
Bara mengendarai mobilnya pelan memasuki halaman rumah, memarkirkan mobil di belakang sebuah mobil putih.
Bara keluar dari mobilnya dengan rasa heran, ia memicingkan matanya menatap mobil yang terparkir di teras itu. Tentu saja ia begitu familiar dengan plat mobil tersebut.
Hatinya mulai waswas dan berdetak tidak enak, dengan langkah kaki cepat lelaki tinggi tegap itu memasuki rumah.
Lampu ruang tamu menyala dengan terang. Jantung Bara semakin berdetak kuat saat tak mendapati sang pemilik mobil di ruang tamu, ia sangat yakin siapa pemilik mobil tersebut. Langkah kakinya semakin cepat memasuki rumah yang tampak sunyi.
Bara menajamkan indra pendengarannya, darahnya langsung berdesir ketika menangkap sayup-sayup suara jeritan yang terdengar histeris dari ujung sana, tepatnya kamar tamu.
"lepaskan aku! Lepaskan! Tolong!" Terdengar teriak Yonna frustasi, sudah tak terhitung berapa kali ia berteriak hingga suaranya serak. Tenggorokannya terasa kering.
Pintu tertahan saat Bara menekan hendlenya ke bawah.
"Terkunci dari dalam. Sialan!" gumamnya mulai emosi mendengar suara Yonna yang masih terdengar histeris di dalam.
Wanita itu masih meronta-ronta melepaskan dirinya dari kungkungan tangan kekar Gavin yang kini dengan kasar mengoyak baju yang ia kenakan, hingga tampaklah gunung kembar yang sintal tertutup bra berenda warna merah menggoda.
Sekuat tenaga wanita itu terus mendorong tubuh lelaki itu menjauh, walau tenaganya tak sebanding dengan tenaga Gavin yang lebih kuat.
"Arrkhhh." Yonna menggigit lengan Gavin geram. Sontak lelaki itu menghempaskan tangannya yang terasa begitu nyeri. Jejak gigi Yonna tercetak jelas di sana.
"Wanita sialan!" geram semakin menjadi.
Plak! Plak!
Gavin yang tak terima melayangkan sepasang tamparan ke pipi kiri dan kanan Yonna kuat. Ia tak suka karena wanita itu sedari tadi terus menolaknya dan melawannya. Kesabaran Gavin habis jika harus bermain-main dengan wanita itu saat ini.
Bara yang berdiri di balik pintu tertegun mendengar suara tamparan dan teriakan istrinya yang tercekat. Amarahnya semakin naik ke ubun-ubun. Ia seakan dapat melihat apa yang terjadi dari balik pintu itu.
Gavin dengan kasar menangkap kedua pergelangan tangan Yonna, menaikkan sepasang tangan itu ke atas kepala Yonna, lalu menahannya kuat dengan sebelah tangan. Sementara satu tangannya lagi mulai bergerak nakal.
__ADS_1
Yonna menggelengkan kepala dengan air mata yang telah berderai di wajah cantiknya yang kini pias. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya, bahkan tak pernah ia bayangkan jika dirinya akan diperkosa oleh adik iparnya sendiri.
Ia merasakan sakit di pergelangan tangan dan hatinya. Harga dirinya dilucuti hingga terkapar di tanah. Ia merasa terhina.
Gavin sudah dikuasi has-rat hingga lelaki itu kini gelap mata. Yonna bisa merasakan area sensitif lelaki itu sudah mengeras sedari tadi.
Yonna tidak mau lelaki itu menyentuhnya, ia tidak mau hidupnya yang sudah mulai bahagia hancur menjadi mimpi buruk di hidupnya.
"Lepaskan aku bajingan!" teriak Yonna lagi. Kemudian wanita itu menggigit bibir bawahnya dengan erat saat tangan Gavin mulai meremas dan memainkan sepasang bukit kembarnya dari balik baju.
Tak ada kenikmatan apa pun yang ia rasakan, hanya rasa sakit. Hatinya pilu.
"Jangan menangis Sayang. Aku akan memberi sensasi yang tak pernah Kakak lelakiku berikan padamu. Aku yakin kamu akan menjadi ketagihan dengan permainanku," ujar Gavin seakan mengejek.
Brak!
Sekali tendangan, pintu kamar yang terkunci itu langsung terbuka. Terhantam dinding begitu kerasnya, menampilkan Bara yang berdiri dengan api kemarahan yang sudah melingkupi seluruh tubuhnya. Berkobar panas dan menjalar.
Bara bergeming dengan mata memerah yang semakin menajam menatap pemandangan menyesakkan dada di depan matanya.
Gavin dalam posisi di atas tubuh istrinya. Pakaian yang dikenakan istrinya masih lengkap, akan tetapi sobek di beberapa bagian. Wajah yang penuh air mata itu tampak begitu tersiksa.
"Mas! Hik hik." Yonna menangis. Hatinya sedikit lega melihat keberadaan suaminya yang datang tepat waktu.
Tangan kekar Bara menjambak kasar rambut Gavin, dengan sekali hentakan tubuh Gavin terhempas ke lantai. Melepaskan kungkungan lelaki itu dari tubuh istrinya.
Gavin langsung berdiri, ia yang belum siap kembali mendapatkan hantaman keras di wajah serta perutnya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Breng-sek!" umpat Gavin tak terima. Ia menatap Bara menantang karena sudah mengganggu kesenangannya yang seharusnya hampir berhasil. Tangannya mengusap sudut bibirnya yang sobek dan mengeluarkan darah segar.
Yonna langsung beringsut dan berdiri dari ranjang. Memeluk tubuhnya sendiri. Tubuhnya bergetar, ia masih syok dengan apa yang terjadi padanya saat ini di tambah melihat suaminya yang begitu mengerikan seakan ingin membunuh lawan di hadapannya saat itu juga.
__ADS_1
Gavin menggeram kesal. Ia maju hendak membalas pukulan Bara. Bara yang sigap menangkis pukulan Gavin, langsung melintir pergelangan tangan Gavin hingga lelaki yang lebih muda darinya itu meringis kesakitan.
Gavin tidak hilang akal, kakinya yang panjang menendang tulang kering Bara hingga kaki Bara bertekuk dan hilang keseimbangan. Kesempatan itu di pakai Gavin untuk melayangkan tinjuan ke wajah Bara, hingga pria itu terduduk di lantai.
"Kamu pikir aku akan kalah darimu!"
"Dan apa kamu pikir aku akan diam saja melihat kamu melakukan hal keji seperti ini pada istriku."
Dada Bara bergemuruh, api di hatinya semakin bergejolak. Tak ada satu pun lelaki di dunia ini rela melihat istrinya dilecehkan oleh lelaki lain walau itu saudara kandungnya sendiri. Bara langsung berdiri dan melakukan perlawanan.
Kedua lelaki itu pun berkelahi sengit, saling meninju dan menangkis. Tak ada yang mau kalah, satu sama lain saling mendorong dan mendesak mencari siapa yang menang.
Yonna menjerit histeris dan mundur beberapa langkah saat tubuh Gavin terlempar tak jauh darinya. Tubuh lelaki itu terlentang dengan posisi Bara di atas yang terus membabi buta memukulnya.
"Apa kau sudah hilang akal hingga ingin menodai istri dari kakakmu sendiri. Apa tak ada lagi perempuan di dunia ini yang dapat kamu jadikan mainan, hah!" bentak Bara murka.
"Mas!" Yonna menjerit tertahan saat Bara semakin brutal memukul wajah Gavin hingga lelaki itu tampak bengap dan tak berkutik.
"Mas, sudah! Nanti ia bisa mati!" ujar Yonna panik. Ia tak ingin suaminya khilaf hingga nanti hidupnya bisa berakhir di penjara.
"Biar, biar dia mati sekalian!" sahut lelaki itu penuh emosi.
"Mas."
Yonna memberanikan diri menarik tubuh suaminya berdiri agar menyingkir dari Gavin. Di bawah sinar lampu kamar yang tidak terlalu terang. Gavin memegang dadanya yang terasa sesak. Ia terbatuk, darah dari mulutnya berceceran di lantai. Wajahnya kini penuh memar.
Dalam hitungan detik lelaki itu pun tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Yonna tersentak kaget.
Dada Bara masih naik-turun dengan cepat, pandangan matanya masih begitu tajam bagai hewan buas yang belum puas mengoyak tubuh mangsanya.
"Apa ia mati?"
__ADS_1
Bara melirik wajah istrinya yang mengernyit menatap Gavin. Hati lelaki itu semakin terbakar panas, mendapati rasa iba di binar mata istrinya.