Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 80. Perburuan Gavin.


__ADS_3

Langit yang gelap menutupi indahnya taburan bintang dan rembulan, gemuruh yang bersahutan terdengar memekakkan telinga bersamaan dengan tetes hujan yang begitu deras jatuh ke tanah.


Angin berhembus begitu kencang hingga pintu balkon yang tak terkunci rapat pun terbuka, tirai hordeng tipis itu terkibar-kibar bersama sebagian tetes hujan yang masuk dan membasahi lantai kamar.


Gisella tersentak bangun dari tidur nyenyaknya dalam pelukan Dion. Firasat buruk tiba-tiba menghantui perasaannya, ia bangkit dari baringnya dan menarik punggung untuk bersandar ke kepala ranjang.


Dinginnya angin yang berhembus menembus gaun tidur tipis yang ia kenakan. Gisella menyilangkan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri.


Tek!


“Arkhhh,” teriaknya tercekat karena terkejut.


Lampu tiba-tiba mati membuat kamar yang cukup besar itu tampak gelap mencekam. Kilat yang menyambar seakan menampar dengan biasnya yang terang.


“Dion, bangun!” ujar Gisella. Ia meraba-raba mencari bahu lelaki itu lalu menggoyangkannya agar pria yang sedang tertidur nyenyak itu terbangun.


“Hmm,” gumam pria itu sembari menggeliat seakan enggan diusik.


“Dion bangun, kenapa bisa mati lampu? Apa jenset di rumah ini tidak otomatis?”


Sontak Dion tersentak bangun mendengar ucapan Gisella. Di balik kegelapan kamar lelaki itu mengerutkan keningnya menatap langit-langit yang gelap.


Sementara di lantai bawah, tiga orang lelaki masuk setelah mereka melumpuhkan empat orang pria kekar yang berjaga di depan dan di dalam rumah. Setelah mereka mematikan lampu terlebih dahulu.


Mereka berkasak-kusuk membagi tugas untuk berpencar mencari keberadaan target. Di antara mereka ada seorang pria yang sudah begitu siap dengan matanya yang bringas.


Lelaki yang memakai jaket hitam dengan pistol di tangannya itu naik ke lantai atas seorang diri. Sementara satunya mencari di lantai bawah dan satunya lagi bertugas menghidupkan lampu itu kembali.


“Tidak mungkin? Jenset di sini otomatis, lagi pula di depan ada mereka yang menjaga. Sudah berapa lama lampu ini mati?” tanya Dion heran.


“Sekitar 10 menit,” jawab Gisella. Tubuhnya mulai bergetar takut.


Dion beranjak dari ranjang, ia meraih ponsel yang ada di atas nakas, menghidupkan senter untuk penerangan.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana Dion?” tanya Gisella panik. Ia pun ikut beranjak dari ranjang dan merangkul tangan kekasihnya itu.


Wanita itu paling takut dengan gelap di saat hujan badai seperti ini. Dion menyenteri wajah wanitanya yang tampak pucat.


“Apa kau takut?” Gisella langsung mengangguk cepat dan terus memeluk lengan Dion erat seperti anak kucing yang meringkuk di atas pangkuan meminta perlindungan.


Dion yang tak tega melihatnya mengusap kepala Gisella lembut untuk menenangkan.


“Ini hanya mati lampu, Sayang. Mungkin saja jensetnya rusak atau terjadi kongsleting listrik.”


“Tetap saja aku takut. Aku ikut denganmu saja,” rengek Gisella terdengar manja. Dion mencium puncak kepala kekasihnya sayang, ia sangat suka saat wanita itu bersikap manja padanya.


“Baiklah!” Mana mungkin ia bisa menolak wanita yang tengah mengandung anaknya itu.


Brak!


Pintu kamar terbuka dan terhempas begitu kuat. Gisella dan Dion terlonjak kaget. Di balik keremangan malam muncul seseorang dari balik pintu dengan seringai yang menakutkan.


“Wah sayang sekali, sepertinya kedatanganku mengagetkan pasangan yang begitu romantis ini rupanya.”


Gisella kembali tersentak kaget dalam kegelapan. Jantungnya memompa dengan cepat, suara itu begitu jelas di telinga dan sangat ia kenal di luar kepala.


“Gavin!” gumam Gisella begitu pelan.


Lampu yang padam seketika menyala, seringai di sudut bibir Gavin kini begitu kentara di mata keduanya. Gisella merapatkan tubuhnya di belakang Dion, ia takut melihat mata Gavin yang menusuk bagai laser yang siap menembus kepalanya.


Dion terdiam melihat benda yang ada di tangan Gavin saat ini.


“Dia membawa senjata, aku harus tenang. Jika melawannya saat ini sama saja dengan mati konyol,” pikir Dion waspada. Ia tak mau Gavin menyakiti wanita yang kini berlindung di balik punggungnya.


“Apa kamu tak ingin menyambut suamimu, Sayang. Atau jangan-jangan kamu sudaah merasa nyaman di pelukan selingkuhanmu itu, hem!”


Gavin menatap Gisella dan Dion penuh tekanan, di dalam hatinya ia sudah siap menarik pelatuk yang ada di tangannya untuk segera menyingkirkan dua orang yang telah mengkhiatinya itu.

__ADS_1


“Bagaimana bisa kamu menemukan kami di sini?” Dion membuka suara. Pertanyaannya membuat Gavin terkekeh geli.


Dion mengerutkan dahinya, ia merasa tempat yang ia pilih untuk bersembunyi adalah tempat yang paling aman dan tak mungkin terdeteksi oleh lelaki yang kini berdiri di hadapannya itu. Tapi ternyata Dion salah. Ia tak cukup mengenal siapa Gavin yang sebenarnya.


“Bagaimana? Tentu saja itu adalah hal mudah untukku, bahkan kalian mati sekalipun, jasad kalian pasti akan aku temukan!” Kemarahan menyelubungi hati Gavin. Ia melangkah maju cepat dan menarik tangan Gisella dengan kasar.


Gavin langsung menodongkan pistolnya ke atas kepala Dion ketika lelaki itu melangkah maju hendak menolong Gisella.


“Satu langkah kamu maju, maka peluru ini akan bersarang di kepalamu!”


Wajah Gisella semakin memucat karena takut. Kondisi saat ini sangat tak baik untuk mereka, ia berusaha melepaskan tangan Gavin yang mencengkram tangannya hingga terasa perih. Sebuah ide terlintas di benaknya agar ia dan Dion bisa terhindar dari pistol di tangan Gavin.


“Arkkk!” Gavin menjerit tertahan merasakan sakit di lengannya akibat gigitan wanita itu. Sontak ia memukul ujung pistolnya ke arah pelipis Gisella.


Dion murka melihat kening Gisella mengucurkan darah segar. Ia menepis lengan Gavin hingga pistol yang ada di tangannya terjatuh ke lantai. Sebuah tinju ia layangkan dengan mudah ke wajah Gavin.


Darah Gavin mendidih, ia membalas pukulan Dion dengan melayangkan tiga bogem mentah ke perut lelaki itu. Petarungan di antara keduanya pun terjadi begitu sengit.


Tak ada satu pun yang mau mengalah dan tak ada yang tampak akan kalah. Namun nyatanya di detik selanjutnya, Gavin berhasil membuat Dion terpojok di dinding dengan sudut bibir yang mengeluarkan banyak darah.


“Kamu pikir dirimu bisa melawanku dengan mudah, Hah!” Gavin kembali menggebuki Dion yang tersudut hingga membabi buta. Hingga lelaki itu tergeletak tak berdaya di lantai dengan wajah yang yang lebam.


Gisella histeris, matanya liar mencari sesuatu agar ia dapat menghentikan Gavin memukuli Dion dengan brutal. Matanya menangkap benda hitam yang berada tak jauh darinya, tergeletak di lantai begitu saja.


“Gavin berhenti! Atau aku akan menembakmu!” teriak Gisella penuh ancaman.


Kedua tangannya memegang pistol dengan tubuhnya yang bergetar. Hatinya dipenuhi rasa takut, jantungnya pun berdetak dengan cepat.


Gavin terdiam sejenak lalu berdiri dan berbalik meninggalkan Dion yang terkapar tak berdaya. Ia tersenyum tipis menatap istrinya itu seakan meremehkan.


“Itu bukanlah mainan anak kecil yang bisa kamu tarik pelatuknya dengan mudah. Berikan benda itu padaku sekarang juga!”


Mata Gisella melirik ke arah Dion sekilas, air mata mulai menetes di pipi. Wanita itu merasa terintimidasi dengan tatapan mata Gavin yang tajam. Kakinya melangkah mundur seirama dengan gerak langkah Gavin yang mendekat padanya.

__ADS_1


“Aku bilang berhenti dari tempatmu, Gavin! Jangan kamu pikir aku tak mampu berbuat sesuatu padamu!” ancamnya. Walau dalam ketakutan, Gisella masih berusaha agar terlihat kuat dan berani.


Ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti, hanya yang ia tahu saat ini tak ada yang bisa melindungi dirinya lagi saat ini selain dirinya sendiri.


__ADS_2