Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 84. Kasih sayang bersyarat


__ADS_3

“Diam, dan jangan berisik!” bentak jelita begitu kasar pada Bryan yang sedari tadi tak berhenti menangis.


Sudah tiga hari terhitung dari hari di mana Gavin dimakamkan. Bocah itu seperti terabaikan, Jelita yang biasanya perhatian dengan cucunya sekarang berubah. Tak ada kalimat sayang apalagi perlakuan manja.


Semua orang yang ada di rumah besar itu masih sibuk menyiapkan keperluan untuk acara tahlilan malam ke-empat kepergian Gavin.


Bryan yang selalu haus kasih sayang ,mulai berulah untuk mencuri perhatian, bocah itu dengan sengaja mendorong guci kesayangan jelita yang ada di ruang keluarga hingga jatuh menghantam lantai.


Pecah menjadi beberapa bagian. Jelita marah besar dan sontak mencubit perut bocah itu dengan geram.


Yonna yang melihat hal itu pun langsung datang untuk melerai cucu dan nenek tersebut. Bryan memeluk pinggang Yonna erat seraya menangis sesenggukan yang langsung disambut usapan sayang di kepala bocah tersebut.


“Ma, Bryan kan nggak sengaja. Kenapa harus semarah itu?” tanya Yonna heran.


Biasanya Jelita selalu memaklumi semua kenakalan yang dilakukan bocah tersebut, tetapi kali ini terasa ada yang berbeda dengannya. Tatapan yang dilayangkannya begitu tajam dan menusuk.


“Anak ini terlalu dimanja selama ini hingga menjadi kurang ajar seperti itu. Bisa habis semua barang di rumah ini ia pecahkan hanya karena sifatnya yang manja-manja. Mama benar-benar pusing menghadapinya,” geram jelita.


Bryan semakin memeluk pinggang Yonna erat, membenamkan wajahnya di perut Yonna hingga wanita itu merasakan perutnya hangat dan juga basah.


“Tapi Ma, tetap saja ia masih kecil. Kita bisa mengajarnya dengan cara baik-baik, tidak dengan cara kasar seperti ini.”


"Kamu jangan mengajarkan Mama bagaimana cara mengasuh anak. Lagi pula ia belum tentu cucu kandungku, wanita ja-lang itu tak hanya membunuh putraku tetapi juga berselingkuh di belakangnya selama ini. Bisa saja anak ini adalah anak dari lelaki yang kini mendekam di penjara itu.” Jelita menunjuk-nunjuk Bryan nyalang.


Yonna tersentak kaget. Hilang sudah rasa sayang yang selama ini wanita paruh baya itu tunjukkan untuk Bryan. Kasih sayang itu kini terasa palsu dan bersyarat.

__ADS_1


Rasanya baru kemarin ia melihat keantusiasan wanita yang berdiri tegak di hadapannya itu begitu bersemangat saat mendengar Gisella mengandung hingga mengabaikan dirinya yang masih tak sempurna dulu. Namun kini?


Yonna menghela napas panjang, jemarinya sedari tadi menutup kedua telinga bryan agar bocah itu tak mendengarkan umpatan yang tak pantas untuk ia dengar.


“Bagaimana jika ternyata Bryan benar adalah anak Gavin? Apa Mama tak akan menyesal nantinya telah bersikap kasar hanya untuk melampiaskan kebencian Mama terhadap ibunya,” ujar Yonna spontan. Jelita terdiam sejenak, Bara di hatinya kemudian mengarang mendekat ucapan menantunya itu.


"Tidak mungkin. Gisella hamil Bryan sebelum ia menikah dengan Gavin. Bisa saja ia menjebak putraku dan membawa benih pria lain. Bukankah ia selama ini diam-diam berselingkuh dengan Dion." pikir Jelita. ia menggelengkan kepalanya pelan.


“Tapi bagaimana jika tidak? Maka siap-siap saja anak itu keluar dari rumah ini. Mama tak sudi ada anak dari lelaki lain yang bukan darah daging dari keluarga Apsara yang tinggal di sini!”


“Mama, jaga ucapanmu!” seru Immanuel tegas. Ia baru saja datang bersama Bara, mereka cukup terkejut melihat sikap Jelita yang sangat impulsif hari ini.


“Kenapa? Bukankah apa yang Mama bilang itu benar. Pantas saja selama ini kita heran dengan sikapnya yang tak bisa di atur, sangat bertolak belakang dengan sikap dari keturunan kita. Ternyata ini jawabannya. Ia bukan anak dari Gavin, lalu untuk apa kita merawatnya di rumah ini.”


“Papa setuju apa yang dikatakan Yonna. Maslaah ini tak perlu dibesar-besarkan. Kasihan Bryan, ia tak tahu apa-apa jangan Mama jadikan sasaran kemarahan Mama terhadapnya,” timpal Immanuel menegur istrinya.


Tatapan mata Jelita semakin memerah bagai bara api yang menyala.


“Jadi sekarang Papa menyalahkan Mama?”


“Bukan begitu, Mama jangan salah paham dulu,” jawab Immanuel cepat. Istrinya itu semakin tempramen, satu kalimat saja yang salah langsung memancing kemarahannya hingga meledak.


“Salah paham apa? Kalian semua tak ada yang mengerti. Mama tak sanggup melihat anak dari wanita itu! Ia yang membuat adikmu kehilangan nyawanya, apa kamu mengerti Bara. Kamu tidak mengerti!”


Rumah yang dulu terasa damai kini berubah seperti neraka. Yonna tak tahan mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Jelita. Ia juga tak tega melihat tatapan sedih bocah yang ada di dalam pelukannya itu.

__ADS_1


Yonna menarik tubuh Bryan untuk pergi bersamanya begitu saja dari tempat tersebut, bocah itu terlalu kecil untuk mengetahui kenyataan yang menyakitkan tersebut.


Setiap masalah yang terjadi pada orang tua maka anaklah yang akan menjadi mahkluk lemah yang tersudutkan. Mereka seakan dilahirkan hanya untuk menjadi tameng menanggung kesalahan padahal tak pernah tahu apa-apa atas kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya.


Immanuel mendesah lelah melihat Yonna pergi dengan Bryan. Masalah sepele menjadi semakin melebar seperti api yang menyala di padang rumput kering tertiup angin.


“Sudah cukup. Keributan ini tak akan ada habisnya jika terus membahas tentang dendam dan kebencian. Apa yang terjadi saat ini mungkin memang takdir dan konsekuensi atas semua keputusan yang sudah di ambil oleh anak kita sebelumnya. Gavin yang menghadirkan Gisella dalam hidupnya. Dan masalah Bryan … sejak dalam kandungan ia sudah kita anggap sebagai cucu kita. Jadi sekarang pun tetap seperti itu, tak ada yang berubah!” ujar Immanuel tegas.


Immanuel beranjak, meninggalkan ruang tersebut dengan beban berat di pundak dan juga hatinya. Kepalanya sudah sangat sakit jika harus membahas masalah itu terlalu panjang lebar lagi.


Sebagai seorang kepala rumah tangga, pria tua itu merasa telah gagal menjaga keluarganya agar tetap utuh. Gagal menasehati putra-putranya hingga salah satu putranya menjadi seorang lelaki dengan karakter yang buruk.


Sementara Yonna menenangkan Bryan yang meringkuk di atas ranjang sembari menangis histeris.


Yonna bingung apa yang bisa ia lakukan agar bocah itu mau diam. Ia sudah membujuknya dengan apa saja yang bocah itu suka. Tetapi bocah itu terus menggeleng dan membuang muka.


“Kenapa masih menangis, hey … jagoan!” seru Bara. Ia memasuki kamar dan berdiri di samping istrinya tersebut.


“Ia tak mau menjawab pertanyaanku sedari tadi. Jadi aku tak tahu apa yang bisa membujuknya untuk diam,” jawab Yonna. Bryan mulai menghapus air matanya, mata bulat itu memandang kami dengan tatapan gang sulit untuk dijelaskan.


“Mami ke mana? Papi sudah pergi ke rumah Tuhan, sedangkan Mami. Dia ke mana? Kenapa aku di tinggal sendiri? Sementara Nenek terus memarahiku. Apa benar aku anak tak jelas siapa bapaknya? Kenapa Nenek bilang aku anak ja-lang dan bukan anak Papi?”ucap Bryan lirih mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di benaknya.


Degt!


Yonna bagai terhantam gada besar mendengar kalimat itu. Bibirnya kelu, tak mampu menjawab serentetan kalimat yang dilontarkan bocah itu. Satu hal yang membuat hati Yonna begitu perih dan sakit yang tak mampu ia jabarkan, yaitu wajah pilu seorang anak laki-laki yang kini menyandang status "yatim".

__ADS_1


__ADS_2