
“Mas, lepaskan tanganku!”
“Kamu mau membawaku ke mana,” tanya Yonna heran namun tak di jawab oleh Gavin yang semakin cepat melangkahkan kakinya sembari menyeret tangannya.
Yonna yang memakai rok sedikit kewalahan hingga tergepoh-gepoh mengikuti langkah kaki Gavin yang terus menyeretnya.
Selesai makan, Yonna beranjak menuju kamar untuk mengambil tas miliknya yang tertinggal di atas nakas, setelah keluar dari kamar dan mengambil apa yang ingin ia ambil, Gavin datang dan langsung menarik tangannya dengan kasar.
“Lepasin, Mas. Sakit!” Yonna kesakitan karena Gavin mengcengkram pergelangan tangannya kuat. Wanita itu masih bersikap tenang sambil melepaskan diri.
Gavin membawa Yonna menuruni tangga samping hingga ke halaman belakang yang jauh dari ruang keluarga. Hanya ada dua akses menuju tempat mereka yaitu dari samping kolam berenang dan garasi.
“Gavin!” sentak Yonna keras. Ia berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman Gavin dengan menghempas tangannya ke udara membuat Gavin sedikit tersentak.
Tangan Gavin pun terlepas dari lengannya meninggalkan bekas memerah yang terbentuk cetakan tangan yang melingkar.
“Apa kamu Gila, Mas? Bagaimana jika suamiku dan keluargamu melihat tindakanmu yang tak sopan ini!” geram Yonna sembari memegang lengannya yang kini terasa panas dan perih.
Yonna melirik Gavin sinis, lelaki seperti Gavin tak tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita dengan baik.
“Ikut denganku dan jangan membantah!” Gavin ingin menggengam tangan Yonna kembali agar wanita itu pergi dengannya ke suatu tempat.
Ia ingin membahas masalah di antara mereka dan apa yang telah terjadi secara berdua saja dengan wanita itu. Gavin kecewa, tak setuju dan merasa di campakkan oleh Yonna di saat ia benar-benar telah jatuh hati terlalu dalam padanya. Gavin tak suka perasaan jika wanita di itu meninggalkannya dan memilih bersama lelaki lain, walau itu saudaranya sendiri.
Yonna menghindar agar Gavin tak dapat menggengam tangannya kembali, membuat Gavin semakin marah dan melampiaskannya dengan menarik pinggul Yonna cepat dan menekan tubuh rampingnya ke arah tembok.
Amarah Gavin semakin meluap melihat penolakan serta rasa enggan wanita itu terhadapnya. Jarak di antara mereka begitu dekat, dada Yonna kembali naik-turun.
Gavin melapiaskan amarahnya dengan mengambil kesempatan mencuri ciuman bibir Yonna dengan kasar hingga wanita itu semakin tersudut di dinding.
__ADS_1
“Eeummmph … Gavin!” Yonna meronta, ia memukul dada bidang Gavin secara berulang kali. Gavin masih tak mau melepaskan wanita itu, ciuman yang tadinya penuh amarah kini berubah menjadi penuh na-fsu. Menyadari jika Yonna yang mulai kewalahan dan kehabisan napas, Gavin melepaskan tautan mereka untuk wanita itu menghirup udara sejenak.
“Lepaskan aku! Jangan sesenaknya menarik tangan istri orang lain Brengsek!” umpat wanita itu kasar.
Ia merasa dilecehkan atas tindakan Gavin padanya. Andai ini tidak sedang berada dalam keluarga Apsara, mungkin Yonna akan berteriak agar semua orang datang dan memukul lelaki itu dengan brutal.
“Aku tak peduli, aku hanya ingin kejelasan darimu. Kenapa telponku akhir-akhir ini tidak kamu angkat, sms-ku pun tidak kamu balas. Dan sekarang kamu muncul di hadapanku sebagai istri dari kakakku! Apa kamu tahu, hatiku panas melihatmu bermesraan dengannya!”
Gavin marah,untuk pertama kalinya ia menginginkan seorang wanita hingga begitu dalam. Ada perasaan tak rela yang ia rasakan melihat Yonna bersama Bara.
“Aku tak peduli dengan sakitnya perasaanmu itu. Itu bukan urusanku! Lagi pula kita berdua hanya sebatas teman biasa, kamu tak sehebat itu hingga aku harus ikut kehendakmu.”
“Lalu siapa yang hebat, lelaki yang menjadi suamimu itu. Tapi tunggu dulu, bukankah kamu bilang padaku dulu kamu itu seorang janda yang ditinggalkan oleh suaminya karena wanita lain, kan? Tetapi Bara belum pernah menikah, dan bagaimana kamu memiliki anak dengannya. Atau jangan-jangan kamu yang selingkuh bukan suamimu itu! Kamu diceraikan karena memiliki anak haram dari lelaki lain!” ujar Gavin menebak dan mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Ucapannya yang begitu tajam telah menyayat-nyayat hati Yonna. Perih.
Amarah Yonna pun meledak seketika. Sebuah tamparan melayang begitu keras di pipi kiri lelakinya. Gavin terdiam, wajahnya terasa panas dengan lima jari yang mengecap di pipi. Terdapat sedikit sobekan di sudut bibir akibat tergigit hingga mengeluarkan sedikit darah.
Sorot mata Yonna memancarkan kebencian, cairan bening menumpuk di pelupuk mata Yonna, menghadirkan rasa bersalah di hati lelaki tersebut. Ia menyesal telah mengatakan perkataan yang tak seharusnya hingga menghadirkan mendung di wajah cantik itu
“Tutup mulutmu, Mas. Andai kamu tahu siapa lelaki brengsek yang menjadi suamiku itu. Aku yakin kamu akan mengutuk dirimu seumur hidupmu! Aku tidak pernah selingkuh, apa yang terjadi padaku dan Bara adalah sebuah kesalahan. Kesalahan karena kenaifanku yang mengejar suamiku yang enggan menyentuhku, baginya aku hanyalah baby putih yang tak berguna.”
__ADS_1
Kalimat yang keluar dari mulut Yonna membuat Gavin tersentak diam. Ia merasa tak asing dengan kalimat tersebut. Amarah di hatinya yang tadi begitu membara kini padam seketika berganti dengan rasa sedih emlihat tatapan mata bulat dan raut teluka Yonna.
“Maafkan aku, aku tak bermaksud mengatakan itu padamu. Aku begitu terbawa emosi karena melihatmu bersama lelaki lain. Apa kamu tahu, aku mencintaimu. Aku tahu mungkin ini terlalu terburu-buru dan mustahil bagimu. Aku hanya …,”
Yonna mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Gavin. Ia menarik napas dan menghembusnya secara perlahan untuk mengontrol sedikit deru jantung yang terus berpacu.
“Cukup Mas, aku sedang tak ingin berdebat. Tolong jaga sikapmu, jangan mempersulit diriku di tengah-tengah keluargamu. Sepertinya istrimu itu tak menyukaiku.”
Gavin mengusap wajahnya kasar. Terlalu sulit untuknya jika harus menganggap semua yang terjalin di antara mereka harus berakhir begini saja. Selama Gavin berbincang dan menghubungi Yonna, wanita itu selalu memberikan harapan padanya hingga ia merasa nyaman. Gavin seakan menemukan kembali gai-rah hidupnya yang telah lama hilang.
Di lain sisi, Bara mencari keberadaan istrinya dengan bingung. Sedari tadi menunggu di parkiran mobil karena berniat mengantarkan Yonna bekerja layaknya suami perhatian. Setengah jam pun berlalu, tetapi belum juga istrinya muncul.
Sesampainya di kamar mereka, Gavin melipat keningnya saat melihat kamar mereka dalam keadaan kosong. Pikirannya mulai berkelana mencari jawaban keberadaan istrinya saat ini.
Bara ingin kembali menuruni tangga, berkipir mungkin saja istrinya sudah berada di mobil. Nemun baru saja keluar pintu kamar mata Bara tak sengaja menoleh pada lorong panjang yang terdapat tangga lain menuju ke bawah.
Bara menyusuri tangga itu, baru saja selesai menuruni tangga, mata Bara memanas melihat istrinya sedang berdiri pada Gavin dengan jarak yang begitu dekat.
“Apa yang sedang kalian lakukan di tempat ini?” tanya Bara yang membuat dua manusia itu tersentak kaget. Yonna menatap mata Bara. Raut wajah Bara yang begitu tegang dengan rahang yang mengetat membuat Yonna menelan ludah, terasa susah masuk ke dalam kerongkongannya. Bara menatapnya seakan ingin menelannya bulat-bulat suka.
“Kami sedang membahas hubu—”
“Tidak ada apa-apa, Mas. Tadi aku motong jalan lewat tangga ini biar lebih cepat sampai parkiran. Tak sengaja ketemu, Mas Gavin di sini. Iya kan, Mas!” Belum selesai Gavin berucap, Yonna lebih dulu memotong dan tak ingin Gavin mengatakan hal yang memancing kemarahan Bara nantinya.
Dahi Gavin terlipat melihat Yonna heran. “Iya,” jawabnya akhirnya setelah melihat mata Yonna yang menjelit padanya.
__ADS_1
Yonna menarik tangan suaminya pergi begitu saja, berjalan lurus ke depan melewati gang sempit yang tersusun deretan pot bunga mawar di lantai. Di balik tembok itu terdapat ruang kecil yang terdapat pintu trali yang langsung memghubungkan ke garasi. Pintu itu cukup tersembunyi.
“Bagaimana ia bisa tahu di sana ada pintu yang terjepit tembok. Apa di hari pertama di rumah ini ia sudah kelilingi setiap sudut rumah?” gumam Gavin seorang diri.