Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 88. Buaya dicuri kadal.


__ADS_3

"Loh ... kok tidak ada? Aku yakin sekali ada di dalam ini?" Gisella membongkar isi kopernya berulang kali. Ia yang berniat langsung tidur saat sampai di kamarnya tiba-tiba teringat dengan tas kecil yang berisi uang dan jga perhiasan yang ia simpan di dalam koper.


Harta satu-satunya yang ia miliki untuk bertahan hidup kini tak ada lagi di tempatnya. Gisella terduduk di lantai yang beralaskan tikar itu. Ruangan yang ia sewa itu masih kosong tanpa perabotan satu pun kecuali meja kecil yang usang.


Tempat tidur dan peralatan yang lain pun tak tersedia di tempat ini karena pemilik kamar sewa ini tidak menyediakannya. Gisella berencana ingin memesan tempat tidur dari applikasi belanja online.


Barang yang ia pesan akan datang nanti sore, jadi ia ingin menyisihkan uang yang akan ia keluarkan nantinya. Namun kini uang itu pun tak lagi ada.


Gisella panik, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang mulai bercucuran. Otaknya berputar dengan cepat, berpikir dan mengingat. Apakah ia salah meletakkan tas berisi uang itu? Atau ada seseorang yang mengambil tanpa sepengetahuannya?


"Rasa-rasanya aku tak pernah meletakkan tas itu keluar dari koper ini. Dan koper ini pun ada kuncinya, bahkan kuncinya pun tidak rusak. Lalu kemana uang itu? Bagaimana aku melanjutkan hidup tanpa uang itu?"


Gisella mulai menangis. Rasa takut akan hidup susah kini mulai membayangi dirinya. Tak ada tempat untuknya kembali dan mengadu.


"Gabby, iya. Gabby pasti tahu di mana tas milikku ini. Karena hanya ia yang tahu aku datang membawa uang dan perhiasan."


Gisella menghapus air matanya, ia bergegas kembali ke apartemen Gabby dengan sisa-sisa uang yang ia miliki di saku bajunya. Ia harus bergegas sebelum pemilik kamar kontrakan itu datang mengambil uang sewanya.


Tak butuh waktu lama untuk Gisella sampai di depan pintu apartemen Gabby. Ia memencet bel berulang kali. Hingga yang ketiga kali barulah Gabby keluar dengan wajah yang begitu asam.


"Kau lagi? Aku pikir orang gila mana yang mengganggu sore-sore begini!" ketus Gabby. Wanita itu sudah cantik dan rapi, sepertinya sebentar lagi ia akan pergi.


"Aku mau bicara sebentar padamu, boleh aku masuk?" pinta Gisella. Kakinya sudah terasa kram jika harus berbicara sambil berdiri seperti itu padahal ia hanya menggunakan sendal tanpa hak sedikit pun.


Mata Gabby memicing curiga padanya. Raut wajah itu penuh permusuhan. Teman yang dulu pernah dekat sedekat urat nadi kini mulai beradu punggung tangan seakan tak akan pernah saling membutuhkan lagi saja.


"Tidak, aku tak ada waktu untuk beramah tamah padamu. Jadi katakan di sini saja!" Gabby menahan pintunya hingga hanya menampilkan kepala dan sebagian tubuhnya saja.

__ADS_1


Gisella awalnya ragu, ia juga bingung harus mulai menanyakannya dari mana. Gabby pasti akan sangat marah padanya, kalaupun memang benar wanita itu yang mengambilnya, wanita itu juga tak akan mengaku. Lalu bagaimana ia tahu Gabby mengambil hartanya itu atau tidak.


"Hey! Malah bengong! Kalau tak ada hal penting yang ingin kamu katakan. Maka pergilah! Aku sudah muak melihat wajahmu itu," hardik Gabby dengan kasar.


Wanita hamil itu tersentak. Ia menelan salivanya susah payah, mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan pertanyaan.


Belum sempat bibir itu terbuka, Gisella tertegun melihat sesuatu yang bersinar di leher Gabby. Ia memicingkan mata melihat benda yang melingkar itu dengan jelas.


Gisella mendorong pintu itu kuat hingga Gabby terdorong ke belakang sedikit dan Gisella pun langsung masuk. Tak ada siapa pun di apartemen itu, tetapi tingkah Gabby seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Apa-apa kamu! Lancang sekali masuk ke dalam rumahku tanpa izin. Aku tak sudi kakimu menginjak lantai apartemenku ini lagi. Sekarang pergi!" marah Gabby seraya menunjuk pintu rumahnya yang masih terbuka separuh itu.


"Aku akan pergi setelah kau menjawab pertanyaanku dulu!"


"Apalagi yang ingin kau tanyakan? Aku rasa tak ada yang bisa kita bicarakan berdua. Urusanku denganmu sudah selesai!" balas Gabby dengan sinis.


"Tas? Apa ayang kau bicarakan? Itu tasmu berarti kamu yang jaga, lalu apa urusannya denganku?"


Gisella memicingkan mata melihat ekspresi Gabby yang seakan tak tahu apa-apa. Terlihat begitu munafik di matanya.


"Yakin kamu tak tahu? Tasku itu hilang dan hanya kamu yang tahu di dalam tas itu ada sejumlah uang milikku yang cukup banyak. Dan juga perhiasan yang beharga."


"Terus? Apa hubungannya denganku. Aku benar-benar tak mengerti arah dan tujuan ucapanmu itu. Oh ... atau jangan-jangan —"


Gabby menjeda ucapannya. Ia memasang wajah terkejut dengan bibir yang membuat bulatan kemudian wajah yang di buat selucu mungkin. Namun justru terlihat begitu mengerikan.


"Jangan-jangan apa?" Gisella begitu tak sabaran mendengar ucapan wanita itu.

__ADS_1


"Ya jangan-jangan ini hanya alasanmu saja karena kamu ingin bertemu dengan Alex. Apa belum puas kamu tidur dengannya semalam, hah? Apa kamu ketagihan, dasar ja-lang!" maki Gabby dengan intonasi yang mulai meninggi.


Suara di apartemen itu pun menggema. Gisella menutup pintu yang terbuka setengah tersebut agar suara mereka yang semakin meninggi tidak terdengar hingga ke luar.


"Harus berapa ratus kali aku bilang. Aku tak tertarik pada kekasih miskinmu itu. Kalau bukan karena ia yang memper-kosaku. Aku juga tak akan sudi di jamah olehnya."


Gabby berdecih mendengar penjelasan wanita hamil di hadapannya itu. Kedua tangannya terlipat di dada, tatapan menantang ia layangkan. Dagu yang sedikit naik membuat apa yang melingkar di lehernya itu semakin kentara di mata Gisella.


Wanita itu pun tersadar, kedatangannya ke sini untuk mengambil apa yang telah hilang di tangannya. Bukan berdebat pendapat hanya karena lelaki baji-ngan tak jelas itu.


"Kembalikan tas hitam kecil milikku. Aku tahu kamu yang mengambilnya, sekarang kembalikan!"


"Tas apa? Aku tak tahu apa yang kamu maksud. Jadi kamu menuduhku mencuri tasmu itu. Hah?" balas Gabby tak terima. Ia tak serendah itu hingga mencuri dari wanita lemah seperti Gisella.


"Jangan bohong kamu. Buktinya kakung yang ada di lehermu itu adalah milikku. Cepat kembalikan padaku tas itu!"


Gabby tersentak kaget. Ia meraba kalung berliontin mata putih yang ada di lehernya itu.


"Kalung ini maksudmu? Ini kalung yang di berikan Alex padaku siang tadi sebagai ungkapan maafnya padaku. Mana mungkin ini kalungmu?" jawab Gabby tak percaya dengan apa yang di katakan Gisella.


Gisella yang hilang akal langsung maju dan menarik liontin tersebut hingga putus.


"Alex memberikan padamu? Mana mungkin lelaki yang hanya sebagai karyawan dengan gaji kecil seperti dia bisa memberikanmu kalung berlian dengan harga ratusan juta seperti ini. Pasti lelaki sialan itu yang mencuri tasku. Sekarang di mana ia, kembalikan hartaku!" teriak gisella semakin menggila.


Gabby tak terima Gisella merampas kalung miliknya. Terjadi perebutan di antara dua wanita tersebut hingga tak sengaja Gisella yang terpojok, mengambil gelas yang ada di atas meja kemudian memukulnya ke kening Gabby hingga wanita itu tergeletak di lantai penuh darah.


Gisella panik melihat tangannya kena darah. Dalam ketakutan ia bergegas ke wastafel mencuci tangan kemudian lari meninggalkan apartemen begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2