Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 106. Apa itu cinta!


__ADS_3

Sejak hari itu Yonna mulai memikirkan apa yang dikatakan mertuanya. Bukan karena ia setuju atas apa yang dikatakan Jelita. Tetapi lebih kepada untuk menjaga hati dan pikirannya saat ini.


Kondisi kandungannya yang sedikit lemah menuntut dirinya untuk sedikit menurunkan tingkat intensitas pikiran yang memicu terjadinya kram pada perut yang berlebihan.


Yonna sekarang duduk di pinggir ranjang menatap kotak kertas yang berisi pakaian-pakaian Arabella yang masih tersisa


Pakaian-pakaian itu baru saja ia ambil dari dalam lemari dan dilipatnya dengan rapi di dalam kotak tersebut.


Matanya sendunya menatap sebuah baju yang masih wangi tubuh Arabella. Baju yang kerap dipakai bayi mungil itu.


"Aku harap kamu baik-baik di sana. Ada seseorang yang menyayangimu sepenuh hati layaknya anak sendiri. Jika Tuhan mengizinkan, aku harap kita bertemu lagi. Sampai kapan pun kamu tetaplah putriku," ujar Yonna lirih.


Ia menutup kotak itu dengan rapat bersama kenangan yang tersimpan di hati. Saat ada seseorang yang datang maka akan ada pula yang pergi.


Yonna meletakkan kotak itu ke dalam lemari dengan rapat. Lalu beranjak keluar kamar menuju lantai bawah di mana kedua putranya sedang bermain bersama.


Jalani saja takdir yang sedang terjadi dan nikmati apa yang dimiliki saat ini. Jadikan pelajaran beharga disetiap peristiwa yang terjadi dalam hidup.


Dari hal baik Yonna belajar bersyukur dan dari hal buruk ia belajar menjadi pribadi yang kuat dan sabar. Diselingkuhi dan hidup kesepian selama lima tahun dalam pelarian, kini Tuhan telah memberikan dirinya suami yang begitu sempurna dalam cinta dan rasa sabar. Apalagi yang harus ia keluhkan?


"Sayang-sayang Mommy lagi ngapain?" sapa Yonna pada kedua putranya.


Ia memilih duduk di tengah-tengah agar bisa memeluk keduanya. Tak luput kedua pipi kedua bocah itu ia ciumi dengan sayang.


"Mommy, jatuh cinta itu apa?" tanya Noah dengan wajah polosnya.


"Huk! Huk!" Yonna terbatuk karena tersedak air ludahnya sendiri. Ia tak menyangka akan dapat pertanyaan dari bocah kecil yang masih tidur di bawah ketiaknya setiap malam.


"Soalnya—"

__ADS_1


"Noah!" Bryan menutup mulut Noah saat bocah itu baru saja ingin melanjutkan kalimatnya. Wajah Bryan tampak merona karena malu.


"Apa yang ingin dikatakan Noah? Bryan, cepat katakan pada Mommy!"


"Tidak ada apa-apa, Noah hanya sedang bercanda. Iya kan Noah?" Bryan menatap Noah penuh isyarat. Noah yang tak bisa berbicara karena mulutnya masih dibekap pun hanya bisa menganggukkan kepala pasrah.


"Jangan bohong pada Mommy. Jelaskan pada Mommy apa yang sedang kalian sembunyikan. Atau Mommy akan potong uang jajan dan menghapuskan cemilan kalian selama sebulan!" ancam Yonna yang sukses membuat nyali kedua bocah itu menciut.


Bryan melepaskan tangannya. Ia menyikut lengan Noah dengan raut wajah kesal. Sementara Noah hanya bergumam kecil, tak jelas.


"Noah! Kamu dapat kalimat itu dari siapa?"


"Itu ... Bryan dapat surat dari Cecilia yang isinya. 'Bryan tampan, Cecil sayang Bryan cinta banget ... banget. Bryan sayang nggak sama Cecil. Bryan jangan marah lagi sama Cecil. Cecil janji akan jadi cantik dan anggun biar Bryan suka ama Cecil. Cecil cinta Bryan ... cinta cinta banget' gitu bunyinya Mommy," jelas Noah dengan memperagakan gaya bicara manja saat ia menjelaskan isi surat tersebut.


Bryan menunduk dengan wajah yang begitu merah bagai tomat masak. Yonna menepuk jidatnya pusing mendengarkan cerita anaknya.


"Aduh ... anak jaman now bikin kepalaku pusing," ujarnya. Anak yang masih menangis saat apa yang diinginkan gak dapat saja sudah pintar bahas cinta-cintaan.


Bryan menganggukkan kepala paham. Berbeda dengan Noah yang masih cengengesan menatap saudaranya itu dengan pandangan menggoda.


Yonna tahu jika anak tetangga sebelahnya itu sangat menyukai Bryan hingga terkadang membuat Bryan enggan untuk main ke sebelah.


Yonna hanya menggelengkan kepalanya pelan. Anak-anak jaman sekarang memang terkadang diluar ekspektasinya, mereka kerap melakukan hal-hal yang tidak seharusnya diucapkan untuk anak seumurannya.


Apa itu cinta? Yonna pun rasanya ingin tertawa mendengarnya.


~ ~ ~


Yonna menceritakan apa yang terjadi di rumah pada suaminya. Tentu saja saat mereka sudah berbaring santai di atas ranjang.

__ADS_1


Bara tertawa mendengarkan cerita istrinya yang terasa menggelitik perutnya.


"Jangan tertawa. Aku tak menyangka ternyata anak-anakku setampan itu hingga anak gadis orang bisa tergila-gila saat masih usia dini," ujar Yonna dengan bibir yang merengut.


"Mereka sangat lucu. Bagaimana aku bisa berhenti tertawa."


"Dan kamu tahu Sayang, Bryan lama kelamaan justru mirip denganmu ketimbang mirip Gavin. Sifatnya yang dingin menghadapi perempuan itu tak sedikit pun mirip dengan bapaknya yang mata keranjang," jelas Yonna menurut apa yang ia lihat.


Bara meletakkan leptop yang ada di pangkuannya ke atas nakas, kemudian menarik tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya. Udara malam yang dingin membuat tubuh mereka yang saling menempel menjadi hangat.


"Itu justru bagus jika Bryan tidak mirip dengan sifat Gavin. Setidaknya sejak kecil bocah itu sudah menunjukkan karakter yang baik dengan menjadi lelaki yang memiliki pendirian. Lagi pula mereka masih anak-anak. Jadi nggak usah terlalu di pikirkan. Cinta yang terjadi saat ini juga cuma cinta monyet yang akan berubah seiring berjalannya waktu."


Bara melepaskan kaca mata yang sedari tadi bertengger di matanya yang ia lupa lepaskan, kemudian ia meletakkannya di atas leptop tersebut.


"Seiring waktu mereka akan bertemu hal-hal baru. Teman baru dan suasana baru serta kebiasaan baru. Saat itu mungkin mereka juga sudah melupakan apa yang terjadi hari ini. Saat itu terjadi, mereka mungkin akan merasa malu jika mengingat kembali apa yang terjadi hari ini. Cukup beri pengertian, anak-anak tak akan pernah tahu apa yang mereka lakukan itu salah jika tidak ada orang tua yang memberitahukannya." Bara kembali tersenyum.


Yonna pun menghela napas. "Kamu benar Mas. Aku harus extra hati-hati untuk mengajari mereka. Usia seperti ini memang lagi banyak-banyak ingin tahu dengan dunia. Aku juga harus menjaga pergaulan mereka dengan baik," balas Yonna. Ia semakin merekatkan pelukannya pada pinggang sang suami.


Kepalanya ia rebahkan di dada hingga degup jantung Bara terdengar jelas di telinganya. Bara mencium kening istrinya begitu dalam. Rasa bahagia membuncah di dadanya.


"Aku mencintaimu Yonna. Terima kasih karena sudah menjadi istriku dan Ibu dari anak-anakku."


Kalimat yang keluar dari mulut Bara terasa begitu manis. Yonna mendongakkan kepalanya, binar mata keduanya saling bertemu dan hanyut dalam perasaan masing-masing.


Bara mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir sang istri begitu lembut yang disambut dengan kedua tangan Yonna yang melingkar di belakang pundak suaminya. Mereka berdua hanyut dalam cinta yang semakin membara.


Cinta bagai pedang dua mata. Bisa membuat bahagia, tetapi juga bisa membuat seseorang hancur berderai dalam penderitaan. Dari Bara bisa kita belajar cinta sejati memandang kekurangan menjadi kelebihan yang sempurna di matanya.


Mencintai bukan hanya sebatas apa yang tampak di mata. Tapi keseluruhan dari orang tersebut. Membangun hubungan yang kuat dengan komitmen untuk hidup bersama sampai menua.

__ADS_1


~ End ~


__ADS_2