Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 63. Kabar duka


__ADS_3

Yonna mengendarai mobilnya kembali ke kantor. Hari ini ia membawa mobil sendiri untuk berangkat kerja, sebab Bara harus pergi buru-buru ke persidangan. Yonna pun tak ingin selalu bergantung pada suaminya itu.


Yonna kembali ke meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Saat sedang berkutat dengan file yang harus ia koreksi sebelum menyerahkannya pada Tama. Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah nomor yang tertera membuat senyum di bibirnya terukir.


Belum sempat Yonna mengangkat ponselnya, dering ponsel itu berhenti, berganti dengan sebuah pesan yang masuk.


"Semua sudah berjalan sesuai keinginanmu. Kucing sudah masuk ke dalam perangkap, tinggal menunggu hasilnya saja." Begitulah kalimat yang tertulis di pesan itu. Yonna tertawa, hingga tanpa sadar tawanya yang sedikit kencang mengusik Steve hingga atensinya beralih pada Yonna.


"Ada apa? Apa yang membuatmu begitu bahagia?" tanya lelaki itu curiga.


Yonna menoleh, ia menatap pria hitam manis kebule-bulean dari balik sekat kaca pembatas ruangan mereka.


"Aku aku tampak sedang bahagia?" Yonna justru balik bertanya. Ia menunjuk wajahnya sendiri. Tawa di bibir dengan mata yang berkaca-kaca membuat satu alis Steve naik ke atas. Untuk sesaat tak ada kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Lelaki itu tampak berpikir


"Kamu menangis haru? Apa yang membuatmu bahagia?" Komentar Steve tampak ragu. Yonna yang ia lihat hari ini tampak berbeda dari Yonna di hari-hari sebelumnya.


Yonna menghentikan tawanya, ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Seharusnya ia bahagia atas apa yang ia rencanakan sudah sesuai dengan apa yang ia inginkan. Akhirnya ia bisa membalas ucapan Gisella di masa lalu, membuat wanita itu merasakan sakit yang ia rasakan dulu.


Akan tetapi nyatanya hatinya justru hampa, pandangan matanya seketika kosong sejenak. Tak ada kebahagian seperti yang ia harap, semuanya terasa datar saja.


Balas dendam tak akan pernah membawa ketenangan itu yang terlambat Yonna sadari hingga detik ini ia masih bersikap aneh dan impulsif. Ada rasa tak puas akan dirinya sendiri, apa bedanya ia dengan Gisella 6 tahun yang lalu? pikir Yonna mempertanyakan dalam dirinya sendiri.


Sedetik kemudian wanita itu kembali menghadap layar komputernya, melanjutkan pekerjaannya seakan barusan tak terjadi hal apa pun. Suasana hatinya cepat sekali berubah seperti roller coaster.


"Aneh sekali!" batin Steve heran. Ia pun kembali fokus pada pekerjaannya walau hatinya sedikit terusik dengan sikap Yonna yang sedikit berbeda hari ini.


Senja mulai menyapa, Yonna sudah sampai di rumah setelah Bar. Ia memarkirkan mobilnya dengan asal lalu masuk ke dalam rumah. Kepalanya terasa sedikit pusing.

__ADS_1


Yonna berjalan begitu saja mengabaikan mertuanya yang sedang duduk di ruang tamu. Kepalanya yang begitu sakit menghentak membuatnya ingin segera sampai di kamar dan berbaring.


"Oma, look at this!" Noah dan Bryan serta Bara muncul dari taman belakang menghampiri Jelita.


Noah menunjukkan mainan yang baru saja ia dapatkan dari Daddynya. Begitu pun dengan Bryan, dua saudara sepupu itu perlahan-lahan mulai akur. Bara pun selalu bersikap adil pada bocah itu.


Apa yang ia bawa untuk putranya, ia juga membawakan untuk Bryan. Walau terkadang ia suka kesal dengan sikap bocah itu yang kurang ajar, tetapi Bara tetap sadar. Anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka kertas putih yang berisi ukuran orang tuanya. Didikan yang salah membuat bocah itu bertindak tak tahu aturan.


"Bara, coba kamu pergi susul istrimu di kamar. Lihat keadaannya, tadi Mama lihat istrimu pulang dalam keadaan sempoyongan," ujar Jelita memberitahukan apa yang ia lihat.


"Yonna sudah pulang?"


"Iya, pergi lihat sana. Ada apa dengannya!"


Bara meninggalkan kedua bocah itu pada Jelita. Langkah kakinya dengan cepat menuju kamar.


"Sayang, kamu kenapa? Astaga badanmu panas sekali, kamu demam!"


Yonna membuka matanya perlahan. "Mas, kepalaku pusing sekali! Dadaku sesak, perutku pun juga sakit!" Yonna meringis.


"Kita ke rumah sakit ya,!" Bara mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke rumah sakit segera. Yonna sempat menolak, ia tak menyukai bau obat-obatan yang memenuhi ruangan rumah sakit. Tetapi Bara tetap memaksa.


~ ~ ~


"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok?" tanya Bara pada Dokter yang bernama Sinta dari name tag yang tersemat di dadanya. Setelah memeriksa Yonna, wanita yang tak lagi muda itu memanggil Bara untuk menemuinya di ruangannya langsung.


Dokter Sinta menghela napas panjang. "Sebelumnya maaf Pak Bara, ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada anda terlebih dahulu sebelum saya menjelaskan kondisi fisik istri anda."

__ADS_1


"Apa itu?" sambar Bara cepat. Hatinya sudah cemas melihat kondisi Yonna yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


"Sejak kapan istri anda mengonsumsi obat diet? Dan sudah berapa lama?"


Degh!


Bara tersentak mendengar pertanyaan dokter tersebut. Ia tak tahu jika selama ini Yonna mengonsumsi pil diet. Walau Bara akui perubahan tubuh Yonna yang begitu drastis tak mungkin bisa di dapat tanpa usaha yang kuat.


"Apa anda tak mengetahui pola makan istri anda dan tidak melihat kondisi fisik yang terjadi pada istri anda?" Dokter Sinta memberikan pertanyaan demi pertanyaan pada Bara. Lelaki itu pun mulai tampak berpikir.


"Istri saya memang kerap membatasi asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia menghindari makan malam dan hanya mengkonsumsi segelas susu protein tinggi rendah lemak sebagai sarapan pagi."


"Makan siang?"


"Makan siang kami jarang bersama, karena kami sama-sama bekerja. Tetapi masalah obat diet, saya benar-benar tidak mengetahui hal itu, Dok! Memangnya ada apa? Apa ada masalah yang serius terjadi?" tanya Bara menyelidik. Hatinya berdetak tak enak melihat raut wajah dokter Sinta yang rumit.


"Begini Pak Bara, istri anda mengalami stres berat dan penggunaan obat diet jangka panjang beresiko untuk wanita yang dalam masa awal kehamilan. Sehingga dengan berat hati kami mengatakan jika istri anda mengalami keguguran, maafkan kami," ucap Dokter Sinta sedih.


Bara terhenyak, kepalanya terhantam batu besar hingga serpihan batu itu tertancap di dada. Perih, ada rasa kecewa yang hadir di hatinya. Hari di mana ia baru saja menyadari kehadiran calon anaknya di hari itu juga ia merasakan kehilangan.


"Istri saya hamil?" lirih Bara dengan binar mata yang sayu. Dokter Sinta menjadi iba, beberapa kali ia melihat kondisi seperti ini, saat seseorang begitu mengharapkan kehadiran buah hati namun harus di patahkan dengan kenyataan kehilangan. Bahkan saat janin itu belum hadir dalam dekapan.


"Benar Pak, usinya lima minggu. Tapi sayang—" Dokter Sinta tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Lelaki tampan di hadapannya itu kini tampak begitu pucat, seakan wajah itu tak dialiri darah.


Bara membeku, jantungnya berdegub kencang. Hatinya seakan tersentil untuk kedua kalinya menyadari dirinya terlambat mengetahui kehadiran buah hatinya untuk kedua kalinya. Kenapa Yonna selalu menyembunyikan hal itu padanya? Bukankah ia berhak mengetahuinya lebih dulu dari siapa pun. Pikir Bara sedih.


Dokter Sinta mengambil segelas aqua cup yang ada di sudut mejanya, menyerahkan pada Bara agar lelaki itu bisa sedikit lebih tenang. Dan menyelesaikan masalah di antara suami-istri itu dengan kepala dingin.

__ADS_1


__ADS_2