Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
102. Kamu di mana, Nak?


__ADS_3

"Anda baik-baik saja, Nyonya?" ucap supir mobil itu pada Yonna. Sepanjang perjalanan wanita itu hanya bersandar sembari memandang jendela mobil dengan raut sedih.


"Jalan saja, Pak! Tidak usah hiraukan saya, Pak. Saya baik-baik saja," jawab Yonna dengan suara yang lirih.


Setelah sadar dari pingsannya, Yonna memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Hatinya saat ini begitu kusut, ada rasa sedih dan juga kecewa yang bercampur menjadi satu.


Yonna menyesal dengan keputusannya, andai ia bisa sedikit lebih berani lagi. Tetapi apa yang bisa ia lakukan, semua keputusan yang ia ambil terasa salah semua.


Apa salah jika ia ingin merawat bayi kecil itu. Bayi yang bahkan tidak tahu alasan ia hadir di dunia ini. Bayi yang begitu kecil dan lemah, ia hanya ingin mencurahkan kasih sayaag yang ia miliki pada bayi perempuan yang telah menyusup di hatinya.


Sepanjang perjalanan Yonna hanya diam, sesekali ia mengusap bulir kristal yang mengalir di pipinya. Ada kemarahan yang tak dapat ia luapkan.


"Jika Nyonya ingin istirahat, tidur saja. Nanti Bapak bangunkan saat kita sudah sampai," ucap Pak supir kembali. Pak tua berkumis tebal itu melirik dari kaca kecil yang ada di depan matanya.


"Hmm," gumam Yonna seraya menganggukkan kepala pelan. Ia sedang tak ingin mengeluarkan sepatah kata pun lagi.


"Kasihan sekali Nyonya muda ini. Sepertinya ia sangat menginginkan anak perempuan. Hingga sebegitu sayangnya ia pada anak dari wanita yang pernah merebut suaminya sendiri," batin Pak supir. Bertahun-tahun menjadi supir pribadi di keluarga Apsara membuatnya mengenal Yonna. Walau mereka bisa di bilang tak pernah mengobrol sedikit pun


Terdapat dua sopir mobil di keluarga Apsara, biasanya pria tua ini hanya bertugas mengantarakan Tuan Apsara dan juga Gavin. Sementara Yonna dan anggota keluarga yang lain lebih sering diantara dengan supir satunya lagi atau mengemudikan mobil sendiri seperti yang biasa Yonna lakukan selama ini.


Matahari hampir terbenam di cakrawala, mwnyisakan bias keorangean yang kian pudar warnanya. Yonna masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang gontai.


Ia tetap diam dan melewati Jelita yang sedang duduk di ruang tamu begitu saja.


"Alice, kemana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" pertanyaan Jelita menghentikan langakah kaki Yonna. Ia pun berbalik dan menatap Jelita sekilas, kemudian kembali berlalu bwgitu saja. Menyisakan tanda tanya di kepala mertuanya.


"Ada apa dengannya?" gumam Jelita heran.


"Apa Mommy sakit, Grandma?" timpal Noah khawatir. Ia ingin beranjak dari duduknya untuk mengejar wanita yang ia sayangi itu.

__ADS_1


"Nanti saja. Jangan banyak tanya dulu dengan Mommymu. Biarkan ia bersih-bersih dan istirahat dulu. Mungkin saja Mommymu capek," tegur Jelita menahan lengan Noah. Ia menyuruh bocah itu untuk kembali ke tempat duduknya.


~ ~ ~


Satu hari berlalu begitu saja, Yonna mengalami demam dan sakit kepala. Ia bahkan enggan untuk beranjak dari ranjangnya. Sesekali wanita itu tampak menangis tanpa sebab yang membuat Bara menatapnya heran.


"Apa ada masalah? Ceritakan padaku," tanya Bara di pagi hari yang cerah itu. Ia sudah siap dengan setelan kemeja kerjanya untuk berangkat bekerja. Namun ia batalkan karena melihat kondisi istrinya yang cukup membuatnya tak bisa bekerja dengan tenang.


"Nggak ada, aku cerita sama kamu juga nggak akan mengerti, Mas. Kamu kan nggak akan berpihak padaku," sungut Yonna sembari mengusap air matanya. Ia menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Tingkahnya kali ini sangat berbeda dari biasanya.


Bara memilih duduk di samping sang istri. Ia menarik selimut yang menutupi wajah istrinya itu pelan sembari membujuk.


"Sayang, memangnya apa yang tidak Mas kabulkan untukmu? Mas nggak tahu masalahnya apa jika kamu tidak kamu beritahu. Suamimu ini bukan peramal."


Yonna menarik tubuhnya untuk duduk dan menatap suaminya tajam. Mata yang berkaca-kaca itu menatap Bara kesal.


"Kamu yakin tidak tahu masalahnya, Mas? Apa Mama tidak memberitahumu kalau teman yang ia bilang kaya yang telah mengadopsi Arabella itu adalah penipu. Merek itu orang jahata dan merek sudah membawa Arabella pergi," jelas Yonna.


Bara tersentak kaget. Ia memang belum mendengar kabar itu, karena kesibukan yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya hanya fokus pada masalah pekerjaannya saja.


"Kamu yakin?" tanya Bara memastikan.


"Beberapa hari belakangan ini aku menelpon nomor yang mereka berikan. Dan nomor itu tak bisa di hubungi sedikit pun. Kemarin aku memberanikan diri pergi ke alamat yang mereka berikan bersama Pak Ahmad. Dan kamu tahu Mas ... alamat yang mereka berikan itu palsu. Mereka itu buronan."


Yonna kembali menangis, ia masih kepikiran dengan nasib anak yang tidak ada hubungan darah dengannya itu.


Mungkin terdengar mendramatisir keadaan. Tetapi selalu ada alasan yang melatar belakangi sebuah perasaan menjadi begitu mendalam.


"Ok, kamu tenang dulu Sayang. Semua pasti ada jalan keluarnya."

__ADS_1


"Aku mau kamu membawa Arabella kembali, Mas. Kasihan anak itu, apa yang akan aku katakan apda arwah Gisella nantinya. Bayi itu ia amanahkan padaku, tetapi Mama kamu justru memberikannya pada orang lain. Bahkan orang itu ... ya Tuhan Mas. Aku menyesal telah menyetujui semua yang Mama ucapkan," ujar Yonna mulai histeris.


Jelita yang mendengarkan suara berisik dari kamar Anak-menantunya itu pun datang menghampiri. Ia terkenut mendapati tatapan mata Yonna yang begitu tajam menatapnya.


"Ada apa ini Bara?" dalih Jelita. Ia sebisa mungkin bersikap seakan tak terjadi apa-apa.


"Ma, katakan padaku, Mama asti sudah tahu kan kalau teman Mama itu seorang penipu!" Yonna beranjak menghampiri Jelita. Ia berdiri tegap dengan wajah yang penuh amarah. Sedari kemarin ia menahan diri untuk tidak marah, namun kali ini hawa panas di dalam dirinya telah berkumpul di puncak kepalanya. Siap di lepaskan layaknya cerobong kereta api yang mengepul ke udara.


"Apa yang kamu katakan Alice? Mama tidak mengerti!"


"Mama nggak usah bohong! Mama pasti sudah tahukan kalau suami-istri yang Mama bilang seorang pengusaha kaya itu bohong kan! Mereka penipu yang kini tengah jadi buronan. Apa Mama sengaja memberikan Arabella pada mereka?" cerca Yonna langsung tanpa jeda. Ia menyerang Jelita dengan kalimatnya yang seakan memojokkan.


"Mama memang sudah dengar tentang kabar itu. Tetapi Mama mana tahu kalau mereka itu seorang penipu. Selama ini istrinya ikut arisan bersama kami hampir setahun tak pernah ada masalah apa pun."


"Kenapa Mama diam saja kalua Mama sudah tahu semuanya? Kemarin saat aku tanya kabar Arabella Mama hanya diam saja. Seharusnya Mama kan bisa bolang padaku!" ujar Yonna seakan mertuanya sengaja untuk tidak memberitahukan hal itu padanya.


Bara mengusap wajahnya kasar. Ia berada pada posisi yang paling sulit. Satu sisi istri yang ia cintai dan satu sisi lagi adalah wanita yang telah melahirkannya. Keduanya sama-sama wanita yang begitu ia sayangi.


Tak ada yang salah di antara keduanya, hanya saja waktu dan keadaan yang membuatnya menjadi rumit. Andai saja bayi itu tidak lahir dari rahim Gisella, mungkin saja Jelita akan lebih mudah untuk menerimanya sebagai anak malang yang memerlukan belas kasihan.


"Aku nggak menyangka Mama bisa setega ini pada bayi kecil yang tak berdosa. Mama tega membuangnya ke jalanan bersama orang-orang jahat di luaran sana!"


"Jangan menuduh Mama seperti itu, Alice. Mama sudah bilang padamu, Mama tidak tahu apa-apa dengan masalah ini. Jika bayi itu pergi mungkin itu akan menjadi hal yang bagus untuknya. Agar—"


"Mama!" Yonna memotong ucapan mertuanya yang bisa ia tebak ke mana arah pembicaraannya.


"Kamu berani membentak Mama Alice!" sungut Jelita tak kalah marahnya. Bara berdiri mendekat, pertengkaran ini akan menjadi panas bagai api yang menyambar pemicu ledakan hingga ledakan itu bisa saja meledak dengan kuat hingga menjadi alasan terputuslah silaturahim dari hubungan yang seharusnya terjalin dengan erat.


Yonna memegang kepalanya yang kembali berdentung kuat. Matanya mulai berkunang-kunang yang lama kelamaan memudar membuat tubuhnya limbung.

__ADS_1


"Alice? Ada apa denganmu?" Bara dengan sigap menyambar tubuh Yonna sebelum wanita itu terjerembak ke atas lantai yang licin mengkilat.


__ADS_2