
Yonna menghela napas, sedikit pun ia tidak meninggikan intonasi suaranya. Karena ia masih sadar siapa yang ada di hadapannya ini. Ia tak mau menjadi menantu yang durhaka.
Yonna memegang punggung tangan Jelita lembut. Mengalirkan rasa nyaman.
"Kasih sayang sesungguhnya itu bukan memanjakan tapi mendidik, Ma. Mendidik mungkin akan tampak begitu kasar tapi itulah kasih sayang yang sesungguhnya, sementara memanjakan tampak begitu menyayangi tapi sesungguhnya mencelakainya."
"Apa selama ini Mama memberi pengertian pada bocah itu saat Mama dan Papanya begitu memanjakannya dengan kemewahan? Atau jangan-jangan Mama justru ikut membela saat anak itu melakukan kesalahan yang membuat orang lain memarahinya? Karena Mama begitu mendambakan seorang cucu," ujar Yonna panjang lebar yang begitu telak di dalam hati Jelita.
Bibir Jelita terasa kelu untuk menjawab walau hanya sekedar bantahan kecil. Ia sadar akan kesalahannya, ia juga sadar jika dirinya tak cukup bijak sebagai orang yang seharusnya memberikan contoh yang baik terahadap yang lebih muda.
Bulir kristal mengalir tanpa di perintah. Jelita meletakkan tangannya di atas tangan Yonna yang menggenggam tangannya.
"Maafkan Mama. Mama sadar ternyata selama ini Mama banyak salah dengan kalian dan terutama padamu. Dulu Mama mengabaikan perasaanmu dan membiarkanmu pergi karena Mama begitu menginginkan seorang cucu. Dan saat itu Gisella sedang mengandung anak Gavin."
"Syukurlah kalau Mama sekarang sadar. Apa yang terjadi biarlah berlalu. Kini Mama temui saja Bryan, kasihan ia. Ia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi selain kita."
Yonna dan Jelita saling menggengam tangan. Dalam menjalin sebuah hubungan di perlukan rasa saling mengerti dan toleransi tanpa keegoisan.
Yonna yang mengerti keadaan Jelita dan Jelita yang mengerti akan kesalahannya. Seketika dinding pembatas di antara mereka pun hancur luruh seketika.
Dua wanita itu pun saling berpelukan. Di balik pintu Bara dan Noah mengintip dengan senyum terukir di wajah mereka.
"Daddy, Mami dan Grandma sedang main Teletubbies?" celetuk bocah itu asal.
"Iya, Noah mau? Sini peluk dengan Daddy." Bara mengangkat tubuh putranya, membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya kemudian menciumnya dengan sayang.
__ADS_1
~ ~ ~
Gisella yang tidak tidur nyenyak membuka mata saat ia mendengarkan bunyi langkah kaki seseorang yang memasuki kamarnya. Tubuhnya begitu letih setelah seharian menjadi pesuruh Gabby untuk membersihkan apartemen tersebut. Defenisi menumpang maka ia harus terima saat dijadikan layaknya pembantu tak digaji.
Gisella merasakan ranjang yang ia tiduri seakan bergoyang, wanita yang kini perutnya nampak menyembul itu tersentak kaget, dan langsung duduk saat melihat bayangan seorang pria duduk di pinggir ranjangnya.
"Alex? Ngapain kamu di sini?" tanya Gisella panik. Alex adalah kekasih Gabby, lelaki itu kerap datang ke apartemen itu untuk menemui kekasihnya. Di bawah cahaya remang lampu tidur mata Gisella berkeliling mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Sttt ... jangan berisik! Gabby lagi tidur, wanita itu sekarang sedang hangover," uajr lelaki berambut keriting itu menyeringai.
Gabby bekerja di club malam sebagai pelayan. Alkohol adalah hal yang biasa baginya. Selama Gisella menumpang di rumah itu, sudah berapa kali ia melihat wanita itu pulang mabuk dengan bercak hickey penuh di tubuhnya.
Gisella tak yakin jika wanita itu murni bekerja sebagai pelayan saja tanpa adanya servis tambahan yang membuatnya banyak uang, hingga wanita itu bisa memiliki apartemen mewah yang kini mereka tempati.
"Aku tahu kamu pasti kesepian, kan? Jadi aku datang ke sini untuk menemanimu bersenang-senang cantik."
Gisella menatap jijik baji-ngan itu. Ia menahan perutnya untuk beranjak menjauh. Belum sempat kakinya menapak lantai, Alex lebih dulu menahan kedua lengannya. Menekan tubuhnya hingga kembali terlentang di atas ranjang dengan tubuh Alex yang menghimpitnya.
"Nggak usah sok jual mahal! Aku tahu siapa kamu yang sebenarnya," ucap Alex seakan mengejek.
"Apa maksudmu? Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu katakan. Lepaskan aku!" Gisella meronta-ronta.
Sekuat apa pun ia berusaha memberontak, tetapi tenaganya kalah dengan tenaga lelaki itu yang jauh lebih besar darinya. Gisella bisa merasakan sesuatu yang begitu keras sedang menekannya di bawah sana. Nafas lelaki itu pun mulai memburu dengan binar mata yang kian berkabut.
"Jangan macam-macam kamu, Alex! Aku akan berteriak!" ancam Gisella berharap nyali lelaki di atasnya ini langsung menciut dan meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Alih-alih takut, Alex justru terkekeh meremehkan. "Teriak saja sebanyak yang kamu suka baby. Apartemen ini sengaja di rancang kedap suara untuk aku dan Gabby bisa mengeksplor imajinasi kami saat bercinta. Jadi tak ada yang akan mendengarkanmu. Tetapi kalau aku boleh sedikit saran, lebih baik kamu teriak namaku saja agar aku semakin bergairah."
"Dasar baji-ngan! Lelaki tak tahu diri dan tak tahu diuntung!" Gisella mengumpat. Mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya. Ia putus asa akan nasib yang akan menimpa dirinya selanjutnya.
"Aku mohon, Alex. Tolong lepaskan aku, aku sedang hamil, tolong kasihani aku dan janinku ini." Gisella mulai menangis, ia memohon belas kasihan pada lelaki yang pikirannya telah dikuasai oleh hawa nafsu. Sama seperti mengharapkan hujan di padang pasir.
"Kamu tenang saja, Baby. Aku akan melakukannya secara perlahan. Sepertinya menarik menyicipi tubuh Ibu hamil yang cantik seperti dirimu." Alex tertawa puas seperti serigala yang berhasil menangkap buruannya.
Alex mengeraskan rahangnya, iris matanya mulai fokus pada satu titik yaitu bukit kembar yang sedikit menyembul dari balik baju tidur wanita itu. Dengan tak sabar, Alex mulai menyambar bibir Gisella.
Wanita itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk menghindar. Tetapi Alex tak putus asa, pria itu tak cukup sabar dan baik untuk melepaskan mangsa di hadapan mata. .
Lelaki itu mulai menjelajah ceruk leher wanita itu. Menciuminya hingga ke payudara dengan naf-su yang menggebu-gebu. Satu tangannya menahan kedua tangan Gisella di atas kepala, lalu satu tangan lagi mulai menjelajah setiap lekukan tubuhnya yang menantang. Walau sedang hamil, bentuk fisik wanita itu gak banyak yang berubah kecuali perutnya yang rata mulai membukit saja.
Tangis Gisella semakin menjadi, ia putus asa dengan kondisinya saat ini. Harga dirinya seakan dilucuti. Ia menendang-nendang kakinya, namun di detik kemudian Alex menahannyanya denhan kakinya hingga wanita itu tak mampu lagi berkutik.
"Lebih baik kamu diam dan tidak memberontak agar aku bisa memperlakukanmu dengan lembut. Jika kamu melawan, kamu akan tahu sendiri akibatnya!" gertak Alex.
Nafas Gisella seakan tercekat di tenggorokan. Ia menggigit bibir bawahnya erat agar suara laknat itu tak keluar dari bibirnya. Ia membenci apa yang dilakukan pria yang kini tengah menjamahnya, akan tetapi pergerakan Alex yang begitu lihat mampu memantik gelegar rasa yang selama ini terpendam di hatinya. Gisella hilang kendali, akhirnya suara itu pun terelepas juga.
"Dasar ja-lang munafik. Tubuhmu bahkan lebih jujur dari dirimu. Rasakan ini!"
"Arkhhh!" Gisella menjerit tertahan ketika benda tumpul itu mulai menghujam bagian bawahnya dengan kuat. Ia bahkan tak sadar kapan lelaki itu sudah melepas semua pakaiannya. Pergerakan Alex yang tak bisa pelan bukan membawa kenikmatan, justru membuat perut bagian bawahnya terasa sesak dan nyeri.
"Alex, pelan-pelan. Sakit!"
__ADS_1