Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 39. Beri aku kesempatan!


__ADS_3

Yonna mengerang karena ia kehabisan pasokan udara. Bara melepas tautan mereka. Ia meletakkan dahinya ke atas dahi wanita itu. Mereka berdua terengah-engah, Yonna meraup pasokan udara memenuhi paru-parunya dengan rakus.


Tanpa bersuara Bara menatap Yonna dengan puas, senyum tipis pun terukir di wajah tegasnya. Cium-an itu nikmat dan memabukkan untuknya. Seakan tak puas hanya sampai di situ.


"Arrkkkhhh," Yonna terpekik kecil.


Bara menahan pinggul Yonna dan memutar tubuhnya, memberikan sedikit dorongan hingga tubuh wanita itu kini terbaring di atas ranjang.


Bara kembali mengungkung tubuhnya di bawah dirinya, tatapan mata itu semakin berkabut gai-rah yang berkobar. Wajah yang bersemu merah di bawahnya tampak begitu mempesona.


Bertahun-tahun tak mendapatkan belaian dan kehangatan membuat lelaki itu begitu dahaga malam ini.


"A-apa yang kamu lakukan? Jangan gila dan menyingkirlah dari atasku sekarang juga!" omel Yonna pada Bara. Lelaki terlalu agresif padanya beberapa hari ini.


Bara tak bergeming, ia tak juga menjawab ucapannya. Dengan cepat lelaki itu justru menanggalkan pakaian yang ia gunakan saat ini. Kini Yonna bisa melihat dengan jelas dada bidang yang terdapat sekat-sekat yang dapat membuat para wanita menjerit melihatnya.


Wajah Yonna kembali memerah, ia menelan ludahnya susah payah. Sebenarnya ini adalah dua kalinya Yonna melihat dada bidang Bara yang sempurna di matanya itu. Dan Bara adalah satu-satunya lelaki yang pernah ia lihat dalam keadaan seperti itu.


Bara kembali beraksi, ia menyelusupkan wajahnya di ceruk leher Yonna. Menghirup dalam-dalam tubuh wanita itu yang begitu wangi untuknya.


"Kamu sangat harum, ughhh ... aku gila!" geram pria itu lirih.


Dengan tak sabaran Bara kembali menghujami tubuh Yonna dengan cium-an panas. Berniat meninggalkan begitu banyak tanda kepemilikan di sana.

__ADS_1


Seakan alarm dalam otaknya mulai berbunyi dan mengirimkan sinyal tanda bahaya. Yonna berusaha untuk melepaskan diri dari Bara. Tepat saat pria itu menggeser tubuhnya, ruang di antara kakinya terbuka, Yonna menaikkan kakinya dengan kuat hingga lututnya menghantam sumber kehidupan milik lelaki itu.


Ibarat pohon yang baru saja tegak mengibar bendera perang langsung di terjang raksasa hingga patah dan tumbang. Bara tersentak dengan rasa sakit yang menusuk hingga ke ubun-ubunnya.


"Arkhhhh!" teriakan lelaki itu tertahan di tenggorokan, bulir-bulir keringat mulai membasahi pelipis. Yonna langsung mendorong bahu Bara hingga lelaki itu terhempas pada ranjang yang ada di sebelahnya. Dan ia pun langsung berdiri dengan tatapan mata yang tajam dan beringas.


"Ka-kamu mau membunuh calon suamimu sen-sendiri?" ucap lelaki itu menahan rasa sakit yang luar biasa. Perutnya terasa teraduk-aduk dengan rasa senap yang hebat.


"Itu hukuman untuk lelaki kurang ajar sepertimu! Kamu pikir aku apa, huh?!"


"Kamu membuat aset berhargaku cedera, Alice. Bagaimana kalau gara-gara ini Noah tak bisa memiliki adik lagi? Apa kamu mau punya suami yang cacat!" ujar pria itu lagi sembari meringis.


K Bara mengatur nafasnya agar rasa sakit itu bisa sedikit berangsur-angsur menghilang secara perlahan.


"Jika tidak berfungsi lagi, itu mah deritamu. Masalah Noah jangan khawatir, ia masih bisa punya adik dari Daddy yang lain!" celetuk Yonna spontan dan santai. Sorot mata Bara langsung berubah tajam tak terima mendengar ucapan wanita itu.


"Jangan harap aku akan membiarkanmu menikah dengan lelaki lain selain diriku. Kamu hanya boleh menjadi ibu dari anak-anakku!" tegasnya. Bara seakan sudah mengklaim Yonna sebagai miliknya yang tak dapat diganggu gugat lagi.


"Memangnya siapa kamu hingga bisa menentukan siapa yang ingin aku nikahi dan siapa yang ingin aku cintai. Aku menyetujui apa yang kamu katakan waktu itu, itu semua karena di bawah tekananmu." Yonna menghentakkan tangannya, cengkraman tangan Bara terlepas meninggalkan lingkaran merah di pergelangan tangannya.


"Apa yang terjadi di antara kita tak lebih dari kecelakaan satu malam. Jadi jangan kamu pikir hanya karena satu malam yang singkat itu, kamu bisa merampas kebebasanku!" lanjut Yonna dengan menggebu. Ia mengungkapkan apa yang ada di hatinya saat ini.


"Malam itu memang singkat, tapi bukan berarti malam yang tak memiliki makna. Apalagi ada Noah di antara kita, apa kamu tidak berpikir untuk memberikan keluarga yang lengkap untuk putra kita?"

__ADS_1


"Tentu, tapi tidak denganmu! Karena kita tidak saling mencintai!"


"Cinta? Itu tak masalah, kita bisa belajar mencintai bersama-sama!" jawab Bara begitu mantap seakan menyakinkan.


"Berapa lama kita akan belajar? Satu bulan bulan, satu tahun atau berapa lama? Kamu berkata pada wanita yang dua tahun lebih mencoba belajar mendapatkan cinta dari suaminya. Namun apa yang aku dapat, seorang madu yang datang dengan janin yang ada di dalam rahimnya!"


Mata Yonna berkaca-kaca, perih hati itu kembali ia rasa. Luka hatinya yang belum sembuh kini tersobek kembali dan kian berdarah.


"Apa kamu lupa alasan apa hingga kita bisa tidur bersama malam itu? Karena aku ... si wanita menyedihkan yang sampai begitu kesepiannya hingga menyiapkan aphrodisiac hanya untuk menggoda suami sendiri. Suami sah yang tak mau menyentuh bahkan melihat istrinya sedikit pun karena calon istrinya tak secantik wanita lainnya."


"Kamu, Mas Gavin, Tama atau lelaki manapun. Kalian semua sama! Hanya bentuk fisik dan wajah rupawan saja yang menjadi dasar dari kata yang kalian agung-agungkan itu. 'Cinta' itu semua bulshit! Tak ada cinta untuk seseorang yang tak sempurna! Sekarang keluar dari kamarku! Karena aku muak membahas omong-kosong denganmu!" tandas Yonna dengan bulir kristal yang mulai menetes membasahi pipi.


Bara tak menjawab sama sekali, ia hanya menatap mata wanita di hadapannya itu dalam diam. Ada rasa sakit di hatinya saat melihat di dalam sorot mata itu menyimpan kepedihan yang tak seorang pun dapat memahami kecuali orang itu sendiri pernah berada di posisi tersebut.


Bara semakin mendekat tanpa Yonna sadari. Tangannya terulur menyentuh bahu wanita yang sedang tertunduk menangis tanpa suara itu. Yonna tertegun, ia mengadahkan kepala menatap Bara kembali. Tangan Bara berpindah mengusap air mata itu lembut.


Bara semakin mendekatkan tubuhnya pada Yonna, dengan sekali gerakan lelaki itu membawa wanitanya ke dalam pelukan seakan memberikan kehangatan. Kali ini Yonna tidak memberontak, hatinya terlalu letih untuk kembali berdebat.


"Aku tidak tahu seberapa banyak rasa sakit yang kamu rasakan, seberapa berat beban yang kamu pikul di pundak. Seberapa besar amarah yang kami simpan di dalam hati. Aku benar-benar tidak tahu selain dirimu sendiri. Maaf jika aku juga ikut andil hingga menciptakan luka itu semakin dalam."


Bara menghentikan ucapannya sejenak. Menghirup aroma tubuh Yonna yang mengisi setiap sel dalam tubuhnya. Menenangkan.


"Tetapi apa yang aku katakan itu adalah sebuah kebenaran Alice. Aku ingin memulai semuanya lagi denganmu dari awal. Membangun keluarga kecil kita. Aku hanya butuh sebuah kesempatan darimu, itu saja. Akan aku buktikan jika aku tak akan mengecewakanmu sedikit pun," lanjut Bara tegas.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari mulut wanita yang kini sedang menikmati kehangatan itu. Ia mersakan desiran yang berbeda di dalaam hatinya.


Takdir memang tak pernah bisa di tebak. Pada siapa hati berlabuh dan jodoh yang menjadi dermaga terakhir pelayaran. Hanya Tuhan yang mengetahui segalanya, termasuk hati manusia yang terkadang berubah-ubah seiring hembusan angin yang menerpa.


__ADS_2