Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 96. Semua tak mudah


__ADS_3

"Kenapa kalian berdua pulang cepat? Dan ini anak siapa?" tanya Jelita dengan raut wajah yang begitu penasaran tanpa membiarkan anak dan menantunya masuk terlebih dahulu.


Matanya menajam melihat bayi perempuan yang tengah tertidur lelap dalam gendongan Yonna. 


"Ma, kita bicara di dalam saja, ya!" Bara melangkah kakinya masuk ke dalam rumah lebih dulu. Semua berkumpul di ruang keluarga, suasana canggung begitu kentara.


Mata jelita tak lepas memandang ke arah bayi yang kini berpindah alih dari gendongan menantunya itu ke gendongan salah satu pelayan untuk ditidurkan ke dalam kamar. 


"Sekarang jelaskan pada Mama. Anak siapa yang kalian bawa itu? Mama memang mengharapkan seorangg bayi perempuan, tetapi bukan berarti anak perempuan yang kalian ambil entah dari mana seperti itu. Mama mau anak yang lahir dari rahim menantu Mama. Cucu kandung Mama sendiri!" jelas Jelita.


Ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan sepasang suami-istri di hadapannya. Bisa-bisa mereka pulang membawa seorang anak yang tak jelas asal-usulnya itu.


Kedua tangan Yonna saling meremas di atas pangkuan karena gelisah, sesekali ia melirik pada suaminya meminta bantuan. Tetapi Bara justru hanya diam tanpa respons, tidak seperti biasanya.


 Setelah pemakaman Gisella, mereka berdua langsung memutuskan untuk pulang. Rencana kepergian mereka yang telah tersusun rapi sejak awal kini telah berantakan. Bara menelpon orang kepercayaannya untuk menghandle dan menggantikan dirinya untuk mengurus segalanya di kota tersebut. 


Sepanjang perjalanan pulang pun suaminya itu pun tampak banyak diam seperti ada yang sedang ia pikirkan.


"Sebenarnya begini, Ma." Yonna menjeda ucapannya sejenak seraya mengatur jantungnya yang bedetak begitu kencang.


Ia berharap mertuanya dapat mengerti dengan apa yang akan ia utarakan nantinya. Yonna mulai menjelaskan secara perlahan sembari memperhatikan riak wajah Jelita yang mulai perlahan berubah. 


"Apa kalian berdua sedang bercanda? Kalian pikir rumah ini tempat penitipan anak yang bisa dengan mudah kalian bawa tanpa tahu asal-usulnya!" omel Jelita kesal. Sorot matanya tajam penuh kebencian.


 Mendengar nama Gisella disebut saja sudah cukup membuat darahnya mendidih. Sampai mati pun Jelita tak akan memaafkan orang yang telah membuatnya kehilangan salah satu pelita hatinya.

__ADS_1


Luka yang paling menyakitkan bagi seorang Ibu adalah saat tak lagi dapat bertemu walau hati tengah rindu. Rasa sakit itu saja masih terasa sangat perih, lalu bagaimana bisa ia melihat anak dari wanita yang telah membunuh putranya dan tinggal bersamanya. 


"Tapi Ma, bayi cantik itu jelas asal-usulnya. Lagi pula Mas Bara yang membuat Gisella kehilangan nyawanya. Walau itu karena tak disengaja, tetapi tetap saja kami harus bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi terutama dengan anak itu, kasihan sekali ia. Masih kecil sudah kehilangan keluarganya," jelas Yonna sangat hati-hati.


Atmosfir di antara mereka terasa begitu mencekam, Yonna bahkan berbicara dengan menundukkan kepalanya tak berani menatap mata mertuanya yang telah memerah.


"Kalian bisa membawa anak itu ke panti asuhan ataupun kemana saja, Mama tidak peduli, tetapi tidak di rumah ini. Apa yang terjadi pada wania sialan itu adalah karma yang memang seharusnya ia tanggung. Seharusnya ia tak boleh mati semudah itu, masih banyak dosa yang harus ia bayar pada keluargaku!" ucap Jelita begitu geram.


Intonasi suaranya mulai meninggi, dadanya naik turun dengan cepat. Setetes air bening mengalir di sela-sela matanya. Ia menangis.


Sontak Bara berpindah duduk di samping mamanya. Tangan kekar itu mengusap punggung yang mulai mengurus itu dengan lembut. 


"Tahan emosi Mama! Nanti darah tinggi Mama kumat lagi." 


"Ma, aku minta maaf jika membuat Mama marah. Tetapi aku tak tega membuang anak ini begitu saja di tempat yang asing. Anak itu tidak bersalah, aku tahu Mama masih sangat membenci Gisella. Tetapi aku yakin bayi itu pasti tidak akan sama dengan Mamanya asalkan kita mendidiknya dengan baik."


Jelita tersenyum sinis mendengar penuturan menantunya yang terdengar begitu bijak. Ia mengusap air mata di pipinya dengan kasar.


"Sekuat apa pun kamu menutupi identitasnya. Bayi itu akan dewasa dan saat itu ia pasti akan mencari tahu jati dirinya yang sebenarnya. Lalu apakah kamu pernah berpikir bagaimana anak itu akan melihat kamu nantinya? Latar belakang hubungan kamu dan ibunya sudah begitu rumit. Bahkan setelah anak itu dewasa nanti, apa kalian berdua ingin mendengar dari mulut anak itu jika kalian adalah orang yang telah membunuh ibunya. Sementara Ibu yang melahirkannya telah membunuh suaminya sendiri yaitu putraku!"


Jelita menghela napas sejenak, mengatur detak jantung yang kian menderu hebat. Sementara Yonna tersentak dengan penjelasan mertuanya itu. Ia tahu itu tak mudah, tapi tak pernah berpikir akan sejauh itu. Ia bagai makan buah simalakama saat ini. Mundur tak tega, maju celaka. 


Yonna sampai tak sadar jika kini kulit tangannya mulai lecek akibat kuku tangannya sendiri saat kedua tangan itu saling meremas.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Grandma, cucu-cucumu yang tampan sudah pulang!"


Terdengar suara Noah dan Bryan dari luar secara bergantian. Langkah kaki kecil itu terdengar mulai menghampiri.


"Aku juga tak bisa hidup bersama bayi itu. Wajahnya pasti mirip dengan ibunya. Mama tahu anak itu tidak bersalah, tetapi setiap melihat anak itu, Mama akan teringat bagaimana bengisnya Gisella membunuh putraku!" tandas Jelita mengakhiri perdebatan itu.


Tangannya terbuka lebar menyambut kedua cucunya yang berlari menghampiri. Kedua bocah itu belum sadar jika kedua orang tua mereka pulang sebelum Bryan menyenggol lengan Noah dengan kuat.


Noah menoleh, wajah tampan duplikat Bara itu pun langsung tersenyum lebar.


"Mommy! Daddy! I miss you," seru Noah sembari beralih dari pangkuan Jelita menuju Bara. Ia mencium pipi Yonna dengan sayang, mereka baru berpisah sepekan. Tetapi sudah seperti berbulan-bulan saja.


"Mommy, Daddy ... apa kalian membawakan hadiah untuk kami berdua? Kedua putramu ini sangat mengharapkannya." Noah menadahkan salah satu tangannya pada sang Mama. Yonna tampak sedikit kikuk, ia berbagi pandang pada suaminya.


Ia harus mengatakan apa pada putranya yang cerewet dan banyak tanya itu. Jangankan untuk membeli oleh-oleh, ia bahkan lupa tujuan mereka pergi ke tempat tersebut untuk apa. Semua masalah yang ada telah menyita perhatiannya.


"Anak-anak, ayo ganti bajunya dulu. Baru kangen-kangenannya di sambung lagi sambil makan siang bersama!" ucap Jelita mengalihkan perhatian kedua bocah itu. Raut bingung di wajah anak-menantunya itu cukup menjelaskan jika mereka tak membeli apa pun untuk kedua bocah yang masih berharap itu.


"Ayo! Anak-anak!"


"Yah!" Noah mendesah kecewa karena tak dapat apa yang ia inginkan.


"Baiklah, Grandma!" jawab Bryan sembari mengajak Noah untuk pergi masuk ke kamar mereka masing-masing.


Jelita pun mulai beranjak dari duduknya untuk meninggalkan Yonna dan Bara. Rasanya tak ada lagi yang perlu ia jelaskan. Apa pun tindakan apa yang diambil Yonna untuk kedepannya, ia akan tetap pada keputusannya sudah bulat.

__ADS_1


__ADS_2