yang tak memiliki kunci.
"Daddy and Mommy curang! Kalian liburan tak mau mengajak kami," ujar Noah dengan wajah merengut saat mengantar kedua orang tuanya di depan garasi mobil.
"Sayang, Daddy dan Mommy hanya pergi sebentar kok. Nanti setelah ini baru kita liburan bersama, ya," ucap Yonna membujuk putranya.
Ia sebenarnya tak tega meninggalkan putranya lagi dalam waktu yang cukup lama.
"Sudah ... cepat kalian berangkat! Nanti keburu sore. Masalah anak-anak serahkan saja pada Mama," timpal Jelita begitu bersemangat. Ia masih pada keinginannya beberapa bulan yang lalu.
"Noah, Daddy dan Mommy itu pergi karena urusan kerja. Kamu kan nggak sendirian di sini, ada Grandma, Grandpa dan Bryan."
Jelita mengusap puncak kepala cucunya itu, berusaha membujuk agar tidak memberatkan kepergian orang tuanya dengan raut wajahnya yang masam itu.
__ADS_1
"Tapi —" Belum sempat Noah menyelesaikan ucapannya, Jelita sudah lebih dulu memotong.
"Sudah, jangan sedih lagi. Bangai mana kalau habis ini kamu ikut Grandma dan Grandpa pergi ke moll untuk membeli ice cream dan juga mainan. Kamu dan Bryan bebas memilih apa saja yang kalian mau," bujuk Jelita.
"Benarkah? Janji?" Wajah Noah yang tak bersemangat tiba-tiba berubah cerah. Secerah matahari yang masih menantang di atas langit.
Bara tersenyum melihat tingkah putranya. Begitu mudah moodnya berubah hanya dengan sogokan sesuatu yang ia sukai.
"Cepat pergi!" Jelita mengibaskan tangannya sebagai kode mengusir anak-menantunya itu. Ia menggandeng tangan Noah dan membawanya kembali ke dalam rumah sebelum bocah itu berubah pikiran.
Sepanjang perjalanan Bara tersenyum riang. Ia kembali teringat perjalanan liburan mereka beberapa bulan yang lalu. Mungkinkah perjalan mereka kalu ini akan seindah kemarin.
"Kamu kenapa senyum-senyum terus, Mas? Riang sekali?"
"Aku ngerasa sepertinya Mama semangat sekali menyuruh kita pergi berdua. Serasa bulan madu kembali," jelas Bara.
"Mama pengen punya cucu cewek katanya. Tapi kalau begini aku jadi takut, Mas. Aku takut mengecewakan Mama. Sudah hampir sepuluh bulan, tapi aku tak kunjung hamil juga." Yonna menyampaikan kegelisahan yang mulai mempengaruhi hatinya.
Bara menghela napas pendek. Ia memindahkan gigi untuk sedikit menuruni laju mobil. Lelaki itu memandang pada istrinya sekilas kemudian fokus pada jalanan yang mulai berkelok.
"Rezeki anak itu pasrahkan saja pada Tuhan. Jika belum dikasih, mungkin Tuhan ingin kita menghabiskan banyak waktu untuk bersama dulu."
"Iya tapi, Mas—"
Cit! Brak!
Belum selesai Yonna berbicara, Bara sudah lebih dulu mengerem mobil mereka secara mendadak karena sebuah benturan kuat, hingga tubuh istrinya sedikit melompat dengan dahi yang terbentur dasboard.
__ADS_1
Yonna menegakkan tubuhnya kembali, tangannya menegang dahi yang terasa sedikit benjol. Matanya melebar sempurna saat mendapati sosok wanita yang terbaring di oinggir jalan tepat di deoan mobilnya.
"Astaghfirullah al-azim, Mas! Kamu nabrak orang. Apa ia mati? Bagaimana ini?" jerit Yonna tercekat karena panik.