
Yonna membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa berdentum begitu kuat. pusing. Perutnya pun terasa keram yang begitu hebatnya. Yonna menarik tubuhnya sembari meringis. Tetapi sebuah tangan kekar menahan tubuhnya agar tidak dapat berdiri. Yonna menoleh.
"Jangan banyak bergerak dulu, berbaringlah! Kondisimu masih buruk!"
Yonna menggelengkan kepala, ia mengulurkan tangannya dan meminta Bara untuk membantunya bersandar pada kepala ranjang. Dengan telaten Bara membantu istrinya, ia juga merapikan bantal di belakang punggung Yonna agar wanita itu bisa merasa nyaman. Yonna menatap Bara dengan tatapannya yang sendu.
"Apa ada yang tak nyaman? Apa masih sakit?"
Yonna menggelengkan kepala perlahan, ia memindai seluruh ruangan yang didominasi warna putih. Lalu menjatuhkan pandangan matanya pada selang kecil yang terhubung ke punggung tangannya.
"Apa yang terjadi denganku?"
Bara kembali duduk di kursinya. Ia merapakan kursi itu semakin dekat ke ranjang. Meraih tangan istrinya yang tidak terpasang impus dan mengusapanya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu keguguran Sayang, karena kandungan yang lemah dan—" Bara menjeda ucapannya, ia menatap wajah Yonna yang begitu terkejut.
"Keguguran? Berarti aku hamil?" ulang Yonna tak percaya. Bara mengangguk.
"Jangan lagi mengonsumsi pil itu, Sayang. Bukan hanya tak bagus buat janin, tapi juga tak baik untuk dirimu. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu."
Yonna menatap Bara dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu tidak marah padaku, Mas? Maki aku! Marah dan hina aku! Aku salah dan aku pantas mendapatkan itu," ujarnya dengan begitu lirih. Sepasang bulir bening jatuh ke pipi.
Rasa sesal itu menghantui, berbaur dengan segala rasa yang tak mengenakkan di hati dan tak kunjung untuk pergi.
"Tidak, aku tak pantas marah padamu. Aku tahu kamu juga tidak tahu akan hal ini kan, tapi aku minta untuk kedepannya, jangan ada lagi yang kamu sembunyikan dariku. Setiap masalah ceritakan padaku," pinta Bara dengan nada yang begitu lembut.
Yonna kembali menangis, bukan hanya karena rasa bersalah tetapi juga karena sikap Bara yang begitu baik padanya hingga membuat dirinya menjadi begitu kerdil.
Yonna lebih mudah menghadapi Bara yang meluapkan amarahnya daripada Bara yang bersikap lembut dan sabar seakan begitu mencintainya seperti itu.
__ADS_1
Bara mengusap air mata istrinya dengan kedua ibu jari menangkup wajah bermata sendu itu.
"Maafkan aku." Hanya dua baris kata itu saja yang keluar dari bibir tipis nan merah istrinya.
"Lupakan semua yang terjadi, kita mulai semuanya dari awal. Ok! Kamu, aku dan anak-anak kita nantinya. Aku akan terima istriku dalam keadaan apa pun, baik cantik ataupun tak menarik lagi. Aku ingin kita menua bersama-sama. Baik sekarang ataupun dulu, bagiku kamu tetap cantik, Sayang!"
Yonna terpaku, hatinya luluh. Kata-kata yang keluar dari mulut Bara terdengar begitu manis di telinganya. Yonna tersenyum.
Bara memajukan punggungnya, ia yang tak tahan dengan godaan bibir sang istri langsung menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan membuat Yonna terbuai. Bersama Bara ia merasakan yang namanya dicintai dan dibutuhkan.
Tak pernah sekalipun pria itu mengatakan perkataan yang menyakiti dirinya, membuat Yonna merasa dihargai dalam sebuah hubungan.
Rasa yang Bara berikan perlahan-lahan menghancurkan benteng pertahanan yang ia jaga dengan begitu kokohnya. Pada dasarnya semua wanita sama, mereka ingin diperlakukan dengan lembut.
"Khmm ... Hmm," suara berdehem dari mulut Vano membuat pasangan suami-isteri itu terkejut. Bara melepaskan tautan bibirnya dan menoleh pada adik iparnya yang sudah berdiri di depan pintu dengan senyum jenaka.
"Bisakah kalian berdua menghargai perasaan jomblo sepertiku yang tak memiliki tempat pelampiasan setelah melihat adegan live yang kalian pamerkan!" sungut Vano dengan bibir yang mencebik kesal.
Yonna mengalihkan pandangan matanya menatap ke samping, pipinya merona malu menyadari dirinya terpergok oleh adiknya sendiri.
Vano berjalan mendekat dengan wajah masam. "Kalian berdua yang tak tahu tempat!" omel pemuda yang kini berambut panjang itu.
Vano memilih duduk di pinggir ranjang Kakaknya di bawah kaki, tepat di samping Bara yang menghadap berlawanan.
"Bagaimana keadaanmu, Kak?" tanya Vano beralih pada Yonna. Yonna menatap adiknya yang kini semakin dewasa. Begitu tampan hingga banyak wanita yang terpikat padanya, akan tetapi Vano masih betas sendiri. Belum ada satu orang wanita yang berhasil mengisi kekosongan hatinya itu.
"Baik, Mama dan Papa bagaimana keadaannya?"
"Baik juga, mereka berdua tadi di sini menemanimu, tapi sudah pulang naik taksi."
"Lalu kenapa kamu masih di sini? Kenapa tidak mengantarkan mereka pulang?"
__ADS_1
Vano melebarkan matanya tak percaya. "Kamu mengusirku, Kak? Adik tergantengmu ini bela-belain tidur di sini untuk menjagamu. Tapi kamu justru mengusirku."
Vano menundukkan kepalanya, memasanga raut wajah sedih untuk mendramatisir keadaan. Bara memutar bola matanya jengah melihat aktingnya yang begitu mahir.
"Kenapa tidak menjadi aktor saja. Aku yakin kamu pasti akan mendapatkan piala award," ejek Bara.
"Ckkk, kamu lihat suamimu ini. Ia tak menyukaiku!" adu Vano pada Yonna. Seperti anak kecil yang merengek pada ibunya atas kenakalan temannya.
"Jangan percaya ucapannya. Ia masih disini karena ingin mendekati perawat cantik yang membuat matanya tergoda. Mungkin saja besok adikmu itu akan menginap di rumah sakit ini sebagai pasien!" cibir Bara lagi pada Vano yang mengerjapkan mata karena baru saja mendapatkan ide yang menurutnya sangat cemerlang.
Yonna melebarkan mata mendengar ucapan suaminya, hal yang mengembirakan jika akhirnya adik satu-satunya ini tertarik pada seorang wanita.
"Kenapa aku tidak kepikiran sedari tadi ya, ternyata kamu benar-benar jenius kakak ipar!" Vano turun dari ranjang dengan wajah yang cerah.
Langkah kakinya dengan antusias pergi ke luar kamar tanpa pamit ataupun berbasa-basi. Yonna cukup melongo dengan tindakan absurd adiknya itu.
"Sejak kapan orang sehat bersemangat menjadi pasien rumah sakit? Dasar aneh!" celetuk Bara tak percaya. Ia ikut tersenyum tipis melihat tingkah Vano yang sedikit impulsif.
"Aku jadi penasaran, wanita seperti apa yang membuatnya menjadi seantusias ini?" tanya Yonna menatap wajah suaminya.
"Wanita berlesung pipi dan sedikit cerewet yang menjadi perawat di bangsal sebelah."
"Kenapa kamu bisa tahu?" Yonna memicingkan mata menatap suaminya curiga.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tentu saja aku tahu, karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana tingkah konyol adikmu itu, seperti ulat bulu. Selalu menempel membuat bulu kudukku merinding."
Yonna tertawa, Vano memang tipe lelaki yang sulit tertarik dengan wanita lain. Tetapi sekalinya ia tertarik, pemuda itu akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Yonna masih ingat bagaimana dulu adiknya itu baru mulai tertarik dengan lawan jenis.
Lawan yang ia pilih justru wanita yang usianya terpaut jauh darinya. Hingga cinta pertamanya kandas karena wanita itu lebih dulu menikah meninggalkan Vano yang masih memakai seragam putih abu-abu, menjadi patah hati seorang diri.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Yonna yang seketika menghentikan tawanya. Tatapan mata suaminya yang begitu intens serta sapuan lembut di punggung tangan Yonna, menjadikan wanita itu salah tingkah.
__ADS_1
"Tersenyumlah seperti itu di dekatku, Sayang. Agar aku tahu kamu selalu bahagia bersamaku," ujar Bara membuat pipi Yonna kembali memanas.
Kalimat yang keluar dari mulut Bara seperti gombalan receh terdengar di telinga Yonna, yang mampu membuat hatinya ketar-ketir. Menghadirkan Rona di wajah Yonna kembali muncul. Jantungnya seakan sedang melompat-lompat riang.