Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 41. Menuntut penjelasan.


__ADS_3

“Untuk apalagi ia mengirimiku pesan?” gerutu Yonna di suatu pagi yang begitu cerah di hari liburnya yang tersisa hanya dua hari itu. Gavin kembali mengiriminya pesan singkat setelah panggilannya terus di tolak Yonna.


Pria itu semakin agresif menelponnya setiap hari. Yonna terpaksa memblokir nomor ponsel pria itu, tetapi tampaknya lelaki itu tak mudah menyerah dan kembali menghubunginya dengan nomor baru.


Yonna tersenyum tipis duduk pada bangku taman, di bawah pohon mangga yang ada di halaman belakang seraya meminum coffe di cangkir keramik bermotif bunga di tangannya sembari mengenang betapa gigihnya pria itu dulu ingin menikahi selingkuhannya dan meninggalkan dirinya.


Sama seperti saat itu, Yonna yakin saat ini pria itu juga melakukan hal yang sama dengan istrinya. Menyakiti perasaan istrinya hanya untuk mengejarnya. Bibir Yonna berkedut.


“Maaf nyonya muda, Anda di panggil Nyonya besar di ruang tamu segera! Itu … itu,” ucapan pelayan itu terputus, menarik napas perlahan yang seakan putus di tenggorokan.


Raut wajahnya yang gelisah dan bingung membuat Yonna penasaran, wanita itu pun mengerutkan dahinya dalam. Meletakkan cangkir yang ada di tangannya ke atas meja. Hari masih terlalu pagi untuk memulainya dengan sederetan masalah yang ia sendiri tak tahu apa.


“Ada masalah apa? Kenapa ekspresi wajahmu tak sedap dipandang seperti itu?” tanya Yonna pada pelayannya yang baru saja mendekatinya dengan tergepoh-gepoh.


“Itu Nyonya muda … bagaimana aku menjelaskannya ya. Sebaiknya Nyonya lihat saja sendiri di depan!” ujar pelayan itu lagi.


Yonna semakin merasa aneh, apa yang terjadi hingga pelayannya begitu sulit mengatakan hal itu padanya. Yonna melirik sekilas benda kecil yang melingkar di pergelangan tangannya, masih pukul 9 pagi. Tetapi paginya yang begitu cerah untuk bersantai dengan pantulan matahari pagi yang mengandung banyak vitamin D itu harus terusik.


Yonna beranjak dari duduknya masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. Matanya melebar dengan sempurna menatap puluhan hadiah yang dikemas dengan kotak kaca yang diberi pita dan bunga, tersusun rapi di ruang tamu.


Kotak itu berisi banyak sekali perlengkapan wanita mulai dari; pakaian, sandal, alat make up, tas dan banyak lagi yang menatapnya saja membuat Yonna menggelengkan kepala tak percaya. Semua itu seperti hadiah hantaran pengantin.


Matanya kembali melebar dan seakan ingin melompat dari tempatnya saat melihat siapa yang bertanggung jawab atas semua barang yang memenuhi ruang tamunya itu. Bara tersenyum manis padanya dengan luka lebam di pipi serta sedikit sobek di sudut bibir, pria itu duduk di antara keluarganya yang memasang raut wajah aneh.

__ADS_1


“Ada apa ini?”


“Seharusnya kami yang bertanya padamu, Nak. Ada apa ini dan apa yang kamu sembunyikan dari kami?” ujar Robert membalikkan pertanyaan putrinya.


Robert menatap putrinya tajam, seperti polisi yang siap mengintrogasi. Ia cukup terkejut mendapati mantan kakak ipar putrinya itu datang dengan begitu banyak hadiah yang pria itu bawa. Walau ia memiliki kenangan tak menyenangkan dengan keluarga Apsara, Robert masih berusaha bersikap sopan dengan mempersilakan lelaki yang kini telah melewati umur kepala tiga itu.


Robert mendengarkan maksud dan tujuan pria yang masih single di usianya yang tak lagi muda tersebut. Betapa kagetnya ia mendengar lelaki yang duduk di hadapannya ini datang ingin melamar putrinya untuk menjadi istrinya.


Mendapati penolakan yang cukup keras dari Robert yang tak ingin putrinya kembali menderita masuk ke dalam keluarga yang sudah meninggalkan bekas luka di hati putrinya.


Bara pun akhirnya menjelaskan bahwa dirinya dan Yonna telah memiliki seorang putra. Melayanglah sebuah tinju yang akhirnya memberikan warna biru keunguan di salah satu pipinya. Aidan yang menjadi pendamping hanya memilih untuk berdiri dalam diam tanpa membantu setelah melihat kode dari tangan bosnya saat ia hendak bertindak.


“Mommy, is there a party why are there so many gifts here?” seru Noah dari lantai atas. Bocah itu baru saja keluar dari kamarnya. Dengan langkah bersemangat bocah itu menuruni tangga dan menghampiri Yonna yang berdiri dengan tubuh menegang.


“Mommy, apa Uncle ini pemilik baju yang ada di kopermu itu?” tanya Noah sontak membuat semua yang ada di ruang tamu itu menatap Yonna secara bersamaan.


Yonna tertegun, lidahnya semakin kelu untuk mengeluarkan sepatah kata saja. Ia sadar putranya itu begitu cerewet dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, tetapi ia tidak mengira jika Noah akan bertanya hal itu di saat seperti ini.


“Baju? Apa benar itu, Nak? Kenapa Bajunya bisa ada di kopermu?” Maya yang sedari diam kini mulai membuka suaranya.


Diam-diam wanita paruh baya itu sedari tadi memperhatikan wajah Noah dan Bara secara bergantian. Kini ia baru menyadari jika cucunya itu sangat mirip dengan pengacara itu ketimbang dengan mantan suami putrinya.


“Eh .. i-itu, i-tuu tidak yang seperti kalian pikirkan, te-tetapi …,” ucapan Yonna terbata. Ia bingung haru mengatakan apa untuk menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Ia menatap sengit pada Bara yang justru asik mengusap wajah putranya dengan sayang. Binar mata lelaki itu begitu bahagia memandang bocah lima tahun di hadapannya.


“Vano, bawa Noah pergi bermain sebentar. Ada banyak hal yang harus Kakakmu ini jelasin kepada kami!” perintah Robert pad putra bungsunya.


Vano menghela napas ia mengangguk dan menghampirti Noah. Vano meraih tubuh kecil Noah ke dalam gendongnannya. Membawa bocah itu keluar rumah dan mengajaknya jalan-jalan, mungkin sebungkus ice cream coklat cukup nikmat dinikmati pagi menjelang siang ini.


“Sekarang duduk kalian berdua, dan jelaskan pada kami!” ujar Robert lagi dengan tegas dan tajam. Memandangi satu persatu dua insan yang berbeda usia cukup jauh tersebut.


Yonna memilih untuk duduk sedikit berjauhan dari Bara, namun tetap di posisi berhadapan dengan kedua orang tuanya. Di antara mereka berdua, hanya Bara yang bersikap tenang dan santai. Sedangkan Yonna sedikit menundukkan kepalanya tak berani menatap mata kedua orang tuanya yang menuntut penjelasan darinya. Kedua tangannya salin mememilin gelisah.


“Kenapa kamu diam saja? Sekarang jelaskan pada kami, siapa Ayah dari Noah yang sebenarnya?”


“Gavin atau lelaki yang ada di sampingmu itu?”


“Jawab Papa Alice!” teriak Robert geram dengan menyebut nama asli putrinya karena Yonna tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Yonna mengggigit bibir bawahnya erat, ia menegakkan kepala menatap kedua orang tuanya yang tampak kecewa. Entah apa yang dipikirkan orang tuanya terhadapnya saat ini.


“No-noah, ia … ia anak …,” Yonna menjeda ucapannya. Ia melirik pada Bara yang menaikkan salah satu alisnya. Yonna sadar ia tak bisa lagi menghindar kali ini. Bara pasti suadah emmpersiapkan semuanya dengan matang.


“Noah anak Kak Bara.”


“Apa? Apa kamu berselingkuh dengan Bara hingga Gavin menceraikanmu waktu itu, Alice?!” sentak Robert cukup membuat Yonna terkejut dengan tuduhan ayahnya yang menyinggung perasaannya. Menggoyak luka lama hingga kembali berdarah.

__ADS_1


__ADS_2