
“Aku tak menyangka kamu segila ini!” dengkus Yonna. Yonna berdiri dari duduknya, menarik tangan Bara agar pria itu segera keluar dari kamarnya.
Baru saja mereka bertemu, sakit di kepala setelah perdebatan tadi belum hilang. Kini kembali pusing melihat tingkah Bara yang begitu impulsif. Seingatnya pria itu tak pernah bertingkah seperti ini dulu. Seperti bocah badung yang sedang menikmati masa-masa membuat onar.
Bara menahan tubuhnya, memelintir tangannya hingga posisi tangannya berbalik. Dari lengannya yang di pegang Yonna menjadi lengan wanita itu yang kini berada di dalam genggaman tangannya.
Hanya dengan sekali hentakan tubuh langsing itu langsung terjerembak ke dalam pelukannya. Tangan besar dan berurat itu tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Ia langsung memeluk pinggang ramping itu agar jarak di antara mereka semakin terkikis.
Yonna terperanjat, ia langsung meletakkan kedua lengannya ke atas dada bidang Bara, mendorong tubuh pria itu agar sedikit menjauh. Ia bergerak risih dan berusaha melepaskan diri.
Matahari benar-benar menghilang di balik kaca jendela, meninggalkan cahaya gelap yang di terangi dengan siang lampu. Angin pantai yang berhembus kuat membuat hordeng putih itu bergoyang.
“Lepaskan aku, dasar pria gila!” umpat Yonna kesal. Semakin ia mendorong dada pria itu, tangan Bara semakin kuat melingkar di balik punggungnya. Seringai yang terbit di bibir pria itu cukup membuat Yonna menelan ludah dengan susah payah.
“Aku bahkan bisa lebih gila lagi daripada ini. Apa kamu mau mencobanya, Sayang? Hemm!”
“Tunggu dulu, apa maksudmu? Jangan macam-macam!” Yonna mulai was-was.
Bara mengeram, setiap wanita itu bergerak untuk melepaskan diri, justru memantik api gai-rah dalam dirinya. Jantungnya berdegub kencang. Ahh ... membuat ia gila.
“Berhenti bergerak, Alice! Jika kamu tak ingin sesuatu terjadi pada kita malam ini!” geram Bara dengan suara yang sudah serak.
Yonna terdiam, otaknya seketika terasa beku untuk berpikir apa yang harus ia lakukan untuk terlepas dari dekapan pria yang ada di hadapannya itu.
Mata Yonna seakan ingin melompat keluar dari tempatnya saat ia merasakan tonjolan keras yang menyentuh pangkal pahanya. Dadanya berdesir dengan sensasi yang begitu familier.
“Lepaskan aku, dasar pria mesum!”
“Tidak akan sebelum kamu menjawab pertanyaanku!”
“Pertanyaan yang mana?” tanya Yonna dengan intonasi suara yang mulai meninggi. Hembusan nafas lelaki itu yang memburu membelai wajahnya. Terasa geli.
“Jangan pura-pura lupa, kita baru saja membicarakannya beberapa jam yang lalu!” Suara Bara semakin berat. Kabut gai-rah semakin melingkupi binar matanya.
__ADS_1
Lelaki itu masih sadar diri dengan status mereka saat ini. Mati-matian ia menahan agar dirinya tetap sadar dan tidak menerkam wanita cantik yang ada dalam pelukannya itu, sampai wanita tersebut menjawab sesuai dengan keinginannya.
Yonna memutar otaknya dengan cepat. Otaknya yang biasanya pintar dan cepat berpikir, seakan langsung bodoh karena situasi yang tak menyenangkan baginya saat ini.
“Bukankah kamu memberiku waktu sampai kita pulang dari Lombok?” tanya Yonna cepat.
Ia akhirnya mengerti apa yang di maksud Bara dan mengingat dengan jelas bagaimana lelaki itu terus meminta ia menikah dengannya. Tentu saja dengan segala ancaman dan argumennya.
“Aku berubah pikiran setelah melihat wajah putra kita. Aku mau jawabannya saat ini juga!” desak Bara tak sabaran.
“Aku nggak mau menikah denganmu dan aku tidak tertarik menjadi boneka mainanmu. Jadi lepaskan aku sekarang juga atau aku akan berteriak!” jawab Yona menantang. Yonna sadar jika Bara sedang mengintimidasinya, dan ia tidak selemah itu.
Bara mulai mengeluarkan smirt iblisnya, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yonna serta membisikkan kalimat yang sukses bikin tubuh wanita itu menegang.
“Teriak saja! Sebelum orang-orang itu datang menolongmu. Aku yakin, aku pasti sudah berhasil menanamkan benih di rahimmu yang akan menjadi adik Noah. So, kamu mau aku melakukannya sekarang padamu atau setelah kita menikah!” tekan Bara membuat Yonna semakin panik.
Melihat keterdiaman wanita dalam dekapannya, Bara langsung memulai aksinya. Ia mulai mengecup lembut leher putih Yonna yang menjadi titik sensitif wanita itu.
Tubuh wanita cantik itu kembali menegang, rona merah tampak di wajah putihnya. Semakin ia menghindar, Bara semakin gencar melakukan itu padanya.
"No, stop!" Suara Yonna yang begitu lirih terdengar seperti erangan di telinga Bara. Lelaki itu semakin bersemangat melakukan aksinya. Sebelah tangannya yang nakal sudah mulai menjelajah spot-spot yang membuat Yonna semakin blingsatan.
Suasana semakin memanas, cum-buan dan remasan Bara membuat kepalanya pusing. Tepat saat tangan Bara mulai menjamah di bawah roknya, Yonna kembali tersentak kaget.
“Stop! Oh Tuhan, lelaki sialan! Ok kita menikah, sekarang hentikan dan lepaskan aku!” umpat Yonna. Nafasnya sudah naik-turun tak beraturan.
Bara spontan berhenti dari kegiatan yang ia sukai itu, ia tersenyum penuh kemenangan menatap Yonna mencari kepastian.
“Apa aku tidak salah dengar, katakan sekali lagi!”
__ADS_1
“Ok, kita menikah. Sekarang lepaskan aku!” Bara tersenyum puas mendengar jawaban itu.
Bara mengecup bibir merah yonna yang sedari tadi terus menggodanya, lalu mengurai dekapan tangannya. Yonna langsung mundur tiga langkah untuk menjauh, kedua tangannya menutup bibirnya yang baru saja dikecup lelaki itu.
“Dasar lelaki kurang ajar! Gila dan mesum!” umpat Yonna kembali. Ia mengusap bibirnya yang basah akibat kecupan yang lebih tepatnya disebut sebagai sebuah luma-tan lembut.
“Berhentilah mengumpat calon suamimu, Sayang. Tetapi karena aku lagi senang hari ini, jadi kamu aku maafkan.”
“Ckkk,” Yonna berdecak. Ia begitu kesal, rasa kesalnya pada lelaki itu sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
“Sekarang kamu sudah puaskan, jadi silakan pergi dari kamarku, Bapak Bara yang terhormat. Pergi!” usir Yonna. Ia menunjuk ke arah pintu kamarnya yang ada di belakangnya.
Bara berjalan santai menuju pintu keluar, masih ada yang harus ia tuntaskan seorang diri di kamarnya. Ia merasa hari ini sudah cukup mengerjai calon istrinya itu. Terpenting baginya ia sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya.
Belum sampai lelaki itu menggapai gagang pintu, Bara menghentikan langkah kakinya dan langsung kembali berbalik menatap Yonna yang masih berdiri di tempat.
“Kita akan langsung menikah setelah dua hari kepulangan kita dari Lombok.”
Yonna memutar badannya, menatap tak percaya pada apa yang dikatakan Bara. Ini salah satu dari kegilaan Bara yang lainnya, yang baru di sadari oleh Yonna saat ini.
“Jangan menatap begitu, aku merasa seakan kamu mau berterima kasih padaku, Sayang. Untuk masalah pernikahan kamu tak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya, jadi kamu hanya cukup diuduk manis dan mempersiapkan mental untuk menjadi istriku saja,” jelas Bara sembari tersenyum manis. Tetapi tampak seperti seringai licik di mata Yonna. Lelaki itu begitu banyak trik untuk menjeratnya.
Bara kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan langkah kakinya untuk keluar kamar. Meninggalkan Yonna terpaku bagai orang bodoh. Yonna mencoba mencubit lengannya sendiri.
“Awww, sakit.” Itu artinya apa yang ia alami saat ini bukanlah mimpi, tetapi kenyataan.
Ia akan menikah dengan lelaki Bara dengan waktu yang begitu cepat.
“Dua hari setelah pulang dari pulau ini? Apa ia sedang bercanda?” lanjut Yonna seraya memijat pelipisnya. Ia menjatuhkan dirinya kembali hingga terduduk di pinggir ranjang dengan lemas.
Pandangan matanya ia jatuhkan pada kedua kaki putihnya yang hanya memakai alas sandal bulu putih tipis dengan lambang resort di bagian atasnya. Yonna tak berharap banyak dengan apa yang akan Bara lakukan untuk pernikahan mereka.
Setelah berpisah dari Gavin ia pernah sekali membayangkan akan menikah lagi dengan seseorang berlandaskan cinta. Dan kini, ia memang akan menikah lagi, tetapi lagi-lagi pernikahan tanpa cinta. Hanya sebatas karena anak. Itulah yang ada dalam pikirannya saat ini.
__ADS_1
Sama seperti pernikahannya dengan Gavin dulu. Apakah akhir dari pernikahannya dengan Bara nanti akan sama saja dengan pernikahannya yang pertama? Yonna tak tahu. Wanita itu menghela napas panjang meratapi takdir yang sebentar lagi harus ia jalani.