Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 47. Permata Aquamarine


__ADS_3

“Kamu sudah menikah tetapi tidak memberitahukan kami! Apa kamu gila Bara? Kamu anggap apa kami, hah!” tanya Immanuel tajam.


Ia memandang wajah satu persatu dua orang yang baru saja mengaku sebagai sepasang suami istri setelah 28 jam yang lalu.


Di antara semua orang yang ada di ruangan itu, hanya yonna yang tampak santai. Wajahnya datar tak ada sedikit pun rasa khawatir dan canggung. Sementara Noah sudah dibawa oleh pelayan untuk bermain sebentar.


Sedangkan Gisella tak di perbolehkan untuk mendekati ruang keluarga itu sedikit pun bersama Bryan. Dua orang itu hanya akan menjadi pengacau yang membuat suasana semakin memanas.


Jelita merasakan gejolak rasa sedih di hatinya, seperti terhempas ombak hingga ke pinggir lautan. Sakit tetapi merasa tenang.


Sebagai orang tua ia tentu senang anak pertamanya sudah menikah sesuai harapannya, tetapi bukan pernikahan yang tersembunyi bagai buronan seperti ini. Tanpa keluarga ataupun sanak saudara.


“Maafkan aku! Aku sadar jika tindakanku kali ini sangat mengecewakan kalian, tetapi ada beberapa alasan hingga aku melakukan hal tersebut dan alasan itu tak dapat aku utarakan saat ini. Aku mohon untuk mengerti!” jelas Bara mencoba meredakan amarah Papanya.


“Coba mengerti kamu? Apa kami kurang mengerti dirimu, huh! Di umur yang sudah lewat dari 30 kamu belum menikah, kami sebagai orang tua mencoba bersabar dengan memilihkan satu persatu calon untukmu. Namun nyatanya kamu pulang dengan anak lelaki berumur 5 tahun. Ok, Papa hargai jika kamu ingin bertanggung jawab atas ibu dan anakmu, tetapi setidaknya kabari kami saat kalian menikah. Apa itu sulit? Apa kamu sudah menganggap kami ini sudah mati Bara!” ujar pria paruh baya itu geram.


“Pa, tenangkan emosimu!” tegur Jelita pada suaminya. Kilat amarah di mata Immanuel begitu membara bagai api yang berkobar, panas dan siap membakar.


“Mommy!” Noah tiba-tiba muncul di balik sofa milik Yonna. Kehadirannya menyela ucapan Immanuel yang menghentak kasar. Seorang pelayan tergepoh-gepoh menyusul dirinya dari belakang dengan nafas yang tersengal-sengal.


Api kemarahan di sorot mata Immanuel perlahan padam. Bara di hatinya mengarang saat melihat bening kaca di mata cucu lelaki yang baru saja ia temui itu.


Tangannya yang ada di pinggir sofa mulai merambat mencari tangan Yonna sebagai pegangan. Sorot mata itu memancarkan ketakutan dan kemarahan padanya.

__ADS_1


“Noah kenapa ke sini? Kenapa tidak sama Mbak Tiwi saja?” jelita ingin menyambut cucunya itu. Tetapi Noah langsung menolak. Bocah itu memilih untuk duduk dipangkuan Yonna dan memeluknya erat.


“Mommy, let’s go home! I don’t like this house, I want to go back to grandpa Robert’s house!” ujar Noah dalam pelukan Yonna. Yonna terkejut, putranya yang tadi sangat antusias untuk tinggal di rumah besar ini, tiba-tiba datang dan merajuk. Mengajak ia untuk segera kembali ke rumah orang tuanya.


Bara menatap istrinya seakan bertanya dengan pandangan mata. Yonna mengangkat sedikit bahunya pertanda ia juga tak mengerti kenapa bocah yang begitu semangat itu kini tiba-tiba berubah pikiran.


“Kenapa kita pulang? Bukankah tadi Noah sangat suka melihat rumah besar ini dan mau tinggal di rumah ini.


“Nggak jadi, cancel! Semua penghuni di rumah ini jahat-jahat. Lihat saja Grandpa tua itu marah-marah sama Daddy dan Mommy. I don’t like!”


Mendengar hal itu Immanuel mengusap wajahnya kasar. Ia mengontrol detak jantungnya agar emosi yang masih tersimpan di dalam hatinya benar-benar mereda. Ia tak mau membuat cucunya tak nyaman tinggal di rumahnya.


“Nak … jagoan, maafkan Grandpamu ini ya! Grandpa tidak marah, hanya sedang bermain tangkap penjahat dengan Daddymu itu. Daddymu itu sangat nakal sekali!” jelas Immanuel.


Noah mengangkat kepalanya, ia menoleh menatap Immanuel dan Bara secara bergantian lalu menatap pada Yonna. Yonna mengangguk pelan, sebagai jawaban. Putranya masih canggung dengan suasana rumah ini dan orang-orangnya yang masih sangat asing untuknya.


“Tentu, kamu akan menjadi pahlawan yang membantu Grandpa menangkap penjahatnya!” Immanuel berdiri dari duduknya, ia mendekati Yonna dan meraih tubuh kecil Noah dari pangkuan menantu barunya itu.


Immanuel mengangkat tubuh Noah tinggi dan menciumnya dengan sayang. Noah tertawa riang, kumis tajam Immanuel terasa menggelitik wajahnya saat menciumnya. Geli.


~ ~ ~


Gisella menghampiri Yonna yang sedang mengambil air minum di dapur, saat kedua mertuanya sedang asik bermain bersama kedua cucunya.

__ADS_1


Tepat saat Yonna hendak meminum air di gelas yang ada dalam genggamannya, Gisella datang lalu menyenggol lengannya dengan kuat hingga membuat air itu tumpah membasahi mulut dan bagian dadanya.


“Upst sorry, aku tidak sengaja. Aku tidak tahu jika ada orang di sini!” ujar Gisella santai. Yonna berbalik dengan tatapan mata tajam. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosi agar tidak begitu cepat meledak. Ia tahu wanita ini sedang mencari masalah dengannya.


“Tidak apa-apa, lain kali hati-hati ya. Atau kamu sebaiknya periksa ke dokter mata deh, siapa tahu ada sedikit masalah di mata kamu hingga badan sebesar ini tidak terlihat!” balas Yonna yang terdengar menyindir.


Tangannya meraih tissue yang kebetulan ada di atas meja. Ia gunakan tissue itu untuk mengelap bibir dan dadanya yang basah.


“Nggak kok, mataku baik-baik saja. Mungkin kamunya saja yang tak terlihat. Jadinya tersenggol olehku,” balas Gisella syarat akan makna.


Dua wanita itu saling melempar senyum penuh kepalsuan. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka mengandung cabai yang pedas.


“Oh benarkah?” Yonna terkekeh. Sembari mengangkat tangannya menutup mulut agar terlihat anggun namun menjengkelkan.


Gisella terperanjat melihat cincin biru lembut berbentuk air yang ada di tangan Yonna. Sebuah cincin permata limited edition yang baru saja keluar.


Cincin itu di bandrol dengan harga yang cukup fantastis, tetapi tidak seberapa untuk keluarga Apsara yang kaya raya. Gisella sudah cukup lama menantikan cincin itu lounching, namun cincin itu tak bisa ia dapatkan karena Gavin menolak memberikan ia uang tambahan.


Kebiasaannya yang boros hingga membuat pria itu jengah dan berakhir pada pemblokiran kartu kredit yang ia miliki.


“Kena kau, cantik kan cincin ini,” batin Yonna tertawa jahat. Ia tak sengaja melihat postingan Gisella di sosial media miliknya yang tertulis jika ia sudah tak sabar lagi menunggu cincin itu di pamerkan.


Toko perhiasan itu hanya mendesain tiga cincin permata Aquamarine dengan model cutting yang berbeda. Cincin berbentuk mata air inilah yang menjadi incaran kaum hawa.

__ADS_1


“Ada apa? Apa kamu sedang melihat cincin ini? Cincinnya baguskan? Ini adalah cincin pemberian suamiku, sebagai hadiah pernikahan kami kemarin. Cantik kan? Aku sangat beruntung memiliki suamiku itu, ia sangat perhatian dan memanjakan aku,” ucap Yonna terdengar berlebihan. Namun cukup ampuh membuat rasa iri di hati Gisella bergejolak.


Gisella menggenggam erat kedua tangannya di sisi tubuhnya. Ia memilih untuk pergi begitu saja meninggalkan Yonna di tempat itu. Ia kesal jika ada orang lain yang lebih unggul darinya, apalagi orang itu adalah iparnya sendiri.


__ADS_2