Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 79. Kau tak akan bisa lari dariku!


__ADS_3

Gavin hanya perlu menginap di rumah sakit selama seharian, ia tidak lumpuh hanya lebam dan membutuhkan sedikit waktu menyadarkan dirinya dari pengaruh alkohol saja.


Sore harinya ia memaksa untuk pulang ke rumah di temani oleh Jelita. Sementara Immanuel harus rela menghabiskan waktunya selama beberapa hari ini untuk menyelesaikan masalah yang diperbuat oleh putra bungsunya itu.


Perusahaan yang hampir bangkrut, hutang di mana-mana belum lagi kasus penggelapan dana yang dilimpahkan pada puranya. Semua masalah itu datang beui-tubi hanya dalam satu minggu saja.


Brak! Prang!


Gavin melempar gelas kaca yang ada di atas nakas ke arah dinding kamar. Sepihan kaca yan pecah iu berderai di atas lantai, warnanya yang bening tak kasat mata dan dapat melukai siapa saja yang melintasinya.


Dada lelaki itu bergemuruh, rasa kesal menguasai pikirannya atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia tak hanya dikhianati oleh orang kepercayaannya, tetapi ia juga akan kehilangan seluruh hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun ini.


Gavin mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang ia lakukan hingga masalah yang timbul bisa sefatal ini. Ia tersentak kaget saat pikirannya mengingat satu kejadian yang ia yakini sebagai sumber dari masalahnya.


Lelaki itu baru saja sadar jika beberapa hari yang lalu setelah menghilangnya Gisella, Dion memberikan berkas yang cukup banyak yang harus ia tanda tangani saat itu juga. Ia yang saat itu sedang terburu-buru akhirnya dengan asal menandatangani semua berkas itu tanpa membacanya terlebih dahulu.


“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Gavin berteriak frustasi dengan kedua tangan yang menarik rambutnya erat.


Pintu kamar terbuka lebar menampilkan Jelita yang berjalan tergepoh-gepoh menghampiri. Mata wanita paruh baya itu melebar sempurna mendapati pecahan kaca yang berhamburan di lantai kamar.


“Apa yang kamu lakukan Gavin? Apa belum cukup masalah yang kamu buat selama beberapa hari ini!” Marah Jelita setelah melihat keadaan anaknya yang sudah seperti orang tak waras saja.


“Tolong tinggalkan aku sendiri, Ma!” pinta Gavin dengan tegas. Tatapan matanya yang tajam seperti elang yang hendak berburu mangsa. Pikirannya kini penuh dengan rencana-rencana gila.

__ADS_1


“Jangan lakukan hal yang akan membahayakan dirimu, Nak. Papa sudah turun tangan membantumu. Mama harap kali ini kamu mendengarkan kata-kata Mama sekali saja!” ujar Jelita yang khawatir. Sebagai seorang Ibu ia sangat mengerti sifat dan ekspresi yang ditunjukkan putranya saat ini.


“Mama tak perlu khawatir,” jawab Gavin singkat. Ia berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan kamarnya, gavin melewati Jelita begitu saja. Hati Jelita berdesir, perasaannya mulai terusik dengan sesuatu yang ia tak tahu itu apa.


“Kamu mau ke mana, Gavin?” Jelita berbalik. Ia mencoba mengejar putranya dari belakang. Baru beberapa langkah ia berjalan, Gavin sudah mengangkat salah satu tangannya untuk meminta Jelita berhenti.


“Aku bukan anak kecil lagi, Ma. Aku tahu apa yang aku lakukan, masalah ini aku yang ciptakan maka aku juga yang akan selesaikan dengan caraku sendiri!” tandas Gavin terlihat begitu jantan, kemudian ia kembali berlalu pergi.


“Ya Tuhan, lindungi anak-anakku. Kenapa hatiku terasa tidak enak melihat sikapnya kali ini.” Jelita megusap dadanya. Tatapannya tak henti menatap punggung Gavin yang menjauh dan menghilang dari pandangan secara perlahan menuruni anak tangga.


~ ~ ~


Dengan mata meredup, Gisella menatap pria yang sedang bergerak liar di atasnya.


Dinginnya pendingin ruangan tak dapat menandingi panas yang tercipta di tubuh keduanya. Kamar itu gelap tanpa penerangan lampu sedikit pun, hanya mengandalkan cahaya matahari yang tepantul dari kaca pintu balkon yang tertutup rapat.


Dion tersenyum dengan mata yang terpejam untuk berkonsentrasi mengejar kenikmatannya. Lantas menarik diri setelah mendapatkan pelepasannya dengan geraman yang panjang. Lalu merebahkan tubuhnya di samping wanitanya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dengan rapat.


“Selama ini kamu terlalu meremehkanku, Gisell. Apa sekarang kamu senang?”


Dion meraih kotak kecil yang ada di atas nakas. Mengeluarkan benda panjang dan putih, menyulutnya dengan pemantik hingga mengeluarkan asap putih menggumpal setelah ia hirup dengan bibir tebalnya.


Gisella memeluk punggung lelaki itu dari belakang begitu mesra hingga kulit mereka kembali menempel. “Maafkan aku. Sekarang apa rencana kita selanjutnya?”

__ADS_1


Dion menghirup rokoknya sekali lagi dan menghembuskan asapnya ke udara.


“Aku sudah mengurus surat-surat baru untuk kita. Kita akan pergi ke luar negeri dengan identitas baru. Uang yang aku dapat dari mantan suamimu itu sangat cukup untuk kita membangun sebuah perusahaan baru.”


“Benarkah? Lalu kapan kita pergi dari tempat ini? Aku takut Gavin bisa menemukan kita, terkadang lelaki itu bisa nekad dari apa yang bisa kita bayangkan,” ujar Gisella. Nyalinya sedikit ciut membayangkan kemarahan Gavin saat ini pada mereka. Satu sisi ia merasa lega dan di satu sisi lagi ia merakan rasa takut.


"Kamu tak perlu khawatir, semuanya sudah di atur dengan baik!"


Dion tersenyum puas dengan hasil kerjanya sendiri. Selama bertahun-tahun diam menjadi bawahan yang patuh hanya untuk menunggu hari ini. Hari di mana ia bisa membalas sakit hati yang ia miliki terhadap lelaki itu, cinta dan harga diri.


Di waktu yang besamaan Gavin yang sedang mengendarai mobil menerima sebuah panggilan telpon dari ponselnya. Gavin menyambungkan panggilan itu ke bluetooth yang terpasang di telinganya, ada seringai jahat yang terbit di bibirnya setelah mendengarkan laporan anak buahnya.


“Apa yan haus kami lakukan selanjutnya, Tuan? Apa kami haus menankapnya dan membawanya ke hadapan anda?” Suara bass di ujung telpon itu bertanya.


Mereka merupakan pembunuh bayaran yang begitu handal, tak hanya membunuh mereka juga anjing pelacak yang sangat baik untuk mencari keberadaan seseorang dengan begitu cepat dan akurat walau mangsanya bersembunyi di lobang semut sekalipun.


“Kepung tempat itu! Jangan melakukan tindakan apa pun sebelum aku datang dan jangan sampai mereka menyadarinya. Aku tak ingin mereka kabur!” titah Gavin.


“Baik Tuan.” Suara dari seberang sana hanya menjawab patuh perintahnya. Sambungan telpon itu pun terputus sepihak.


“Kalian terlalu meremehkanku. Kalian ingin bermain-main denganku, baiklah. Akan aku berikan permainan yang sesungguhnya, aku akan menagih berapa banyak harga yang harus kalian bayar dari permainan ini!" Gavin terkekeh dengan sorot mata tajam membuat bulu kuduk siapa pun akan merinding mendengarnya.


Pria itu membanting stirnya ke kiri, berbalik arah dengan kecepatan tinggi membawa mobil yang ia kendarai untuk pergi menuju lokasi yang diberitahukan anak buahnya. Jaraknya cukup jauh, memakan waku delapan jam melewati bukit dan pegunungan untuk sampai di tempat yang tak begitu jauh dari perbatasan.

__ADS_1


Bagi Gavin yang sudah dilingkupi amarah, jarak segitu tak menjadi masalah yang berarti untuknya. Bahkan keujung dunia sekalipun mereka akan ia kejar sampai dapat.


__ADS_2