
"Bryan, apa yang kamu lakukan di sini?" Noah berjalan mendekati saudaranya yang tampak asik dengan selembar kertas putih yang ia coret-coret dengan pensil kayu berbagai warna.
Pohon rimbun bergoyang saat ada angin bertiup cukup kencang walau sejenak. Hembusan angin itu juga ikut menerpa anak rambut bocah yang lebih banyak diam itu hingga membuat rambut bagian poninya yang panjang menjadi berantakan.
"Bryan, aku bertanya padamu. What are you doing?" tanya Noah kembali.
Bocah yang lebih ceria itu menghempaskan pinggul kecilnya ke atas kursi kayu, tepat di hadapan Bryan yang hanya membalas pertanyaannya dengan lirikan malas. Seakan Bryan berkata dengan matanya. "apa matamu tak melihat apa yang aku kerjakan!"
"Ckkk, mulutmu itu sudah seperti orang bisu saja! Sebel!" decak Noah dengan bibir yang bergerak maju.
Retina mata coklat itu menatap apa yang sedang dilakukan Bryan hingga mengabaikannya.
Sebuah rumah kecil yang berdiri di dekat sawah dengan gunung dan juga matahari berwarna kuning keemasan sebagai pemandangannya jika langit mulai senja. Guratan-guratan pensil warna itu tampak begitu rapi mengikuti garis yang terbingkai.
"Letakkan pensil warnamu itu, temani aku bermain ke rumah sebelah yuk!"
"Rumah gadis centil berkuncir kuda?" tanya Bryan membuka suaranya. Ia tampak tak suka dari raut wajahnya.
Noah menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Selama hampir satu bulan ini Noah sedang dekat dengan seorang gadis kecil yang ternyata teman satu kelasnya di sekolah dasar.
Sama seperti bocah kebanyakan, mereka bermain tanpa memandang gender. Selama merasa nyaman maka akan terjalin persahabatan.
"Ayolah! Cecilia mengajak kita main ke rumahnya, tidak seru kalau cuma aku saja yang pergi ke sana sendirian."
"Malas!" jawab Bryan singkat.
Noah yang tak pernah terima jika permintaannya di tolak terus saja memaksa. Ia menarik pensil yang ada di tangan Bryan, meletakkannya kembali pada tempatnya kemudian menutup buku gambar yang sejak tadi menjadi titik fokus Bryan.
"Nanti saja lanjutin ini. Come on! Accompany me there!"
Noah menarik lengan Bryan untuk ikut bersamanya. Percuma menolak Noah yang pemaksa, karena bocah itu memiliki berbagai cara untuk membuat saudaranya ikut bersamanya.
Langkah kaki kedua saudara itu terasa begitu cepat hingga tak terasa kini sudah masuk ke dalam rumah yang sama besarnya dengan rumah yang mereka tempati.
__ADS_1
"Aunty Merry, apa Cecilia ada?" sapa Noah pada wanita berambut pirang yang kini tengah berdiri di pinggir meja makan dengan selembar roti tawar yang tengah ia olesi selai kacang.
"Ada di kamarnya, bermain dengan Kiky," sahut Merry. Ia tersenyum menatap wajah datar Bryan.
"Baiklah Aunty Merry, kami langsung ke atas ya!" Noah langsung berlalu pergi. Begitupun dengan Bryan yang bagai ekor terus membuntuti Noah dari belakang.
Merry tak menjawab ucapan Noah. Ia melanjutkan kembali kegiatannya mengoles roti kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia sudah terbiasa melihat kehadiran dua bocah itu selama sebulan terakhir ini, lagi pula dalam penilaian Merry, kedua bocah anak tetangga sebelahnya itu adalah dua orang anak yang baik.
Sesampainya lantai atas, Noah langsung menuju kamar gadis cantik yang selalu menguncir rambutnya dengan pita berwarna pink yang menjadi teman bermainnya di sekolah maupun di rumah.
Tok! Tok! Tok!
Pintu yang tertempel stiker kuda pony itu terketuk dengan kuat bersamaan dengan teriakan yang cukup melengking.
"Lia! Open the door! Lia...let's play!" Tak butuh waktu yang lama, pintu itu pun terbuka menampilkan seorang gadis kecil dengan wajah yang masam.
"Kenapa baru datang?" ketus Cecilia.
"Yang pentingkan kami datang. Bawel!" balas Noah.
"Kamu ngajak Bryan juga?"
"Hmm ... sesuai permintaanmu, makanya lama. Ayoklah ... kita main!"
"Ayok!" Cecilia mengajak kedua bocah itu untuk turun dari lantai dua menuju taman belakang yang terdapat pondok yang cukup lebar di atas kolam. Tempat yang paling nyaman untuk mereka bermain, tempat terbuka yang sejuk dan terlindungi dari panasnya sinar matahari.
Di dalam pondok itu masih terdapat beberapa mainan milik gadis kecil itu yang memang sengaja di tinggalkan. Dari peralatan masak-masakan serta beberapa boneka dari berbagai ukuran dan bentuk seperti; panda, beruang dan jerapah, serta boneka berbentuk bayi yang lengkap dengan dot kempeng di mulut boneka gadis kecil itu.
"Kita main apa?" tanya Noah. Ia yang paling bersemangat dengan Cecilia juga tentunya. Sedangkan Bryan memilih duduk di pojok pondok sembari menatap air kolam yang jernih.
"Nikah-nikahan saja! Aku jadi mamanya dan Bryan jadi papanya sedangkan kamu jadi anaknya aja!" ucap gadis kecil itu lebih kepada sebuah titah ketimbang bertanya.
"Ogah jadi anaknya, aku jadi papanya saja!" tolak Noah.
__ADS_1
"Nggak boleh, kamu jadi anaknya saja!" balas Cecilia ngotot.
Noah menatap Cecilia tak terima, sudah beberapa kali mereka memainkan permainan yang Noah anggap membosankan. Ia selalu kebagian menjadi anak bagi mereka berdua, sementara ia juga ingin memerankan peran orang dewasa.
"Pokoknya kali ini aku jadi papanya. Biar Bryan aja yang jadi anaknya!"
"Aku nggak mau menikah denganmu, maunya dengan Bryan jadi ia aja yang jadi papanya! Kamu itu kan kekanakan jadi cocoknya jadi anak saja!" debat gadis kecil yang memakai pakaian denim model kodok dengan kaos pink.
Seakan gadis kecil itu lupa jika dirinya juga masih anak-anak yang manja saat makan dan cengeng saat apa yang ia inginkan tak terpenuhi.
"Kenapa? Aku kan lebih tampan daripada Bryan?" jawab Noah cepat dan penuh percaya diri. Hatinya seperti tersentil saat dirinya mulai dibanding-bandingkan dengan saudaranya itu.
"Bisakah kalian berdua berhenti bertengkar? Kalau kalian berdua masih mau lanjut aku pulang. Berisik sekali!" ucap Bryan kesal. Kedua bocah itu pun terdiam, Cecilia berdiri dan mendekati Bryan seakan meminta pembelaan.
"Bryan ayo kita main. Kamu jadi suaminya, aku jadi istrinya," pinta Cecilia sembari bergelayut manja di lengan Bryan.
Bocah itu menepis tangan Cecilia kasar hingga gadis kecil itu terkejut begitupun dengan Noah.
"Malas! Permainan yang membosankan." Bryan beranjak dari duduknya, ia pergi begitu saja meninggalkan Cecilia dan Noah.
"Main apa itu? Apa nggak ada mainan yang lain. Mending aku menggambar saja," gumam Bryan seorang diri. Ia tak cukup sabar menghadapi sikap manja Cecilia padanya.
Ia tak memperdulikan suara Noah dan Cecilia yang terus memanggil namanya. Entah kenapa saat ini bocah itu lebih menyukai kesendiriannya ketimbang harus bermain dengan teman-temannya.
"Ini karena kamu, jadinya Bryan pergi kan!" omel Cecilia pada Noah.
"Kok jadi nyalahkan aku sih? Kamu yang salah, kenapa juga ngotot. Bryan itu nggak suka sama gadis manja berpita pink," dalih Noah tak terima disalahkan.
"Kenapa? Pita pink ini cantik kok. Kata Mama aku ini anak yang cantik dan manis."
"Masih kalah cantik dengan si Kiky!" Noah menunjuk pada hewan berbulu serta berkumis dengan lonceng di lehernya tampak tengah santai di pinggir kolam sambil menjilati bulu-bulunya yang berwarna putih dan kuning.
"Noah jahat. Huaaah!" Cecilia menangis. Tangisnya yang cukup kencang membuat Noah kelabakan.
__ADS_1
"Dasar cengeng!" umpat Noah kesal sambil menutup kedua telinganya.