Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 43. Mendadak nikah.


__ADS_3

Dari balik pintu kamar, Yonna memperhatikan Bara yang sedang bermain dengan Noah di kamar bocah itu, mereka berdua tampak begitu akrab satu sama lain.


Kamar bernuansa biru dengan gradasi abu-abu, di bagian dinding terdapat gambar seorang astronot yang menancapkan bendera negara di bulan. Sedangkan di bagian langit-langit terdapat narasi bintang scorpio.


Di lantai bertaburan mainan sedangkan di ranjang dengan seprai bergambar ultramen merah itu terdapat banyak kado yang belum tersentuh sama sekali.


Bara tak main-main memanjakan anaknya, pria itu seakan memindahkan isi toko mainan ke dalam kamar putranya. Sudah satu jam mereka berdua bermain bersama.


“Terima kasih banyak Uncle, aku suka dengan semua kado yang kamu berikan,” bibir Noah mengembangkan sedikit senyum pada bara. Walau di besarkan di luar negeri, Noah fasih berbahasa indonesia dengan baik, karena Yonna selalu mengajarkan bocah itu bahasa asalnya. Sesekali saja bocah itu mencampur kedua bahasa tersebut.


Bara membalas senyuman putranya dengan mengusap rambut Noah lembut. Hatinya berdenyut nyeri mendengar panggilan yang Noah sematkan untuknya, Uncle.


Bara menyusuri setiap inci wajah Noah, wajah itu membuatnya tertegun. Tanpa melakukan tes DNA sekalipun, siapa pun pasti akan menyadari jika bocah itu adalah anaknya. Sekarang ia mengerti kenapa Yonna mati-matian menyembunyikan anak itu hingga melahirkannya seorang diri di negeri orang.


Wajah Noah mewarisi wajahnya, bahkan kemiripan itu hampir 95%. Bara merutuki dirinya sendiri karena terlambat untuk mengetahui semuanya, ia melewatkan lima tahun umur anaknya begitu saja.


“Kamu mengambil keputusan yang benar, Nak. Dengan menikah sama Bara setidaknya kamu sudah memberikan kebahagiaan untuk putramu itu,” ujar Maya yang tiba-tiba hadir di samping Yonna. Yonna menoleh sekilas lalu kembali menatap dua lelaki yang masih asik main berdua.


“Hanya saja apa kamu tidak menyesal jika hanya menikah secara tertutup seperti itu. Tanpa adanya perayaan dan tak diketahui siapa pun?” ujar Maya lagi. Ia sedikit menyayangkan keputusan putrinya tersebut.


Sebagai seorang ibu, tentu saja ia menginginkan kebahagian untuk putrinya. Mereka cukup mampu untuk membuat perayaan pernikahan yang meriah agar putrinya di kelilingi ucapan selamat dan doa. Namun keputusan Yonna kali ini cukup membuat ia bingung. Kenapa putrinya memutuskan sebuah pernikahan sederhana dan tertutup.

__ADS_1


Yonna menghela napas. Ia beranjak dari balik pintu dan mengajak Maya menjauh dari kamar Noah.


“Tak ada yang perlu aku sesali lagi, Ma. Aku sudah pernah menjalani acara pernikahan bagaikan negeri dongeng seribu satu malam. Mengundang banyak tamu undangan untuk mengucapi selamat hingga kaki terasa pegal karena seharian berdiri. Tapi pada akhirnya pernikahanku kandas dan menyakitkan. Kali ini pun akan sama, aku menikah tidak lain hanya karena Noah. Jadi aku rasa tak perlu mewah dan megah. Kalaupun seandainya pernikahan ini akan kandas di tengah jalan untuk kedua kalinya. Aku tak perlu malu ataupun memutar otak untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan mereka layangkan padaku.”


“Apa yang kamu ucapkan, Nak. Kamu tidak boleh mengatakan itu! Ucapan adalah doa, jadi berujarlah yang baik-baik. Jangan memikirkan perpisahan di saat rumah tanggamu saja baru akan di mulai!” tegur Maya pada putrinya. Ia tak suka dengan pemikiran putrinya itu.


Yonna tak menghiraukan teguran Maya, wanita itu lebih memilih untuk pergi menuju lantai bawah. Membantu pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk mereka.


~ ~ ~


“Astaga, kamu cantik sekali, Nak.” Maya memutari tubuh Yonna. Menatap putrinya dari ujung kaki hingga bawah dengan penuh kekaguman.


Yonna tampak begitu memukau dalam balutan kebaya model clasik serta make up flawless yang melekat di kulit wajahnya yang cantik. Ibu satu anak itu tampak begitu anggun dan rupawan bak boneka hidup.


“Bukan karena eike cin, tapi memang wajah Yey aja yang cantik paripurna. Hingga eike bisa maksimal merias wajah Yey. Eike yakin suami Yey pasti klepek-klepek melihat wajah Yey nanti,” goda pria kemayu tersebut.


Tubuh kekarnya sangat tidak cocok dengan tank top pink serta celana pendek jins sepanjang setengah paha yang ia kenakan. Rambut panjang, serta make up tebal menghiasi wajah dengan rahang yang tegas itu.


“Bisa saja kamu kalau memuji, membuat aku melayang. Tapi terima kasih banyak atas bantuannya, aku puas.” Yonna menatap dirinya sendiri di pantulan cermin.


Ia seakan tak percaya jika dirinya bisa secantik itu. Tanpa sadar Yonna menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya. Pernikahan ini bukanlah pernikahan pertama untuknya, tetapi ada rasa berbeda yang ia rasakan di hatinya.

__ADS_1


Setelah siap, Yonna dan sekeluarga pergi ke tempat yang sudah di siapkan Bara untuk ijab kabul. Sebuah masjid yang cukup besar terletak tak jauh dari rumah wanita itu.


Di dalam masjid telah menunggu Bara dengan setelan jas hitam melekat pas di tubuhnya, ia duduk di hadapan penghulu serta beberapa orang yang akan menjadi saksi pernikahan mereka. Menyadari pengantin wanitanya telah tiba, Bara menoleh. Lelaki itu tak berkedip sedikit pun melihat calon istrinya tiba bersama kedua orang tua, adik serta putra mereka yang tampan.


Yonna di bimbing untuk duduk di sebelah calon suaminya. Acara ijab kabul pun berlangsung dengan khidmat. Hingga kata “sah” menggema, Yonna merasakan desir di hatinya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Mulai hari ini ia kembali menyandang status Nyonya muda Apsara.


Bara meraih tangan Yonna untuk menyematkan cincin pernikahan mereka di jari manis wanita yang detik itu juga telah resmi menjadi istrinya.


Kebahagiaan membuncah di hati pria itu, seakan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Dadanya berdegup dengan kencang, wajah cantik istrinya membuat ia tak sabar untuk menciumi bibir merah merekah bagai delima matang itu. Takdir yang mempertemukan mereka, maka takdir juga yang mempersatukan mereka dalam ikatan suci yang di sebut pernikahan.


Setelah cincin terpasang indah di jari manis Yonna, kini giliran Yonna yang memasangkan cincin satunya lagi di jari manis suaminya, lalu mencium punggung tangan suaminya sebagai salam pertanda hormat pada lelaki yang telah sah menjadi nahkoda yang akan membawa kapal mereka berlayar.


Bara langsung membalas dengan sebuah kecupan lembut di dahi Yonna. Wanita itu pun terdiam, ia menegakkan wajah untuk kembali menatap wajah suaminya. Tatapan mata lembut dan teduh itu menyejukkan hatinya. Ada perasaan senang yang tak dapat Yonna jelaskan di antara rasa takut yang masih bersemayam di dada.


“Selamat untuk kalian berdua, Mama harap pernikahan ini akan menajdi pernikahan kalian selamanya,” ujar Maya tulus pada Bara dan juga Yonna yang datang menyalaminya.


Robert memeluk tubuh Bara layaknya dua orang teman yang telah lama akrab.


“Titip putriku, jangan sakiti ia lagi. Karena jika itu terjadi aku tak hanya akan menuntutmu tetapi juga menghajarmu hingga dirimu tak sadarkan diri,” pinta lelaki paruh baya itu penuh harap.


“Baik, Pa,” jawab Bara singkat. Bara beralih menatap istrinya kembali, pandangan mata mereka bersibobrok.

__ADS_1


Yonna masih terdiam, mendapati tatapan intens yang diberikan Bara padanya cukup membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Bibirnya terasa kelu untuk mengeluarkan sepatah kata saja.


Tak pernah terpikirkan sedikit pun di dalam otaknya jika kini ia akan menikah pada lelaki yang menjadi ayah dari anaknya. Mantan kakak iparnya. Akan tetapi di balik semua ini, masih ada kejutan-kejutan kecil yang akan ia ciptakan di dalam keluarga besar Apsara. Sudut bibir Yonna sedikit tertarik ke atas, ia begitu menantikan moment itu terjadi.


__ADS_2