
Pukul 4 dini hari, Yonna masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi wajib. Semenjak menyandang status istri bara ia mulai terbiasa mandi pagi-pagi buta sebelum menjalankan panggilan agama.
Setelah pulang dari pesta, baby besarnya itu tak juga kunjung mau melepaskan pelukannya. Hingga pelukan yang tadi hanya sekedar pelukan biasa kembali berakhir pada olah raga malam dengan banjir keringat.
Matanya masih ngantuk, karena ia baru bisa memejamkan mata dan terlelap di jam tiga setelah beberapa kali suaminya itu mengerang merasakan gelegar kenikmatan yang memanjakan dirinya.
Buk!
Pintu kamar mandi terbuka. Yonna tersentak kaget dan menoleh. Belum sempat ia menoleh sepasang tangan kekar kembali melingkar di pinggulnya yang ramping.
Yonna mengalihkan pandangan matanya ke arah kaca yang terpasang di dinding tepat di sampingnya. Ia bisa melihat dengan jelas sosok suaminya yang merangkul dirinya dari belakang, mereka sama-sama tak mengenakan sehelai benang pun di tubuh.
"Mas, lepasin! Aku mau mandi, sebentar lagi subuh!"
Yonna berusaha melepaskan rangkulan tangan suaminya. Akan tetapi, Bara yang masih enggan melepaskan justru semakin melingkarkan tangannya dengan erat.
"Sayang, suami-istri mandi bareng itu sunah. Katanya bisa mempererat hubungan," ujar Bara dengan napas hangatnya yang berhembus di balik punggung leher Yonna. Wanita itu kembali bergidik geli.
"Mas, jangan main-main deh. Kamu dari tadi masih belum puas juga?"
"Mana ada puasnya aku kalau sama kamu, Sayang." Bara memulai aksi nakalnya, ia mengecup punggung leher istrinya lembut, kembali mengantarkan geliyar rasa di selur tubuh Yonna. Tangan lebar itu terasa hangat mengusap perut rata sang istri dengan penuh harap.
Bara memutar tubuh Yonna dengan sekali gerakan, kini posisi mereka slaing berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Kulit yang terus menempel kembali mengantarkan getaran tersendiri.
Bibir Yonna tidak Bara diamkan, ia mencium Yonna. Lidah mereka kembali bertaut dan berperang serta saling membelit. Udara kamar mandi yang dingin kini berubah hangat bergelora.
__ADS_1
Yonna menekan dada suaminya pertanda ia sudah mulai kehabisan napas. Bara yang mengerti langsung melepaskan tautan bibir mereka dan mencium kening Yonna lembut.
"Sekali lagi, sebentar saja kok, ya? lalu kita mandi dan sholat berjamaah. Ok!" pinta Bara dengan tatapan matanya yang sendu. Yonna bagai tertarik magnet tiap Bara memperlakukannya dengan begitu baik seperti guci beharga yang mudah pecah. Wanita itu hanya mengangguk pasrah, yang langsung mengantarkan senyum lebar di bibir Bara.
Sebentar kata pria itu hanyalah sebuah bualan belaka, karena pada akhirnya mereka menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk sekedar menyalurkan cinta di bawah pancuran air hangat. Sehangat cinta mereka yang tumbuh subur seperti tunas baru pada ranting pohon.
Suara iqomah menggema begitu merdu menggetarkan jiwa. Hingga tanpa sadar, wanita mengenakan mukenah putih yang berdiri di shaf belakang itu menitikkan air mata.
Bukan karena rasa sedih yang selalu ia panjatkan pada pencipta-Nya seperti yang ia lakuakn dulu. Namun karena rasa haru dan bahagia yang kini membuncah di dadanya.
"Terima kasih ya Allah, Engkau telah hadirkan ia dalam kehidupanku. Hingga dapat aku mengenal akan keagungan cinta-Mu dan mengisi setiap ruang kosong di hatiku!" ujar Yonna penuh syukur di dalam hati. Matanya tak lepas memandang punggung tegap yang ada di hadapannya.
Di dunia ini tak ada yang terjadi karena kebetulan. Tuhan yang menggerakkan hati dan mengatur setiap langkahmu.
Saat Ia (Tuhan) memisahkanmu dari seseorang yang menyakitimu, bukan karena ia tak mengabulkan doa-doamu. Namun ia hanya tak ingin membuatmu semakin terluka, dan akan mempertemukan dengan seseorang yang memang menjadi takdirmu.
"Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim)
~ ~ ~
Pagi-pagi sekali Gisella sudah bulak balik ke kamar mandi untuk kesekian kalinya. Ia berkumur-kumur membasuh rasa getir di mulutnya, matanya memandang ke arah kaca yang menampilkan pantulan wajahnya yang begitu pucat.
"Nggak, nggak mungkin aku ...," ucapannya terjeda. Kalimat terakhir yang ingin ia ucapkan seakan nyangkut di kerongkongan.
Gisella khawatir, wajahnya yang pucat semakin pias saja. Ia cukup pengalaman untuk mengetahui kondisi tubuhnya yang begitu lemas di pagi hari ini. Di tambah rasa pusing yang mendera beberapa hari ini membuatnya tak bisa mengabaikan rasa itu sebagai rasa pusing biasa.
__ADS_1
Tak ingin menduga-duga, Gisella langsung mandi dan bersiap-siap. Ia ingin memeriksanya secara jelas dan akurat di rumah sakit.
Gisella pergi dengan sebuah taksi, ia tak mau di antar dengan supir yang nantinya menimbulkan banyak pertanyaan untuknya. Sementara ia juga belum cukup kuat untuk mengemudi mobil sendiri di tengah rasa pusing yang mendera di kepalanya.
Ada sekitar tiga orang yang ikut menungggu bersmaanya di poli klinik. Dua di antaranya datang bersama suami mereka. Gisella melirik pasangan itu dengan pandangan iri.
Tak menunggu waktu lama akhirnya ia masuk ke dalam ruang pemeriksaan, karna memang ia datang lebih dulu dari pasangan lain. Gisella masuk dengan hati yang waswas. Dokter mempersilakan ia untuk berbaring di ranjang yang dibantu oleh perawat.
Perutnya yang tak lagi rata di beri gel yang terasa dingin di kulit. Alat transducer bergerak-gerak di atas gel bagian perut bawah.
"Selamat Bu Sella, anda memang hamil. Dan lihat itu kantong dan janinnya juga sudah terbentuk sempurna," ujar sang Dokter memanggil nama belakangnya, membuatnya kaget setengah mati. Mata Gisella menatap layar yang tergantung di dinding yang ada di hadapannya.
Makhluk mungil yang kini ada di rahimnya itu sudah terbentuk anggota tubuhnya sudah terbentuk. Detak jantungnya pun terdengar begitu kencang, sekencang rasa cemas yang ada di hatinya.
"Hamil? Bagaimana ini? Bagaimana jika Gavin tahu, aku harus bagaimana sekarang?"
"Bu, ada apa? Apa ada yang sedang anda khawatir kan?" tanya Dokter wanita itu membuyarkan lamunan Gisella. Gisella tamoak seperti orang bingung, bibirnya ingin menjawab dan emngeluarkan kata-kata. Akan tetapi otaknya terasa begitu buntu untuk berpikir sejenak.
"Ti-tidak ada apa-apa Dok. Saya cuma kaget saja, soalnya kami belum berencana menambah anak lagi, tapi tiba-tiba saya malah hamil," ujaranya sedikit berbohong.
"Itu artinya Tuhan sedang memberikan anda rezeki yang tak terduga. Jaga dengan baik Bu. Kondisi janin anda sangat sehat dan kuat, tapi anda harus tetap berhati-hati," kata Dokter itu memberi nasehat sekilas.
"Terima kasih Dok." Gisella tersenyum tipis membalas wejangan sang Dokter. Setelah menerima resep dokter dan pergi dari ruangan tersebut. Gisella melangkah kakinya dengan cepat untuk pergi dari rumah sakit itu.
"Celaka, kenapa bisa hamil sih! Aku sudah menyuruh ia untuk memakai pengaman. Kenapa masih bisa kebobolan!" Rutuk wanita itu di dalam hati. Terlalu cepatnya ia berjalan sampai-sampai ia tidak memperhatikan ada sepasang mata yang melihatnya keluar dari poli kandungan dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Tidak bisa, aku harus bicara dengannya secepatnya. Aku takut jika harus pergi ke tempat abor-si seorang diri." gumam Gisella dengan tingkat stresnya yang meningkat.
Ia tak bisa berharap banyak pada lelaki yang hanya berperan sebagai simpanannya saja. Gisella berpikir paling juga Dion akan menyuruhnya untuk menghabisi anak yang ada dalam kandungannya itu.