
Suasana resto resort pagi ini cukup ramai. Di akhir pekan banyak keluarga atau wisatawan dari luar dan dalam daerah yang berlibur mengisi akhir pekan mereka.
Yonna tampak mengaduk-aduk makanannya dengan enggan. Wajahnya terlihat lesu tak bergairah, ditambah lengkungan hitam di bawah mata yang masih terlihat samar-samar walau sudah di tutupi make up.
"Ada apa? Dari wajahmu seakan menjelaskan jika semalam kamu tidak tidur dengan nyenyak?" tanya Tama. Hati pria itu masih terusik dengan apa yang ia dengar kemarin. Tetapi ia bingung harus memulai bertanya dari mana untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Rasanya tak sopan saja ia langsung bertanya tentang ranah wilayah pribadi yang bukan urusannya itu.
Yonna melirik sekilas, ia meraih cofee lattenya yang hampir dingin. Meminumnya sedikit untuk menjernihkan pikirannya yang masih ruwet pagi ini.
"Tidak ada apa-apa. Aku memang kurang nafsu makan saja. Mungkin karena pencernaanku yang sedikit terganggu saja," jawabnya sedikit berbohong. Yonna berusaha merubah raut wajahnya agar tampak santai.
Pagi ini ia tak melihat keberadaan Bara sejak tadi. Bukan berarti ia mengharapkan kehadiran lelaki itu, tetapi setidaknya tanpa kehadiran lelaki itu ia bisa sedikit berpikir jernih.
Dadanya kembali berdegup saat ia mengingat lelaki itu dan kembali teringat apa yang terjadi di antara mereka semalam. Dekapan hangat dan ciu-man mesra, Bara berubah menjadi pria nekat yang gila.
"Apa kamu sakit? Wajahmu kenapa memerah?"
"Nggak ... nggak ada apa-apa," elak wanita itu cepat. Bayangan wajah Bara kini kian mengusik pikirannya.
"Katakan padaku, apa benar Bara adalah mantan suamimu? Seingatku Bianca pernah bilang jika suamimu adalah seorang pengusaha, bukan pengacara," Tama mulai melayangkan pertanyaan untuk mengobati rasa penasarannya.
Yonna hanya mampu menghela napas panjang. "Aku bingung mau menjelaskannya dari mana, hubungan kami begitu rumit."
"Tapi ya sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Aku sudah malas membahasnya."
Tama menatap Yonna intens, pandangan mata mereka bertemu dan seakan larut dalam pemikirannya masing-masing . Yonna terasa sedikit canggung dengan tatapan mata itu, begitu sulit untuk ia artikan.
Yonna menatap benda kecil yang melingkar di tangannya, mengalihkan kecanggungannya.
__ADS_1
"Sepertinya hari sudah semakin siang, Pak. Bagaimana jika kita akhiri sarapan kita ini dan segera kembali ke pembangunan resort. Hari ini juga ada jadwal kunjungan di hotel Grand Hall," jelas Yonna menjelaskan jadwal apa yang harus mereka kerjakan hari itu. Tama pun mengangguk.
Mereka berdua beranjak menuju lobi hotel untuk pergi ke hotel bintang lima miliknya. Bara pun memiliki janji untuk bertemu seseorang di sana. Setidaknya hari ini Yonna dapat sedikit bernapas lega, tak ada Bara yang akan merecoki hari dan pekerjaannya.
Setelah apa yang terjadi di antara mereka semalam cukup membuatnya tak nyaman jika bertemu lagi dengan pria itu. Otaknya masih terus berputar mencari cara agar mereka tak perlu menikah dalam waktu dekat ini.
Yonna masih belum siap berumah tangga dengan salah satu lelaki masa lalunya. Apalagi harus kembali masuk ke dalam keluarga Apsara.
Masih membekas dalam ingatan, bagaimana mereka semua mengabaikannya saat keberadaannya tak lagi berarti.
Pagi berganti siang, siang pun kini telah menjelma menjadi malam gelap yang tanpa taburan bintang. Langit sedang mendung semendung hatinya yang merindukan celoteh putranya tersayang.
Yonna membuka pintu kamarnya, dan menutupnya kembali setelah masuk ke dalam kamar yang gelap itu. Dengan malas ia melepas high hells di kakinya, demi menunjang penampilan agar tetap tampil modis dan anggun ia harus merelakan betisnya kini terasa pegal tak menentu.
Ceklek!
Hingga di depan pintu kamar mandi ia membuka seluruh pakaian tanpa ada satu helai pun yang tersisa, melemparnya ke dalam keranjang yang ada di pinggir pintu kamar mandi tersebut.
Guyuran air hangat membasahi tubuhnya yang letih terasa seperti pijatan lembut di atas kulit putihnya. Mata yang mengantuk kini mulai cerah kembali seperti layar ponsel yang redup langsung menyala terang setelah di charger.
Setelah selesai bermanja dengan sensais air dan wangi sabun yang ia bawa sendiri, Yonna keluar dengan bathrobe yang menutupi tubuh ramping dengan rambut basah yang terbungkus handuk kecil di atas kepala. Baru saja pintu kamar mandi itu terbuka, matanya yang bulat semakin terbuka lebar.
"Kamu? Sejak kapan kamu ada di situ? Bagaimana kamu bisa masuk?" teriak Yonna tercekat. Ia langsung melirik ke arah jendela kaca balkon. Tertutup rapat.
Bara tidak menjawab ucapan wanita itu, wajahnya tampak menegang dengan tatapan yang seakan ingin menerkam tubuh Yonna saat itu juga. Pandangan pria itu begitu tajam dengan binar mata yang mulai berkabut.
Yonna menatap arah pandangan mata Bara yang tepat menatap pada dadanya yang tampak menyembul di balik bathrobenya yang tidak tertutup sempurna. Dengan cepat ia menutupnya dan menahannya dengan kedua tangan yang menyilang.
"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Yonna lagi. Ia geram karena lelaki itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Cukup lama hingga dapat melihat apa yang kamu sembunyikan dari balik kain putih itu." Suara Bara terdengar sedikit berat di balik wajah datarnya.
Mata Yonna kembali melebar seakan ingin lompat dari tempatnya.
"Apa?! Jadi, saat aku pulang dan membuka baju tadi, kamu sudah ada di sini?" Yonna mulai histeris. Ia tak bisa membayangkan jika ternyata ia sedang membuka pakaiannya di depan lelaki yang ada di hadapannya itu.
Matanya yang sedikit mengantuk membuatnya tak menyadari keberadaan lelaki tersebut yang sudah duduk santai di pinggir ranjang itu. Wajah wanita itu bersemu merah.
Bara mengangguk. "Mamangnya kenapa? Aku juga sudah pernah merasakannya dengan Noah sebagai bukti. Lalu apa yang membuatmu harus malu?"
"Kamu! Dasar lelaki mesum. Sekarang keluar dari kamarku segera!" geram Yonna. Ia menghentakkan kakinya, menghampiri Bara yang masih tampak begitu santai seakan tak bersalah.
"Keluar dari kamarku! Kamu sudah seperti penguntit saja! Aku tak menyangka anak sulung keluarga Apasara sadalah lelaki mesum yang hobby keluar-masuk kamar wanita lain sesuka hatinya seperti hantu!"
Yonna menarik tangan Bara untuk keluar dari kamarnya. Ia tentu risih dengan keberadaan lelaki lain di dalam kamarnya dengan kondisinya yang seperti itu.
Bara menahan tangannya, dengan sedikit sentakan, Yonna langsung terjatuh di atas pangkuannya.
"Arrkkkhhh," teriak Yonna tercekat.
Aroma buah-buahan yang begitu segar menguar dari tubuh wanita itu, handuk yang menggulung rambutnya telah jatuh tergeletak di lantai. Bara langsung melingkarkan tangannya di pinggul Ibu dari anaknya itu, agar wanita itu tak dapat beranjak pergi darinya.
Tetesan air mulai mengalir dari rambut yang masih basah itu menetes di lengannya. Bara terpesona.
"Cantik!"
Seperti ada tarikan magnet dalam tubuhnya yang tak dapat dikendalikan. Tanpa izin ataupun permisi, Bara langsung mencium bibir merah jambu yang sedari tadi seakan menggodanya.
Yonna yang kaget langsung mendorong dada bidang Bara untuk menjauh. Bara tidak bergeming, ia justru semakin ingin menikmati bibir yang terasa manis tersebut. Satu tangannya beralih pada tengkuk Yonna agar wanita itu tak bisa melepaskan tautan bibir mereka hingga ciu-man itu semakin dalam.
__ADS_1