Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 46. Hay, pelakor!


__ADS_3

Siang hari di kediaman Apsara masih di hebohkan dengan suara Jelita yang berteriak melihat Bryan berlari kesana-kemari. Rumah itu sudah berubah menjadi wahana permainan untuk bocah hiperaktif itu.


Mata Jelita semakin memerah melihat Gisella yang baru saja keluar dari kamarnya, langkah kakinya begitu anggun menuruni anak tangga menuju meja makan.


“Bagus ya, kamu itu seorang istri dan Ibu. Bagaimana bisa jam segini baru bangun!” sentak Jelita kesal. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas siang, matahari juga kian meninggi dengan teriknya yang mulai menghentak kepala. Seperti yang wanita paruh baya itu rasakan saat ini. Kepalanya sudah menghentak dengan rasa pusing yang menyebabkan tubuhnya hampir limbung.


“Ma!” Imanuel yang berada tak jauh dari tempat itu langsung berlari mendekat, menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh.


“Ma, sudahlah! Tahan emosimu, darah tinggimu nanti kumat!” tegur lelaki tua itu khawatir.


Ia memapah tubuh lemas istrinya untuk ke kamar, Gisella menatap tak peduli, ia kembali menuju meja makan untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Jangankan Jelita, ia pun juga pusing melihat tingkah anak kandungnya sendiri.


Jika bukan karena anak itu adalah pewaris keluarga Apsara dan pion agar hidupnya tetap aman di rumah itu. Mungkin sudah sejak dulu bocah itu ia buang ke jalanan.


Di lain sisi, Noah bermanja di pangkuan Yonna. Mereka saat ini ada di dalam mobil yang sedang melaju menuju rumah megah mertuanya itu. Sesuai keinginan Yonna untuk pulang ke rumah keluarga Apsara siang ini.


Bara yang duduk di kursi bagian depan, samping supir, menatap anak dan istrinya dari kaca spion kecil yang ada di hadapannya. Senyum tipis terukir di wajah tegas itu. Ia bahagia melihat putranya berceloteh manja dengan Mommynya.


Bocah itu tak hanya cerdas, tetapi juga pengertian. Begitu dewasa dari umurnya, Bara senang melihat Yonna mendidik putra mereka dengan baik.


“Daddy, ada apa? Apa Daddy ingin bergabung? No! Mommy hari ini hanya milik aku,” ucap Noah.


Ia menggoyangnkan jari telunjukknya ke arah depan. Supir yang sedari tadi fokus menatap jalan raya itu pun tak mampu menahan senyumnya, saat tak sengaja ia melihat ekspresi bocah itu yang tampak menggemaskan dari balik kaca kecil di depannya.


“It’s ok. Tetapi nanti malam, besok dan seterusnya, Mommy jadi milik Daddy,” balas Bara pada putranya. Noah tampak mengerucutkan bibirnya seraya berpikir.


“Yah itu namanya curang, aku hanya dapat sehari sedangkan Daddy banyak. Cancel!” ujar bocah itu menanggapi apa yang Bara ucapkan tadi.


Noah melipat tangannya di dada dengan wajah yang di tekuk, justru tampak semakin imut. Bara tertawa renyah melihat respon putranya.


Supir yang bekerja hampir belasan tahun itu terkejut, untuk pertama kalinya ia melihat tuannya itu tertawa lepas seperti tadi. Dan penyebabnya adalah anak serta istri yang baru saja Bara perkenalkan padanya.

__ADS_1


Satu jam yang lalu Tuannya memerintahkan ia untuk menjemputnya di kediaman keluarga yang sangat ia kenal.


Supir itu sesekali menatap Yonna dari balik kaca, dahinya sedikit berkerut. Menerka-nerka wanita yang kini menjadi istri tuan mudanya.


“Wajahnya seperti tak asing, tetapi siapa? Kapan mereka menikah dan kenapa nyonya muda tinggal di rumah keluarga Mbak Alice? Apa ia saudaranya Mbak Alice? Tetapi …,”


“Pak Hendra, aku harap Bapak tidak mengatakan apa-apa tentang anak-istriku. Jangan bilang kalau Bapak menjemput kami di rumah itu!” ucap Bara seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan lelaki berumur 42 tahun di sampingnya itu.


“Tetapi kenapa Tuan? dan apa hubungan Nyonya muda ini dengan Non Alice?” tanya Pak Hendra tak bisa menahan rasa penasarannya.


Bara diam tak menjawab, tetapi matanya menatap tajam membuat Pak hendra terdiam.


“Baiklah Tuan.”


Pak Hendra tak berani melanjutkan kembali pertanyaannya. Ia kembali fokus mengendarai mobilnya, lalu memutar stir ke arah kiri.


Mobil hitam tersebut kini memasuki pagar tinggi yang kokoh seakan menjadi benteng pertahanan menjaga bagian depan rumah megah tersebut. Dan berhenti tepat di depan deretan mobil yang terparkir rapi di dalam garasi.


Yonna menatap rumah yang telah lama ia tinggalkan dari balik jendela. Ada rasa yang bercampur aduk di hatinya, ia kembali mengingat dua tahun sia-sia yang ia habiskan dalam pernikahannya di rumah tersebut.


“Waw … ini rumah yang akan kita tempati? This house is very big!” seru Noah riang. Rumah itu jauh lebih besar dari rumah kakek-neneknya serta rumah yang ia tempati di jerman.


“You like this house?” tanya Bara. Ia kembali melirik putranya.


“Hmm.” Noah mengangguk mantap.


“Daddy bisa memberikanmu rumah yang sama besarnya dengan rumah ini. Hanya ada kamu, Mommy, Daddy dan adik-adikmu nanti,” ujar Bara lagi. Yonna mendelik mendengarkan ucapan suaminya.


“Tidak, Daddy harus memberikan rumah yang lebih besar lagi daripada ini. Daddyku harus pria tampan dan kaya!”


Tawa Bara berderai kembali. “Ternyata putraku lebih materialistis dari yang aku kira.”

__ADS_1


“Mommy, ayo kita turun!” Noah yang excited langsung membuka pintu mobil dan turun lebih dulu, tanpa menunggu Mommy dan Daddynya.


“Noah, tunggu!” teriak Yonna. Noah tidak mendengarkan ucapan Yonna. Bocah itu tanpa rasa takut berlari masuk hingga ke ruang keluarga. Yonna keluar dari mobil dan hendak mengejar putranya.


“Biarkan saja! Tak perlu khawatir, bukankah ini rumahnya juga,” ujar Bara menahan lengan sang istri.


Sesampainya Noah di ruang tamu. Ia tersenyum mendapati seorang bocah yang sama besar dengan dirinya, sedang menatapnya waspada dengan mainan yang ada di tangannya. Noah ingin mengajaknya bermain.


“Eh ... eh, siapa kamu? Masuk ke dalam rumah orang tanpa permisi. Tidak sopan!” tegur Gisella kasar.


Gisella yang sedang mengawasi putranya, cukup terkejut melihat kehadiran bocah lelaki seumuran putranya yang langsung menyelonong masuk dan memindai seisi rumah dengan pandangan takjub. Gisella berdiri dengan pandangan garang pada Noah. Bocah itu pun terpaku di tempat.


Berbeda dengan Gisella, Jelita yang baru turun dari tangga langsung tertegun melihat bocah itu berdiri tegak dengan bingung.


Dada wanita tua itu berdesir melihat wajah bocah yang berdiri menatapnya, mirip seseorang yang sangat ia kenal. Imanuel yang menyusul istrinya dari belakang pun menatap istrinya dengan pandangan bingung.


“Ada apa? Kenapa wajahmu berubah pias begitu? Seperti melihat hantu saja?”


“Pa, li-lihat itu. Li-lihat bocah itu, mirip Ba-ra,” ujar jelita terbata. Imanuel menatap arah yang di sebut oleh istrinya.


Bertepatan dengan itu, Bara dan Yonna muncul dari pintu depan. Mereka semua terpaku dengan suasana yang canggung.


Yonna menatap Gisella, tatapan mata mereka terkunci satu sama lain. Senyuman sinis terukir dari bibir wanita bergaun pendek yang disambut seringai kecil yang terbit di sudut bibir Yonna.


Deg! Dada Gisella berdetak tak enak.


Imanuel menatap Bara dan Noah secara bergantian. “Persis!” ujarnya lirih.


Jelita melangkah perlahan, pandangan matanya tak lepas dari Noah hingga kini ia berdiri di hadapan bocah yang menarik perhatiannya itu. Jelita menundukkan tubuhnya untuk menyesuaikan tinggi mereka.


Tangannya menyusuri wajah kecil Noah. Ia seakan sedang menatap Bara kecilnya dulu. Mata Jelita menghangat dengan cairan bening yang menumpuk di pelupuk mata.

__ADS_1


“Ia Bara , ia Baraku!” Jelita memeluk tubuh Noah penuh haru. Dengan perasaan yang sulit untuk ia ungkapkan.


Jelita pikir seumur hidup ia akan melihat putranya hidup seorang diri tanpa pendamping hidup. Namun ternyata putra sulungnya itu justru tiba-tiba pulang membawa anak yang kini sudah sama besarnya dengan cucunya Bryan.


__ADS_2