Istri Imut Om CEO

Istri Imut Om CEO
90


__ADS_3

Bum.....!!! ๐Ÿ’ฅ


Bum.....!!!๐Ÿ’ฅ


Bum....!!!๐Ÿ’ฅ


Bunyi ledakan bom kecil disana sini dilokasi tambang. Suasana mencekam dan tampak mengerikan sekali rasa mata melihat.


Pihak keluarga Clinton sudah siap siaga tiga hari sebelum kudeta, sementara itu mereka bertiga masih dalam perjalanan menuju lokasi.


Fei dan Alex menaiki mobil, sementara Ell naik heli untuk memantau dari udara. Kalau mau perang jangan tanggung, sepala basah mandi saja terus. Setiba dilokasi Alex dan yang lain sudah siap dengan pakaian perang dan senjata mereka.


" Aku akan kebelakang... Memeriksa semua perlengkapan kita. Atur strategi saja, aku pergi...!".


Kata Ell, maklum dia punya kepribadian yang lembut dan banyak diam. Untuk perang dia bukan tipe petarung jarak dekat, karena dalam hal kekuatan dia tak setangguh Fei dan Alex yang lincah.


" Kita berpencar, aku kekiri...!".


Kata Fei sambil membawa beberapa anggota.


Alex berlari kekanan dengan beberapa anggota juga. Masih dengan wajah ketat dan seram.


" Sayang! Doakan aku, demi perjuangan cinta kita. Jagalah anak kita, lahirkan dia dengan selamat. Aku sangat mencintaimu, ya rabb lindungilah kami semua dari kejahatan dan iri hati mereka...!".


Kata Alex dalam hati sambil berjalan penuh dengan percaya diri.


Syuuuut......!!! โ˜„๏ธ


Alex seketika terkejut dan mencari arah tembakan. Peluru dari sebrang menancap Kedinding tepat disebelah Alex.


" Sial! Habisi mereka semua! Jangan sisakan satupun dari mereka, habisi mereka semua...!".


Teriak Alex dengan penuh kemarahan akibat kaget bukan main. Membuat dia merasa kesal.


" Hei iblis diseberang sana! Butuh 1juta tahun untuk mengalahkan aku. Jika kau iblis maka aku adalah malaikat pencabut nyawa, jika kalian setan maka aku adalah Raja Neraka yang akan menyeret kalian kedalam api neraka agar terbakar habis sampai kalian menyesal untuk hidup didunia kemarin. Bahkan kalian tidak akan bisa renkarnasi lagi, kupastikan itu. Sialan....!".


Gumam Alex dalam hati merasa marah, kesal dan geram sekali.


Alex mengepalkan tangan sambil berjalan kearah sumber ledakan, dia hanya ingin memastikan para penembak dalam keadaan baik.


" Apakah sudah jatuh korban?".


Tanya Alex pada Xia, komandan pasukan yang memimpin perang.


" Sampai saat ini belum ada tuan, karena heli yang berada diatas memberikan kami informasi letak musuh. Sepertinya lawan tak punya drone pengamat atau semacamnya, itu keuntungan kita...!".


Jawab Xia dengan tegas kepada Alex sambil menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


" Baguslah, terus serang dan tekan pihak lawan. Mereka tidak akan bertahan lebih lama lagi kelak!".


Dengan nada tegas dan marah.


Sementara itu diseberang sana,


" Tuan, banyak jatuh korban. Mereka punya beberapa drone dan heli memantau kita dari atas. Mereka punya sistem peluru otomatis...!".


Kata Jia komandan pasukan keluarga Willer.


" Ah sial, mereka benar-benar mau membumi hanguskan kita. Drone kita semua habis ditembaki, bahkan kita tak tahu posisi mereka dimana saja. Apakah masih ada drone lain yang masih bisa berfungsi...?".


Tanya Roy pada Jia dengan nada berteriak sekuat tenaga. Roy kelihatan marah sekali, sampai tubuhnya bergetar hebat.


Tekanan dan serangan datang bertubi-tubi dari Alex, tanpa ampun dan celak sedikitpun. Bahkan Alex tidak berniat membiarkan mereka lari selangkah pun. Alex yang ramah dan baik, kini berubah jadi raja iblis penjaga neraka Jahannam.๐Ÿ˜


Oiy Mak, seram betul ah๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Syuuuut.....!!! โ˜„๏ธโ˜„๏ธโ˜„๏ธ


" Ah....! Tidak....!!!".


Teriak Fei menahan sakit dan masih dalam keadaan terkejut.


Tapi sepertinya keadaan berbalik ketika Fei terkena tembakan dibahu kanan. Fei terjatuh seketika dan tertangkap musuh.


" Ah sial! Alex jangan sampai kau tertangkap lagi, atau kita akan habis. Maaf aku terlalu lemah!".

__ADS_1


Kata Fei dalam hati dan pingsan.


Darah terus bercucuran dari bahu Fei sementara dia masih pingsan dan para lawan membawa Fei pada Roy yang tersenyum puas.


" Akhirnya salah satu tangan Alex baji*gan itu tertangkap olehku. Puasnya rasa hati, akhirnya aku akan menang setelah sekian lama selama beberapa puluh tahun. Akhirnya aku bisa menang, salah satu jendral perangnya sudah ditangani. Bagaimana Alex? Datang kemari atau lari!?".


Kata hati Roy merasa menang dan bahagia seperti menang lotre.๐Ÿ”ฎ


" Lex, ada berita buruk...!".


Ell berlari menghampiri Alex yang sedang menembaki para musuh dibalik tembok.


" Apa? Cepat katakan? Aku sibuk!".


Kata Alex dengan ketus.


" Fei tertangkap musuh, dia kena tembakan dan dibawa lari!".


Kata Ell dengan gamblang, membuat Alex menatap tajam Ell dengan begitu marah dan kesal.


Jedeeer.......!!! โšก


Bagai petir menyambar disiang bolong, padahal cuaca panas.


Alex terdiam sejenak dan jatuh terduduk dilantai, tubuhnya lemas tak berdaya kala mendengar salah satu temannya kesayangannya dibawa musuh dan terluka. Ell dan Alex terdiam sejenak saling memandang, mereka kaget dan tak bisa berpikir lagi.


Ell duduk disebelah Alex, meski terkadang tembakan sesekali mengarah pada mereka. Alex menunduk dan giginya rapat. Kesal dan marah karena dia tak bisa melindungi keluarganya sendiri, rasa bersalah menghantuinya.


" Apa yang harus kita lakukan!".


Tanya Alex dengan nada lemas sekali dan tak ada gairah lagi.


" Tergantung dari caramu bagaimana? Mereka pasti akan mengatur siasat licik, untuk itu kita harus berhati-hati. Paham kan?".


Kata Ell memberikan Alex pandangan apa yang akan terjadi.


Alex hanya mengangguk dan diam.


Tak lama setelah itu, Fei digantung disebuah tiang tepat digerbang pintu perbatasan. Alex dan Ell menjadi geram dan marah menjadi-jadi, bahkan Ell berteriak histeris.


Teriak Ell yang histeris berlari kearah Fei yang sedang digantung ditiang. Dia berlari tanpa berpikir panjang, yang Ell pikir hanya ingin menolong sahabat karibnya itu segera.


Alex kemudian mengikuti Ell dari belakang juga, menatap kearah depan dengan tatapan mata yang marah dan begitu tajamnya. Seakan memberi kode agar musuh keluar segera dan berhadapan langsung dengan mereka.


" Bawa wanita ular itu segera, aku mau tahu bagaimana mereka!".


Kata Alex kepada Xia dengan tegas dan nada yang begitu marah.


Xia berlari kembali kedalam camp dan membawa Ana keluar menuju Alex yang sedang berdiri menatap kedepan keatas gedung.


" Keluar kalian! Keluar kalian iblis!".


Teriak Alex dengan begitu keras, Alex juga menjadi panik melihat Ell menangis sedih berusaha menyelamatkan Fei yang tergantung disebuah tiang besi.


Alex begitu terlihat putus asa dan meneteskan air mata, sehingga Roy menjadi puas dan lelaki separuh baya itu keluar dari markas sambil tertawa keras senang betul.


" Apa kabar Clinton? Bagaimana hadiah dariku? Apa kau suka?".


Tanya pria paruh baya itu sambil tertawa puas meledek Alex yang terpilih sedih tadi.


Tembok penghalang dihancurkan oleh buldoser dan sekarang tak ada dinding penghalang antara perbatasan. Lawan begitu puas menikmati Alex yang sedang terpuruk.


Lalu, nun jauh dirumah. Aulia ingin minum segelas air dirumah. Dia dan Ric sedang bermain kartu Joker.


Cletak.....!!! ๐Ÿ’ฆ๐Ÿฅ›


Tiba-tiba gelas yang dipegang Aulia terjatuh kelantai dan berserakan dilantai membuat Ric kuatir.


" Nyonya baik-baik saja bukan?".


Tanya Ric dengan wajah takut menatap Aulia yang masih terdiam sambil meneteskan air mata.


" Nyonya jangan menangis, nanti bayinya juga akan sedih. Nyonya mau makan sesuatu atau apa?".


Tanya Ric lagi yang masih cemas menatap Aulia yang diam mematung karena kaget.

__ADS_1


Aulia menghapus air mata yang jatuh tiba-tiba dipipi.


" Ric, sebenarnya apa yang terjadi?".


Tanya Aulia lemas sambil mengelus perutnya yang ternyata si bayi bergerak seperti terjun bebas.


Ngerih ah....!!! Terjun bebas?


Tidak bisa dilawan lagi...! ๐Ÿ˜Ž


Ric hanya diam saja dan mematung,


" Katakan saja! Aku hanya ingin membantu suamiku. Perasaanku tak enak, hatiku kacau balau!".


Aulia berbicara sambil memegangi dadanya dengan lembut. Lalu setelah itu dia mengepalkan tangan.


" Tuan sedang berjuang diperbatasan menghadapi pihak lawan. Keluarga Willer adalah dalang dalam kematian tuan besar dan penculikan anda kemarin. Selebihnya anda sudah tahu bukan!".


Kata Ric dengan tegas dan menatap wajah Aulia dengan sedih kasihan.


" Perasaanku tak enak, hatiku kacau balau. Aku yakin Alex sedang dalam bahaya. Tolong biarkan aku menyusul suamiku kemedan perang! Percayalah Ric padaku!".


Kata Aulia lembut mencoba meyakinkan Ric sekuat hati.


" Tapi nyonya, tuan memberikan aku perintah agar menjaga nyonya dengan baik. Saya tidak berani berbuat lebih jauh!".


Kata Ric berdiri ingin meninggalkan Aulia yang sedang duduk sendiri.


Aulia terdiam dan galau,


" Baiklah kalau kau tak mau mengantarkan aku untuk bertemu suamiku maka aku akan pergi sendiri. Apakah kamu ingin mematahkan kedua kakiku?".


Kata Aulia dengan percaya diri sambil tersenyum kecil.


" Tapi nyonya, jangan lakukan itu. Anda harus selamat dan melahirkan bayi itu dengan selamat!".


Kata Ric memegangi bahu Aulia dengan kuat dengan wajah panik.


" Meskipun aku wanita hamil belum tentu kau lebih kuat dariku Ric! Percayalah sekarang mungkin suamiku sedang dalam bahaya. Jika sesuatu terjadi padanya, mungkin aku akan segera menyusulnya mati. Percayalah, aku akan baik-baik saja. Ayo...!".


Kata Aulia dengan percaya diri tinggi, yang sebenarnya didalam dada sedang berkecamuk. Ya musuh terbesar dalam dunia ini adalah diri kita sendiri. Dan sekarang Aulia sedang bertarung dengan dirinya sendiri, menghadapai rasa takutnya dan rasa bersalahnya. Agar dia bisa bertemu dengan Alex yang sedang dimedan perang saat ini.


" Nyonya! Jika terjadi sesuatu pada anda, saya tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri. Kenapa anda melibatkan saya sampai sejauh ini? Nyonya...?".


Kata Ric memohon pada Aulia dengan wajah sedih dan kecewa berat. Hatinya juga berkecamuk, antara menuruti perintah tuan atau nyonya yang saling berlawanan.


" Ayolah Ric, aku akan berjanji padamu. Aku akan baik-baik saja dan akan melahirkan anak ini dengan selamat. Aku akan membuatmu bangga padaku, percayalah padaku sekali ini saja!".


Kata Aulia mencoba meyakinkan Ric dengan penuh percaya diri lagi.


Akhirnya dengan terpaksa Ric mengikuti kemauan Aulia dan pergi menuju tempat lokasi dengan heli yang sudah disiapkan jikalau keadaan memburuk. Memang Ric selalu bisa diandalkan dalam keadaan baik maupun genting.


" Maafkan saya tuan tidak bisa menepati janji, tapi kemarahan nyonya jauh lebih mengerikan dari anda sesungguhnya. Bahkan untuk menatap nyonya secara langsung saya tidak berani, nyonya sangat kuat dan tegar. Tidak bisa dibantahkan lagi rasanya...! Tatapan mata nyonya bisa membunuh seribu kuda sekejap mata saja, itu membuat saya mati kutu!".


Kata Ric dalam hati merasakan penyesalan yang amat besar sambil menggigit bibirnya dan merasakan geram bercampur kesal.


" Sayang! Maafkan mama nak. Tapi papamu butuh bantuan mama, bisakah kamu bertahan sebentar saja. Perasaan mama tak enak, dada mama berdebar. Kamu pasti merasakannya nak, bukankah rasanya tak nyaman? Sabar ya sayang, anak mama kuat...!".


Kata Aulia lembut sambil tertawa kecil mengelus buah hatinya didalam perut yang sedang aktif menendang kesana kemari.


Ric menatap Aulia dan terpaku, lalu meneteskan air sungai sampai keujung daun. Dia terharu menatap Aulia yang begitu tegar dan kuat demi menemui suaminya yang sedang berjuang.


Aulia dan Ric saling menatap satu sama lain, mata Aulia menatap Ric dengan bahagia sementara Ric menatap penuh dengan rasa pilu.


" Tenang saja Ric, aku berjanji padamu. Aku akan baik-baik saja, kamu, aku, mereka dan semua... kita akan baik-baik saja, percayalah padaku sekali ini saja. Aku tidak takut mati, yang aku takutkan adalah besok aku tidak bisa bersama suamiku. Jangankan bersama dia untuk melihatnya saja mungkin aku tidak bisa. Aku bukan wanita yang luar bisa dan kuat, tapi aku punya tekad yang kuat untuk menang. Meskipun kelak aku jatuh, aku akan berusaha bangkit selama nafas ini masih ada dan darah masih mengalir ditubuhku. Aku akan bangkit dan melawan dengan sekuat tenagaku, aku adalah aku. Ada Alexandra Clinton dan kalian semua akan membantuku, bukan?".


Kata Aulia sambil tersenyum tipis untuk memberikan semangat moril kepada Ric yang hampir putus asa.


Aulia menepuk pundak Ric yang sedang lemas, dan tersenyum lebar. Agar Ric percaya padanya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Hai para pembaca setia๐Ÿ™† terimakasih banyak karena masih mampir. Sekarang thoor udah sehat dan bisa berpikir sehat lagi, jadi tunggu up tiap hari ya๐ŸŒท


Jangan lupa LIKE dan KOMEN yaโค๏ธ

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2