
Yonna menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya tanpa ada satu pun yang ia tutupi. Wanita itu menunduk malu dengan bulir-bulir Kristal yang jatuh di atas kedua tangan yang saling menggenggam erat dia tas paha. Hatinya sakit, harga dirinya seakan dilucuti hingga tak bersisa.
Mengulang kisah lama seakan meraih lumpur untuk mencoret wajahnya sendiri. Betapa malunya ia harus menceritakan kepada kedua orang tuanya jika ia istri yang tak tersentuh oleh suaminya sendiri. Istri yang begitu jijik untuk di lihat apalagi dianggap ada oleh suaminya sendiri.
Maya menatap putrinya sedih, sebagai seorang ibu hatinya ikut teriris mendengarkan kisah sedih putrinya itu. Maya baru menyadari jika banyak hal yang tidak ia ketahui tentang putrinya sendiri. Pernikahan yang selama ini ia pikir baik-baik saja ternyata membawa luka yang cukup dalam di hati putrinya.
Maya menggeser duduknya mendekati sang putri. Meraih punggung leher Yonna lembut agar wanita itu bersandar di bahunya. Membiarkan wanita cantik itu menangis untuk meluapkan segala sesak yang mengganjal di dadanya.
“Anak muda, kau ikut denganku!” Robert berdiri dari duduknya membawa Bara ke ruang kerjanya yang ada di lantai bawah tak jauh dari ruang tamu tersebut.
Bara mengikuti langkah kaki pak tua itu dalam diam. Banyak hal yang ingin Robert tanyakan pada pria itu sebelum mengambil sebuah keputusan yang mungkin akan mengubah takdir hidup putrinya.
“Ma, maaf. Aku tak sedikit pun bermaksud menyembunyikan semua ini dari kalian. Aku malu harus bercerita betapa memalukannya hidupku yang tak berarti ini,” isak tangis itu masih terdengar begitu pilu.
Maya mengangkat wajah putrinya. Ia menghapus air mata yang mengalir itu dengan sayang. Kasih sayang orang tua yang tak pernah putus walau anak-anaknya telah beranjak semakin dewasa.
“Tak ada lagi yang perlu kamu tangisi, Nak. Masa lalu biarlah menjadi kenangan, yang tersisa kini apa yang kamu miliki dan masa depan yang masih panjang. Lihat dirimu saat ini, kamu bukan lagi Alice yang dulu, kamu juga punya putra tampan yang menemanimu. Kamu sudah tidak sendirian lagi. Maaf jika selama ini sebagai orang tua kami tidak peka dengan apa yang kamu alami.” Maya menghela napas panjang.
Kisah hidup putrinya jauh lebih rumit dari mengurai benang yang kusut.
“Semua keputusan ada di tanganmu, Bara datang kesini dengan maksud baik melamarmu. Mama tahu kamu pasti masih enggan untuk berumah tangga lagi apalagi yang masih berhubungan dengan keluarga Apsara. Tetapi walau bagaimanapun ia adalah Ayah dari Noah. Bocah itu berhak mengenal siapa Ayahnya, jangan biarkan hidupnya kekurangan kasih sayang. Terkadang apa yang bisa diberikan oleh seorang ayah tak dapat kita berikan sebagai seorang ibu,” jelas Maya memberikan nasehat terbaik untuk putrinya.
Ia tidak memaksa, justru memberikan Yonna waktu untuk berpikir sendiri apa yang terbaik untuknya dan anaknya.
__ADS_1
Yonna terdiam ia kembali menatap hamparan bingkisan yang Bara bawa tadi. Di antara susunan barang untuknya, Yonna melihat kumpulan mainan anak-anak yang tersusun di bagian pojok tertutup dengan hadiah yang lain. Hingga tak tampak olehnya tadi.
Apa yang dikatakan Maya masuk ke dalam pikirannya. Mungkin Bara bukanlah lelaki yang ia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun lelaki itu mungkin saja bisa menjadi Ayah yang baik untuk putranya. Terlihat dari tatapan sayang yang Bara berikan pada putranya itu.
Yonna menghapus air matanya, bertepatan dengan itu Bara dan Robert juga keluar menghampiri mereka. Duduk di tempat semula.
“Papa juga sudah mendengarkan semuanya dari mulut Bara. Kini keputusan ada di tanganmu, karena kamu yang menjalani itu semua. Kami sebagai orang tua hanya menginginkan yang terbaik untukmu."
Robert kembali melihat Bara dan Yonna secara bergantian sebelum melanjutkan kembali ucapannya. Ada batu besar yang sedang menghimpit hatinya saat ini.
"Tetapi jika Papa boleh memberikan masukan, menikahlah dengannya, hiduplah bahagia dengan putra yang kalian miliki. Mungkin ini adalah takdir yang Tuhan berikan untukmu. Terkadang kita bisa memutuskan pada siapa kita menikah, namun kita tidak bisa menentukan siapa yang menjadi jodoh kita ke depannya,” ujar Robert dengan napasnya terdengar berat dengan pundak tertunduk layu.
Yonna kembali tertegun. Ia menatap dalam mata Bara, mencari entah apa yang ingin ia cari di dalam sana. Cinta? Kesetiaan? Atau keteguhan memegang sebuah komitmen menjalani hubungan yang di sebut pernikahan. Entahlah … bahkan wanita itu tak mampu berharap banyak.
Mungkin senyum itu juga yang akan terukir indah kembali di wajah kecil itu, jika ia tahu dirinya juga sama dengan teman-temannya yang lain. Ia memiliki daddy yang selama ini ia mimpikan.
“Tetapi bagaimana nanti aku menjelaskan pada Noah tentang Daddynya yang telah tiada kini justru hidup kembali? Bukankah ini terdengar seperti lelucon.” Yonna tersenyum getir dengan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
“Aku tahu ini terdengar seperti sebuah pemaksaan bagimu. Tapi aku ingin menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan, beri aku satu kesempatan untuk memulai semuanya dari awal. Menikahlah denganku dan kita besarkan anak kita bersama!” Bara membuka suaranya.
Yonna memejamkan matanya sejenak, mengatur detak jantung yang terus memompa dengan cepat. Lalu membuka matanya kembali dengan jawaban yang telah ia kunci di dalam hati.
“Baiklah, aku akan menikah denganmu. Tapi dengan satu syarat.”
__ADS_1
“Apa syaratnya, apa pun itu aku akan berusaha untuk memenuhinya.” Bara langsung menjawab tanpa pikir panjang.
“Syaratnya, pernikahan ini diadakan besok secara tertutup tanpa kehadiran kedua orang tuamu dan juga adikmu. Aku tak ingin menjadi bahan pergunjingan orang yang mengetahui siapa diriku,” ujar Yonna yang mampu membuat semua mata yang ada di ruangan itu terbelalak.
“Alice!”
Kedua orang tuanya kompak menyebut namanya. Namun Bara masih tenang untuk mendengarkan apa keinginan calon istrinya itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Yonna, Bara tak peduli akan itu. Asalkan wanita itu setuju untuk menikah dengannya, itu saja sudah cukup untuknya sebelum wanita di sebelahnya ini berubah pikiran.
“Tapi bagaimana jika Mama dan Papaku bertanya, aku tak mungkin menyembunyikanmu dari keluargaku. Tentunya aku ingin mereka tahu siapa anak dan istriku.”
Bara berencana sepulang dari Lombok akan langsung mengatakan pada kedua orang tuanya tentang siapa wanita yang akan ia nikahi. Tetapi kesibukan yang harus ia lakukan membuat dirinya belum sempat mengatakan hal tersebut dan kini Yonna justru melarangnya.
“Perkenalkan saja aku dengan identitasku yang baru, jika pada akhirnya mereka tahu. Maka biarkan mereka tahu dengan sendirinya. Aku hanya tak ingin menghadapi banyaknya pertanyaan saat ini. Beri aku waktu dan space untuk tenang sejenak. Apa kamu tahu, kembali ke dalam keluargamu sudah cukup membawa beban di hatiku terutama bertemu kembali dengan adikmu itu. Aku tidak mau muncul sebagai Alice yang malang,” jelas Yonna membuat semuanya pun kembali terdiam.
“Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu. Tapi aku tidak jamin bisa menutupi semua itu selamanya. Karena pada akhirnya kedua orang tuaku pun juga harus tahu. Jika kamu tak nyaman bersama mereka, aku akan membawamu tinggal di rumah kita, hanya ada kita bertiga saja di rumah itu.”
“Tidak perlu, aku ingin Noah mengenal Kakek dan Neneknya dari sebelah Daddy lebih dulu. Jadi tak masalah jika kita tinggal di rumah kedua orang tuamu terlebih dahulu. Bukankah Mama Jelita dulu pernah bilang, jika anak-anaknya menikah ia lebih suka anak-anaknya itu hidup bersama dalam satu rumah besar itu secara berdampingan,” jawab Yonna cepat.
Bara memicingkan matanya menatap wanita yang baru saja setuju menikah dengannya itu. Sebagai seorang pengacara, instingnya begitu tajam.
“Baiklah, aku harap tak ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku.”
“There isn’t any!” jawab Yonna dengan senyum tipis.
__ADS_1