
Pelayan hadir menjeda perseteruan kalimat di antara mereka. Menghidangkan air minum dan cemilan di atas meja, lalu pamit untuk pergi. Seketika suasana kembali menegang.
Gisella langsung menyambar minumannya, mendinginkan sedikit hatinya yang mulai terbakar panas. Tak biasanya ia segugup ini menghadapi lawan, tetapi Alice yang ia kenal dulu sangat berbeda dengan Alice yang sekarang. Baik bentuk fisik dan sikap.
"Sebaiknya kamu tak perlu menghabiskan tenagamu untuk sesuatu yang sia-sia. Mas Gavin itu suamiku dan ia cinta padaku, jadi percuma kamu mendekatinya. Ia tak akan tergoda."
"Benarkah? Apa yang membuatmu begitu percaya diri jika suami tersayangmu itu mencintaimu, humm?"
"Tentu saja ia mencintaiku, buktinya ia sanggup meninggalkanmu dan menjadikanku istrinya yang sah. Bahkan sudah hadir Bryan di antara kami sebagai bukti cinta Mas Gavin padaku," jawab Gisella. Bola matanya bergoyang, di dalam binar matanya, Yonna bisa melihat keraguan di hati wanita itu.
Yonna sudah tahu semua yang terjadi diantara mereka berdua selama empat tahun belakangan ini. Gavin yang dulu begitu memuja calon istrinya bahkan dengan keyakinan penuh untuk menikahi Gisella ternyata tak begitu mencintai wanita itu.
Saat ini Gisella sempurna di bandingkan seorang Alice yang gemuk. Setelah menikah, Gisella tak menarik lagi di mata Gavin. Ya ... cinta Gavin seperti musim yang silih berganti dari satu wanita ke wanita yang lain.
Cinta itu begitu menggebu hanya saat ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan, setelah dapat maka cinta itu pun akan meredup seperti bara api yang perlahan padam saat arang telah habis.
Palsu! Cinta Gavin palsu! Mungkin naf-su adalah gambaran yang tepat untuk mengartikan semua itu. Yonna tak yakin jika seorang Gavin memiliki cinta yang tulus tak bersyarat.
"Ya ... Mas Gavin menikahimu, tetapi bukan karena ia benar-benar cinta. Tapi untuk memenuhi egonya sendiri. Cinta bersyarat, itu bukan cinta namanya!" Yonna menghela napas pendek, ia tak habis pikir dengan kebodohan wanita yang ada di hadapannya ini. Waktu 6 tahun tak cukup membuat Gisella sadar bagaimana posisi dirinya di hati seorang Gavin.
__ADS_1
"Aku kasihan padamu, kamu sekarang persis seperti diriku yang dulu. Saat kamu berhasil merebut suamiku, kamu tidak benar-benar menang Gisel, tetapi kamu menggantikan posisiku, istri sebatas status. Istri yang di abaikan keberadaannya, istri yang haus akan kasih sayang dan perhatian. Istri pajangan yang bisa Gavin pamerkan, dan disaat semua kelebihanmu tak lagi bersisa di matanya. Kamu akan dicampakkan dan digantikan dengan wanita yang baru," lanjut Yonna. Ia menarik gelas minumannya untuk mendekat, mengaduk-aduk pipet yang ada di dalam gelas sebelum meminumnya.
Dinginnya air yang manis bercampur asamnya buah jeruk mengalir di tenggorokannya. Terasa nikmat dan menyenangkan.
Kedua tangan Gisella terkepal di bawah meja, kalimat panjang Yonna seperti duri yang menusuk gendang telinganya. Menjalar di setiap pembuluh darah dan tertinggal di hati dan jantung. Menimbulkan rasa sakit setiap ia menarik napas. Dirinya seakan di dorong mundur oleh Yonna hingga terjerembak ke dasar jurang dalam dengan harga diri yang terbanting.
"Siapa bilang? Jangan sembarang berasumsi dengan rumah tangga orang lain. Kami bahagia, suamiku juga begitu perhatian padaku. Semua yang kamu ucapkan itu hanya berdasarkan rasa iri hatimu saja, apa kamu belum bisa move on dari suamiku. Kasihan sekali!" Kini Gisella mencoba membalik keadaan, ia yang mulai menekan Yonna dengan kalimat-kalimatnya.
"Kau seperti Radha yang berusaha merebut Krisna dari Rukmini. Tapi sayangnya cinta Krisna telah berpaling pada Rukmini dan tak akan pernah bisa menjadi milik Radha yang menyedihkan!" cela Gisella lagi membawa kisah dewa sebagai perumpamaan.
Sudut bibir Yonna berkedut. "Untuk memuaskan kepercayaan dirimu, bagaimana jika pulang dari sini aku akan beritahu Mas Gavin jika aku masih mencintainya. Aku ingin lihat, apa Mas Gavin akan mengabaikanku sebagai bukti jika ia begitu mencintaimu atau justru sebaliknya? Entah kenapa aku sedikit meragukan ucapanmu itu. Aku yakin saat itu juga statusmu akan langsung berganti dari seorang istri menjadi mantan istri," balas Yonna mematahkan kepercayaan diri Gisella.
"Kau! Dasar wanita tak tahu diri, sudah memiliki suami masih saja ingin merebut suami orang lain. Kamu pikir dengan merusak rumah tangga orang lain, hidupmu akan bahagia, huh!" Gisella mulai meninggikan suaranya hingga beberapa pasang mata mulai menoleh, memperhatikan mereka.
Gavin tak lebih dari masa lalu, tak ada sedikit pun niat di hatinya untuk merebut lelaki itu dari tangan wanita yang ketenangannya kini ia usik.
"Kalimat itu seharusnya kalimat yang aku lontarkan padamu 6 tahun yang lalu. Apa kamu sudah amnesia Gisella. Jangan berlagak menjadi korban, karena sebelum hari ini terjadi padamu, kamulah yang lebih dulu menjadi tersangkanya. Mungkin ini karma atas kesombonganmu waktu itu." Gisella terdiam, matanya melebar dengan bibir yang bergetar menahan amarah.
Ia ingin kembali berteriak, tetapi sudut mata dan telinganya menangkap keberadaan mereka-mereka yang mulai memperhatikan mereka. Gisella masih punya harga diri untuk mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang lain.
__ADS_1
Karma? Gisella tak percaya akan sesuatu yang menurutnya omong kosong. Namun ingatannya membawa ia kembali terkenang pertemuan mereka 6 tahun yang lalu sebelum perceraian Gavin dan Yonna terjadi. Gisella seakan dejavu, semuanya terjadi hampir sama persis dengan posisi yang berputar.
Jika dulu ia yang menegakkan kepala dengan kesombongan, tetapi kini semuanya berubah 180%. Dirinya yang menjadi Alice dulu, istri menyedihkan yang terabaikan.
"Oh ... jadi sekarang kau ingin membalas dendam padaku! Kau ingin menghancurkan pernikahanku!" tukas Gisella menarik kesimpulan dari pemikirannya sendiri.
"Tidak! Tak ada yang perlu aku hancurkan dari pernikahanmu. Pernikahanmu saja sudah hancur sebelum aku kembali. Aku hanya perlu duduk manis sebagai penonton, menunggu puing-puingnya jatuh berserakan dengan sendirinya.Lagi pula Gavin bukanlah pria yang pantas untuk diperebutkan!" balas Yonna. Ucapannya bagai godam besar yang kembali memukul telak hati Gisella hingga remuk.
"Kau—" Gisella kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Yonna. Semua yang dikatakan wanita itu benar adanya. Dada Gisella naik-turun turun tak beraturan, rasanya hampir meledak.
Yonna menarik sudut bibirnya melihat ekspresi Gisella. Sudut bibirnya menarik senyum ke atas, ia mulai mengabiskan minumannya hingga tersisa setengah. Lalu mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah ke atas meja.
"Aku yang traktir, anggap pertemuan dua teman lama." Yonna sedikit mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. Baru dua langkah ia berjalan, wanita itu kembali berbalik dan menatap Gisella yang duduk tepat di sampingnya.
Gisella mendongakkan kepalanya dalam keterdiaman. Pandangan mata mereka bertemu untuk sesaat.
"Daripada harus memilih menjadi Radha ataupun Rukmini, kenapa tidak memilih menjadi Revati saja, wanita yang mendapatkan cinta Balram sepenuhnya tanpa dibagi ataupun terbagi. Jika sudah tak miliki arti, untuk apalagi bertahan? Kalau kenyataannya bertahan pun sudah tidak dihargai!"
Yonna kembali menyunggingkan senyum tipis, kemudian melanjutkan kembali langkah kakinya. Meninggalkan Gisella yang terdiam seribu bahasa, dengan tangan yang masih terkepal dan tubuh yang bergetar.
__ADS_1
"Jika sudah tak memiliki arti untuk apa bertahan, bertahan pun aku tidak di hargai."
Gisella mengulang ucapan Yonna di dalam hati. Seperti terbius dengan ucapan itu hingga terbenam di bawah alam sadarnya. sorot matanya memancarkan kebencian yang mendalam atas pengkhianatan Gavin dan juga sikap Gavin padanya.