Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 67. Di balik cerita dua keluarga.


__ADS_3

Mobil hitam yang dikendarai Bara kini berhenti di sebuah rumah yang tampak begitu besar dengan taman bunga di bagian halaman depannya.


Yonna memicingkan mata menatap rumah itu, walau baru satu kali berkunjung ke tempat itu. Yonna masih mengingat dengan jelas bentuk dan kondisi rumah itu.


"Rumah sudah di renovasi?" tanya wanita itu memastikan. Yonna sangat menyukai aneka bunga yang tumbuh di taman itu. Terlihat begitu cantik sesuai dengan seleranya.


"Apa kamu suka?"


Yonna menoleh pada suaminya dan menganggukkan kepalanya pelan. Kedua sudut bibirnya baik ke atas membentuk lengkungan tinggi hingga tulang pipi itu pun juga ikut terangkat.


"Tapi kenapa kita ke rumah ini? Apa karena kamu mau menunjukkan rumah yang sudah di renovasi ini?"


"Tidak, tetapi kita kan pindah ke rumah ini. Rumah kita yang hanya ada kamu, aku dan anak-anak kita. Bukannya kamu setuju untuk memulai semuanya dari awal, jadi kita akan tinggal di sini sekarang," jelas Bara. Lelaki itu keluar dari mobil dan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Yonna.


Bara membantu istrinya untuk keluar dengan begitu telaten. Sebagai seorang istri Yonna tak ingin protes, baginya apa pun yang dilakukan Bara saat ini pasti untuk kepentingan dan kebahagiannya. Yonna sedang memberikan kepercayaan pada pria itu untuk membahagiakannya.


"Lalu bagaimana dengan Mama?" tanya Yonna kembali. Ia menahan perut bagian bawahnya yang tiba-tiba terasa nyeri saat berjalan. Ia berjalan dengan sangat pelan dan tertatih.


"Aku berbicara baik-baik dengan Mama dan alhamdulilah Mama bisa mengerti. Lagi pula rumah ini dengan rumah lama jaraknya tidak terlalu jauh. Masih satu kota."


Bara melirik istrinya, ia yang kasihan langsung meletakkan lengannya di antara kedua kaki Yonna dan mengangkat wanita itu dalam gendongannya membuat Yonna tersentak kaget.


"Mas turunkan aku! Malu di lihat orang!" Yonna menutup wajahnya pada dada bidang Bara saat ujung matanya menangkap ada beberapa orang tetangga yang sedang berkumpul di luar tersenyum malu melihat apa yang suaminya lakukan.


"Biarin aja orang lihat, mereka kan memang punya mata. Aku hanya sedang membantu istriku. Apa salah?" jawab Bara cuek. Ia berjalan menggendong Yonna masuk ke dalam rumah.


"Wah ... mesra banget mereka. Jadi iri," ujar wanita berdaster coklat. Tangannya yang asik memetik jambu air terhenti karena matanya teralihkan menatap tetangga baru yang terlihat begitu manis di matanya.

__ADS_1


"Alah ... namanya juga pengantin baru Jenk. Ya seperti itu, nanti juga kalau sudah sepuluh tahun atau lima belas tahun menikah. Bakalan seperti kita-kita ini."


"Gabas dan hambar, nggak ada rasa saking lamanya di cuekin," celetuk si celana plisket merah maroon menimpali ucapan wanita berjilbab biru dongker. Ketiga wanita itu biasa berkumpul, ngerumpi ala-ala ibu komplek.


Mereka bertiga sedang asik rujakan di bawah batang jambu sambil menikmati hembusan angin yang menerta di cuaca matahari yang mulai menyengat.


"Siapa bilang pengantin Baru. Mereka sudah punya anak umur lima tahunan. Tadi aku kenalan dengannya, tampan. Mirip banget sama Papanya. Anaknya juga baik dan ramah, jadi iri melihatnya, pasangan yang manis," ujar wanita berdaster itu kembali.


Ia merupakan si pemilik rumah. Wanita berumur 35 tahun itu seorang penggemar drama korea yang suaminya bekerja sebagai karyawan di perusahaan asing.


~ ~ ~


Setelah perdebatan yang cukup hebat dengan Gisella tadi pagi, Gavin memilih untuk kembali pergi dengan alasan pekerjaan.


Sementara Gisella yang masih merasakan sesak di dadanya memilih untuk duduk di depan meja rias meratapi jalan hidup yang jauh dari keinginannya. Ucapan Yonna tempo hari terus terbayang di kepalanya, terkadang ia merasa iri melihat betapa manis dan lembutnya Bara memperlakukan istrinya.


Gisella mengambil ponsel di tangannya, mengetik pesan pada seseorang, setelah itu ia beranjak menuju lemari untuk berganti pakaian dan memoles wajahnya.


Ia berencana keluar rumah, pergi dengan seseorang untuk mengobati hatinya yang terluka.


Tak sampai lima belas menit, Gisella sampai pada sebuah hotel, tempat di mana ia janjian pada seseorang. Langkah kakinya terasa ringan memasuki benda kotak besar yang akan mengangkatnya ke atas menuju lantai 12.


Dinding lift memantulkan bayangan dirinya yang cantik dengan make up flowless yang menempel di wjaah. Tampak begitu sensual dengan tanktop ketat yang di tutupi blazer dengan bagian depan yang sedikit terbuka. Bukit kembar yang padat itu menyembul keluar menantang, di padu rok span setengah paha. Penampilan Gisella sekarang mirip seorang sekretaris yang akan menggoda atasannya.


Pintu lift pun terbuka, ujung tumit yang tinggi itu beradu di lantai keramik hingga menimbulkan imara saat ia berjalan melenggok menuju kamar nomor 1583.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Pintu terketuk tiga kali dengan tangannya yang lentik. Tak butuh waktu lama untuk pintu tersebut terbuka.


"Aku pikir kamu tak jadi datang," ucap lelaki yang tengah mengenakan bathrobe putih yang menutupi tubuh kekarnya. Gisella tersenyum begitu manis, lelaki itu pun membuka pintu kamar untuk Gisella bisa masuk.


"Sudah lama?" tanya Gisella berbasa-basi, ia tak menjawab ucapan pria itu sebelumnya.


Pria itu menutup kembali pintu dengan rapat dan kemdian berbalik memeluk Gisella dari belakang, ia menciumi aroma tubuh wanita yang tengah ia rindukan saat ini.


"Aku kangen sama kamu Baby," seru lelaki itu dengan suaranya yang mulai serak.


"Aku juga, Mas. Menjadi istri Gavin tak membuatku bahagia," jawab Gisella lembut. Ia memutar tubuhnya hingga posisinya saat inj berhadapan dengan lelaki yang membuatnya candu itu.


"Bukankah itu keputusanmu, hingga kamu meninggalkanku."


"Maaf, ini juga demi kita berdua," ujar Gisella dengan sauranya yang lirih. Tangannya telah bebas menyusup di balik bathrobe yang menutupi dada bidang lelaki itu.


Lelaki berlesung pipi itu tersenyum melihat tatapan sayu wanita yang ada di hadapannya ini.


Ia men-cium bibir merah wanita itu, Gisella mengalungkan tangannya di balik punggung pria berambut sekit panjang itu. Mempererat pergumulan bibir mereka. Pria itu menarik tubuh Gisella hingga terjatuh di atas sofa dan menghimpitnya.


"Dion," lirih Gisella mulai tak tahan dengan apa yang dilakukan pemuda itu. Letupan hadir di dalam tubuhnya dan semakin memuncak hingga tak dapat ditahankan lagi.


Rasanya ingin meledak saat itu jika ketika tangan nakal pria itu semakin liar bermain di bawah sana. Gisella bahkan sampai tak sadar, entah sejak kapan pakaiannya telah di lucuti hingga tersisa pakaian dalam saja.


"Dion kau ... kau membuatku gila!"


"Menjeritlah Baby, teriakkan namaku di bibir indahmu," balas Dion. Suasana mulai memanas dengan kegiatan mereka berdua yang memancing ga-irah.

__ADS_1


__ADS_2