
Setelah acara akad nikah di masjid mereka semua kembali pulang ke rumah. Tak ada acara lain setelahnya, hanya sekedar acara makan-makan dan membagikan santunan pada anak yatim saja. Tak ada pesta ataupun iring-iringan pengantin seperti yang Yonna lakukan dulu saat ia menikah dengan Gavin.
Seharian Bara hanya diam-diam melirik istri yang terus mengabaikannya. Malam kian larut, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Wanita itu seakan menganggapnya tak ada. Sedikit pun tak mnegajaknya bicara apalagi menoleh melihat dirinya yang sudah berbaring di atas ranjang dengan leptop yang ada di pangkuan.
Bara tak benar-benar bekerja, ia hanya sedang sedikit mengalihkan kecanggungannya atas kesunyian yang Yonna ciptakan.
Yonna yang baru keluar dari kamar mandi duduk di depan cermin untuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdryer.
Barulang kali Bara meneguk ludah dengan susah payah. Otaknya kini sudah berkelana liar menatap tubuh Yonna dari balik gaun tidur berwarna hitam yang kontras dengan warna kulitnya itu. Apalagi belahan dada yang menyembul di balik belahan linggrie seakan memanggilnya untuk di sentuh.
“Ada apa? Kenapa raut wajahmu begitu?” tanya Yonna akhirnya membuka suara.
“Kamu kapan selesai? Ayo kita tidur!” balas Bara dengan percakapan random.
Bara menyimpan alat kerjanya ke atas nakas. Lalu berdiri dari ranjang untuk menghampiri istrinya. Bara memeluk Yonna dari belakang yang sukses membuat tubuh wanita itu sedikit menegang.
Aroma wangi semerbak menguar dari tubuh ramping itu. Aroma buah-buahan yang segar. Wajah polos tanpa make up, hanya polesan lip tint yang membuat bibir itu berubah seperti apel merah yang ranum dan segar.
“Kamu terlalu lama, Sayang. Jangan menggodaku dengan tatapan mata itu,” ucap Bara dengan suara yang semakin berat.
Yonna menarik sudut bibirnya ke atas. Ia langsung berdiri dari duduknya dan berputar menghadap Bara. Ia melepaskan jubah yang menutupi pundaknya, jubah berbahan yang sama dengan lingerie hitam yang ia kenakan.
__ADS_1
“Memangnya apa yang akan kita lakukan selanjutnya, hmm?” tanya Yonna semakin menggoda. Tatapan matanya yang liar begitu menantang. Lagi-lagi Bara menelan ludah melihat gerakan seksi istrinya yang tak pernah ia bayangakan sebelumnya.
Ia menjadi gemas dan tertantang ingin melihat apa yang akan Yonna lakukan terhadapnya malam ini. Bila perlu ia akan bersikap seperti anak baik yang menikmati servis pelayanan dari wanita halalnya itu.
Yonna memajukan langkah kakinya yang sontak membuat langkah kaki Bara mundur ke arah ranjang. Hingga kaki itu mentok di sudut ranjang, Yonna dengan tangannya mendorong tubuh Bara hingga pria itu terlentang di atas ranjang.
Yonna menaiki salah satu kakinya ke atas ranjang tatapan matanya yang nakal masih terus menatap Bara menggoda dan kembali menaikan satu kakinya yang masih berpijak di lantai dengan gerakan yang sensual. Dan sekarang ia berdiri tegak dengan kedua kaki yang terlipat ke belakang diantara pinggung Bara.
Posisi mereka terbalik saat ini. Yonna tampak begitu mendominasi meniaki tubuh Bara yang menegang dari atas hingga bawah. Yonna seperti memainkan peran sebagai wanita penggoda yang begitu liar.
Jemari lentik itu mulai menari di atas dada bidang Bara. Melepas satu persatu kancing baju lelaki itu hingga piyama yang ia kenakan terbuka lebar. Kini jari itu menari di atas kulit dadanya, membuat gerakan random yang memantik api dalam diri lelaki itu semakin berkobar.
Yonna terkekeh penuh kepuasan melihat Bara yang mulai tersiksa menahan gejolak di dalam dirinya. Menggoda pria yang menjadi suaminya ini akan menjadi sangat menyenangkan untuknya. Yonna kembali melakukan aksi nakalnya. Ia mendekatkan wajahnya, menghembuskan nafasnya di ceruk leher pria tersebut.
“Kena kau!” batin Yonna senang.
“Shit! Kenapa ia begitu menggoda malam ini, membuatku cepat hanyut dan tergoda dalam permainannya. Rasanya sesak dan tak tertahankan. Aku tak sanggup menahannya lagi!” Kali ini batin Bara yang mengumpat.
Ia tak ingin langsung menerkam istrinya seperti singa yang lapar dan membuat istrinya itu ketakutan. Ia masih ingin menikmati sisi lain istrinya yang lebih berani daripada yang ia kira dan jarang bisa ia temukan.
“Kenapa kamu berkeringat Sayang? Apa AC-nya kurang dingin?” melihat situasinya mulai membahayakan Yonna mulai beranjak dari tubuh Bara, ia rasa cukup bermain-main dengan suaminya malam ini.
__ADS_1
Bara mengeram ketika istrinya hendak beranjak dari tubuhnya. Tangan Bara dengan cepat menahan pinggulnya dan memutar posisi mereka hingga kini Yonnalah yang berada di bawah kungkungan tubuh lelaki itu.
“Apa kamu ingin pergi setelah membuatku seperti ini, Sayang. Itu tidak bisa, kamu harus bertanggung jawab padaku!”
Bara langsung menyambar bibir merekah sang istri. Menahan kedua tangan wanitanya di atas kepala dengan satu tangan. Sedangkan tangan satunya lagi menahan tengkuk wanita itu agar tidak dapat mengalihkan wajahnya.
Lum-atan demi lum-atan yang Bara berikan pada Yonna benar-benar begitu cepat, memburu, memohon dengan buas dan brutal. Tanpa ampun Bara mengecap bibir manis merah milik istrinya.
Bara tak dapat menahan dirinya lagi, ia butuh Yonna malam ini. Begitu mendamba sentuhan demi sentuhan wanita itu serta jeritan kecilnya saat berada di bawah tubuhnya seperti dulu.
Darah Yonna berdesir kencang akibat ciuman panas yang diberikan suaminya. Dadanya mulai sesak karena tak ada lagi pasokan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya.
Menyadari istrinya kehabisan napas, Bara melepaskan tautan mereka serta tangannya yang menggenggam kedua tangan istrinya. Meletakkan keningnya di atas kening sang istri. Dada Yonna naik-turun tak beraturan, wanita itu dengan rakus menghirup semua pasokan udara yang ada untuk mengisi paru-parunya kembali.
Bara tersenyum dengan smirk iblisnya, ia tahu Yonna tadi hanya ingin bermain-main dengannya. Tapi sayangnya permainan ini harus sampai tuntas. Itu baru permainan yang mengesankan, menurutnya.
Di tengah nafasnya yang masih memburu, lelaki itu kembali melanjutkan aksinya. Menuju ceruk leher Yonna dan memberikan kecupan-kecuoan lembut yang lama kelamaan berubah menjadi lebih kuat hingga meninggalkan jejak hickey di atas kulit putih sang istri.
Tanpa sadar Yonna mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan begitu erat, menahan agar tidak mengeluarkan suara apa pun yang nanti akan membuatnya mengutuk dirinya sendiri karena rasa malu.
Bara semakin bersemangat melakukan aksinya hingga membuat Yonna tak sadar hingga melepaskan suara yang mati-matian ia tahan. Ia semakin terhanyut dengan gerakan tangan lelaki itu yang mulai nakal menjelajahi setiap lekuk tubuhnya dan memberikan remasan kecil di bagian kedua puncak dadanya.
__ADS_1
Akankah Yonna kalah dan menyerahkan dirinya? Atau masih ada permainan lain yang akan ia lakukan?