Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 72. Rahasia hati.


__ADS_3

“Kamu yakin mau mengajukan pengunduran diri? Tidak mau di pikir-pikir lagi?” tanya Tama serius. Ia menatap Yonna dan kertas pengunduran diri wnaita itu yang kini ada di tangannya. Ada sedikit rasa tak suka yang tercetak di wajahnya. Yonna menganggukkan kepala dengan perasaan tak enak hati.



Sebenarnya wanita itu enggan untuk mengundurkan diri, ia merasa nyaman bekerja dengan lelaki berwajah masam di hadapannya kini.


Selama menjadi bawahannya, selain baik, pria itu juga tak pernah memberikan tekanan pekerjaan yang berlebihan padanya. Tetapi apa boleh buat, sejak ia keguguran suaminya yang begitu over protektif tak lagi memperbolehkan dirinya untuk bekerja.


Yonna tak memiliki pembelaan diri ataupun alasan untuk membantah apa yang diperintahkan Bara padanya.


Ia sadar akan kesalahannya itu dan berjanji pada Bara untuk memperbaiki, tetapi yang tak Yonna sangka, suaminya justru meminta ia menjadi Ibu rumah tangga seutuhnya.


“Sebelumnya saya mau mengucapkan maaf, Pak, jika keputusan saya ini terkesan mendadak. Apalagi beberapa waktu belakangan ini saya juga lalai dalam pekerjaan saya,” ujar Yonna sopan. Ia sedikit menundukkan pandangan matanya.



“Baiklah, jika itu keputusanmu, aku bisa apa!” Tama meletakkan kertas itu di atas mejanya. Menghela napas panjang menyetujui keputusan wanita di hadapannya dengan terpaksa.



“Terima kasih, Pak.”



“Tak usah beterima kasih. Karena aku tak sebaik itu, jika bukan karena suamimu, aku juga belum tentu akan menerima surat pengunduran dirimu ini begitu saja.”



“Maksud anda, Pak?” Dahi wanita itu berkerut.



“Tidak ada, sekarang kamu bisa keluar! Saya masih ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan,” jawab Tama dengan wajah datarnya.


Lelaki itu tak menjawab pertanyaan Yonna, ia pun tampak mulai menyibukkan dirinya dengan mengerjakan faile yang ada di hadapannya.


Yonna menyipitkan pandangan dengan dahi yang semakin berlipat, ia merasa heran dengan sikap bosnya yang begitu cepat berubah secepat membalikkan telapak tangan. Hatinya masih mengganjal dengan pertanyaan yang timbul dalam pikirannya. Apa hubungan suaminya dengan masalah pengunduran dirinya?

__ADS_1



“Apa jangan-jangan Mas Bara sudah membicarakan hal ini lebih dulu pada Pak Tama dan memintanya secara langsung?” pikir Yonna.



Tama menatap sedih punggung Yonna yang mulai melangkah pergi meninggalkan ruangannya, hingga menghilang di balik pintu. Hati adalah sesuatu yang sangat sulit untuk di kendalikan, cinta terkadang tidak seallau salah hanya saja ia yang telah terlambat menemukan seseorang yang ia inginkan dalam hidupnya.



Bagi lelaki itu, bunga yang telah ada dalam genggaman orang lain, pantang untuk direbut. Selain akan merusak keindahan bunga itu sendiri, tangan juga akan terluka akibat duri yang tertancap. Daripada memaksakan cinta, merelakan dengan catatan orang yang dicintai itu bahagia adalah arti cinta yang sesungguhnya. Tidak egois!



~ ~ ~


Gisella menunggu siang berganti malam sebelum pergi menemui Dion. Wanita itu tampak sedikit kesal saat tak mendapati lelaki itu di apartemennya.


“Di mana ia, kenapa jam segini belum juga pulang?” rutuk Gisella gelisah.


Nomor itu itu berdering bertepatan dengan pintu apartemen yang terbuka. Gisella menoleh, lelaki yang ia tunggu kedatangan sudah muncul di balik pintu itu sembari tersenyum melihat keberadaannya.


“Sudah lama Honey?” sapanya lembut.


“Kenapa baru pulang jam segini? Biasanya sore sudah pulang,” omel Gisella. Ia berdiri menghampiri Dion yang mendekat.


Dion melempar tas kerjanya ke atas sofa bersebelahan dengan tas Gisel. Lalu kakinya melangkah mendekati dapur, mengambil gelas dan menuangnya dengan air dingin yang ia ambil dari kulkas.


Gisella membuntutinya dari belakang bagai ekor. Dion menaikkan sebelah alisnya, ia merasa ada yang sedikit berbeda dari kekasihnya itu.


“Ada apa? Apa ada masalah lagi?” tanya lelaki itu. Tangannya kini meletakkan gelas yang ia minum dengan asal ke atas meja.


“Aku hamil!” Dua kata yang keluar dari mulut Gisella sukses membuat Dion tersedak dengan air ludahnya sendiri.


Tatapan matanya yang redup kini menajam dengan sorot mata penuh amarah. Ia berjalan mendekati Gisella dengan rahang yang mengetat.


Gisella menelan ludahnya susah payah masuk ke dalam tenggorokan. Ruang makan yang seluruh dindingnya bercat warna putih seketika mencekam.

__ADS_1


“Ini yang kedua kalinya kamu mengkhianatiku Gisella! Beraninya kamu mengandung anak bajingan itu! Kamu anggap apa aku ini, hah!”


Dion menekan salah satu tangannya pada kedua rahang Gisella. Wanita itu merasakan sakit yang mencekik. Dion mendorong tubuhnya hingga ia melangkah mundur dan kembali terduduk di sofa itu.


“Ini anakmu! Lelaki itu sudah tak pernah menyentuhku lagi. Dan ini adalah anakmu!” ujar Gisella dengan susah payah. Seketika cekalan tangan Dion mengendor.


Dulu Gisella adalah kekasihnya, mereka berdua sudah berjanji untuk hidup bersama. Namun keserakahan membuat wnaita itu meninggalkannya Dion dan berpaling ke dalam pelukan Gavin. Setelah rumah tangganya berantakan dan hidupnya tak lagi bahagia, barulah Gisella kembali mendekati lelaki itu dengan segala kata maaf dan bujuk rayu.


Ia memutar kenyataan dan mengatakan pada lelaki itu bahwa apa yang ia lakukan adalah demi kebaikan mereka berdua, pada kenyataannya hanyalah demi memenuhi egonya semata.


Gisella memperalat Dion untuk membantunya mendapatkan harta Gavin sebelum ia pergi meninggalkan lelaki tersebut. Dion yang merupakan asisten Gavin di kantor, membuat Gisella yakin niat busuknya akan berjalan dengan lancar.


“Kau tidak berbohong padaku?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan. Dion menatap ke dalam mata wanita itu, mencari kejujuran di sana. Tentu saja kabar itu adalah kabar yang membahagiakan untuknya.


Gisella menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian lelaki itu memeluknya erat, sontak wanita itu terkejut.


“Kamu tidak menyuruhku untuk membuang anak ini?” tanya Gisella bingung.


“Kenapa kamu berpikir seperti itu padaku?” Dion melepaskan pelukannya dari tubuh Gisella, kemudian berpindah menyamakan tingginya dengan perut wanita itu, lalu mengecup perut datar itu lembut.


Wajah Gisella diliputi kebingungan, apa yang terjadi tak seperti yang ia bayangkan.


“Bukankah kamu menyuruh Emily menggugurkan kandungannya saat ia mengatakan hamil padamu. Padahal saat itu kalian berpacaran,” jelas Gisella mengutarakan apa yang mengganjal di pikirannya. Sebelum ia kembali pada Dion, lelaki itu sempat beberapa kali menjalin hubungan bebas dengan beberapa wanita.


Gisella juga tahu, Dion juga sempat membuat salah satu pacarnya itu berbadan dua. Bukannya bertanggung jawab, lelaki itu justru dengan kejam memutuskan hubungan dengan kekasihnya itu. Bahkan menyuruhnya menyingkirkan janin yang baru saja berkembang di rahim kekasihnya itu.


Dion terkekeh seraya mendongakkan kepalanya. Seperti bawahan yang bersimpuh di hadapan tuannya.


“Tentu saja berbeda, Honey. Mereka bukan kamu! Apa kamu tahu betapa patah hatinya aku saat kamu meninggalkanku dulu. Sekarang aku tak mau kamu melakukan itu lagi padaku,” balas Dion manja. Saat seseorang menyerahkan hatinya 100% pada lawan jenisnya, maka disitulah kebodohan dirinya bermula.


Gisella tersenyum tipis, tangannya mengusap rambut hitam itu pelan. “Tetapi aku masih istrinya Gavin, dan anak ini akan diakui sebagai salah satu cucu keluarga Apsara. Dan bukan sebagai anakmu.”


“Tidak! Aku tak terima jika anakku akan mengakui lelaki lain sebagai Papanya. Ia milikku dan aku mau kamu berpisah dengannya!” sentak Dion tak terima.


“Lakukan apa yang aku pinta padamu, bantu aku mendapatkan semu harta lekaki itu. Lalu kita pergi menjauh. Hanya bertiga, kau dan aku dan anak kita,” rayu Gisella begitu mematikan. Dion yang paham akan arah dan tujuan dari ucapan wanita itu pun ikut menganggukkan kepala patuh. Ia kembali menciumi perut itu dengan sayang.


Salah satu ujung bibir Gisella tertarik ke atas, ia memiliki pedang tajam yang dapat ia gunakan untuk melukai Gavin. Membalaskan sakit hati dan juga rasa cintanya yang kini berubah menjadi kebencian pada lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2