
“Mas Ayo berangkat!” Gisella menghampiri suaminya yang sudah siap dengan setelan kemeja rapinya. Malam ini ada acara pernikahan rekan bisnisnya di sebuah hotel berbintang.
Gavin menatap penampilan Gisella dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bukannya terpukau tetapi lelaki itu merasa jijik melihat make up tebal serta potongan bajunya yang sedikit rendah di bagian dada hingga memamerkan sepasang *********** yang tak lagi kencang.
“Kenapa aku dulu bisa tertarik dengan wanita ini. Banyak wanita yang sudah memilki anak, tetapi tidak kendor seperti ini,” rutuk Gavin di dalam hati.
“Mas kok diam?” Gisella tersipu malu. Ia yang salah paham mengira suaminya sedang terpesona dengan penampilannya malam ini.
“Kamu yakin akan memakai pakaian ini? Dada yang terlihat dengan jelas dan potongan samping yang begitu tinggi hingga setengah paha. Terus … lihat make up kamu itu! Tebal sekali seperti mau pergi ke sirkus!” omel Gavin dengan tatapan merendahkan. Melukai perasaan wanita itu.
Apa yang salah dengan dandannya, bukankah sejak dulu ia memang selalu berdandan seperti itu. Bahkan saat bertemu dengan Gavin pun Gisella sudah biasa merias wajahnya dan mengenakan pakaian terbuka seperti itu.
“Kok kamu ngomong gitu sih Mas, lalu aku harus bagaimana?”
“Ganti baju dan riasanmu itu jadi lebih soft. Buat dirimu anggun dan elegan! Dan satu lagi, jangan lama!” sambar Gavin cepat. Ia tampak sudah tak sabaran. Dengan rasa kesal Gisella membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamar dan mengganti riasan serta pakaian yang ia kenakan agar sesuai dengan keinginan suaminya.
Gavin berdiri bersandar pada kap depan mobil. Ia menunggu dengan gelisah sembari sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum pendek di sana sudah menunjukkan pukul setengah delapan.
“Lama banget, sebenarnya ia dandan atau operasi plastik. Hampir satu jam aku menunggu di sini. Seharusnya dari jam setengah tujuh tadi sudah berangkat kini masih saja di rumah,” gerutu Gavin seorang diri. Rahangnya kini mulai mengetat dengan raut wajah yang begitu masam.
Gisella yang ditunggu pun akhirnya muncul kembali. Wanita itu keluar r dengan make up soft seperti yang Gavin perintahkan membuat wajahnya tampak pucat. Di padu dres hitam sepanjang lutut dengan bagian dada yang tertutup dengan brokat tanpa puring. Sebenarnya gaun itu melekat indah di tubuh wanita itu hanya saja tak membuat Gavin puas.
Pria itu seperti sedang membandingkan istrinya dengan wanita lain yang ada dalam pikirannya.
“Bagaimana Mas?” tanya Gisella berharap apa yang ia lakukan ini sudah sesuai dengan selera suaminya.
__ADS_1
“Sudah membuatku menunggu lama tapi hasilnya tetap saja hasilnya sama, menyedihkan!” ucap Gavin sembari berlalu pergi masuk ke dalam mobil mengabaikan istrinya begitu saja.
Tangan Gisella terkepal erat, bukannya mendapat pujian dari hasil kerja kerasnya untuk menyenangkan hati suaminya. Ia justru dihina kembali.
Saat seorang suami tak menganggap istrinya menarik lagi, bukan berarti sang istri itu benar-benar jelek. Tetapi tabir di matanya tertutup dengan keindahan sosok wanita lain. Hingga apa pun yang istrinya lakukan untuk memuaskan matanya hanya akan menjadi perbandingan saja.
Tinnnn!
Gavin menekan klakson mobil kuat serta sedikit lama hingga bunyinya melengking dan panjang, cukup mengagetkan Gisella yang kini tengah kecewa.
“Berani-beraninya kamu menghinaku, Mas. Awas saja nanti setelah semua rencanaku tercapai, aku akan buat kamu nangis darah!” geram Gisella di dalam hatinya.
Dengan langkah kasar wanita itu memilih menyusul suaminya untuk masuk ke dalam mobil. Walau marah dan ingin sekali mencakar dan menjambak Gavin, tetapi sekuat tenaga Gisella menahannya. Andai tidak karena sesuatu hal, mungkin Gisella akan lebih memilih untuk pergi mendatangi Dion.
~ ~ ~
Pria itu saat ini sedang berada di atas awan, merasa menjadi pria yang paling beruntung karena bersanding dengan pujaan hati yang kini menjadi istri serta Ibu dari anaknya. Kebahagian yang tak dapat Bara gambarkan dengan kata-kata.
Beberapa waktu Bara sempat tak berkedip saat istrinya turun mengenakan gaun merah maron dengan model lengan yang terlampir di kedua sisi lengan seperti model sabrina.
Entah kenapa akhir-akhir ini wanita itu begitu kerap memakai pakaian yang memamerkan bahu putih mulus serta tulang selangkanya yang menonjol. Bagian depan gaun sepanjang lutut sedangkan bagian sedikit lebih panjang seperti ekor.
Make up flowless yang bermain di area mata mempertegas bingkai mata lentiknya hingga membuat mata itu tampak lebih besar dan tajam. Rambut yang di sanggul ke atas menyisakan seuntai rambut yang di buat keriting di sisi kiri dan kanan dekat telinga semakin mempertegas leher putih dan jenjangnya.
Yonna begitu pintar memilih pakaian yang dapat menonjolkan bagian-bagian tubuhnya yang memang harus ia tonjolkan untuk menunjang penampilannya agar tampak begitu sempurna.
__ADS_1
Semua mata yang hadir terfokus padanya, kehadirannya begitu mencuri perhatian banyak orang tak terkecuali Gavin yang duduk hanya berdua dengan istrinya, terdiam dengan gelas anggur di tangannya.
Gavin menatap Yonna dengan mata yang membulat serta mulut setengah terbuka, ia bereaksi takjub serta kagum dengan kecantikan mantan istri yang tak ia anggap dulu.
Ia mencuri pandang mengamati penampilan Yonna dengan terperinci sembari merutuki kebodohan yang telah menyia-nyiakan batu permata yang indah.
Gavin tak menyangka batu yang ia buang itu hanya perlu sedikit dipoles maka menjadi batu yang sangat indah seperti saat ini. Sangat menarik dan mempesona, jiwa kelelakiannya meronta-ronta melihat penampilan Yonna malam ini.
Gisella mendelik dengan wajah yang berubah masam seketika, tidak menutupi rasa tak suka di hatinya melihat kedatangan Yonna ke acara itu. Di tambah tatapan mata suaminya yang begitu memuja membuat hatinya begitu panas.
Bara mengajak istrinya menuju meja yang ada di tengah, tempat di mana para klien serta teman yang ia kenal sedang duduk santai di sana sambil berbincang.
“Sepertinya aku perlu ke dokter mata habis acara ini. Aku melihat seorang Bara Apsara datang menggandeng seorang wanita,” seru seorang pria hitam manis yang mengenakan jas hitam itu.
“Matamu masih bagus Felix, ia memang menggandeng seorang wanita yang sangat cantik. Entah kebaikan apa yang sudah ia lakukan hingga bisa membawa seorang bidadari yang cantik jelita seperti ini!” puji lelaki yang ada di sebelah lelaki tadi.
Senyum yang menawan tersungging di bibir Yonna mendengar kasak-kusuk pujian dari mereka yang membuat kupingnya sedikit memanas.
Bara menarik kursi untuk Yonna bersebelahan dengan wanita yang menjadi istri dari Daka, agar Yonna bisa menjauh dari ketiga pria itu.
Ia mendengkus kesal mendengar pujian para temannya yang terdengar sedikit menggoda,walau ia tak memungkiri jika di matanya istrinya memang menjadi wanita paling cantik di tempat ini.
“Bara, kenapa wanita secantik ini tidak kamu kenalkan pada kami. Sepupu mana lagi yang kamu bawa untuk menemanimu malam ini. Atau kalian berdua hanya teman?” tebak Liam.
Lelaki berambut pirang itu sangat berharap jika tebakannya kali ini benar. Tidak lupa ia mengedipkan mata pada Yonna, sudah menjadi tabiat dan watak Liam jika ia tak akan melewatkan wanita cantik di hadapannya.
__ADS_1
Bara melirik Liam, ingin memukul kepala temannya tersebut yang ia anggap tidak sopan dan lancang menggoda istrinya.
“Jaga sikap dan pandanganmu! Ia istriku!” Bara merangkul pinggang Yonna agar wanita itu bisa lebih merapat padanya, Bara menunjukkan sisi posesif yang ia miliki dan tak pernah ia tunjukkan pada orang lain. Seketika semua yang ada di meja itu terdiam dengan pandangan yang tak percaya dan penuh tanda tanya.