
Emosional Yonna tak terbendung saat kenangan buruk dalam hidupnya mulai terusik. Ada perasaan yang terus menghimpit dadanya dan terasa begitu sesak hingga ia sulit untuk bernapas, oksigen terasa langsung menipis di sekitarnya.
Pertengakaran yang terjadi merobek luka lama serta membuat sayatan baru yabg sama dalamnya. Andai Yonna bisa memilih, ia ingin menghilangkan saja sebagian memori yang ia miliki agar ia bisa kembali hidup normal dengan hati yang sehat.
Yonna membuka pintu mobil dengan cepat, namun tangan Bara lebih dulu menggenggam lengannya, menahan wanita itu untuk tudak keluar.
“Kamu mau kemana?” tanya Bara. Bukannya menjawab Yonna justru menepis tangan suaminya dengan kasar.
Tatapan matanya yang berubah tajam membuat Bara terdiam. Ia merasa kembali pada masa 6 tahun silam. Ada sekat tembok tinggi yang wanita itu bangun untuknya, lalu menghilang meninggalkannya begitu saja.
Yonna membuka pintu mobil, ia pergi meninggalkan Bara begitu saja. Bara bergegas keluar dari mobilnya untuk menyusul, membujuk wanita itu untuk kembali masuk ke dalam mobil bersamanya. Akan tetapi Yonna sudah bergerak lebih cepat darinya, berjalan setengah berlari pergi menyusuri jalan.
“Sayang, ayo masuk kembali ke mobil! Kita pulang sekarang. Ok!” ujar Bara mengejar istrinya dari belakang. Yonna tak sedikit pun menoleh, ia mengabaikan panggilaan suaminya.
Sebuah taksi lewat hendak melintasinya. Yonna mengangkat tangannya, meminta taksi itu untuk berhenti. Setelah taksi itu berhenti, Yonna dengan cepat masuk ke dalam taksi tersebut.
“Sayang, buka pintunya. Kuta pulang ke rumah dan bicarakan ini baik-baik, kamu hanya salah paham!” seru Bara menggedor-gedor jendela kaca mobil yang tertutup rapat.
“Jalan Pak!” pinta Yonna. Dengan rasa ragu, sopir taksi itu pun melajukan mobilnya.
Pertengkaran antara pasangan yang berakhir dengan salah satunya yang pergi meninggalkan begitu saja. Adalah pemandangan yang sering dihadapi Pak supir, tetapi tetap saja pak supir merasa canggung.
Bara memandangi mobil taksi yang membawa istrinya pergi dalam diam. Hingga mobil itu menghilang dari pandangan matanya.
“Rasanya seperti melihatmu saat pertama kali kita bertemu, kita terasa asing dan tak memahami satu sama lain. Tembok yang kamu bangun begitu tinggi, apa yang harus kulakukan untuk meraihmu? Pintu hatimu seakan terkunci dengan rapat untukku,” ucap Bara sedih di dalam hati. Ada rasa takut yang mulai merayapi hatinya.
~ ~ ~
Yonna kembali ke rumah lebih dulu dari Bara. Taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah, bertepatan dengan itu, mobil Gavin juga baru saja terparkir di depan Garasi.
Gavin keluar dari mobil, dahinya sedikit berkerut ketika matanya menangkap sosok Yonna keluar dari taksi.
__ADS_1
Yonna melewatinya dan mengabaikannya begitu saja, tetapi dengan cepat Gavin menyusul di belakangnya.
“Yonna tunggu!” Tangan Gavin berhasil meraih lengan Yonna hingga langkah kaki mereka berdua berhenti tepat di depan pintu rumah yang tertutup rapat.
“Aku ingin kita bicara se—” ucapan Gavin terpotong melihat kelopak mata Yonna bengkak serta wajah yang sedikit sembab walau wanita itu menyembunyikannya dengan cara sedikit menunduk dan mengindari tatapan mata.
“Kamu menangis? Siapa yang membuat kamu seperti ini? Apa Bara menyakitimu? Jawab aku Alice?” Gavin menghujaninya dengan berbagai pertanyaan serta rasa khawatir.
Sementara Yonna tersentak mendengar namanya disebut Gavin dengan lancar. Yonna menegakkan kepalanya, pupil matanya mengecil. Sebelah tangan menghentak tangan Gavin kasar dan sebelah tangan lagi ia gunakan untuk menghapus air mata yang mengalir dengan kasar.
“Jadi kamu sudah tahu semuanya sekarang, lalu kenapa kamu masih berdiri di hadapanku. Dan masih menggangguku? Bukankah dulu kamu bilang jijik melihatku,” lirih Yonna. Sorot matanya melayangkan kebencian.
Gavin menelan ludah, ia seakan melempar kotoran di mukanya sendiri. Menelan bulat-bulat ludah yang sudah ia buang ke tanah.
“Apa yang terjadi adalah kesalahan masa lalu, Alice. Dan itu hanya salah paham, aku minta maaf! Aku sadar jika dulu aku begitu bodoh karena telah menyia-nyiakan kamu. Tapi jujur, aku menyesal dan andai kamu tak bersama Bara. Aku ingin kamu kembali padaku, menjadi istriku kembali!”
Yonna rasanya ingin tertawa begitu kencangnya. Di antara semua wanita yng bisa ia kejar, kenapa harus dirinya. Mantan istri yang sudah memiliki anak dari lelaki lain, lelaki yang menjadi Kakak kandungnya. Apa itu masuk akal?
“Tak masalah, asalkan kamu mau kembali padaku. Itu saja sudah cukup!”
“Dasar gila! Kalau rumah tanggamu tak bahagia, kamu bisa mencari wanita cantik di luaran sana untuk menjadi pelampiasan. Dan jangan ganggu aku, karena aku tak sudi!” Yonna mendorong tubuh Gavin agar menjauh darinya.
Gavin ingin mengejar, tetapi langkah kakinya tertahan dengan deru mobil Bara yang memasuki halaman rumah. Pria itu keluar dari dalam mobil dengan raut wajah yang tak sedap di pandang.
Bara masuk ke dalam rumah dan mengabaikan Gavin begitu saja, sama seperti yang dilakukan Yonna padanya tadi.
“Sepeetinya mereka berdua bertengkar, ini adalah momen yang pas untuk aku meraih hatinya kembali. Aku bisa membuat ia dan Bara bercerai dan kembali ke dalam pelukanku kembali. Persetan dengan norma yang mengharamkan menikahi Kakak ipar. Toh … sebelum menjadi Ipar, ia adalah istriku!” gumam Gavin.
Tanpa pria itu sadari ada sepasang mata yang menatapnya tajam dengan air mata yang mulai mengalir dan menganak sungai.
“Dasar wanita murahan! Sudah punya suami masih saja menggoda adik iparnya. Karena kamu, aku sampai dipermalukan di depan keluarga suamiku sendiri. Memangnya apa hebatnya kamu, hanya wanita rendahan yang tak jelas keluarganya!”
__ADS_1
“Kamu juga kelewatan Mas! Bisa-bisa kamu bermesraan dengan iparmu di depan rumah seperti ini. Awas saja kalian berdua, akan aku beri pelajaran!” rutuk Gisella dengan geram.
Kaca jendela yang tertutup rapat membuat Gisella tak mendengar dengan jelas apa yang Gavin dan Yonna ucapkan. Hanya gerakan intens dan tatapan mata serta interaksi di antara mereka cukup membuat Gisella hanyut dalam asumsi pemikirannya sendiri.
Hatinya terbakar cemburu, suami yang mulai tak perhatian padanya dan kerap mengabaikannya kini justru lebih memperhatikan wanita lain di depan matanya.
“Mama ngapain di situ?” Bryan menepuk pantat Gisella yang berdiri di balik sontak langsung kaget.
“Ngapain kamu di sini gangguan Mama?”
“Mama dipanggil sama Oma,” jawab Bryan.
“Ngapain nenek tua itu memanggil Mama?”
Bryan hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Ia tak tahu dan tak mau tahu. Setelah menyampaikan hal itu pada Gisella, bocah itu kembali pergi bertepatan dengan Gavin yang masuk ke dalam rumah.
“Bryan!” Bocah itu menoleh ke asal suara yang memanggil namanya. Gavin mendekat pada putra lelakinya itu, mengusap puncak kepalanya lembut.
“Kamu dari mana?”
“Dari tempat Mama,” jawab Bryan polos. Gavin melihat telunjuk anaknya menuding ke arah Gisella. Gavin memicingkan matanya, posisi Gisella yang berdiri di dekat jendela membuatnya curiga.
“Memangnya ngapain Mama kamu berdiri di dekat jendela itu?” Gavin mulai mengintrogasi putranya tersebut. Bryan yang memang masih bocah pun akhirnya menjawab dengan jujur.
“Mama mengintip ke arah luar jendela tadi, tak tahu apa yang Mama lihat.”
“Sial! Dasar anak durhaka!” umpat Gisella sembari mengigit bibir bawahnya geram.
~ ~ ~
Terima kasih yang sudah setia menunggu, dan terima kasih atas gift dan votenya☺️
__ADS_1
Author akan kasih double bab untuk besok, dengan bab yang seru pastinya. Happy reading everyone 🥰