Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 57. Sarapan yang menegangkan.


__ADS_3

“Pagi Ma, Pa,” sapa Bara pada kedua orang tuanya. Bara mengabaikan Gisella yang duduk di hadapan istrinya.


“Pagi, Nak. Wajahmu tampak begitu cerah pagi ini!” sahut Jelita mengomentari penampilan putra sulungnya yang begitu terang seterang mentari. Bara tersenyum.


Immanuel hanya mengangguk menanggapi sapaan putranya itu. Matanya sedang fokus melihat koran yang terlipat di atas meja, ada berita pagi yang begitu menarik perhatiannya hingga secangkir kopi dan sepotong roti di dalam piringnya ia abaikan begitu saja.


“Pagi sayang!” Bara lalu beralih menyapa sang istri yang sudah duduk cantik di depan meja makan bersama putranya. Ia tak lupa mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut dan putranya secara bergantian. Tanpa peduli jika beberapa pasang mata melihat kemesraan yang ia tunjukkan itu.


“Pagi juga, ayo sarapan, Mas!” sambut Yonna lembut. Ia membantu mendorong kursi untuk suaminya di sampingnya. Mereka berdua tampak begitu mesra sekali, membuat sepasang mata yang ada di hadapan Yonna terbakar rasa iri.


Di dalam hati kecil Gisella menjerit mengumpati kemesraan sepasang suami istri tersebut. Yonna menarik sudut bibirnya, merasa puas dalam hati melihat hati Gisella meranggas.


Bara menatap hamparan menu sarapan yang cukup banyak terhidang di atas meja, wanginya yang semerbak menggoda penciumannya, memancing asam lambung di perutnya bergejolak untuk di segera di isi.


“Kayaknya ada yang beda hari ini?” Bara tampak begitu antusias dengan makanan yang ada di hadapannya itu, hampir semuanya adalah makanan kesukaannya. Semua menu yang terhidang bahkan bisa dikatakan cukup berat untuk dibilang menu sarapan pagi. Biasanya mereka hanya sarapan dengan roti atau sepiring nasi goreng saja.


Bara terbiasa sarapan pagi dengan menu berat, biasanya lelaki itu sarapaan di luar jika sudah bosan dengan nasi goreng yang selalu Jelita sediakan. Jelita tak secekatan Yonna dalam mengolah masakan apalagi di pagi hari.


“Benar sekali, hari ini istri kamu yang menyajikannya untuk kita,” Jelita menjawab pertanyaan putra sulungnya itu.


"Benarkah? Pasti rasanya enak," balas Bara menanggapi, tangannya bergerak menarik piring yang ada di depannya.

__ADS_1


“Biar aku ambilin,” kata Yonna pelan. Bara mengangguk pelan, dalam hati lelaki itu sedang bersorak dengan riang hingga senyum lebar terbit di wajah tegasnya, semua itu bahkan tak luput dari pengamatan Jelita.


Jelita cukup tersentak melihat putranya selama puluhan tahun jarang tersenyum kini bisa tersenyum dengan lepasnya. Tentu itu membuatnya sebagai Ibu merasa senang.


Sementara Bara menikmati pelayanan istrinya, sembari mencoba mengingat-ingat mimpi apa yang ia alami tadi malam hingga istrinya yang biasanya tak peduli padanya, kini berubah menjadi begitu baik dan sholeha. Menjalankan kewajiban sebagai seorang istri pada umumnya.


Saat Yonna meletakkan piring di hadapan suaminya, ia mendengar langkah kaki mendekat. Yonna tak mau menoleh dan berusaha mengabaikan langkah kaki tersebut, kerena tanpa melihat pun dari bau parfum yang menyebar hingga ke hidungnya, Yonna sudah tahu siapa pemilik langkah kaki itu.


“Pagi semuanya.”


“Pagi Nak, tumben kamu terlambat datang untuk sarapan?” sahut Jelita kembali dan lagi-lagi ia mengomentari ekspresi setiap putranya yang hadir.


Raut wajah mereka berdua berbeda satu sama lainnya. Jika tadi Bara menyapanya dengan senyum sumringah, tetapi kini Gavin menyapanya dengan wajah yang berantakan. Jangan lupakan kantung mata yang tampak begitu menggelap pertaanda pria itu tidak istirahat dengan benar.


“Aku ambilin ya, Mas?” Gisella menawarkan diri untuk berbuat baik pada suaminya sesuatu yang tak pernah ia lakukan sekali pun selama pernikahan mereka.


Gavin tak menjawab yang Gisella anggap sebagai persetujuan. Wanita mengambil nasi dan juga beberapa menu makanan ke dalam piring suaminya. Lalu meletakkannya di depan suaminya.


Jelita sampai melongo menghentikan kunyahan di mulutnya saat melihat apa yang dilakukan menantunya itu.


“Tumben?” batinnya. Wanita tua itu diam-diam menjadi pengamat di antara kedua anak dan menantunya.

__ADS_1


Sementara Gavin masih tak bersemangat, setelah mengetahui kenyataan bahwa Yonna adalah Alice membuat hati Gavin tak ikhlas. Ia tak terima jika wanita itu kini beralih dari istrinya menjadi istri Bara. Gavin pun juga tak menyangka jika seorang Alice bisa berubah begitu cantiknya.


“Andai kamu berubah cantik seperti ini saat bersamaku, akan aku pastikan hanya dirimu satu-satunya di hatiku,” batin Gavin berandai-andai dengan sesuatu yang tak mungkin lagi ia rubah.


“Mas, ayo makan. Kamu neglihatin apa?” bisik Gisella pelan penuh kedongkolan. Ketika ia sedang berusaha bersikap baik dengan suaminya, suaminya justru memandang wanita lain tepat di depan matanya, dengan binar mata seorang lelaki yang begitu merindukan pujaan hatinya. Hal itu membuat Gisella kesal.


Gavin menghentak piring yang disajikan istrinya, matanya menatap tajam pada sang istri yang tercengang melihat apa yang ia lakukan.


“Apa kau ingin membunuhku? Apa kamu tak tahu jika aku alergi dengan udang, dan apa-apaan menu yang terhidang ini. Kenapa tak ada satu pun menu kesukaanku!” sentak pria itu yang memang sudah terlanjur hatinya memanas.


“Gavin! Jika kamu tak suka dengan seafood, kan masih ada menu lainnya yang bisa kamu makan. Jangan buat masalah! Lagi pula setahu Papa kamu nggak alergi seafood, cuma kurang suka jika mengupas kulitnya saja!” tegur Immanuel mengalihkan pandangan matanya dari lembaran koran itu.


“Maaf Mas itu semua aku yang memasaknya, aku tidak tahu kesukaanmu. Jadi aku masak yang bisa di makan semua orang dan tentunya merupakan masakan kesukaan suami dan anakku!” ujar Yonna dengan wajah polosnya, justru memancing amarah Gavin untuk semakin terbakar, bagaimana mungkin Yonna tak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh mantan suaminya itu.


Selama dua tahun menjadi istrinya, Yonna berubah menjadi koki kelas internasinal yang menyajikan masakan kesukaan Gavin. Tetapi jangan mendapatkan pujian, ditoleh dan disentuh saja suadah merupakan penghargaan untuknya.


Jadi Yonna kira untuk apa kali ini ia memasak untuknya. Tak ada gunanya. Jangan lalukan hal yang beharga untuk seseorang yang tidak mencintaimu karena itu akan menjadi sia-sia.


“Bukannya kamu tahu apa yang paling aku suka, lagi pula di rumah ini tidak hanya ada Bara dan anakmu itu!” sentak Gavin semakin lantang.


Noah sampai terkejut mendengar ucapan Gavin yang begitu kasar. Yonna memanggil pelayan dan menyuruh pelayan itu membawa Noah pergi serta menyuapinya makan di taman belakang.

__ADS_1


“Cukup Gavin, Papamu sudah bilang jika kamu tidak suka masih banyak menu yang lain yang bisa kamu makan. Jangan membesar-besarkan masalah yang sepele ini. Lagi pula wajar jika Yonna hanya tahu kesukaan Bara karena ia istrinya. Kalu kamu mau ada yang memasakkan makanan kesukaan kamu. Kamu suruh istrimu itu memasak untukmu, jangan cuma bisa dandan saja!” ucap jelita tegas. Di mata Jelita apa yang dilakukan Yonna saat ini adalah hal yang wajar sebagai seorang istri.


“Kok Mama jadi memojokkan aku?” sambar Gisella cepat. Ia tak terima menjadi sasaran lemparan bola. Suasana meja makan pun seamkin memanas dengan perseteruan kecil yang semakin melebar hingga melahap semuanya hingga habis terbakar.


__ADS_2