
Sudah satu minggu Yonna dan Bara menginap di rumah keluarga Apsara. Selain untuk menjaga Bryan, sekaligus mereka bisa mengontrol kondisi Jelita yang tak baik selama beberapa waktu belakangan ini.
Wanita paruh baya itu terlihat sering sekali melamun di kamar ataupun di taman samping. Terkadang sesekali Jelita tersenyum atau terkekeh kecil, terkadang pula ia menangis.
Sakitnya perasaan seorang Ibu yang kehilangan putranya hanya bisa dirasakan oleh seorang Ibu juga. Jangankan kehilangan, saat anak terbaring lemah di atas ranjang karena sakit saja sudah membuat hati seorang Ibu gundah gulana. Apalagi jika sang anak justru telah terbujur kaku di bawah tanah.
"Ma, makan ya, Ma. Kalau Mama menolak makan seperti ini terus, nanti Mama sakit," ucap Yonna mencoba membujuk mertuanya itu.
Mereka berdua duduk sofa panjang yang di letakkan di balik dinding yang berhadapan dengan kolam renang di halaman samping.
Jelita enggan menyentuh makanannya walau harus di paksa. Tubuhnya kini mulai lemas hingga dokter memasangkan infus yang kini tertusuk di atas punggung lengan kirinya.
Wanita paruh baya itu tetap melemparkan pandangan matanya pada air kolam yang tenang dengan pandangan tetap sama. Kosong.
Prang!
Yonna kembali menyuapi Jelita, tetapi satu tepisan dari tangannya menjatuhkan makananan beserta piring hingga pecah menjadi beberapa bagian.
Yonna menghela napas berat. Ternyata lebih susah membujuk orang dewasa daripada anak-anak.
"Ma, kalau Mama tidak makan juga, yang ada nanti sakit Mama bisa tambah parah," ujar Yonna putus asa. Ia sudah tak tahu lagi dengan apa membujuk wanita tua itu.
Yonna berteriak memanggil pelayan. Meminta pelayan itu untuk membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai agar tidak melukai siapa pun yang lewat nanti.
"Tinggalkan Mama sendiri, Yonna! Mama hanya ingin sendiri saja saat ini!" Jelita membuka suaranya.
"Nenek," ujar Bryan lirih, ia muncul dari balik pintu bersama Noah. Jelita menoleh, tatapan sinis ia layangkan pada bocah tak bersalah itu.
__ADS_1
"Noah, kemarilah! Sini sama Grandma!" Senyum di bibir Jelita langsung terbit saat melihat Noah. Ia membentang tangannya untuk menyambut duplikat Bara kecil.
Noah diam, ia melihat Bryan dan Yonna secara bergantian, kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Grandma! Aku pusing, mau kembali ke kamar." Noah berbalik, ia menarik lengan Bryan. Bocah yang ditarik Noah itu tertunduk sedih melihat perlakuan Jelita yang kini berbeda dengannya. Hati kecilnya tersakit cukup dalam.
Lagi-lagi Yonna menghela napas. Ia tahu kenapa putranya bersikap seperti itu, Noah hanya ingin menjaga perasaan saudaranya saja.
"Ma. Mama tak boleh bersikap seperti itu pada Bryan. Walau bagaimanapun ia juga cucu Mama!"
"Tidak! Cucu Mama hanya Noah seorang. Sedangkan anak itu, tak tahu benih siapa yang tertinggal di rumah ini!" balas Jelita ketus. Wanita tua itu begitu keras hati. Yonna bahkan tak menyangka Jelita sanggup bersikap seperti itu pada cucu yang selama ini begitu ia manja dan cintai sepenuh hati.
~ ~ ~
Kegelapan pun kini mulai menutupi cakrawala. Lampu-lampu mulai hidup menerangi setiap sudut rumah.
"Di mana Bryan? Kenapa ia tidak ikut makan bersama kita?" tanya Bara pada istrinya. Tangannya mengusap kepala putranya lembut. Itu selalu ia lakukan jika dirinya sibuk seharian dengan segala kegiatan dan baru bisa berkumpul saat malam mulai menjelang.
"Di kamarnya. Bocah itu menolak makan seperti biasanya."
"Grandma jahat padanya, jadi dari tadi Bryan menangis. Aku sudah mengatakan padanya anak lelaki itu tak boleh menangis seperti apa yang Daddy katakan padaku. Tapi tetap saja air matanya mengalir. Jelek sekali!" timpal Noah.
Dahi Bara berlipat dalam. Ia menatap Yonna menuntut penjelasan.
"Mama mengabaikannya lagi. Aku tak tega melihat bocah itu, Mas. Jika lama-lama seperti itu. Kasihan dengan mentalnya."
"Kamu jangan khawatir, mulai besok itu tak akan terjadi lagi padanya."
__ADS_1
Yonna memicingkan matanya. "Apa maksud kamu, Mas?"
"Hasil tes sudah keluar dan hasilnya 99,99 persen, Bryan memang anak dari Gavin," jelas Bara. Tangannya meraih gelas kaca di hadapannya, meminumnya hingga tersisa setengah.
"Pantas saja Gisella meninggalkan bocah itu begitu saja di rumah ini," gumam Yonna larut dalam pemikirannya sendiri.
Tak ada seorang Ibu yang tega meningalkan anaknya seorang diri. Kecuali dua hal, ia tak sayang pada anaknya atau karena tempat itu adalah tempat yang cocok untuk anaknya hidup.
Dalam kasus Gisella, Yonna bingung harus memutuskan wanita itu masuk dalam kategori apa. Daripada hidup dalam praduga-duga. Bara mengambil inisiatif untuk memeriksanya agar jelas.
"Mana hasil laporannya, Mas? Aku akan memberikannya pada Mama. Ada hal yang ingin aku ucapkan padanya."
"Ada di kamar dalam tas kerjaku."
Yonna langsung beranjak dari duduknya meenuju kamar, mengambil apa yang ia butuhkan lalu berpindah ke arah kamar Jelita. Yonna mengetuk pintu kamar itu secara pelan, setelah di persilakan masuk barulah ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar dan memilih duduk di pinggir ranjang.
Immanuel yang sedang menemani istrinya memilih untuk keluar menuju ruang makan. Ia tahu ada hal penting yang ingin dibicarakan menantunya itu berdua saja.
"Ada apa?" tanya Jelita acuh.
"Mama baca ini!" Yonna menyerahkan amplop putih berlogokan rumah sakit pada Jelita. Jelita membukanya, matanya mulai nanar melihat apa yang tertulis di sana. Nafasnya terasa sesak dengan air mata yang mulai menggenang.
"Apa Mama menyesalinya? Apa Mama tahu seberapa dalam luka di hati anak itu saat Mama mengabaikannya dan mencercanya dengan perkataan kasar yang bahkan ia saja tak mengerti apa kesalahannya!" Jelita menaikkan pandangan matanya hingga pandangannya pada Yonna bertemu.
"Maaf, Mama tidak menyangka jika ia benar-benar anak Gavin," ujarnya lirih. Ada sesak di hatinya yang menyeruak. Bayangan perlakuan kasar yang ia berikan pada Bryan beberapa waktu belakangan ini mulai berputar di benaknya. Ia menyesal.
"Bukan padaku seharusnya Mama minta maaf, tapi pada anak itu. Atas dasar apa Mama meragukan identitasnya? Bila selama ini saja Mama tidak pernah mempertanyakan hal itu. Apa karena Gisella yang selingkuh? Atau karena tingkah laku Bryan yang begitu nakal yang Mama anggap tidak sesuai dengan sikap seorang keturunan Apsara?" Yonna mulai mengeluarkan rasa kesal yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
"Ma, sikap nakal dan tak tahu diri seorang anak bukan menentukan DNA dan garis keturunannya. Tapi bagaimana keluarganya mendidik anak itu yang harus di pertanyakan. Bahkan anak seorang pela-cur pun bisa menjadi seorang penghafal Al-Qur'an jika ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mendidiknya dengan baik akan ilmu agama dan norma. Anak itu ibarat kertas putih, kita yang melukis kertas itu menjadi indah dan enak di pandang mata hingga orang lain pun terpesona dengan ukirannya yang menawan. Dan apa selama ini keluarga Apsara ini melakukan tanggung jawabnya kepada anak itu dengan mendidiknya? Apa Gavin dan Gisella melakukan tugasnya dengan baik sebagai orang tua pada Bryan?"