Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 56. Ulat bulu yang berubah menjadi kupu-kupu.


__ADS_3

Gavin memasuki kamar dengan segala pikiran kusut bagai jaring yang tergulung lalu tersangkut, beberapa kali mulutnya berdecis mencoba memahami apa yan diucapkan Bara padanya.


Ia masih tak habis pikir bagaimana dirinya bisa tak mengenali mantan istrinya sendiri. Bagaimana ia tak menyadari kejanggalan demi kejanggalan yang hadir di depan matanya.


Langkah kakinya kasar, membuat Gisella yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan majalah fashion di tangannya pun menoleh. Matanya memicing melihat raut kesal yang melingkupi wajah suaminya.



“Ada apa denganmu, Mas?” tanya Gisella. Gavin menghempaskan tubuhnya kasar pada sebuah sofa panjang yang ada di sudut kamar. Gisella beranjak dari duduknya, ia menghampiri Gavin dan berjalan gemulai dengan gaun tidur tipis berwarna hitam yang ia kenakan.


Malam ini Gisella ingin mengajak suaminya ke peraduan, melihat mood suaminya yang buruk adalah moment yang sangat bagus menurutnya, biasanya Gavin sangat suka di ajak bercinta di saat dirinya sedang marah, sebagai pelarian atas rasa kesal yang pria rasakan.


“Mas, ada masalah apa sih? Kenapa wajahmu itu tampak tegang sekali?” ujar Gisell dengan suara manja. Ia duduk di atas pangkuan suaminya, mengusap rahang menegang itu dengan lembut.


“Aku ingin bertanya satu hal padamu, apa pengurangan berat badan bisa mengubah bentuk wajah seseorang?” tanya Gavin polos. Ia tampak seperti orang bodoh saat ini.


Gisella terkekeh mendengar pertanyaan suaminya yang terdengar lucu di telinganya.


“Tentu saja bisa Mas. Terutama bentuk rahang, biasanya orang gemuk akan cendrung berwajah bulat walau saat kurus ia berwajah lonjong atau oval. Apalagi jika berat badannya berubah dalam jumlah yang cukup drastis. Bahkan make up saja di tangan seseorang yang mahir bisa loh mengubah wajah yang sama menjadi seseorang yang berbeda," jelas Gisella berdasarkan apa yang ia ketahui.


"Lalu suara, apa juga bisa berubah?" tanya Gavin lagi.


Gisella mengerutkan dahinya. "Setahu aku sih nggak berpengaruh pada suara. Suara itu bisa saja berubah jika orang tersebut memang mahir mengubah suaranya. Contohnya seperti ini."


Gisella memperagakan suaranya yang ia ubah dalam tone nada yang berbeda. Sesuatu yang ia pelajari dulu saat ia bermain dua peran dalam satu drama di teater saat masih duduk di bangku SMA.


Mata Gavin melebar sempurna. Walau suara Gisella tak benar-benar berubah 100% namun ciri khas dari suaranya terasa berbeda.


"Memangnya kenapa kamu menanyakan itu Mas? Tumben.” Gisella balik bertanya dengan curiga. Ia menatap mata suaminya yang ada di hadapannya.


Jarak yang begitu dekat membuat ia bisa melihat binar mata suaminya sedang menatap tajam lurus ke depan dengan dahi yang berkerut dalam. Seperti ada sesuatu yang cukup berat sedang ia pikirkan.

__ADS_1


“Mas, kamu kenapa sih, aneh banget?”


Gisella menagkup kedua pipi suaminya dengan kedua tangannya. Lalu mengarahkan mata yang lagi yak berkonsentrasi itu pada dadanya yang menyembul dari balik gaun tidur yang transparan tersebut. Dada sintal itu membusung menantang hingga jaraknya pada wajah Gavin hanya tinggal beberapa senti saja.


“Mas malam ini udaranya cukup dingin, bagaimana kalau kita buat adik untuk Bryan, seorang putri cantik sepertinya sangat baik untuk keluarga kecil kita, Mas.” Suara Gisella terdengar serak-serak basah menggoda.


Gavin menepis tangan istrinya itu dengan kasar, kali ini ia tak sedikit pun berselera dengan wanita yang sudah pasrah di panggkuannya itu.


“Menyingkirlah! Aku capek!” ujar Gavin ketus. Gavin mendorong punggung Gisella agar bergeser lalu ia berdiri dan beranjak ke kamar mandi begitu saja.


Sontak Gisella melongo melihat sikap suaminya yang seakan tak berselera menyentuhnya. Ia mengendus ke dua sisi ketiaknya secara bergantian.


“Wangi kok, kenapa akhir-akhir ini Mas Gavin menolakku?” geram wanita itu saat keinginannya tak mampu ia salurkan.


Lama tak tersalurkan membuat ia kesepian, ada sesuatu dalam tubuhnya yang menggelegak dan ingin dilampiaskan, tetapi suaminya justru mengabaikannya begitu saja.


Gisella berdiri dan menghentak kakinya menuju ranjang. Berbaring lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga ke leher. Ia mengambil posisi tidur memunggungi tepat di posisi Gavin akan tidur nanti.


Merasakan pergerakan pada ranjang Gisella pun pelan-pelan melirik. Betapa dongkol hatinya saat mendapati punggung Gavin yang juga beradu punggung dengannya.


“Sial! Sial! Sial! Dasar lelaki tak punya perasaan! Awas saja kamu Mas, aku akna membalas perlakuanmu ini saat kamu membutuhkanku, dasar lelaki tidak peka. Ahhh sial!” umpat Gisella di dalam hati. Tangannya menggenggam sudut selimut dengan begitu eratnya.


Darahnya berdesir hingga ke kepala, menyentak ke otak. Gisella merasakan kepalanya pusing berat, bagian bawahnya berkedut tak tertahankan. Ia ingin menuntaskan has-rat yang kebetulan telah hadir, ia mencoba menghela napas. Meraih ponselnya yang berada di atas nakas, membuka sosial media untuk mengalihkan pikirannya.


~ ~ ~


Pagi hari di saat matahari belum menampakkan cahayanya, Jelita keluar dari kamar meniti tangga satu demi satu untuk menuju dapur. Baru sampai pada anak tangga terakhir, hidungnya sudah mencium aroma masakan yang begitu wangi.


Kening keriputnya semakin terlipat ke dalam, ia terpaku di tempat memegang ujung pegangan tangga untuk menahan tubuh tuanya. Sesuatu yang sangat berbeda terjadi dalam keluarga Apsara setelah enam tahun berlalu sejak kepergian manantu pertamanya itu.


“Aneh, siapa yang sudah masak pagi-pagi buta begini? Semenjak tak ada Alice, dapur itu selalu sepi. Jika tidak ada aku yang memasak jangan harap ada orang lain yang mau menginjakkan kakinya di dapur itu. Apa Gisella? Tapi mana mungkin, wanita itu kan mana bisa memasak,” gumam Jelita.

__ADS_1


Tangannya yang tergenggam di pegangan tangga langsung terlepas seiring langkah kakinya yang mulai beranjak.


Mata Jelita melebar melihat siapa gerangan yang sedang berkutat dengan segala peralatan dapur dengan lincahnya.


Yonna berbalik badan saat hendak mengambil sayur yang sudah ia potong di atas meja. Matanya terserobok wajah Jelita yang tampak begitu heran.


“Mama? Kenapa Mama diam di situ, ayo duduk! Maaf kalau hari ini aku mengacaukan dapur Mama pagi-pagi,” ujar Yonna.


“Ah … tidak apa-apa, itu malah bagus. Mama tidak menyangka kamu bisa memasak. Baunya saja sudah enak,” puji Jelita tulus.


Jelita mendekat pada Yonna yang kini hendak memindahkan sayur yang sudah matang di dalam kuali ke dalam wadah mangkok kristal hijau bening yang cukup besar.


Jelita tampak takjub dengan beberapa menu yang sudah terisi dibeberapa piring saji yang tersusun tak jauh dari kompor. Seorang pelayan yang sedari tadi membantu Yonna mendekat dan mengambilnya untuk di susun ke atas meja.


“Apa itu semua kamu yang memasaknya?” tanya Jelita memastikan. Terdapat empat menu yang sudah terhidang, cukup banyak untuk kategori sarapan pagi.


Yonna tersenyum dan mengangguk, memasang senyum semanis mungkin pada mertuanya itu.


“Mama mau di masakin apa? Bubur ayam, atau pancake madu?” tanya Yonna dengan suara yang sedikit berbeda dari biasanya seraya menyebutkan makanan yang menjadi kesukaan jelita saat sarapan.


Jelita sontak tertegun. Tubuhnya terpaku, menatap wajah cantik menantu barunya itu.


“Alice?” lirih Jelita. Suara itu mengingatkannya pada seorang wanita yang selama ini terabaikan di dalam keluarganya. Setiap pagi wanita dalam kenangan masa lalunya selalu menanyakan kalimat yang sama dengan senyum persis seperti apa yang Yonna lakukan saat ini.


“Alice? Siapa itu Ma?” tanya Yonna dengan wajah polosnya. Suaranya kini berubah kembali normal seperti semula. Ia menyentuh lengan Jelita, membuat wanita itu tersentak dari lamunannya.


“Ahkk … apa yang aku pikirkan, bagaimana mungkin wanita itu Alice, wajahnya sedikit berbeda, suaranya juga, tetapi … tadi?” batin Jelita bingung. Ia mengusap pelipisnya, kepalanya mulai pusing.


“Bukan siapa-siapa, itu tidak penting. Kamu selesaikan saja masakmu, Mama mau kembali ke kamar sebentar!” Jelita langsung berbalik pergi setelah mengatakan kalimat itu.


Yonna tersenyum kecut menatap punggung tua yang beranjak menjauh.

__ADS_1


“Tidak penting? Yah … aku memang tidak pernah sepenting itu di mata kalian!” lirih Yonna sedih serta marah yang melebur menjadi satu.


__ADS_2