
Pagi-pagi Yonna sudah bersiap mengantarkan Noah untuk pergi ke sekolah. Bocah itu sekarang sudah TK nol kecil. Noah berlari-lari kecil dengan riang menuju teras.
"Mommy, come on hurry up! I want to meet Bella," ujar Noah menyebut nama gadis kecil yang kini tengah dekat dengannya. Seorang gadis hitam manis yang memiliki poni Dora dan tubuh kecil mungil. Putri dari seorang pemilik perusahaan transportasi yang cukup besar di kota itu.
Mereka berdua kerap bermain berdua dan bercanda riang. Walau terkadang Noah akan pulang dari sekolah dengan raut wajah yang geram karena berdebat hal sepele dengan gadis itu.
Noah jengkel dengan sikap ngotot dan tak ingin kalah gadis itu. Tetapi anehnya, bocah lelaki Bara itu tetap saja bermain kembali dengan Bella yang menjengkelkan. Begitulah anak-anak, mereka akan membenci ataupun marah hanya sesaat saja.
"Iya, Sayang. Mommy tutup kotak bekal kamu ini dulu," sahut Yonna. Tangannya dengan cepat menyusun roti lapis telur serta keju yang ia susun sedemikian rupa agar terlihat menarik. Kemudian ia menutupnya hingga rapat, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil khusus bekal makanan.
Yonna menyusul putranya dan memberikan tas bekal makannya pada Noah. Bocah kecil dengan rambut yang mulai panjang itu pun menolak untuk memegangnya.
Yonna yang mengerti langsung membuka tas ransel yang ada di punggung putra satu-satunya itu dan menutupnya kembali setelah meletakkan kotak bekal tersebut.
Dret! Dret! Dret!
Getar ponsel yang ada di dalam saku celana membuat langkah kaki Yonna yang baru saja terayun menjadi terhenti.
"Mommy, what happened?" Noah juga ikut berhenti dan memutar setengah badannya untuk menghadap ke belakang.
Yonna mengabaikan pertanyaan putranya. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut setelah melihat nama yang tertera di layar.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Yonna begitu lembut pada suaminya yang ada di seberang sana.
Yonna tersentak kaget, senyum di bibirnya meredup seketika mendengar apa yabg di tuturkan Bara. Salah satu alis mata Noah terangkat menatap mommynya heran. Namun bibir kecilnya masih ia tahan untuk tidak bertanya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, aku akan segera ke sana, Mas."
"Iya, iya. Aku mengerti, kamu hati-hati di sana," ujarnya lagi. Sambungan ponsel pun tertutup seketika oleh Bara. Yonna menurunkan tangannya yabg masih memegang ponsel.
__ADS_1
Ia menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan tubuh putranya.
"Noah, hari ini kamu tidak sekolah dulu ya, Sayang! Kamu di rumah aja sama Mbak. Mommy mau pulang ke rumah Nenek dan Kakek karena Papa Bryan meninggal."
"Ok, Mommy," jawab Noah singkat. Sejenak wajah bocah itu tampak terkejut, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Keterdiaman bocah itu menimbulkan tanda tanya di pikiran Yonna.
Noah berbelok kembali masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Begitu pun dengan Yonna, ia ingin mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah mertuanya yang kini dalam kondisi berkabung.
~ ~ ~
Suasana di rumah keluarga Apsara tampak begitu ramai dan diliputi aura kesedihan. Suara tangis yang meraung terus bergema dan tiada henti.
Prosesi pemakaman sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Tapi Jelita tak henti-hentinya menumpahkan air mata yang ia miliki seakan ingin ia kuras hingga habis.
Bara mendekati wanita yang telah melahirkannya itu. Mereka duduk di ruang tamu dengan beberapa orang anggota keluarga yang juga ikut menenangkannya.
Yonna tak banyak bicara sejak ia datang hingga kini, ia berdiri terpaku menatap adegan pilu di depan matanya.
Tak ada satu pun Ibu di dunia ini yang sanggup kehilangan putranya. Putra yang paling disayangi.
"Ma, sudahlah! Jangan memberatkan langkah Gavin dengan air matamu. Kasihan ia, biarkan ia istirahat dengan tenang!" tegur Bara sembari mengusap punggung yang bergetar di dalam pelukannya itu.
"Benar apa yang dikatakan dengan putra sulungmu itu, Mbak yu. Tak ada gunanya menangisi yang telah pergi. Ikhlaskan saja ia!" timpal wanita yang duduk di sebelah mereka yang tak lain adalah adik dari Jelita.
Jelita mengangkat kepalanya menatap adiknya itu dengan hidung yang kini memerah dan mata yang begitu sembab menyiratkan kepedihan.
"Bagaimana aku bisa Ikhlas jika anakku meninggal karena di bunuh oleh istrinya yang sia-lan itu! Aku menyesal ... sangat menyesal menerima wanita tak tahu diuntung itu hadir di dalam keluarga kami." Jelita menjeda ucapannya. Ia meraih tisu untuk membuang cairan yang terus mengalir dari hidung dan juga matanya.
"Andai jika waktu bisa di putar. Aku ... ak-aku—"
__ADS_1
"Mbak yu, Mbak!" Wanita yang dipanggil Bi Zainab itu tersentak kaget saat Jelita langsung tak sadarkan diri dengan kepala yang langsung rebah di bahunya. Begitu pun dengan Bara dan juga Yonna.
"Ma, Mama bangun!" ujar Bara panik. Ia sedikit menepuk-nepuk wajah ibunya. Namun Jelita tak kunjung mau membuka matanya. Ini sudah kedua kalinya Jelita pingsan.
Pertama saat Gavin dimandikan, wanita paruh baya itu membuat semua orang panik dengan tubuhnya yabg tergeletak di lantai yang dingin.
Bara mengangkat tubuh yang begitu sayu seperti bunga layu itu ke kamar yang paling besar di lantai bawah yang merupakan kamar Jelita dan Immanuel.
Yonna mengikuti dari belakang dengan raut wajah gusar.
"Mas, bagaimana dengan Mama?"
"Tidak apa-apa, Mama hanya butuh istirahat, biarkan Mama sendiri dulu!" ucap lelaki itu dengan wajah yang begitu sendu. Yonna tak tega melihat kabut gelap bergelayut di wajah tampan suaminya.
Bara mengajak istrinya keluar kamar setelah ia membenarkan posisi Jelita di atas ranjang agar nyaman.
Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengobati hati seorang Ibu yang sedang remuk hati.
Orang bilang darah lebih kental dari pada air, serenggang apa pun sebuah hubungan persaudaraan. Saudara akan menjadi orang kedua yang paling bersedih setelah orang tua.
"Bagaimana kondisi mamamu, Bara?" tanya Immanuel yang baru saja muncul. Sedari tadi pria tua itu ada di depan menyambut para tamu yang datang nyelawat untuk mengucapkan bela sungkawa.
"Apa yang bisa aku katakan, Pa. Hatinya hancur," jawab Bara lirih. Ia menjatuhkan pandangan matanya pada wajah tua dengan binar redup itu.
"Lalu bagaimana mereka yang telah membawa duka ini?"
"Papa jangan khawatir, mata dibalas mata. Mereka berdua akan membayar setiap tetes darah yang telah hilang di tubuh Gavin. Hingga mereka berdua lebih menginginkan kematian daripada siapa pun!" jawab Bara dengan pandangan mata yang semakin menajam.
Yonna yang berdiri di samping suaminya menelan ludah susah payah. Binar kebencian itu begitu kentara bahkan lebih menakutkan daripada yang bisa ia bayangkan.
__ADS_1