
Yonna berdiri di depan ruang operasi dengan gelisah. Sudah hampir tiga jam, lampu merah di atas pintu itu masih tetap menyala terang.
Setelah tabrakan yang tidak disengaja itu, Yonna dan Bara membawa wanita yang mereka kenal dengan sangat baik itu ke rumah sakit.
Sempat terjadi kerusuhan di tempat tadi, beberapa orang warga yang sedikit terkejut ingin menyerbu mereka dan melakukan pengeroyokan. Untung saja, semua itu bisa dilerai dengan jalan damai.
"Duduklah, Alice! Kita berdoa saja supaya Gisella baik-baik saja," ucap Bara yang mulai pusing melihat tingkah istrinya saat cemas.
Wanita itu memang Gisella. Dalam keadaan perut buncit, terbaring di asal yang bersimbah darah setelah kepalanya membentur kap bagian depan mobil.
Tak hanya kepalanya saja yang terbentur hingga berdarah. Wanita itu juga mengalami pendarahan hingga dokter memutuskan untuk mengeluarkan bayinya yang lemah melalui proses cesar.
"Aku takut, Mas. Bagaimana jika ada apa-apa dengannya dan bayi itu. Aku jadi merasa sangat bersalah."
"Kita berdoa sama-sama untuk keselamatan mereka. Sekarang duduklah! Kamu membuat kepala suamimu ini tambah berkunang-kunang dengan tingkahmu itu!" pinta Bara serius. Kepalanya mulai berdenyut nyeri.
Tak hanya Yonna, Bara pun merasakan kecemasan yang sama. Hanya bedanya, sebagai seorang lowyer ia sudah terlatih untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya hingga tak ada seorang pun yang bisa membaca isi hati dan pikirannya. Sesungguhnya ia juga tak pernah menyangka hal ini akan terjadi.
Yonna mendekat, ia memilih duduk di samping suaminya. Ada beribu tanda tanya yang mulai hadir di kepalanya saat ini. Bagaimana Gisella bisa ada di tempat tersebut, hingga terjadilah kecelakaan tersebut?
Sekitar tempat itu adalah pemukiman kecil yang berada di pinggiran kota, lebih tepatnya perbatasan antar kota A ke kota B.
"Pakaian yang dikenakannya bisa dikatakan tak layak pakai, pudar dan kumal. Wajah cantik dan kulit terawat yang ia banggakan dulu kini hilang entah kemana?" pikir Yonna seraya menatap lorong jalan yang dilalui beberapa perawat dan juga petugas kebersihan.
Pintu ruang operasi terbuka bersamaan dengan lampu merah yang padam. Bara dan Yonna sontak langsung berdiri tegak.
"Keluarga Ibu Gisella?" seru seorang perawat memanggil.
"Kami Sus. Saya saudara iparnya," jawab q kondisinya saat ini, Sus?" cecar Yonna khawatir. Hatinya masih belum tenang sebelum mendapatkan kabar yang memuaskan.
"Untuk saat ini bayi Ibu Gisella lahir dengan selamat. Seorang bayi perempuan yang cantik. Sedangkan kondisi Ibu Gisella saat ini akan dijelaskan oleh Dokter Rosa di ruangannya," jelas perawat tersebut. Ada raut sedih yang terlintas di wajah wanita berseragam biru terang tersebut.
__ADS_1
"Apa ada masalah serius, Sus?"
"Maafkan saya, Bu. Bukan kapasitas saya untuk menjelaskan. Nanti biar dokternya langsung menjelaskan pada Anda. Permisi." Perawat itu langsung pamit pergi.
Yonna berbalik menatap suaminya. "Mas, ada apa ini? Kenapa perasaanku jadi tidak enak."
"Jangan khawatir, ia pasti baik-baik saja. Kita berdoa saja!" Bara hanya mampu mengatakan kalimat itu. Ia bahkan tak yakin dengan apa yang ia katakan.
Tak ada yang menginginkan sebuah musibah terjadi. Malang tak dapat di tolak, mujur tak dapat diraih. Semuanya terjadi karena kehendak dan izin dari yang Kuasa. Pikir Bara mencoba menenangkan diri.
~ ~ ~
Gisella membuka matanya perlahan. Wajah itu begitu tirus dengan kantung mata yang begitu cekung dan pucat pasi, mesin detak jantung berbunyi begitu pelan seirama grafik yang kian menurun.
Terpasang begitu banyak kabel penujang kehidupan di bagian tubuhnya. Yonna menatap iba, amarah dan kebencian yang dulu pernah hadir di hatinya kini sirna begitu saja.
Gisella menolehkan kepalanya ke samping dengan pelan kemudian tersenyum tipis. Mata itu kini mulai berkaca-kaca.
"Bagaimana keadaanmu? Bagian mana yang sakit?" tanya Yonna lembut. Ia mengusap tangan Gisella yang terasa dingin.
"Jangan banyak bicara dulu! Nanti saja ngomongnya jika kamu sudah pulih." Yonna memotong ucapan Gisella cepat. Ia tak tega melihat wanita itu seakan tercekik di tenggorokan.
"Ti-dak A ... Alice," ujar Gisella lagi dengan terbata. Ia mencoba membuka suaranya semampu yang ia bisa. Walau terdengar begitu lirih, Gisella terus berusaha.
Banyak hal yang ingin ia ucapkan pada wanita yang telah ia hancurkan hidupnya itu. Gisella mulai menyadari waktu yang ia miliki sudah tak banyak lagi.
"A-alice, a-anakku?"
"Anakmu lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang satu bagian pun. Ia putri yang begitu cantik seperti ibunya," jelas Yonna jujur membuat Gisella tersenyum lega.
Ia sempat melihat bayi perempuan itu sejenak sebelum dipindahkan ke ruang bayi. Kulitnya yang begitu bersih dengan alis yang tampak tebal.
__ADS_1
Bulu matanya halus dan panjang, andai tak ada kaca yang menghalangi di antara mereka, Yonna mungkin sudah mengambil bayi cantik itu ke dalam dekapannya yang hangat.
"Masya Allah, cantiknya kamu, Nak," ujar Yonna spontan saat itu.
Ada terbesit rasa iri di hatinya. Andai ia juga memiliki satu putri cantik seperti itu, pasti hidupnya akan terasa begitu sempurna.
Mendengar cerita Yonna tentang putrinya yang begitu cantik sempurna, membuat Gisella tersenyum tipis dengan rasa puas di hatinya.
Rasa takut yang selama ini terbesit dalam pikiran Gisella terhadap kandungannya itu terasa sirna begitu saja setelah mendengar ucapan Yonna barusan.
Selama hamil, jangankan asupan gizi yang cukup. Bisa makan dua kali sehari saja, sudah bisa membuat ia bersyukur. Hidup bersama janda miskin pemulung menjadikan hidupnya pun ikut kesusahan.
Gisella tak mungkin mengeluh akan hal itu pada wanita tua baik yang memberikannya tempat tinggal serta makan. Bisa menumpang tinggal agar tak kepanasan dan kehujanan saja sudah cukup membuatnya bersyukur.
"A-alice ... ma-maafkan a-aku. A-aku sadar telah berbuat jahat selama ini kepadamu. aku min-ta maaf," ujar Gisella terbata, dengan susah payah ia mengeluarkan suaranya yang selalu tercekat di dalam tenggorokan.
"Jangan banyak bicara dulu! Istirahatlah, apa yang sudah terjadi tak perlu di ungkit-ungkit lagi." Yonna mengusap lengan mantan iparnya tersebut. Ia tahu jika saat ini Gisella masih kepayahan mengeluarkan sepatah kata. Nafasnya tersengal-sengal.
"A-aku ti-tip a-nakku ... to-long ja-ga di-dia! A-aku ya-kin a-nak-ku menjadi anak yang ba-ik ji-ka berrr ... sa-ma-mu. Aku mo-hon pa-da-mu A-lice!" pinta Gisella kembali dengan terbata bola matanya berkaca-kaca.
Kedua tangannya yang gemetaran saling tertangkup memohon belas kasihan. Hilang sudah ego dan keangkuhan yang selama ini ia tunjukkan.
Yonna menitikkan air mata. Ia memegang kedua tangan itu dengan lembut, hatinya sedih. Dokter telah menjelaskan semua tentang kondisi Gisella saat ini. Namun hatinya terus berharap ada sebuah keajaiban yang di berikan Tuhan untuk wanita yang terkapar lemah tak berdaya di atas ranjang besi itu.
"Kamu jangan khawatir, aku akan menjaga anakmu dengan baik. Kamu pasti sembuh, kita besarkan anak itu bersama-sama, ya!"
Gisella kembali menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan hingga tak kentara. Air matanya jatuh mengalir hingga membasahi bantal.
Tit!
Bunyi mesin yang begitu nyaring terdengar bersamaan dengan bola mata sayu yang kini telah tertutup untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Yonna panik, ia menoleh ke arah monitor yang menunjukkan garis lurus.
"Gisella bangun! Aku tak suka kamu bercanda seperti ini. Cepat bangun! Aku bilang bangun!" ujar Yonna sedih.