
Setelah kejadian yang cukup ekstrim dan hampir membuat jantung Yonna berpindah tempat. Wanita itu langsung meminta Bara untuk mengantarkannya ke resort tempat di mana mereka tinggal.
Sedari tadi Yonna hanya berjalan mundar-mandir seperti setrikaan yang sedang menjalankan tugasnya. Wanita itu menggigit kuku jempol tangan kanannya sembari memikirkan ancaman yang diucapkan Bara padanya.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku dan Noah pergi saja dari sini? Kami hidup lagi berdua seperti dulu di Jerman. Tetapi itu tak mungkin, sampai ke ujung dunia pun aku bersembunyi, lelaki gila itu pasti dapat menemui keberadaan kami. Dulu ia tidak terlalu mencariku karena ia tidak tahu tentang keberadaan Noah, sedangkan sekarang keadaannya sudah berbeda dan menikah dengannya adalah sesuatu yang tidak mungkin.” Yonna semakin gelisah.
Hatinya terus memberontak setiap ia memikirkan pernikahan tanpa cinta yang akan ia lalui kembali, jika ia memilih menikah dengan Bara.
Untuk apa menikah jika tidak saling menginginkan dan pada akhirnya hanya saling menyakiti. Begitulah yang dipikirkan wanita itu. Ia hanya wanita biasa yang menginginkan kehidupan pernikahan yang sesungguhnya.
Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang suami yang memegang komitmen penuh untuk setia dan tidak menghadirkan wanita lain ke dalam rumah tangga yang mereka bangun. Apa itu salah?
Bahagia, kata sederhana yang mudah untuk diucapkan. Tetapi sangat sulit untuk ia dapatkan. Yonna kini beralih duduk di pinggir ranjang, tangan putih itu meraih ponselnya.
Sebuah notif pesan masuk. Yonna pun membukanya segera, senyum kecut terbit di bibir merah jambu wanita itu. Pesan itu ternyata dari mantan suami yang mulai terpesona padanya.
Hampir setiap hari Gavin mengirim pesan padanya, sejak ia mengatakan akan pergi tugas ke Lombok. Lelaki itu jadi semakin sering menghubunginya. Pria itu juga sempat beberapa kali melakukan panggilan video call dan selalu Yonna tolak.
Mana mungkin ia mengangkat pangggilan Gavin di saat ia masih berada bersama Bara maupun Tama. Toh … ia juga tak tertarik mendengarkan jokes-jokes receh yang pria itu lontarkan.
Dreettt!
Baru saja ponsel miliknya akan ia letakkan kembali ke atas ranjang, sebuah panggilan lebih dulu masuk mengurungkan niatnya.
Garis melengkung terbentuk di bibirnya, menyebabkan tulang pipinya tertarik ke atas, ia begitu senang melihat nama yang tertera di layar ponsel pipih miliknya. Dengan cepat jemari lentik itu mengangkat.
“Mommy, don’t you miss your handsome son?" teriak bocah imut yang berada jauh di sana dengan begitu antusias dari balik layar benda pipih yang ia pegang. Suaranya yang begitu nyaring terdengar begitu melengking.
Jangan lupakan bibir kecilnya yang dibuat merengut tampak semakin menggemaskan di mata Yonna. Ia sangat merindukan putranya. Rindu itu bahkan membuat setiap sel dalam darahnya ikut menjerit.
__ADS_1
“Of course, are you doing well?”
“Hmm,” Noah menjawab dengan anggukan kepala. Layar kamera terasa bergoyang, tampaknya bocah itu berpindah duduk.
Terlihat wajah Maya dan Robert di belakang Noah saat ini, sepertinya bocah lelaki tampan itu duduk di pangkuan neneknya. Seketika hati Yonna menghangat.
“I like it here, there are grandmothers and grandfathers who are kind and loving like Vivian's grandparents.”
Noah menyebut salah satu teman bermainnya di Jerman. Seorang anak perempuan yang lebih tua dua tahun darinya, bocah perempuan yang cantik serta baik.
Vivian besar di tengah keluarga yang lengkap, hanya saja kedua orang tua gadis kecil itu sibuk bekerja setiap hari, hingga hanya bisa ada di rumah pada waktu tertentu saja.
Mereka pulang saat matahari mulai terbenam, jadi Nenek dan Kekeknya yang selalu menemaninya bermain dengan sabar di taman komplek yang tidak jauh dari rumah mereka.
Noah sangat suka bermain di taman itu saat sore hari, selain banyak teman ia juga bebas berlari dan dan tertawa riang dengan teman sebayanya. Seperti itulah dunia anak-anak, bermain dan bercanda. Lepas tanpa beban.
“Sayang, maafkan Mommy yang tidak dapat menyambut kepulangannmu. Mommy masih di tempat kerja, tapi Mommy janji, pulang nanti Mommy akan ajak kamu jalan-jalan kemanapun kamu mau.”
Wanita paruh baya itu memeluk erat pinggang kecil cucunya dengan erat, sesekali ia juga mencium pipi Noah dengan sayang.
Yonna kembali tersenyum melihat wajah kecil putranya bersemu merah menikmati sentuhan manja dari neneknya itu. Bukan berarti bersama keluarga Bianca bocah itu tak mendapatkan kasih sayang, hanya saja rasanya akan sangat berbeda.
“Kamu kapan pulang, Nak?” tanya Robert yang mengambil alih ponsel dari tangan Noah dan mengarahkannya pada wajahnya.
“Kurang tahu juga, Pa. Aku nunggu komando dari bos, paling sekitar dua atau tiga hari lagi. Mungkin!” jawab Yonna tak yakin.
Ia baru tiba dua hari di tempat itu, sedangkan agenda yang harus dilakukan begitu banyak sekali daftarnya. Ia bahkan bisa menebak sekilas, mungkin saja ia akan berada di tempat tersebut selama seminggu.
“Mommy!” Layar ponsel kembali bergoyang dan bergeser, wajah lelaki tua berkumis tipis itu tak ada lagi di layar tergantikan dengan wajah kecil anaknya kembali.
__ADS_1
“Mom, you should see my room later! Very nice and big! There are a lot of new toys and I really like them!”
Noah begitu bersemangat mengatakan yang ia dapatkan dari Kakek dan Neneknya, kedua tangan kecil itu terangkat ke atas membentuk setengah lingkaran.
Terdengar suara tawa Robert yang begitu renyah, lalu Noah kembali mendapatkan hadiah ciuman sayang dari Maya. Hati Yonna sedikit tercubit, ada rasa bersalah yang hadir di hatinya kini.
Yonna merasa bersalah karena telah memisahkan bocah itu dari kakek dan neneknya. Ia bahkan merasa sangat berdosa seandainya dirinya jadi menjalankan pikiran gila yang ingin membawa anaknya untuk kembali pergi menjauh. Jauh dari keluarga hanya untuk menghindar bagai seorang pengecut.
“Mommy senang jika kamu menyukainya, Sayang. Noah harus nurut sama Grandma dan Grandpa and nggak boleh nakal. Mommy akan usahakan pulang cepat agar bisa berkumpul denganmu, Sayang.”
“Hmm, harus. Mommy look behind you!” teriak Noah sembari menunjuk ke arah ibunya.
Maya tersentak kaget dengan mata yang melebar sempurna, saat ia juga melihat apa yang dilihat cucunya.
Yonna pun menolehkan ke belakang untuk melihat apa yang membuat anak dan ibunya bereaksi aneh seperti itu.
“Kamu! Kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamarku?” teriak Yonna juga tak kalah kagetnya.
Yonna yang sedikit panik, tanpa banyak berpikir langsung mematikan sambungan vidiocall yang terhubung. Lalu kembali menatap lelaki di belakangnya dengan tatapan penuh amarah.
"Sejak kapan ia ada di situ? Dan apa saja yang sudah ia dengar?" pikir Yonna.
“Jadi itu putraku? Wajahnya tampan sepertiku.” Bukannya menjawab, Bara justru terpukau dengan wajah putranya yang mirip foto copynya versi bocah kecil.
Yonna mengacuhkan ucapan lelaki yang telah lancang masuk tanpa izin tersebut. Otaknya sekarang sedang bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa muncul tiba-tiba. Tidak mungkin kan pria itu punya ilmu menghilang dan muncul begitu saja seperti hantu.
Pandangan matanya beralih pada jendela kaca sleding yang mengarah ke balkon kamar yang lupa ia kunci. Ia pun mengumpati kecerobohannya sendiri di dalam hati.
Yonna baru sadar jika balkon kamar mereka bersebelahan, terdapat ruang yang lebarnya tidak lebih dari satu meter, antara pagar balkon miliknya dengan pagar balkon lelaki itu. Tapi tetap saja, kamar mereka itu berada di lantai yang cukup tinggi.
__ADS_1
“Jangan bilang kalau kamu masuk melompati trali besi pembatas balkon itu?” tanya Yonna memastikan dan berharap apa yang ia pikirkan itu tidak benar.
“Tepat sekali.” Jawab Bara singkat. Sukses membuat Yonna melongo, mulutnya sedikit ternganga membayangkan kenekatan lelaki yang tersenyum mengerikan di mata Yonna.Wanita itu benar-benar tak habis pikir. Bagaimana jika pria itu jatuh? Apa dia gila!