Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 97. Kebimbangan hati.


__ADS_3

"Mommy, whose baby sister is this?" Noah membuka pintu kamar secara perlahan, kemudian masuk ke dalam kamar diikuti Bryan dari belakang. Mereka berdua seperti kepala dan ekor yang tak terpisahkan.


"Sini, Sayang! Ini adik bayi kalian berdua. Cantik, kan?"


Yonna menimang bayi mungil itu yang masih saja menangis walau sudah di berikan susu. Mungkin bayi itu merasa tak nyaman, sehingga Yonna menepuk pantat kecil yang di balut kain bermotif boneka itu secara pelan.


Noah mendekat, menatap bayi yang sedang menangis itu penuh minat.


"Kapan bayi itu ada di perut Mommy? Kenapa perut Mommy tidak besar seperti perut Aunty Bianca," ucap bocah pintar itu menyelidik. Yonna tersenyum, salah satu tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala puntranya sayang.


"Mommy kan perutnya kecil, makanya nggak nampak."


"Look! Bayi itu diam. Wajahnya cantik," ucap Bryan membuka suara. Telunjuknya terulur mengusap pipi kecil nan putih itu dengan begitu lembut.


"Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin. Bayi ini langsung diam saat melihat kakak lelakinya berdiri di hadapannya," Yonna membatin di dalam hati.


"Kamu benar, sepertinya ia menyukaimu. Padahal aku lebih tampan darimu!" celetuk Noah asal membuat Yonna terkekeh. Noah selalu saja cemburu jika ada yang tidak memperhatikannya.


"Ya ... ya ... ya. Si merasa paling tampan," cibir Bryan. Pandangan matanya tak lepas dari wajah bayi itu. Telunjuk tangannya digenggam oleh tangan bayi yang tidak memakai sarung tangan itu dengan begitu kuat.


"Memang aku tampan, kamu saja yang tidak menyadarinya," balas Noah jumawa. Ia sedikit mengangkat dagunya angkuh, Yonna akui tingkat kepercayaan diri putranya itu patut diacungi jempol.


"Sudah ... sudah! Jangan bertengkar, nanti adik bayinya bangun, tu lihat matanya mulai meredup," ucap Yonna.


Kedua bocah itu menatap bayi dalam gendongannya, kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Adik kecil, kamu milikku. Besar nanti tetap di sampingku, ya! Jadi bidadari kecilku yang cantik, aku suka kamu!" celetuk Noah yang menarik lengkungan di bibir Yonna.


Ia berpikir itu adalah gurauan anak kecil yang senang mendapatkan adik baru, tanpa ia sadari takdir telah mengikat putranya dengan bayi mungil yang ada di tangannya itu.


Malam kembali menyapa dengan keheningan. Setelah bercengkrama dengan kedua putranya, Yonna kembali bergelut dengan perdebatan yang terjadi siang tadi.


"Apa kamu masih memikirkan perkataan Mama tadi?" tanya Bara menghampiri Yonna. Mereka berdua duduk di sofa yang ada di ujung ranjang.


"Iya, aku bingung, Mas. Kenapa Mama begitu keras menolak bayi cantik itu. Mama bisa menerima Bryan di rumah ini, kenapa tidak dengan bayi mungil itu? Bukankah mereka berdua sama-sama lahir dari Ibu yang sama?


"


Bara menghela napas. "Mereka berdua berbeda Alice. Bryan anak Gavin, di dalam dirinya masih mengalir darah keluarga Apsara. Ikatan batin antara Mama dan Bryan pun bisa terjalin karena hubungan darah itu. Sementara bayi itu, kita tak tahu pasti siapa bapaknya. Apakah Dion atau mungkin lelaki lain!" Bara menoleh ke arah bok bayi yang kini sudah tersusun rapi di sebelah kiri ranjang.


"Apa yang dikatakan Mama ada benarnya juga, kita tak bisa mengasuh bayi itu. Kita carikan saja orang tua yang mau mengadopsinya dan sayang padanya. Mungkin itu akan lebih baik," saran Bara pada Yonna. Ia kembali menoleh pada istrinya, kedua mata mereka berdua saling bertemu pandang.


"Kamu kok tega begitu sih, Mas? Walau bagaimanapun bayi itu adalah adiknya Bryan. Tak seharusnya kita memisahkan mereka. Lagi pula, Bryan dan Noah sangat suka dengan bayi yang mereka anggap adiknya," debat Yonna. Ia masih kekeuh dengan pendapatnya.


Hati kecilnya begitu menginginkan bayi itu, entah karena rasa sayang, atau mungkin karena rasa ingin memiliki bayi lagi yang menjadi alasannya untuk mempertahankan bayi itu agar tetap tinggal bersamanya.


"Bukan karena tega nggak tega, Alice. Tetapi banyak yang harus kita pertimbangkan ke depannya. Aku mengerti keinginanmu, tetapi ada beberapa hal yang tak dapat kita kendalikan dan kita putuskan sesuka hati kita."


"Jadi maksud kamu, kita membiarkan anak itu diambil orang lain? Kita lepas dari tanggung jawab, itu maksud kamu, Mas?"


Bara mengusap wajahnya kasar. Ia bingung bagaimana menjelaskan pada istrinya, seribu penjelasan pun tak akan ada artinya bagi Yonna. Karena Bara sadar yang diinginkan istrinya saat ini bukanlah penjelasan, tetapi kaya "iya" atas apa yang ia inginkan saat ini. Mengasuh bayi perempuan yang mulai merasuki hatinya.

__ADS_1


"Atau begini saja, Mas. Jika Mama melarang kita mengasuh bayi ini di rumah ini, bagaimana kalau kita kembali lagi ke rumah kita yang lama saja. Kita bawa anak-anak sekalian! Aku bisa kok merawat mereka bertiga sendiri," ucap Yonna memberi pilihan yang tetap pada keinginannya.


Mungkin sedikit terdengar egois, tetapi ia tetaplah seorang Ibu yang memiliki banyak kasih sayang yang ingin ia curahkan. Tuhan hanya memberikannya satu kali kesempatan memiliki bayi dari rahimnya sendiri.


"Mama pasti menolak dengan tegas usulan kamu itu. Kamu ingat sendiri kan, sejak Gavin meninggal, Mama bersikeras kita tinggal di rumah ini dan tidak kembali lagi ke rumah lama."


"Tapi Mas, aku sudah terlanjur sayang dengan bayi ini. Kamu tahu sendiri hingga detik ini kita belum juga di karuniai anak kembali, dokter juga mengatakan kemungkinan punya anak itu sedikit sulit akibat obat-obatan yang selama ini aku konsumsi," ucap Yonna terdengar begitu lirih. Ia mengalihkan pandangan matanya pada bayi yang masih tertidur lelap itu.


Menarik napas panjang untuk menghirup aroma minyak telon serta bedak yang kini menjadi aroma khas kamar itu untuk saat ini. Aroma yang sudah tak lagi ia dapati selama 8 tahun terakhir.


Bara menghela napas, ia paling tak bisa jika di hadapkan dengan wajah istrinya yang tampak begitu sedih.


"Coba nanti, aku bicara lagi pelan-pelan dengan Mama. Untuk sementara waktu, jangan tunjukkan wajah anak itu pada Mama. Ia pasti akan emosi kembali melihat anak itu."


"Sekarang sudah malam, ayo kita tidur!" lanjut Bara. Matanya melirik jam dinding yang telah menunjukan pukul sebelas malam.


"Kamu tidur duluan saja, Mas! Aku amsih belum ngantuk."


"Tidak bisa begitu Alice! Tubuhmu ini juga butuh istirahat, seharian ini kamu sudah sibuk mengurus Noah dan Bryan serta rumah. Kini di tambah lagi seorang bayi yang akan membuatmu semalaman terjaga. Mumpung bayi itu tidur, sekarang kamu tidurlah!" titah Bara mulai menatap tajam seperti atasan yang menekan bawahannya untuk paruh pada perintahnya.


Jika sudah begitu, Yonna hanya bisa mengalah. Ia pun ikut beranjak ke ranjang, berbaring dengan otak yang masih setia untuk bertarung.


Ia masih memikirkan bagaimana ke depannya. Bagaimana jika mertuanya tetap memaksa untuk membuang bayi itu ke panti asuhan atau memberikannya pada orang lain untuk diadopsi?


Haruskah ia merelakan anak yang telah masuk ke dalam hatinya? Atau melawan yang akhirnya membuat hubungannya dengan mertua menjadi renggang?

__ADS_1


__ADS_2