Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 59. Cinta = fisik sempurna


__ADS_3

Waktu terasa begitu cepat berputar, mentari yang terbit kini pun mulai terbenam dengan cahaya emasnya yang kemerahan menghiasi sebagian cakrawala. Yonna keluar dari gedung kantor dengan langkah santai.


“Yonna tunggu!” teriak seorang pria yang menyusulnya dari belakang. Yonna pun menoleh, ternyata pria itu adalah teman sekantornya di devisi pemasaran.


Yonna sedikit bingung kenapa lelaki manis itu memanggilnya. Rasa-rasanya ia tak memiliki hubungan kerja atau berhadapan dengannya hari ini sehingga menyinggung pemuda itu hari ini.


“Iya ada apa Pak Yudha?” tanya Yonna ramah. Sementara Bara yang sudah sampai sedari tadi memperhatikan di balik kaca mobilnya. Rasa ingin tahu pria itu cukup besar, matanya dengan liar memeperhatikan interaksi antara keduanya.


“Ini untukmu!” Yudha menyerahkan binggkisan yang ada dii tangannya, sebuah paperbag kecil setinggi sekilan berwarna biru gradasi dengan motif kukup-kupu yang berterbangan di atas kelopak mawar merah.


“Apa ini Pak Yudha?” tanya Yonna sumringah. Ia menerima hadiah tersebut tanpa terbesik sedikit pun niat di balik bingkisan itu diberikan untuknya.


“Bingkisan kecil untukmu semoga kamu menyukainya. Dan kalau bisa jangan panggil saya Pak, kamu bisa panggil saya dengan sebutan Mas! Itu jauh terdengar lebih enak,” ucap Yudha.


Tatapan matanya menatap Yonna dalam. Bara mulai tak tahan dan memilih untuk keluar dari mobil segera. Ia tahu betul arti tatapan dari pria itu.


“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Apa kamu ada waktu untuk kita berbincang sebentar?” tanya Yudha penuh harap.


“Sayang! Apa kamu sudah selesai, ayo kita pulang!” suara Bara menyela pembicaraan Yudha. Mereka berdua pun menoleh.


Yonna sedikit tersentak kaget. Ia tak tahu jika suaminya akan menjemputnya sore ini, Yonna berencana naik taksi saja tadi. Tetapi baru saja ia ingin memesan taksi online, Yudha sudah memanggilnya lebih dulu dan memberikan bingkisna itu padanya.


Bara mendekati istrinya dan lengasung merangkul pinggang ramping istrinya dengan erat. Yonna sonak sedikit terkejut, ia tak mengira suaminya akan muncul di saat yang tidak tepat seperti ini.

__ADS_1


“Siapa kamu?” tanya Yudha tak sennag dengan perlakuan intim Bara pada rekan kerjanya.


“Perkenalkan saya Bara, suaminya,” jelas Bara seraya mengulurkan tangan.


Yudha yang mendengarnya pun terperangah, pria itu tersentak kaget. Yonna yang silent dengan kehidupan pribadinya membuat tak banyak rekan kerjanya yang tahu jika ia sudah menikah lagi, hampir seluruh orang di kantor mengetahui jika dirinya hanyalah seorang janda anak satu yang baru pulang dari luar negeri.


“Jadi kalian sudah menikah?” tanya Yudha mencoba memastikan sekali lagi.


Yonna tersenyum canggung dan mengangguk. Apalagi siakp suaminya yang menarik pinggulnya untuk merepatkan jarak diantara mereka terlihat begitu sengaja untuk memanasi lelaki di hadapannya kini.


“Maafkan aku kalau begitu. Oh ya … aku lupa masih ada yang tertinggal di dalam. Aku masuk dulu, senang berkenalan dengan anda Pak Bara,” tandas Yudha menutupi kekecewaan hatinya dengan berucap ramah, kemudian berlalu pergi.


Yudha sudah menyukai Yonna sejak pertama wanita itu datang ke kantor, terlepas dari statusnya seorang janda anak satu. Bukankah hati tak dapat kita kendalikan akan berlabuh pada siapa. Namun ia belum memiliki kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya itu.


Yonna menelan ludahnya, ia memindai keadaan sekitar. Yonna segera mendorong dada bidang suaminya agar pria itu sedikit menyingkir darinya, lalu pergi begitu saja masuk ke dalam mobil. Yonna tak mau menjadi tontonan rekan kerjanya yang masih tersisa di kantor itu.


Bara mengikuti langkah kaki istrinya, memasuki mobil dan tak sengaja membanting pintu mobil hingga terdengar cukup keras.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Sayang!”


“Pertanyaan yang mana? Jangan kekanak-kanakan, Mas. Mereka hanya ingin menjadi temanku, lalu apa salahnya?” elak Yonna.


“Kekanak-kanakan kata kamu! Mana ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan! Kalau begini caranya, lebih baik kamu jadi gendut saja. Lebih aman untuk pikiran dan hatiku!” jawab Bara asal.

__ADS_1


Yonna melebarkan matanya dengan sempurna. Susah payah ia berjuang untuk mendapatkan tubuh sempurnanya saat ini, namun Bara justru dengan lantang menyuruhnya untuk gendut kembali.


“Enak saja! Aku nggak mau, apa bagusnya punya tubuh gendut. Tak ada yang peduli dan tak ada yang mau memperhatikan apalagi kasih sayang. Semua itu tak akan mungkin aku dapatkan. Aku nggak mau jadi gendut!” jawab Yonna tegas. Ia menggelengkan kepalanya cepat.


“Siapa bilang kasih sayang itu hanya berdasarkan kamu gemuk atau kurus—”


Yonna tertawa lepas, ia seakan mengejek apa yang diucapkan suaminya. Bibir mengumbar senyuman sedangkan mata mulai memanas dan mengeluarkan air yang membuat matanya berembun, sementara hati kian menjerit.


“Ternyata kamu lelaki munafik, Mas! Kamu pikir aku akan percaya dengan apa yang kamu ucapkan itu.” Yonna kembali tersenyum sinis pada suaminya. Darahnya semakin memanas, sepertinya akan terjadi pertetengakaran suami istri di dalam mobil itu.


Kaca jendela yang tertutup separuh cukup menutupi keadaan yang ada di dalam mobil pada orang lain yang ada di luar. Apalagi tempat Bara memarkir mobil sedikit menyingkir.


“Kamu mau menerimaku sebagai istrimu saat ini, itu tidak lebih karena aku yang telah berubah. Aku tidak membuatmu malu, aku juga bisa memanjakan mata dan juga dirimu dengan kemolekan tubuh yang aku miliki. Dulu saat aku gendut, jangankan untuk cinta. Kalian para lelaki menoleh padaku saja tidak!”


“Tidak semua hal bisa diukur hanya dengan keindahan fisik Alice. Jika aku hanya memandangmu berdasarkan itu semua, maka tak akan pernah hadir Noah di antara kita.”


“Noah hadir karena sebuah kesalahan. Saat itu kamu sedang tak sadarkan diri akibat minuman yang aku sediakan untuk Mas Gavin. Kamu sedang di bawah pengaruh obat, tentu saja kamu tak sadar, Mas. Atau jangan-jangan saat melakukannya denganku, kamu pun lagi menghayal sosok bidadari cantik dan seksi, iya kan!” tuduh Yonna. Walau sesungguhnya, hatinya pun ikut sakit melontarkan kalimat itu.


“Kamu salah, Noah hadir ke dunia ini bukan karena kesalahan. Tetapi keserakahanku yang menginginkan sesuatu yang bukan milikku. Aku bukan anak kecil yang tak dapat menahan naf-suku sendiri. Aku—”


Bara mengusap wajahnya kasar, pertengkaran ini terasa begitu menyesakkan hatinya. Memenuhi setiap rongga otaknya dengan benang kusut yang sulit terurai.


Yonna sudah dipenuhi oleh pemikiran negatif bahwa cinta hanya berdasarkan kesempurnaan fisik dan itu adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

__ADS_1


Seribu kata pun yang ia lontarkan, wanita itu tak akan pernah percaya. Semua hanya akan terdengar seperti rayuan manis belaka. Bahkan mata Yonna seakan tertutup untuk menyadari apa yang telah suaminya itu lakukan hanya untuk mendapatkan sedikit ruang hatinya.


__ADS_2