
Hai pembaca maaf lama baru up-date. Selama setengah tahun ini banyak kejadian terjadi dan aku akan menceritakan semua kejadian pada kalian pembaca.
Namaku Bulan, umur 30tahun. Sudah 6tahun 2bulan aku menikah dan belum mendapatkan anak. Namun suamiku tetap sabar menanti buah hati kami dengan penantian yang tak kunjung berhenti berharap belas kasih Illahi. Aku dan suamiku terus mengetuk pintu berkah-Nya, tidak kenal pagi dan malam terus berharap bahwa pintu-Nya akan terbuka lebar untuk kami berdua.
Januari 2020,
Dokter menyatakan aku hamil, suamiku sangat bahagia bukan main sampai mengadakan syukuran atas kehamilanku.
" Ah yang benar sayang?".
Suara riang gembira suamiku sambil mencium keningku mesranya.
Seiring berjalannya waktu aku terus menjalani aktivitas ku sehari-hari seperti biasa. Meski terkadang sesak nafas, demi si buah hati aku dan suami rela berkorban dan lelah. Apalagi kami 4tahun lalu mengadopsi anak dari rumah sakit, anak laki-laki yang comel dan bijak.
Kehidupan rumahtangga kami jadi begitu lengkap, suamiku sangat sayang kepada anak angkat kami. Bagaimana tidak? Paras yang tampan dan menawan, bicaranya bijak, senyum menawan dan sifat yang periang dan ceria.
Lelah, letih dan capek sudah terobati jikalau melihat si Abang (panggilan sayang kami) tersenyum menyambut kepulangan kami dari bekerja. Sungguh nikmat Tuhan yang tak terbantahkan buat kami.
Hari terus berjalan dan berlalu, 28 Juli tepatnya 6 bulan 2 Minggu usia kehamilanku. Aku mulai kontraksi, padahal belum saatnya aku melahirkan.
" Aku sudah tak tahan lagi, sepertinya bayi ini akan lahir!".
Kataku kepada suamiku dengan menahan rasa sakit yang luar biasa. Bagaimana tidak, nyawa seperti diujung ubun-ubun dan sakit luar biasa bukan main NIKMAT.
" Jadi bagaimana? Belum waktunya sayang! Jangan buat aku takut!".
Kata suamiku pelan berbisik di telingaku sambil mengelus perut ku dengan perlahan.
" Bawa aku kerumah sakit sayang! Tolong aku sudah tak tahan!".
Pekik ku sambil meringis kesakitan. Air mataku terus bercucuran begitu deras, bagai air hujan.
" Sayang ini masih pukul 1 tengah malam. Aku takut membawamu keluar rumah, terlalu dingin dan gelap. Apa kamu yakin....?".
Tanya suamiku sambil memeluk aku dengan erat.
Seketika kulihat wajah nya begitu lelah dan ketakutan melihat aku yang sedang menahan sakit. Aku hanya membelai pipinya.
" Iya, mari kita siap-siap dulu menunggu pagi datang!".
Kataku menuju kamar dan membuka lemari.
Dua hari lalu aku sudah mempersiapkan semua pakaian bayi punya si Abang. Karena dulunya kami adopsi memang dari bayi baru lahir. Jadi tidak perlu beli pakaian baru lagi.
Waktu berjalan dengan cepat, pukul 4 pagi buta. Kala matahari masih sembunyi dengan manja di ufuk timur. Aku dan suamiku pergi menuju rumah sakit yang lumayan jauh dari rumah. Karena kata orang Rumah Sakit Ba*Du*g bagus untuk bersalin. Kami menuju kesana.
Sampai di IGD sudah mulai banyak mengeluarkan darah. Suamiku semakin takut dan panik, apalagi dokter berkata memang sudah waktunya akan melahirkan.
" Bapak ikut saya sebentar!".
Perintah dokter kepada suamiku dan mereka berbicara agak jauh dari tempat aku berbaring.
Samar-samar kudengar suara dokter berbicara pada suamiku.
" Maaf pak! Bayinya sudah mau keluar, kalau bisa kita tahan. Karena belum cukup umur. Jantung dan paru-paru nya mungkin belum masak, lalu beratnya juga masih terlalu kecil untuk bertahan!".
Kata dokter seraya hanya pasrah.
" Lalu bagaimana baiknya dok?".
Tanya suamiku cemas sambil melemparkan senyum kearahku.
" Saya tadi sudah USG, 25minggu terlalu muda. Air ketubannya terlalu banyak, itu yang membuat terjadi kontraksi. Kemungkinan bayi selamat kecil. Bagaimana?".
Tanya dokter kepada suamiku.
" Dia sudah menahan sakit selama 2 malam lebih. Yang baiknya bagaimana? Dokter tahu bukan?".
Tanya suamiku balik karena panik.
" Hanya ibu nya saja mungkin bisa bertahan, mungkin anak bapak belum rejeki. Kasihan bisa meninggalkan ibu nya jikalau terus begini pak!".
Kata dokter menjelaskan.
" Aku hanya ingin istriku selamat, kalau anak kami bisa punya lagi. Asalkan dia selamat tak masalah!".
Kata suamiku dengan tegas meskipun berlinang air mata.
" Baik pak, saya paham!".
Kata dokter dan mereka berjalan kearahku.
Senyum suamiku palsu, aku tahu itu. Aku tahu apa yang dia pikirkan, bohong jika dia tersenyum.
" Sayang sabar ya! Dokter sedang berusaha! Sabar ya!".
Kata suami sambil tersenyum.
" Aku mau pulang, aku akan berjuang meski aku harus mati. Aku mau bayi ini selamat! Ayo pulang!".
Tangisku pecah dan berusaha bangkit dari tidur.
" Sabar buk, tenang!".
Kata dokter tersenyum menatap tajam suamiku.
Tangisku terus pecah dan aku memberontak mau turun dari kasur. Suamiku menahan dan memegang tanganku erat sekali.
" Asalkan kamu tidak kesakitan lagi, kamu sehat. Aku tak masalah sayang, anak kita bisa punya lagi!".
Kata suamiku memeluk aku erat.
" Jangan...! Jangan...! Aku ibunya, aku yang menjaganya selama ini. Aku masih sanggup menahan sakit, kita pulang saja...!".
Tangisku pada suamiku.
Tak lama setelah itu, dokter menyuntikkan sesuatu dari jarum infus ku. Dan aku merasakan sakit luar biasa, suster memegang tangan dan kakiku dengan erat bukan main. Air ketubanku pecah dan aku mengigil bukan main.
Dalam hitungan detik, aku mengejan dengan kuat. Seluruh nafasku seketika tak kurasakan lagi. Nyawaku diubun-ubun tergantung, dan pandangan mataku gelap gulita.
" Dorong buk! Ayo! Terus...!".
Kata dokter meneriaki aku.
Oweeek!!!
Kudengar tangis bayiku, diletakkan diatas perutku. Seketika senyumku mekar, seketika pandanganku cerah, sekejap pula dokter membawa bayiku pergi. Diikuti oleh suamiku, mereka pergi.
" Mana anakku? Mana dia?".
__ADS_1
Tanyaku dengan bingungnya.
" Dibawa keruang bayi buk! Sabar!".
Kata suster sambil mengerjakan tugasnya.
Dokter kembali dan menangani aku lagi, entah apa yang dia lakukan.
" Buk, sabar ya. Umur masih muda, kalau anak jangan diharap lagi. Mungkin belum rejeki! Sabar!".
Kata dokter yang kurasa mulai menjahit bagian itu.
" Dok, mana anakku?".
Tanyaku lagi.
Dokter dan suster hanya diam.
Selesai mengerjakan aku, tak lama suamiku datang dengan senyuman palsunya lagi. Dia mencium keningku dan membelai pipiku.
" Mana anak kita?".
Tanyaku lagi berharap.
" Aku mau ambil kain!".
Kata suamiku singkat dan meninggalkan aku berdua bersama suster.
Aku takut dan bingung dengan sikap mereka semua dan firasat buruk kurasakan. Aku mulai menangis lagi.
" Jangan menangis buk! Nanti anda pendarahan! Sabar ya buk!".
Kata suster menepuk kakiku lembut seraya memberikan semangat.
" Mana anakku? Kenapa kalian pisahkan dia dariku? Apa salahku?".
Tangisku pecah.
Hu.....hu.....uuu 😭
Lalu suamiku datang lagi dan suster pun pergi meninggalkan kami berdua untuk bicara.
" Mana anak kita? Kenapa belum dibawa kesini? Dia lengkap?".
Aku bertanya dan berharap baik. Aku memang tersenyum sambil meneteskan air mata.
" Maaf sayang! Anak kita sudah tidak ada lagi, yang penting kamu sehat dan tidak kesakitan lagi!".
Kata suamiku sambil menangis memeluk aku yang diam.
Duuuar....!!! ⚡
Seperti petir menyambar, duniaku runtuh seketika itu juga. Pandangan mataku gelap gulita dan air mata terus menetes. Bibir ku tertutup rapat dan lidahku kaku. Bahkan aku lupa siapa aku? Dimana aku? Dan kenapa aku?
" Ya Allah, dalam sekejap kau ambil putri kecilku! Ampuni dosaku!".
Kataku pelan tanpa sadar.
Duniaku runtuh seketika, dunia yang sudah kuciptakan dengan susah payah dengan jerih payahnya selama 6 tahun lebih. Gelap gulita kurasakan, aku hanya diam.
" Bahkan aku belum memelukmu sayang! Semudah itu kau tinggalkan ibu nak? Apa ibu tak pantas jadi ibumu? Apakah aku begitu berdosa hingga kau enggan menjadi anakku? Aku yang melahirkanmu! Aku yang menjagamu selama ini! Aku yang berbagi nyawa, darah dan makanan bersamamu! Aku juga yang selalu mengajakmu berbicara sewaktu kau dalam rahimku! Kita bernafas bersama sayang, semudah itu meninggalkan ibu nak? Ya Allah, cobaan apa yang kau berikan? Aku tidak sekuat dan setangguh yang Kau bayangkan. Aku rapuh dan sakit, aku tidak sekuat itu!".
Suamiku terus memeluk aku dan membelai rambutku.
" Sabar sayang! Aku sayang padamu, yang kuat ya. Kita masih bisa punya anak lagi nanti!"
Kata suamiku. Bahkan aku tak bisa melihat dia didepanku.
Hari itu juga, putri kecilku... Bidadari surga ku itu dibawa pulang kerumah orang tuaku. Dijeput oleh adikku, pemakaman dilaksanakan dirumah orang tuaku.
Sejak saat itu aku bisa menangis sedih tanpa sebab seorang diri. Terkadang aku bisa tertawa sendiri tanpa sebab. Selama 2 hari aku dirumah sakit, ibu yang lain menyusui anaknya. Tapi aku tidak, aku hanya bisa melihat mereka tertawa bahagia.
Itulah sebabnya ketika bayi datang keruangan, pasti suamiku akan menutup tirai jendela agar aku tidak sedih dan melihat bayi. Bahkan ketika makan dia menyuapiku tapi aku tidak bisa membuka mulut.
Bagaimana mungkin bisa aku melupakan anak yang sudah kulahurkan sendiri? Bagaimana bisa aku melupakan tangisan kecil yang kudengar barusan?
Aku tidak menangis tapi air mataku terus mengalir perlahan, apalagi saat kudengar tangisan bayi dari kamar sebelah. Suamiku menutup telingaku dengan kedua tangannya, dia tahu kalau aku tak akan sanggup mendengar.
Duniaku hancur, hatiku hancur seperti kaca yang berserakan. Semua ibu memangku bayinya, sedangkan aku tidak. Selama 2 hari itu rasanya seperti seabad saja.
Dan ketika keluar rumah sakit, melewati ruang bayi. Kakiku berhenti melangkah dan melihat dari kaca banyak bayi mungil dan kecil didalam sana.
Mataku melihat, hatiku meringis sakit bukan main.
" Andai kau masih ada sayang! Mungkin kau akan seperti mereka, kecil, putih, bersih dan suci! Bahkan aku belum memelukmu, kau sudah pergi sayang! Aku seorang ibu namun tidak akan pernah dipanggil ibu oleh anakku sendiri! Miris! Sayang, aku merindukanmu!".
Kataku dalam hati melihat dari luar banyak bayi tertidur pulas disana.
Suamiku menarik tanganku dan memeluk aku erat.
" Sabar sayang! Anak kita sudah jadi bidadari surga, kamu harus ikhlas! Kita masih bisa punya anak! Kamu harus kuat, ingat aku dan si Abang masih ada. Jangan takut!".
Kata suamiku sambil memapah aku berjalan perlahan.
Sepanjang jalan, aku terus meneteskan air mata. Aku dituntun oleh suami dan ibu mertuaku, namun pandangan mataku gelap gulita. Aku juga tidak bisa membedakan siang dan malam.
Sepanjang jalan, aku hanya diam tanpa berkata sepatah katapun. Suamiku terus memeluk aku erat, kadang aku tersadar walau sekejap. Aku melihat wajahnya yang sembab dan lelah, air matanya juga mengalir.
" Apakah aku sudah menyakiti orang yang paling kucintai?".
Tanyaku dalam hati kecil.
Itulah yang kurasakan saat ini, maaf pembaca kalau aku sudah tidak up lama sekali.
Buat yang baca, minta doa untuk putri kecilku. Bidadari surga ku.
" Aisyah Binti Haidir"
Lahir/wafat : 28 Juli 2020
Al-Fatihah buat kamu sayang.
Tunggu ibu ya nak, jangan nakal dan cengeng sayang. Ibu harus jaga si Abang dan Abi kita, nanti kalau ibu menyusul kita bakal jumpa lagi. Kita main sama dan ibu bakal peluk kamu selamanya. Semoga Allah SWT mengenyangkan perutmu dan menjagamu seperti menjaga Nabi dan rasulnya. Ibu sayang Aisyah, setiap detik selama hidup ibu pasti akan ingat Aisyah.
Ibu sedang belajar mencoba untuk ikhlas, menata hati kembali seperti dulu lagi. Tunggu ibu sayang.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️💐💐💐💐💐💐
Back to Novel
__ADS_1
Sementara itu di rumah nun jauh di sana. Ayah dan ibuku sibuk berbenah seperti setiap harinya di toko sebelum buka yang mulai padat akan pembeli. Syukurlah, toko kami laris manis belakangan ini. Itulah salah satu berkah dan nikmat Tuhan yang tidak bisa kudustakan.
" Dia sedang apa ya di sana, yah?".
Tanya ibu kepada ayah sambil menikmati secangkir kopi.
Ayah melirik ibu dengan lembut dan senyuman kecil sambil geleng kepala. Ayah menepuk dada dan menghampiri ibu.
" Kenapa tidak kita kunjungi saja, dia juga pasti akan senang bukan?".
Kata ayah mencium lembut kening ibu sambil memeluknya.
Ibu tersenyum kecil,
Cie.....cie.....cie.....!!! 😘
Ada yang sedang falling love lagi nih. Cinta lama bersemi kembali.
Gas terus ayah, jangan kasi kendor. Kira-kira cocok? Bungkus....!!! 😂
Begitu tenang, damai dan sangat nyaman. Kondisi panti yang begitu menyenangkan dan membuat sejuk hati. Aku dan Alex duduk dibawah pohon sambil menyantap camilan, karena Ric dan kak Rika sudah membagikan berbagai hadiah buat anak-anak panti.
Ibu kepala panti menatap kami dari kejauhan penuh dengan hati dan bahagia. Senyum kecilnya menghiasi wajah yang sudah kelihatan tua dan lelah, beribu pengalaman dan rasa sakit sudah pernah ia jalani.
" Syukurlah... Semua baik-baik saja. Ternyata Tuhan masih memberikan aku kesempatan bertemu malaikat di dunia ini...!".
Kata ibu panti mengelus dada.
Lalu Alex mulai jahil kepadaku,
" Sayang?".
Tanya Alex dengan santai.
" Ya....? Ada apa?".
Jawabku agak jutek.
" Perusahaan akan mengadakan Tour to Bali. Kamu ikut tidak?".
Tanya Alex menatapku tajam.
" Jangan melihatku seperti itu, menyeramkan tahu...? Bolehlah, asalkan kamu ikut aku juga!".
Jawabku sambil membuang nafas kasar yang panjang.
Maklum kebanyakan duduk pinggang ku terasa amat pegal dan panas. Ternyata mampu membuat perhatian si Dewa petir buyar.
" Sayang? Kamu kenapa?".
Tanyanya padaku sambil mendekati aku yang meringis.
" Ah iya tidak! Oh wajar saja! Sekarang perutku semakin besar, itu membuat pergerakan ku semakin terbatas dan lambat!".
Jawabku dengan senyuman, membuat dia tak kacau lagi.
" Ah syukurlah sayang! Kau membuatku hampir mati jantungan!".
Kata si Dewa petir dengan lega.
" Oh ya jadi kita USG ke Rumah sakit? Bukankah Hua dokter terbaik? Lagian aku belum percaya padanya, kapan?".
Tanyaku padanya sambil memakan kue tangan dan didepan kami.
" Kalau mau pulang dari sini juga bisa kok! Terserah padamu sayang!".
Jawabnya sambil meminum air mineral, wajar sedari tadi aku tak melihat dia minum setetes air pun.
Tiba-tiba saja kulihat Ric berjalan tergesah-gesah kearah kami dengan wajah panik bukan main. Diikuti oleh kak Rika yang berwajah kusut, membuat aku keheranan.
Ric mendekati kami dan berbisik kepada si Dewa petir dengan sangat hati-hati. Maklum aku tak dengar apapun sangkin pelannya.
" Hm? Kelihatannya penting sekali!".
Gumamku dalam hati sambil melirik mereka yang serius.
Alex hanya menganggukkan kepala saja dan menatapku dengan tajam.
" Ada apa? Apakah ada yang mendadak atau darurat? Mari kita pulang saja! Bukankah kita sudah selesai dari tadi sayang...?".
Kataku sambil membenahi tas dan barang bawaan.
" Ya sayang, sepertinya malam ini kamu harus tidur sendiri. Ya setidaknya selama 2hari! Maaf ya!".
Kata Alex pelan kepadaku.
" Ya tak masalah, ayo kita pulang!".
Kataku dengan senyum kecil.
Sesampai dirumah hari masih siang, dan kami tidak jadi kerumah sakit. Sungguh aku melihat batang hidung mereka bertiga sesampai dirumah. Mereka menghilang dan mengadakan rapat paripurna tertutup. Bahkan minum saja diantarkan oleh pelayan.
" Aku tak paham apa yang terjadi kepada mereka, menghilang seperti hantu saja! Tapi syukurlah aku terbebas dari Jajahan Belanda!".
Kataku puas sambil tertawa gelak seorang diri diruang tv sambil nonton kartun.
Tak lama setelah aku selesai makan camilan buah, bel rumah berbunyi.
Ting....!
Tong...!
Aku berdiri dan membuka pintu rumah seorang diri. Dan alangkah terkejutnya aku melihat siapa yang datang....?
Ya ayah dan ibu berkunjung,
Hatiku berbunga-bunga 💞💞💞💞
" Ayah....! Ibu....!".
Teriakku sambil memeluk mereka berdua dengan bahagia.
Macam awak rasa ada di surga dunia, ah! 😍😍😍
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa like dan komen ya kak, semoga besok bisa up lagi.
Luv you😘😘😘
__ADS_1