Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 101. Hancurnya hati Yonna.


__ADS_3

"Kenapa nggak aktif nomornya?" Kening Yonna berkerut memandang layar ponsel yang masih menyala. Sudah lebih dari 15 kali ia menekan kombinasi nomor yang sama. Namun hanya operator saja yang menyambutnya sedari tadi.


"Aneh?" lanjutnya lagi. Ia menyenderkan diri pada safa ruang tamu yang ia duduki seraya menghela napas panjang. Kepalanya terasa pusing beberapa hari ini. Semenjak kepergian Arabella, gai-rah hidupnya seakan padam.


Jangankan untuk menghabiskan waktu bersama teman arisan ataupun jalan-jalan. Beraktifitas di dapur yang selalu ia lakukan pun terasa membosankan. Hatinya menahan rindu yang cukup dalam pada bayi perempuan itu.


Jelita memasuki rumah dengan hati yang waswas, ia cukup tersentak kaget mendapati menantunya sedang duduk di ruang tamu sembari melamun.


"Mama sudah pulang?" sapa Yonna tak bersemangat.


"Iya, di mana Noah dan Bryan?" tanya Jelita. Ia menunjukkan tas belanjaan yang ada di tangannya. Sebelum pulang wanita paruh baya itu menyempatkan diri untuk berbelanja pakaian di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar.


Beberapa potong pakaian anak laki-laki yang terpasang di etalase menarik perhatiannya hingga akhirnya ia bawa pulang.


"Ada di atas tadi, Ma."


"Kamu kenapa? Terlihat lemas dan pucat?" tanya Jelita khawatir. Ia mendekati menantunya itu dan mengambil posisi duduk di sebelah Yonna.


Tangannya terangkat, ia tempelkan punggung tangannya ke atas dahi Yonna yang terasa sedikit lengket karena berkeringat.


"Tidak panas, tapi sepertinya kamu tidak sehat badan Alice. Kamu keringat dingin, Mama antar kamu ke dokter, ya!"


"Tidak usah, Ma. Aku baik-baik saja, mungkin karena kecapekan, istirahat sebentar pasti sembuh," ucap Yonna menolak niat baik mertuanya untuk berobat.


Lama mengkonsumsi pil pelangsing membuatnya muak mencium bau obat-obatan.


"Jangan selalu dianggap sepele penyakit. Atau Mama telpon Bara saja untuk pulang lebih cepat, biar ia mengantarmu ke rumah sakit!" saran Jelita masih kekeuh menyuruh Yonna untuk pergi berobat.

__ADS_1


Yonna kembali menolak dengan menggelengkan kepalanya pelan. Ia menggeser sedikit duduknya hingga kini menjadi berhadapan dengan mertuanya. Pandangan matanya menatap dalam. Jelita yang di tatap seperti itu pun mulai salah tingkah.


"Kenapa kamu menatap Mama seperti itu? Apa ada sesuatu yang ingin kamu ucapkan pada Mama?"


Yonna langsung mengangguk mantap. "Ma, kenapa Bu Veny teman Mama itu nomornya nggak bisa di hubungi sejak kemarin? Apa ada masalah dengan wanita itu?"


Degh!


Jelita terdiam. Pertanyaan yang ia hindari akhirnya terlontar juga. Otaknya berpikir cepat untuk mencari alasan yang masuk akal untuk ia berikan pada menantunya itu.


"Oh, itu ... mungkin Jenk Veny sibuk, makanya nomer ia susah dihubungi akhir-akhir ini. Kamu juga tahu kalau Jenk Veny itu seorang bisnis women," dalih Jelita menutupi kecurigaan Yonna.


Raut wajah Yonna tampak tak puas dengan jawaban yang ia berikan.


"Mama ke atas dulu ya, Nak. Sebentar lagi Papa dan Bara pulang, Mama mau mandi dulu."


Baru saja Yonna ingin membuka mulutnya kembali untuk bertanya, Jelita sudah lebih dulu pergi untuk menghindar.


Yonna menghela napas panjang, rasa pusing yang mendera membuatnya tak sanggup berbuat banyak. Pandangan matanya kini beralih pada jendela yang ada tak jauh di sampingnya, memandang sinar matahari yang kian meredup dengan awan yang mulai kelabu.


~ ~ ~


Dua hari tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan hatinya, ditambah ponsel wanita yang mengadopsi Arabella tak kunjung dapat dihubungi semakin membuat hati Yonna tak karuan.


Yonna memutuskan untuk pergi ke alamat yang pernah diberikan wanita itu padanya. Jarak yang cukup jauh tak menyurutkan niat hatinya, rasa rindu yang kian menggebu mendorongnya untuk nekad.


Ditemani dengan supir pribadinya, kini Yonna berdiri di depan rumah mewah dengan halaman luas, bersih dan terawat.

__ADS_1


Yonna tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia memasuki halaman rumah tersebut setelah diberikan izin oleh satpam yang menjaga rumah tersebut. Pelayan di sana pun ramah padanya, mempersilahkan dirinya untuk duduk santai sambil menunggu sang pemilik rumah.


Pandangan mata Yonna berkeliling meneliti setiap sudut rumah. Hingga pandangan matanya tertambat pada sebuah foto yang cukup besar tergantung di dinding.


"Siapa wanita dan pria di foto itu? Itu bukan foto Jenk Veny dan suaminya," batin Yonna penasaran. Banyak pertanyaan yang mulai hadir di kepalanya saat ini.


"Hallo Nyonya Apsara, maaf menunggu lama," ucap wanita bergamis sage membuyarkan lamunan Yonna. Yonna pun berdiri dan menyalami wanita yang menghampirinya itu. Kemudian mereka berdua kembali duduk bersama saling berhadapan.


"Tidak apa-apa," jawab Yonna bingung. Ia tak mengenal wanita itu dan ini pertama kalinya ia bertemu dengan wanita yang tampak begitu ramah di hadapannya itu.


Sebelum masuk Yonna memperkenalkan dirinya terlebih dulu pada pelayan yang membukakan pintu. Jadi wajar saja jika wanita yang diperkirakan diatas tiga puluh tahun itu menyapanya dengan nama belakangnya.


"Maaf sebelumnya, anda siapa? Maksud saya, saya mendapatkan alamat rumah ini dari Nyonya Veny dan apakah beliau ada? Saya ingin bertemu dengannya dan putri saya," jelas Yonna langsung pada tujuannya.


Wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Nurmala itu terdiam menatapnya sejenak. Tak ada raut terkejut di wajahnya, lebih kepada raut wajah heran dan serasa tak percaya.


"Dis sini tak ada yang namanya Veny, Mbak. Saya panggil Anda Mbak saja ya, sepertinya umur kita tak berbeda jauh."


Yonna menganggukkan kepala, ia tak mempermasalahkan soal gelar panggilan atau sebagainya. Itu hanyalah formalitas untuk menghargai lawan bicara saja, yang ia pikirkan saat ini adalah bayi kecil yang ia sayang itu. Mendengar tak ada nama Veny di rumah itu saja sudah cukup membuat jantungnya memompa dengan begitu cepat.


"Anda bukan orang pertama yang mencari nama itu di rumah ini. Dan kebanyakan dari mereka datang dengan berbagai motif penipuan. Ada yang tertipu ratusan juta dari bisnis perhiasan. Ada juga yang mobilnya di bawa kabur serta berbagai motif yang lain. Dan pelakunya sama, yaitu Veny dan suaminya. Mereka menyamar sebagai orang kaya yang memiliki perusahaan besar di kota sebelah. Padahal nyatanya, mereka itu ... ya, hanya orang biasa," jelas Nurmala yang langsung membuat bahu Yonna terlemas.


Mata Yonna mulai berkaca-kaca memikirkan nasib putri kecilnya yang ada di tangan mereka.


"Saya tidak mengerti, anda berasal dari keluarga yang sangat berada. Kenapa putri anda yang masih bayi ada di tangan sepasang suami-istri penipu itu? Apa anda tidak takut jika ... mungkin saja mereka menjual anak anda di perdagangan manusia. Karena saya dengar ada tiga orang yang mencari mereka dan menanyakan anak mereka di tangan Veny dan suaminya. Rata-rata anak itu memang masih bayi," lanjut Nurmala yang semakin membuat Yonna syok.


"A-apa ... putriku, Arabella?" bulir bening itu langsung jatuh di pipi bersamaan dengan rasa pusing yang kian mendera. Kepala Yonna seakan berputar putar dan detik kemudian langsung menggelap membuatnya tanpa sadar terbaring di sofa tak sadarkan diri.

__ADS_1


Nurmala terkejut. Ia mendekati Yonna sembari menggoyangkan tubuh kurusnya.


"Mbak! Mbak ada apa denganmu. Ayo bangun!" ucap Nurmala panik.


__ADS_2