
Bara menggendong Yonna dan meletakkannya ke atas kloset duduk. Tubuh wanita itu terasa begitu lemas bahkan untuk menegakkan tubuhnya saja ia tak lagi memiliki tenaga. Tenaganya sudah terkuras habis tak bersisa.
“Apa kamu mau aku bantu untuk mandi?” tawar Bara yang dihadiahi tatapan mata Yonna yang melebar. Ia tak yakin jika suaminya hanya akan membantunya mandi tanpa ada hal jahil lagi yang akan dilakukan lelaki itu.
“Nggak! Aku yakin kamu akan membuat tubuhku mati rasa!” cibir Yonna yang kembali di balas kekehan pelan dari mulut Bara.
Yonna sadar akhir-akhir ini suaminya telah berubah banyak. Lebih banyak tersenyum dan tertawa, berbeda dengan Bara dulu yang sering memasang wajah datar.
“Keluarlah! Aku mau mandi, tubuhku terasa lengket sekali!” usir Yonna. Bara mengangguk dan tak ingin berdebat lagi dengan Yonna.
Lelaki yang hanya memakai celana pandek santainya itu, keluar dari kamar mandi sambil bersenandung riang Yonna berdecak mendengar.
“Kenapa ia seakan tak ada capeknya. Seperti baterai ponsel yang penuh habis di cas, sedangkan tubuhku. Ya Tuhan … pinggangku ngilu!” rutuk Yonna pelan sembari memegang pinggangnya yang remuk redam. Tak dapat lagi ia gambarkan bagaimana rasanya.
Yonna berdiri, ia berjalan tertatih dengan kekuatan sepeda roda tiga yang dikendarai balita satu tahun. Begitu lambat memulai ritual mandinya, shower yang hidup menjatuhkan ribuan tetes air dingin yang memanjakan tubuhnya dengan pijatan-pijatan lembut yang menerpa kulitnya.
Saat mandi Yonna tak sengaja melihat tubuh polosnya dari balik pantulan cermin bulat, yang terpasang di dinding wastafel yang berhadapan dengannya. Tampak begitu jelas setiap tanda merah yang Bara berikan di tubuh putih mulusnya itu.
“Apa ia serigala yang baru berbuka setelah sekian waktu berpuasa? Begitu beringas hingga tak menyisakan sedikit pun ruang di tubuhku. Semuanya ia kasih tanda, persis seperti kucing jantan yang menandakan daerah otoritasnya.” Gumam Yonna menilai suaminya itu.
Setelah mandi dan merasa seluruh tubuhnya bersih, Yonna keluar dari kamar mandi dengan bathrobe serta handuk kecil di tangan untuk mengusap-usap rambut panjangnya yang basah.
Matanya menatap paperbag yang ada di atas ranjang. Ia melihat isinya,terdapat sebuah dres yang tertutup yang sesuai dengan ukurannya. Sementara Bara tak ada, Yonna memakai dres tersebut di dalam kamar itu. Sangat pas.
~ ~ ~
__ADS_1
“Semua sudah selesai saya siapkan di atas meja, Pak,” ujar Aidan memberi laporan pada Bara yang sedang duduk santai di ruang tamu dengan ipad di tangannya. Ia sedang memeriksa beberapa file penting. Bara hanya mengangguk pelan tanpa menoleh.
Aidan sudah datang sejak satu jam yang lalu, tetapi Bara yang masih bergelut bersama istrinya di bawah selimut, sedikit pun tak menghiraukan panggilan lelaki itu berulang kali di ponselnya.
Alhasil pria itu hanya bisa menunggu seperti anjing penjaga di luar rumah dari matahari yang masih terang hingga tenggelam ditelan gelap malam. Setelah masuk ke dalam rumah pun ia masih harus mengerjakan pekerjaan yang berlawanan dengan tugasnya.
Memanaskan makanan yang ia beli ke dalam microwave dan menyusunnya di atas meja makan. Menjadi asisten Bara selama bertahun-tahun membuatnya terlatih mengerjakan segala hal untuk lelaki itu. Aidan mendudukkan pinggulnya pada sofa empuk yang ada tepat di hadapan Bara. Bara meliriknya dengan tajam.
“Ada apa Pak, apa ada yang salah?” tanya Aidan polos.
“Kenapa masih di sini? Pulang sana!” usir Bara begitu tega.
“Apa Anda tak ingin mengajak saya makan bersama dulu, Pak? Ini sudah jam makan malam.”
Aidan melirik benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya. Kebetulan sekali ia juga sudah lapar, sementara jarak rumahnya dan tempat itu cukup jauh jika ia harus pulang ke rumah.
“Tapi Pak, jarak rumahku jauh dari sini, kalau aku pulang sekarang yang ada jam makanku akan terlewatkan. Biarkan aku makan di sini ya, Pak. Janji nggak akan mengganggu. Lagi pula makanan itu aku beli tiga porsi,” pinta Aidan memasang wajah memelas.
Bara menatap Aidan tajam. Aidan mengerti arti tatapan itu, jika ia terus memaksa bisa di pastikan gaji bulan depannya akan terancam.
“Baiklah, aku pulang Pak! Aku akan makan di luar saja. Masih banyak restoran enak yang ada di dekat sini. Ok!” Aidan menggaruk punggung kepalanya dengan canggung seraya berdiri dan langsung pergi.
Yonna yang sudah siap dengan dress yang melekat rapi di tubuhnya itu turun dengan anggun.
“Bukankah itu Aidan?” tanya Yonna mendekati Bara. Ia melihat punggung asisten bara itu sebelum pria itu menghilang di balik pintu depan sana.
__ADS_1
“Iya, sudahlah jangan pedulikan ia. Ayo kita makan, kamu pasti sudah laparkan Sayang!” Bara bangkit, ia meraih pinggul Istrinya, mengajak istrinya ke meja makan.
Mereka berdua makan dalam suasana santai. Menu seafood kesukaan Yonna tersaji di meja, sembari makan mata Yonna memperhatikan setiap detail rumah tersebut. Bara tersenyum menyadari apa yang dilakukan istrinya.
“Apa kamu suka rumah ini?”
“Rumah siapa ini?” tanya Yonna balik. Ia menatap wajah suaminya yang begitu cerah secerah mantari pagi yang memamerkan sinarnya.
“Rumah yang aku persiapkan untuk anak dan istriku, sudah lama si ... jauh sebelum kamu dan Gavin menikah. Jadi barang-barang yang ada di rumah ini memang tampak sudah lama,” jelas Bara. Yonna terkesima mendengar penuturan suaminya.
“Sebelum aku menikah dengan Mas Gavin? Jadi sejak dulu ia sudah berencana untuk menikah. Tetapi dengan siapa? Apa ada gadis yang ia sukai? Aku tak pernah tahu jika seorang Bara memiliki kekasih. Atau jangan-jangan ia jatuh cinta pada seorang gadis dan rumah ini ia siapkan pernikahannya dengan gadis itu, tetapi cintanya di tolak. Menyedihkan sekali!” pikir Yonna. Ada rasa kecewa yang hadir di hatinya, ia tak tahu kenapa dirinya merasa sedih mendengar kenyataan itu.
“Akhir pekan kita akan pindah ke rumah ini. Jika ada furniture yang tidak kamu sukai, kamu bisa mendesainnya ulang. Aku akan memanggil seorang arsitek untuk mendesain setiap ruangan seperti yang kamu inginkan,” lanjut Bara.
Yonna menggeleng, moodnya sudah rusak dengan pikirannya sendiri. Ia meraih gelas bening yang ada di hadapannya. Meminumnya sedikit untuk membantu mendorong makanan yang susah lolos di tenggorokan.
“Tidak perlu, semua furniture di rumah ini tampak masih sangat bagus. Tetapi menurutnya sebaiknya kita tak langsung pindah dari rumah Mama. Bukannya kamu setuju jika untuk beberapa waktu kita akan tinggal di sana dulu. Biarkan Noah mengenal keluarga Papanya dulu.”
Wajah Bara seketika berubah datar mendengar penolakan sang istri yang terdengar begitu halus. Tentu saja Yonna menolak akan keputusan suaminya itu, masih ada beberapa hal yang perlu ia lakukan di rumah itu.
Jika ia pindah otomatis semua yang ia rencanakan akan hancur berantakan. Bara berpindah ke belakang kursi istrinya. Bara meremas pundak wanita yang masih mencoba memberontak, jika ada sesuatu yang tidak ia suka atau disetujui.
“Aku tidak meminta pendapatmu, Sayang. Tetapi aku memberitahukan padamu jika kita akan pindah minggu depan. Suka atau tidak suka, seorang istri harus patuh dan nurut sama suami!” bisik Bara pada telinga Yonna.
“Aku tahu semua apa yang sedang kamu rencanakan Sayang, sekalipun pernikahan ini tidak kamu inginkan, dan tidak dibangun atas cinta kedua belah pihak. Tetapi aku tak pernah berniat untuk bermain-main di dalamnya. Jadi lakukan tugasmu sebagai seorang istri dan jangan melakukan apa pun yang bisa membuatku marah. Dan satu hal lagi, aku tak suka jika milikku disentuh oleh orang lain, apa yang ada di tubuhmu itu semua adalah milikku! Hanya aku yang boleh menyentuhnya!” ujar Bara tegas.
__ADS_1
Tubuh Yonna menegang, ia mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang tampak begitu menakutkan. Lelaki itu sedang mengancamnya!