
Alfred mulai menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya, harum wangi dari tubuh Anna membuat hasrat dalam jiwa lelaki itu meningkat beberapa kali lipat.
Anna yang berada di bawah tubuh suaminya hanya mampu terbaring lemas saat tubuhnya merasakan sentuhan Alfred untuk yang kedua kali.
Wanita itu memejamkan mata sambil menggigit bibir bagian bawah agar mulutnya tidak mengeluarkan suara lenguhan.
Lima menit kemudian keduanya sudah mendesahh sama-sama, penyatuan yang memang buka kali pertama untuk mereka kini terlaksana kembali.
Rasanya pun masih sama seperti pertama kali bersentuhan, rasa nikmat itu tak pernah kurang sedikitpun.
"Alfred aku lelahhh.............. " Rengek Anna di saat permainan mereka tengah berlangsung.
"Kau sudah janji kita bermain sepuasnya, honey"
"Tapi aku lelahhh......... "
"Tunggulah sebentar lagi"
Anna pun mau tak mau menuruti keinginan sang suami, menunggu sampai lelaki itu puas entah sampai kapan.
Hampir satu jam akhirnya pergulatan mereka pun selesai, Alfred tumbang di samping tubuh Anna.
Pelepasan tadi membuatnya lega tatkala Alfred menumpahkan begitu banyak cairan di rahim sang istri.
__ADS_1
Dengan tenaga yang masih tersisa ia mengelus perut Anna berharap akan ada makhluk baru tumbuh di dalam sana.
Anna yang merasakan itu menoleh pada Alfred dan tersenyum bahagia.
"Aku ingin secepatnya memiliki anak darimu, Anna... " Serunya.
"Aku juga, semoga perjuangan kita membuahkan hasil" Ucap Anna.
Alfred mengangguk dan mencium kening istrinya dengan lembut, ia ingin mengikat Anna lebih dalam hingga tak ada celah untuk mereka berpisah. Karena saat ini dirinya lah yang paling takut kehilangan.
***
Sedangkan di rumah sakit tepatnya di ruang inap Dianka, terlihat Dianka tengah menyusui Daelyn.
Darwin hanya bisa melihat pemandangan itu dari sofa sambil sesekali membuang pandangan ketika ia merasa imannya mulai runtuh.
Bagaimana tidak? Dianka mengekspos buah dadanya yang nampak membesar di hadapan Darwin, meski memang tak berniat menggoda sang suami sama sekali tetapi hal itu sukses membuat Darwin terpancing gairah.
Dianka melirik ke arah Darwin yang sedari diam tak mengeluarkan suara, Dianka tersenyum saat melihat wajah suaminya. Terlihat jelas dari ekspresi Darwin yang nampak tegang sekaligus memerah.
"Jangan menatapnya seperti itu, mas" Seru Dianka membuat lamunan Darwin ambyar seketika.
"Hah? Apa? Kau bicara apa?" Tanya Darwin kelagapan.
__ADS_1
Dianka tak menjawab, ia justru menyikap baju sebelahnya dan menampakkan miliknya yang lain.
"Kau ingin ini?" Goda Dianka pada Darwin.
Darwin menelan ludah kasar, bukannya berusaha untuk menghindar Dianka malah mengekspos yang satunya pada Darwin.
"T-tidak, aku hanya sedang melihat bayi kita!" Ujar Darwin mengelak.
"Kemarilah mas, kau boleh menyentuhnya. Tapi tidak boleh lebih dari itu" Kata Dianka memberi izin.
Darwin berpikir sebentar, ia sebenarnya tak mau melakukan ini tapi Dianka malah menggoda dirinya.
Darwin bangkit lalu mendekat ke arah brankar dimana Dianka berada, ia langsung mencium bibir sang istri dengan begitu buas, seolah meluapkan hasrat yang sedari tadi ia tahan.
Dianka membalas pertautan bibir tersebut tanpa melepas Daelyn yang masih menempel padanya.
"Maaf aku tidak bisa menahannya... " Lirih Darwin saat ciuman itu terlepas.
Dianka tersenyum dan membelai wajah Darwin, "aku tahu, aku begitu menggoda di matamu" Ucap Dianka mengerlingkan sebelah matanya.
Darwin terkekeh mendengar itu, ia kembali mengecup bibir Dianka lalu menggendong Daelyn yang sudah tertidur di pangkuan sang istri.
Darwin memindahkan putri kecilnya ke dalam inkubator, Dianka tertawa melihat kelakuan Darwin.
__ADS_1
Pria itu kembali mendekat ke arah Dianka dan langsung melahap bibir manis istrinya.
Tak sampai disitu Darwin juga naik ke atas brankar dan berbaring tanpa membiarkan Dianka mengancingkan bajunya hingga membuat kedua gunung itu terpampang dengan jelas.